Kalin Arsila Cayapata gadis 18 tahun yang punya pacar mata duitan, hubungan backstreet dari orangtua membuatnya harus bertemu sang pacar seperti maling, ngendap-ngendap sampai akhirnya dia bertemu denga Raksa Kamaludin, karyawan swasta biasa yang sampai umur 27 tahun belum juga nikah, yanh menyadarkan dia bahwa punya pacar matre itu bukan hanya bikin kantong bolong tapi bikin pengen nonjok.
Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Para Bocil
"Lo nggak usah ikut campur!" Reno menepis tangan raksa.
"Kalin ketemu sama gue, karena gue punya informasi buat dia. Yang mungkin akan menjadi bahan pertimbangan buat dia meneruskan hubungan pacaran bocil diantara kalian berdua," ucap raksa.
Reno ketawa sinis, "Omong kosong!"
Raksa ngeluarin hapenya, "Lo liat sendiri," Raksa nunjukin sebuah video yang dia rekam saat Reno ketemu sama Kalin kemarin dan vidio itu berlanjut saat Reno menggunakan motornya pergi ke rumah Melody.
"Loh? katanya lo bilang, motor lo di bengkel? terus ini apa? kenapa lo pakai motor lo sendiri? hem?" Kalin menggeleng percaya.
"Halah, lo mau-mau aja dikibulin sama orang ini! Bisa jadi, dia suruhan orang yang iri sama kita. Atau yang lebih epic nya lagi, kalian sengaja bikin vidio editan supaya bisa melindungi hubungan kalian. Jadi seolah-olah disini gue yang salah padahal bukan. Dasar licik!"
"Bachod banget nih bocah tengil, gua hajar baru tau rasa lo! untung ini di tempat umum, kalau nggak? udah abis lo sama gue dan gue nggak yakin lo pulang dengan muka yang mulus tanpa cela!" Raksa dengan wajah seriusnya.
"Cih, ternyata kayak gini cowok idaman lain lo, Lin?" Reno memandang Raksa darinujubg kaki sampai ujung kepala. Padahal kerenan Raksa kemana-mana, dan lebih modal yang jelas daripada Reno yang masih jajan pakai uang saku dari orangtua.
"Heh, Reno lo ngomong kacau parah sih! pertama lo udah nuduh gue yang nggak bener yang kedua ternyata disini lo yang jelas-jelas udah bohong sama gue. Lo bilang motor lo di bengkel, nggak punya duit buat benerin, nemuin gue pakai motornya Arkan. Terus ini apa? ini motor lo dan nomor platnya juga plat lo. Lo itu yang sebenernya udah ngebehongin gue, dan ini kan cewek yang waktu itu duduk di samping lo kan, Ren!"
"Dan disini udah jelas yang sebenernya pembohong itu lo bukan gue!" lanjut Kalin.
"Kalin, lo udah ketauan selingkuh tapi lo muter balikin fakta! gue nggak nyangka lo jadi cewek sepicik ini. Oke, mulai hari ini kita putus!" ucapan Reno sungguh membuat kalin snagat kaget. sedangkan Raksa hanya menyaksikan adegan drama ini.
"Lo nggak bisa giniin gue, dong! jelas-jelas di vidio ini lo yang ngehianatin gue, Reno! jangan-jangan selama ini kalau lo bilang kalau lo bilang kalau adek lo yang check out keranjang belanjaann lo, atau lo bilang kalau nggak ada duit buat nengokin temen yang sakit, jangan-jangan semua itu hanya kebohongongan yang lo karang selama ini?" Kalin udah bleweran air mata.
"Gue pernah denger ada cowok yang ketemu gue di atm, dan dia bilang sangat bersyukur punya atm berjalan!",Raksa nggak kuat kalau nggak nimbrung. Abisnya Reno nggak tau malu banget, dia yang udah ketauan ngibul tapi dia malah nyalahin orang lain, seolah dia korbannya disini, the real playing victim.
"Yang jelas bukan gue!" kata Reno nyautin, sementara Raksa pengen banget nempeleng mulut jahatnya si Reno.
"Kita putus Kalin. Mulai hari ini lo sama gue nggak ada hubungan apa-apa lagi!" ucap Reno.
"Lo nggak bisa mutusin gue gitu aja dong, Reno! setelah apa yang gue udah lakuin buat lo! gue sampai jual cincin pemberian bunda hanya buat minjemin lo duit, karena lo bilang kalau motor lo disrudug orang! kok lo dengan seenak jidat mutusin gue?"
"Tapi gue nggak nyuruh lo sampai jual cincin. gue nggak pernah maksa, dan lo sendiri yang dengan sukarela ngasih gue duit!" ucapan Reno bikin Kalin beneran shock.
"Astaga, Reno!" Kalin geram, dia beruraian air mata, dan bikin beberapa orang ngeliat ke arah mereka.
Kalin ngusap pipinya, "Oke kalau gitu! kita putus, dan gue tunggu dalam waktu seminggu lo harus bayar utang-utang lo sama gue! gue bakal kirim semua bukti transferan gue selama ini dan chat WA lo yang disitu jelas bilangnya 'Minjem' dan janji bakal ngebalikin!"
"Terserah!" kata Reno. Sementara air mata Kalin masih aja ngalir, dia ngerasa bodoh banget udah dikibulin Reno selama ini.
"Lo nggak perlu nangisin cowok brengssek kayak dia! buang-buang waktu!" Raksa narik tangan Kalin.
"Kita pergi dari sini!" lanjut Raksa yang juga nyamber tas Kalin dan ngajak gadis itu pergi dari sana.
Sedangkan Reno membuang nafas kesal dan balik lagi ke meja dimana temen-temennya berada.
"Ada masalah?" tanya salah satu teman Reno.
"Nggak ada, nyantai aja!" ucap Reno seolah nggak ada masalah.
'Lagian ada untungnya juga gue putus dari Kalin. Jadi gue bebas bisa ketemu sama Melody. Makin kesini Kalin makin pelit, jadi ada celah kayak tadi jadi keuntungan buat gue terlepas dari dia, dan bisa dapetin Melody yang lebih tajir dan nggak perhitungan kayak Kalin...' batin reno dia ngelanjutin makan siangnya.
Sementara Kalin masih aja nangis, bahkan setelah Raksa selesai ngebayar makanan yang sama sekali nggak mereka sentuh.
"Makanannya masih utuh, dibungkus aja buat mbak nya!"
"Terima kasih, Mas!" ucap si pegawai yang nerima rejeki nomplok.
Raksa pun narik kalin lagi, keluar dari restoran yang masih di dalam area mall.
"Udah, sih! nggak usah nangis!" kata Raksa yang malu juga diliatin orang dengan tatapan yang nggak enak.
"Kalau lo nangis mulu kayak gitu, yang ada mereka nyangka gue yang bikin lo nangis!" kata Raksa.
"Bodo amat!" ucap Kalin ditengah isakannya.
"Gini nih, kalau masih bocil udah pacaran!" gumam Raksa, dia ngajak Kalin jalan ke parkiran.
Masih untung sebelum ke mall ini dia udah beli helm, helm murahan yang ada di emperan jalan. Selain buat safety, nggak lucu juga kalau dia harus ketilang buat yang kesekian kalinya.
Jadi, Raksa pergi dari situ dengan ngeboncengin Kalin yang masih galau.
Raksa sesekali meriksa kaca spionnya, 'Bukannya dia harusnya merasa beruntung ya terlepas dari cowok matre kayak gitu?' batinnya.
"Hikss, hiksss, dasar Reno brengs-seeeeekkk!" teriak Kalin.
Sedangkan Raksa no comment, dia biarin aja si Kalin ngeluapin perasaannya. Lagian siapapun juga marah kalau jadi cewek itu. Udah dituduh, dibegoin pula.
"Udah sih, jangan nangis mulu! ini kita mau kemana? atau gue anterin ke rumah lo aja ya?" tanya Raksa.
"Nggak mauuuuu!!!" Kalin dengan sesenggukan.
"Jangan bilang lo mau npel gue sampe seharian?"
Kalin ngangguk, "Pleasee, ng-nggak mungkin gue, balik dengan muka sembab kayak gini! hiksssss, bun-bunda pasti nanya macem-macem!"
"Bilang aja baru putus cinta, susah amat!"
"Nggak mungkin! bun-da pasti marah! karena----" ucapan Kalin terhenti.