Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: PERMAINAN DUA SISI
BAB 18: PERMAINAN DUA SISI
Lantai 40 gedung Raisinghania Group kini menjadi medan perang baru yang tak kasat mata. Aarohi duduk di meja kerjanya yang luas, namun keberadaan Aryan Malik yang menempati kantor tepat di seberang ruangannya terasa seperti duri dalam daging. Aryan tidak hanya hadir sebagai pengawas; ia mulai mencampuri setiap keputusan strategis, mulai dari urusan logistik hingga membatalkan pertemuan dengan klien-klien lama Deep.
"Kau tidak bisa membatalkan kontrak dengan vendor konstruksi itu secara sepihak, Aryan!" Aarohi masuk ke ruangan Aryan tanpa mengetuk pintu, membanting dokumen yang baru saja ia terima.
Aryan Malik, yang sedang bersantai sambil memutar-mutar pulpen emas di jemarinya, mendongak dengan senyum meremehkan. "Vendor itu milik salah satu sepupu Deep, Anjali. Jika kau ingin membersihkan perusahaan ini dari 'darah' Deep, kau harus mulai dari akarnya. Bukankah itu yang kau inginkan?"
Aarohi terdiam. Kata-kata Aryan benar, namun cara pria itu melakukannya terasa seperti sedang mencekik perusahaan secara perlahan. "Aku tahu apa yang aku lakukan. Tapi menggantinya dengan vendor milik keluarga Malik hanya akan membuat publik berpikir aku telah menjual perusahaan ini padamu."
Aryan berdiri, berjalan mendekati Aarohi dengan langkah yang penuh percaya diri. Ia berhenti tepat di depan Aarohi, memberikan tekanan intimidasi yang halus. "Publik tidak peduli siapa yang membangun gedung, Anjali. Mereka hanya peduli gedung itu berdiri tegak. Dan saat ini, hanya Malik yang punya modal untuk memastikan gedungmu tidak runtuh akibat utang Deep."
Aarohi menatap mata Aryan yang tajam. Ada sesuatu di balik tatapan itu yang membuatnya merasa tidak nyaman—bukan rasa takut, tapi sebuah pengenalan. "Kenapa kau begitu bersemangat membantu menghancurkan Deep? Bukankah dulu keluargamu sering melakukan transaksi rahasia dengan dia?"
Aryan tertawa kecil, suara tawanya terdengar hampa. "Dalam bisnis, tidak ada teman abadi, hanya ada kepentingan yang abadi. Deep sudah tidak berguna. Dan kau... kau adalah variabel baru yang menarik."
Sore harinya, Aarohi bertemu dengan Abhimanyu di sebuah kafe tersembunyi di pinggiran Shimla. Ia membutuhkan informasi yang tidak bisa ia dapatkan di dalam kantor.
"Abhimanyu, periksa hubungan antara keluarga Malik dan orang tuaku," perintah Aarohi pelan sambil mengaduk tehnya.
Abhimanyu mengerutkan kening. "Kenapa? Bukankah musuh utama kita adalah Deep?"
"Ada yang aneh dengan cara Aryan Malik menatapku. Dia seolah tahu siapa aku sebenarnya, bukan hanya sebagai Anjali Khanna. Dan dokumen utang yang dia bawa... tanggalnya sangat berdekatan dengan malam kebakaran rumah orang tuaku empat belas tahun lalu."
Abhimanyu tertegun. "Maksudmu, keluarga Malik mungkin terlibat dalam pembakaran itu?"
"Deep mungkin yang memberikan perintah, tapi siapa yang menyediakan dananya? Siapa yang diuntungkan dari hilangnya penyelidikan jaksa saat itu? Deep baru memulai bisnisnya saat itu, dia belum sekaya sekarang. Dia butuh investor," jelas Aarohi dengan nada dingin.
Malam itu, Aarohi memutuskan untuk melakukan infiltrasi kecil-kecilan. Ia tahu Aryan menyimpan arsip pribadinya di brankas digital kantor barunya. Di tahun 2026 ini, keamanan siber adalah segalanya. Aarohi menggunakan alat peretas nirkabel yang diberikan Abhimanyu—sebuah perangkat canggih yang mampu menembus enkripsi tingkat tinggi dalam radius lima meter.
Ia menyelinap masuk ke kantor Aryan saat gedung sudah sepi. Suasana ruangan itu sangat gelap, hanya diterangi cahaya lampu jalan yang masuk dari jendela kaca. Aarohi mendekati meja Aryan, menyalakan alatnya, dan mulai mengunduh data.
Progress: 20%... 45%... 70%...
Tiba-tiba, lampu ruangan menyala terang.
"Mencari sesuatu, Anjali?"
Aarohi tersentak dan berbalik. Aryan Malik berdiri di ambang pintu, bersandar di bingkai pintu dengan tangan bersedekap. Ia tidak tampak marah; ia justru tampak seperti pemburu yang baru saja menangkap mangsanya dalam perangkap.
"Aku hanya tertinggal beberapa dokumen," dalih Aarohi, mencoba tetap tenang meski jantungnya berpacu cepat.
Aryan berjalan masuk, menutup pintu di belakangnya dan menguncinya. "Dokumen yang memerlukan alat peretas militer? Jangan menghina kecerdasanku. Aku tahu siapa kau."
Langkah Aryan berhenti tepat di depan Aarohi. Ia membungkuk, berbisik tepat di telinga Aarohi yang kini gemetar karena amarah. "Kau adalah Aarohi. Gadis yang seharusnya mati terbakar empat belas tahun lalu. Deep mengira dia menyelamatkanmu, padahal dia hanya menyembunyikan bukti kejahatannya. Dan sekarang kau kembali untuk menuntut balas, tapi kau malah masuk ke dalam perangkap yang lebih besar."
Aarohi melepaskan topeng "Anjali"-nya. Ia menatap Aryan dengan kebencian yang murni. "Jika kau tahu, kenapa kau tidak melaporkanku? Kenapa kau malah membantuku di rapat direksi?"
"Karena aku ingin apa yang Deep miliki," jawab Aryan sambil mencengkeram lengan Aarohi. "Termasuk kau. Deep menghancurkan hidupmu, tapi aku... aku bisa memberimu keadilan yang sesungguhnya. Jika kau bekerja sama denganku, kita bisa membuat Deep membusuk di penjara selamanya. Tapi jika kau melawanku... aku punya cukup bukti untuk mengirimmu kembali ke penjara atas tuduhan penipuan identitas."
Aarohi menarik tangannya dengan kasar. "Aku tidak akan pernah menjadi budakmu, Aryan Malik!"
"Kita lihat saja nanti," ucap Aryan dengan senyum penuh kemenangan. "Pilihannya ada di tanganmu, Aarohi. Menjadi sekutuku, atau dihancurkan oleh rahasiamu sendiri."
Aarohi melangkah keluar dari ruangan itu dengan amarah yang membakar. Ia menyadari bahwa di tahun 2026 ini, di kota Shimla yang penuh intrik, ia tidak hanya bertarung melawan masa lalu, tapi juga melawan masa depan yang ingin membelenggunya kembali. Namun, Aarohi sudah belajar satu hal penting: di dunia ini, tidak ada yang benar-benar bersih, dan ia akan menggunakan lumpur itu untuk menenggelamkan Aryan Malik jika perlu.
.