Teruntuk Moms, Single Moms, dan seluruh wanita yang sedang berjuang bagi anak-anaknya. Jangan sedih ... kamu hebat, kamu kuat! Aku di sini bersamamu!
"Jangan menyerah di awal, karena tidak ada awalan yang sempurna"
Warning!! 21 Area!!
Akira Shofie harus bertahan ditengah kerasnya kehidupan saat ia harus membesarkan ketiga anaknya seorang diri setelah suaminya menceraikannya dan menelantarkan mereka.
Namun, kehidupannya berubah total ketika ia terpaksa menikah dengan anak dari atasan mantan suaminya.
Akira yang lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa saat suaminya berselingkuh, akhirnya menemukan keberanian membalas sakit hatinya dulu dengan dukungan suaminya yang sangat perhatian dan menyayanginya juga ketiga anaknya.
Akankah Akira sanggup membalas dendam yang telah lama bersarang di hatinya? Ataukah ia berhasil berdamai dengan dendam dan hidup dengan baik bersama suami dan ke enam anaknya? Temukan jawabannya di dalam kisah ini.
NOTE : Ceritanya ngga bagus-bagus sangat...B ajah...hehehehe....
ig: misshel_88
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aturan
Agus menjemputku sekitar jam 7 malam. Ketika sampai di rumah, aku tak menjumpai siapapun. Suasana di sini masih terasa asing bagiku. Begini suasana di dalam rumah orang kaya? Selalu sepi.
“Selamat malam, Nona.”
“Malam, Bi” Bibi yang sejak kemarin membantu ku tapi aku belum tahu namanya.
“Saya, Mai, Nona, panggil saya Bibi Mai” Bibi Mai seperti tahu isi hatiku
“Baik, Bibi Mai. Apa semua orang belum pulang, Bi?” Aku mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.
“Tuan Dirga baru saja pergi menghadiri perjamuan. Tuan Muda belum kembali. Kalau Tuan dan Nona kecil sudah berada di kamar di temani Santi, mereka sudah makan malam, Nona"
“Di rumah belakang?”
“Bukan, Nona. Mereka ada di kamar atas. Tak jauh dari kamar Nona”
“Saya lihat mereka dulu, Bi” Aku segera ke lantai atas. Dari ujung tangga terdengar suara Jen yang sedang tertawa. Seharian tidak bertemu mereka, aku sudah sangat merindukannya.
Pintu kamar sedikit terbuka, aku mengulurkan kepalaku ke dalam kamar. Mereka sedang asyik sendiri-sendiri. Excel dan Jeje sedang bermain game, sedangkan Jen temani Santi, bermain boneka. Menempatkan boneka di kursi kecil, sepertinya sedang mengadakan acara minum teh.
Dulu, kami juga mempunyai semua ini, walaupun tidak sebagus dan selengkap ini, tapi game yang di mainkan Excel dan Jeje, adalah keluaran terbaru, yang dibelikan Kakeknya. Dan Jen, memiliki semua koleksi boneka yang dia sukai. Aku selalu menyisihkan uang untuk mengapresiasi prestasi yang mereka capai.
“Mama” Suara melengking Jen, membuyarkan lamunanku. Excel dan Jeje berbalik untuk melihatku.
“Mama ketahuan, ya?” Aku terkikik. Santi, seketika berdiri. Dia menyapaku dengan anggukan kepala.
“Ma, lihat ini” Jen menunjuk boneka berbagai karakter di tata rapi dalam sebuah lemari. “Kakek itu yang memberi kami semua ini” Jen melompat kecil di kasurnya, kemudian dia merentangkan kedua tangannya, lalu berputar.
“Hati-hati, Jen” Aku menghampiri Jen yang hampir terjatuh.
“Jen, tidak sopan jika memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan seperti itu” Aku memangku Jen, badannya sudah terasa berat menimpaku. Setelah kehilangan berat badan yang cukup banyak, kini badan Jen sudah berisi kembali.
“Kamu tahu, siapa nama kakek kan?” Aku menciumi pipi Jen yang memantul-mantul ketika tersentuh ujung hidung ku.
“Tahu, Ma” Bibir Jen manyun seakan bisa di kuncir.
“Panggil nama kakek dengan benar, itu baru namanya menghormati dan menghargai orang tua, Jen mengerti?” Aku mengelus ikatan rambut Jen. Jen suka sekali bila rambutnya dikuncir menjadi dua.
Jen mengangguk tanda mengerti, lalu mengalungkan lengannya di leherku, pipi kami saling menempel, sehingga dengan mudah, aku bisa menghujaninya ciuman kecil-kecil.
Dan, dua laki-laki kesayanganku ikut menimpakan badan mereka padaku. Mereka sudah besar. Waktu berjalan sangat cepat, mereka adalah bayi yang menangis hari ini, dan menjadi dewasa hari berikutnya. Seperti itulah rasanya. Aku mengeratkan pelukanku kepada mereka meskipun kedua tanganku tak mampu merengkuh tubuh mereka sekaligus.
“Sayang, kalian tidak malu pada Mbak Santi” Aku ingin mengakhiri momen peluk-pelukan, karena aku merasakan sesak di timpa 3 orang di depanku.
“Tidak” jawab mereka serentak.
“Baiklah, kalian memang bayi-bayi besar, Mama” Aku merebahkan badanku sepenuhnya. Dengan kaki yang masih menjuntai ke lantai. Oh, punggungku.
Tiba-tiba mereka menghujaniku dengan ciuman, memenuhi seluruh wajahku. Walau setiap hari mereka selalu menciumku, entah mengapa kali ini terasa berbeda. Aku tertawa sekaligus menangis. Air mataku meluncur begitu saja.
“Kalian tidak mau melanjutkan main lagi?” Aku menepuk punggung Excel dan Jeje yang masih berada di atas badanku. Sejujurnya, aku tak kuat lagi menahan berat badan mereka bertiga.
“Mama menyerah?” Jeje mengangkat kepalanya untuk menatapku.
“Iya, Mama menyerah, kalian sangat berat”
“Oke, kami pergi” Lanjutnya sembari bangkit dari posisi tidur. Mereka melanjutkan permainan seru mereka.
“Maaf, atas pemandangan tadi, Mbak Santi” Aku menoleh ke arah Santi.
“Tidak masalah, Nona” Santi tersenyum. Dia hanya sungkan. “Sebaiknya, anda segera makan malam, Nona”
“Titip mereka sebentar ya, Mbak”
“Tentu, Nona. Mari Nona manis, kita bermain lagi” Jen segera beranjak, tak lupa ciuman panjang di benamkan di pipiku.
“Jen, main lagi ya, Ma”
Aku mengangguk, Jen kembali ke meja kecil tempatnya bermain dengan bonekanya. Semoga saja aku bisa membahagiakan mereka, meski tidak semewah ini. Aku tidak tahu sampai kapan, semua ini akan berakhir.
.
.
.
Kamar Harris berada di seberang kamar anak-anak. Lantai dua rumah ini memang membentuk lingkaran dengan menyisakan bagian tengah terbuka, sehingga bisa melihat ruang tamu yang berada di bawahnya.
Rupanya, kamar ini tidak di kunci. Terasa dingin dan sepi, seperti lama tidak berpenghuni. Aku sedikit merinding, apalagi cahaya di sini sangat redup. Membuang pikiran buruk, aku menyalakan semua lampu, sehingga kamar ini terang benderang, terasa seperti siang.
Aku mengguyur seluruh tubuhku, membiarkan air dingin menembus pori-pori. Andai saja, semua rasa sakit bisa ikut terbuang bersama air yang mengalir.
Melisa, bolehkah aku membencimu sebanyak yang aku mau? Sebanyak yang aku mampu? Sebanyak kau melukai diriku? Berapa lama kalian bermain di belakangku? Meski terlambat sekarang, tetapi kurasa, aku harus mengetahui semuanya. Ya, kurasa, semua menungguku sampai mampu berdiri tegar menghadapi kenyataan masa laluku. Dan inilah saatnya, aku sudah siap sekarang.
Aku menyudahi acara mandiku, sebelum aku mendapat masalah lain. Kali ini tak ada pilihan lagi, baju-baju kekecilan itu, yang harus ku pakai. Piyama yang tersedia di sini sudah lenyap semua. Aku keluar kamar mandi, mencari-cari baju yang mungkin bisa kupakai. Ada, tapi tetap saja hanya tali sebagai pengaitnya dan panjangnya hanya selutut. Bodo lah, nanti pakai selimut saja.
Memang, baju seperti itu umum di pakai, tapi aku tak pernah memakai baju seperti itu. Apa lagi jika ada orang lain yang melihat, aku sangat risih. Bahkan di depan Mas Rian aku tak pernah memakainya.
Tetapi aku lapar, bagaimana aku turun dengan baju seperti ini? Seperti menjawab kebingunganku, Bi Mai membawakanku makan malam. Tanpa menunggu lama, aku melahap sepotong steak bersama pelengkapnya. Ludes tak tersisa, aku sangat lapar, lagi pula, tidak baik menyisakan makanan bukan.
Setelah menaruh nampan di luar pintu, kamar sesuai perintah Bibi Mai, aku merebahkan diri di sofa. Sofa saja lebih nyaman daripada kasurku, bagaimana rasanya kasur itu? Aku tergoda untuk mencoba, tetapi, sisi baik dari hatiku melarangnya. Tempatku di sini.
.
.
.
Aku terbangun saat kurasakan cahaya menyilaukan mataku. Aku terlonjak dari tidurku. Jam yang tergantung di dinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Kenapa tidurku nyenyak sekali? Kamar sudah kosong, segera aku mandi dan menuju kamar anak-anak. Tetapi, kamar mereka juga sudah kosong.
Berlari menuruni tangga menuju dapur. Namun, aku berpapasan dengan Bibi Mai. Katanya, anak-anak pergi ke sebuah wahana permainan bersama Tuan Dirga.
Oke, anak-anak, kalian bahkan tidak minta izin Mama. Entahlah, apa aku harus merasa khawatir membiarkan anak-anak pergi tanpa ku? Belum pernah sebelumnya, kami terpisah seperti ini.
"Apa kau sudah siap?" Harris sudah berdiri di belakangku. Melihatku dengan matanya yang setajam elang itu.
Astaga, aku lupa, aku harus pindah ke rumah Harris. Tanpa sarapan, aku kembali lagi ke atas. Mengambil tas dan ponselku. Yang lain bisa ku bawa lain kali.
“Maaf, sudah membuatmu menunggu” Aku melihat Harris bersandar di mobilnya.
Tanpa menoleh, dia segera masuk ke mobil. Aku pun mengikutinya masuk ke mobil dan duduk di belakang.
“Aku bukan sopir taksi” Aku mengerti apa maksudnya, aku pun berpindah ke depan. Bisa tidak sih, jangan galak begitu? Hanya karena posisi duduk.
Kami duduk dalam diam, sesekali aku melirik Harris yang tengah fokus mengemudi.
“Johan kemana?” aku memecah kebisuan.
“Dia libur"
“Rumahmu dimana?”
“Kau akan segera tahu”
Sudahlah, jangan mengajaknya bicara. Kami mungkin berasal dari planet yang berbeda. Aku kembali diam, hanya ada musik dari audio mobil. Dan lagu itu berhasil membuat air mataku meleleh.
Tak sampai 15 menit, kami sudah berhenti di rumah bergaya modern. Rumah Harris berbeda sekali dengan rumah Papa. Lebih kecil tapi tetap mewah.
Aku tetap mengikuti Harris tanpa berbicara. Tentunya dia akan lebih berkuasa saat berada di rumahnya sendiri. Tiba-tiba, Harris berbalik, hampir saja aku menabraknya, jika aku tak segera mengerem langkahku.
“Karena permintaan Papa, kita tidur satu kamar, tetapi kau harus tetap tidur di sofa. Mengerti?”
Aku mengangguk sebagai jawaban. Benar bukan? Dia akan berkuasa di rumahnya sendiri. Tak apa, sofa di sini pasti juga sama besarnya dengan yang di sana.
Namun, aku salah. Sofa di sini seukuran sofa biasa. Kamar ini lebih terasa dingin dan seram. Cat kamar berwarna pucat, dan hanya jam yang menggantung di dinding. Ranjang besar, di apit 2 meja lampu. Ada juga kursi berbentuk aneh, bagaimana orang bisa duduk dengan bentuk seperti itu?
“Bajumu ada di dalam sana, ingat jangan mencampur pakaianmu dengan milikku. Jangan sentuh apapun di dalam lemari kaca di dalam sana” Aturan lagi. Kenapa tidak di tulis saja. Aku bisa lupa nanti.
“Jangan mengotori sofaku, keringkan rambutmu sebelum ke tidur di sana, jangan sampai air menetes-netes seperti kemarin, dan jangan pernah sekalipun menyentuh itu” Dia menunjuk kursi aneh tadi. Siapa juga yang mau menyentuh itu?
“Kau lakukan apa yang biasa kamu lakukan, aku tidak akan membatasimu, tetapi jam 8 malam harus sudah berada di rumah. Jika kau tidak bisa berpisah dengan anak-anakmu, bawa serta mereka kemari, asal jangan membuat keributan. Santi dan Agus akan mengawasi mereka selama kau pergi” Dia mengakhiri pidatonya yang panjangnya, sepanjang jalan kenangan.
Jangan marah ya, jika aku lupa dengan aturanmu, Tuan Perhitungan. Banyak sekali, tapi aku juga tidak merasa di rugikan. Wajah jutekmu kala mengatakan aturan ini, akan selalu menjadi pengingatku.
"Aku harus bekerja sekarang" Aku kembali menemukan suaraku, setelah hilang beberapa waktu.
“Pergilah, jika kau tidak bisa mengendarai mobil, ada motor di garasi. Jangan lupa isi bahan bakarnya” Kan? Tuan Perhitungan mulai lagi.
“Terima kasih. Boleh aku ke kamar mandi? Aku harus ganti baju”
“Pergilah, mungkin baju yang di siapkan Johan tak sesuai dengan seleramu” Johan? Memilih baju untukku? Wah, pasti kostum badut yang di belinya. Tapi, masih untung, jika Harris yang membelinya pasti semua modelnya kaya baju Mbak Kunti.
“Maaf, merepotkan, sebenarnya tidak perlu. Aku bisa mengambil bajuku di rumah” Aku tersenyum manis. Menutupi apa yang baru saja ku pikirkan.
“Kalau kau tidak bekerja, bantulah Rina dan Sari mengurus rumah ini” Aku tahu Tuan, aku akan bekerja di sini, ini semua tidak gratis bukan?
“Oke, tak masalah” Aku tersenyum singkat sebelum benar-benar masuk ke kamar, yang kukira kamar mandi. Rupanya, ruangan itu berisi pakaian, tas, sepatu, aksesoris, dan beberapa barang milik Harris.
Aku mengelilingi ruangan itu, besar, lebih besar dari kamarku. Dan sepertinya ini lemariku, aku mengambil celana jeans panjang dan kemeja dengan lengan baju sampai siku.
Harris masih duduk di sofa dengan memangku laptop. Dia menoleh kepadaku, ketika aku keluar dari ruang ganti.
“Kau bisa pakai laptop?” Ingin ku jawab tidak saja. Dia kira aku ini tak bisa apa-apa? Memang sih, tidak banyak yang aku bisa.
“Sedikit. Kenapa?" Dia sangat lama menjawab pertanyaanku.
"Hanya ingin tahu saja" Jawabnya acuh.
Terserah kau saja lah, Tuan. Aku malas meladenimu.
.
.
.
Haris juga sepertinya cuma butuh apem Kira gak butuh kehadiran anak anaknya maka dia bisa merajuk dan mengabaikan sapaan Jeje ( sakit tau anak sekecil itu merasa diabaikan dan gak dibutuhkan)
tersentuh oleh ibu??