Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ULANG TAHUN YANG BERDEKATAN
Seperti dua bintang yang bersinar berdampingan di satu lintasan langit, tanggal 15 dan 16 bulan yang sama datang dengan kehangatan yang tak tertahankan—membawa dengan diri janji-janji bahagia dan momen-momen yang akan tertanam dalam ingatan selamanya. Khem lahir pada tanggal 15, satu tahun lebih tua dari Murni yang melihat dunia pertama kalinya pada tanggal 16 berikutnya. Takdir seperti seorang tukang anyam yang cermat, menjalin benang waktu dengan rapi hingga kedua ulang tahun itu berdampingan seperti dua buah bunga yang tumbuh bersebelahan di satu akar.
Keduanya pernah berjanji untuk tidak mengadakan sesuatu yang besar—"Kita cukup berdiam diri saja, ya?" kata mereka berdua dengan suara yang sama, seperti gema yang kembali menyapa sumbernya. Tapi hati yang penuh dengan cinta selalu menemukan cara untuk menyembunyikan keajaiban di balik tirai kesederhanaan. Khem telah menyusun rencana dengan teman-teman kerja dari pabrik besi dan baja, sementara Murni juga telah mengatur kejutan bersama rekan-rekan dari pabrik makanan—kedua kelompok itu secara rahasia menyatukan langkah untuk merayakan kedua ulang tahun itu di tempat yang tidak terduga namun penuh kenangan: warung mie Gacoan yang terletak di pinggir jalan raya, di mana mereka pernah makan bersama untuk pertama kalinya setelah hari kerja yang melelahkan.
~~
Malam tanggal 15 datang dengan kain malam yang dihiasi bintang-bintang yang bersinar seperti permata mahkota. Udara masih membawa sisa panas siang hari yang menyengat, tapi diiringi hembusan angin malam yang lembut seperti sapuan tangan ibu yang sayang. Khem diperdaya oleh Murni untuk pergi jalan-jalan ke pasar malam dekat pantai, sementara di warung mie Gacoan, teman-teman kerja sedang sibuk menghias setiap sudut dengan balon warna-warni yang seperti buah ara yang menggantung di langit, dan pita-pita yang melayang seperti ular warna yang sedang menari.
Teman-teman dari pabrik besi dan baja—pria-pria dengan tangan kasar karena bekerja dengan logam setiap hari, namun hati yang hangat seperti bara api yang selalu menyala—sudah datang lebih awal. Pak Koko, seorang tukang las yang telah bekerja selama dua puluh tahun, sedang menyusun meja-meja menjadi bentuk hati yang besar, sementara Kang Suryo membawa nasi kuning yang dibungkus daun pisang dengan rapi, aroma kari dan serundengnya meresap ke udara seperti pesona yang tak bisa ditolak.
"Sekarang kita tunggu saja mereka datang," ujar Pak Koko dengan senyuman yang membuat kerutan wajahnya semakin dalam, seperti peta jalan yang menunjukkan jejak hidupnya yang penuh perjuangan. "Khem adalah anak yang baik—selalu membantu teman saat ada kesusahan. Waktunya kita balas budinya dengan kejutan yang tak terlupakan."
Sementara itu, di pasar malam, Murni sedang menarik tangan Khem ke arah gerobak makanan yang menjual cilok dan batagor. Cahaya lampu neon di pasar malam berkelip-kelip seperti mata yang berkedip dengan senang, sementara suara keramaian dan musik dari atraksi jalanan membentuk simfoni malam yang meriah.
"Kamu tahu apa, Khem?" ujar Murni dengan suara yang penuh misteri, matanya bersinar seperti bintang kembar yang terlihat jelas di langit. "Aku punya sesuatu yang ingin kukasihkan padamu malam ini."
Khem tersenyum, mengusap rambut Murni yang sedikit berantakan karena angin pantai. "Aku juga punya sesuatu untukmu, sayang," jawabnya dengan suara yang lembut seperti ombak yang menyapu pasir. "Tapi mungkin kita bisa menyimpan cerita itu untuk nanti saja ya?"
Murni mengangguk dengan senyuman yang licik, kemudian menarik tangan Khem kembali ke arah jalan raya. "Ayolah, kita pulang saja. Aku merasa sedikit lapar," katanya dengan nada yang dibuat-buat, tapi hati yang penuh dengan kegembiraan seperti anak kecil yang akan mendapatkan hadiah ulang tahun.
Ketika mereka tiba di depan warung mie Gacoan, seluruh lampu padam. Khem merasa sedikit bingung, tapi sebelum ia bisa berkata apa-apa, lampu menyala kembali dengan terang, dan semua orang yang ada di sana bersorak serentak: "SELAMAT ULANG TAHUN, KHEM!"
Khem terkejut hingga matanya melebar seperti bulan purnama yang muncul tiba-tiba dari balik awan. Ia melihat teman-teman kerjanya yang sedang mengangkat tangan dengan penuh semangat, melihat dekorasi yang cantik, dan melihat piring mie Gacoan yang besar dengan telur mata sapi yang seperti matahari tengah hari, dan bakso yang bulat seperti planet kecil yang mengelilinginya. Di atas meja, ada kue ulang tahun berbentuk helm las—kreasi dari rekan kerja Murni yang ahli membuat kue hias di pabrik makanan.
"Kalian... semua ini untukku?" tanya Khem dengan suara yang sedikit bergetar, air mata kebahagiaan mulai mengumpul di sudut matanya seperti embun pagi yang menetes di daun keladi.
"Sudah pasti, mas Khem!" ujar Ibu Tutik—pemilik warung—yang datang membawa mangkuk mie panas dengan wajah yang penuh senyum. "Kamu adalah pelanggan terbaik kita, dan teman yang baik bagi banyak orang. Ini adalah cara kita untuk mengucapkan terima kasih atas segala kebaikanmu."
Mereka duduk bersama di meja yang berbentuk hati, menikmati mie yang pedasnya seperti cemburu yang menyengat namun enaknya seperti cinta yang memuaskan. Teman-teman bercerita tentang momen-momen lucu bersama Khem di pabrik—ketika ia salah memasang pelat baja sehingga harus membongkarnya lagi dari awal, atau ketika ia membagikan makanan kepada teman yang tidak punya uang untuk makan siang. Setiap cerita membuat semua orang tertawa terbahak-bahak, tawa mereka seperti musik yang meriah mengisi malam yang damai.
Setelah makan, Murni berdiri dan membawa kue ulang tahun yang telah disiapkan. Semua orang menyanyi lagu ulang tahun dengan suara yang tidak terlalu merdu namun penuh dengan cinta, suara mereka seperti ombak yang menyatu dengan pantai. Khem meniup lilin yang menyala dengan ceria seperti bintang kecil, kemudian membuat keinginan dalam hati—keinginan yang hanya diketahui dirinya dan langit malam yang luas.
"Sekarang, aku punya hadiah untukmu," ujar Murni dengan suara yang lembut, membawa sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas kado dengan renda putih yang melayang seperti awan tipis.
Khem membuka kotaknya dengan hati-hati, dan di dalamnya ada sebuah jam tangan kulit yang warna coklatnya seperti tanah yang subur. Di dasarnya, ada tulisan yang diukir dengan rapi: "Untuk Khem—yang membuat hidupku seperti waktu yang selalu berharga. Cinta, Murni."
"Aku cinta kamu, Murni," ucap Khem dengan suara yang penuh dengan kebenaran, menarik Murni ke dalam pelukan yang hangat. "Ini adalah hadiah terbaik yang pernah aku terima dalam hidupku."
~~
Hari berikutnya, matahari terbit dengan keindahan yang lebih mengagumkan dari biasanya—langit berubah warna dari ungu tua seperti bunga anggrek menjadi oranye muda seperti kulit buah melon yang matang. Khem telah merencanakan kejutan yang lebih besar untuk Murni. Teman-teman dari pabrik makanan—wanita-wanita dengan tangan terampil yang bisa membuat kue seperti karya seni dan makanan yang penuh cinta—sudah datang ke warung mie Gacoan sejak pagi hari, menghias tempat itu dengan bunga mawar merah dan putih yang seperti hati yang terbuka dan cinta yang suci.
Rekan kerja Murni—Bu Lina yang membuat kue bolu yang lembut seperti awan, dan Kak Yanti yang ahli membuat saus sambal yang pedas namun nikmat—sedang sibuk menyiapkan hidangan spesial. Ada nasi tim dengan ayam suwir yang aroma bawang putihnya meresap ke udara seperti doa yang penuh harapan, ada perkedel jagung yang renyah seperti kerikil pantai, dan ada es cendol yang manisnya seperti senyuman Murni yang selalu membuat hari menjadi lebih baik.
Khem membawa Murni pergi ke taman kota yang terletak di atas bukit, di mana mereka bisa melihat seluruh kota yang tersebar seperti hamparan kain batik yang luas di bawah kaki mereka. Udara pagi yang segar bercampur dengan aroma bunga kamboja yang tumbuh di sekeliling taman, membuat mereka merasa seperti berada di surga kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
"Kamu tahu apa, sayang?" ujar Khem dengan suara yang penuh dengan kehangatan, mengeluarkan sebuah amplop kecil dari kantong jasanya. "Aku punya sesuatu yang ingin kubagikan padamu hari ini."
Murni menerima amplop dengan tangan yang sedikit gemetar karena kegembiraan. Di dalamnya ada selembar kertas dengan tulisan tangan Khem yang rapi seperti anak-anak yang sedang belajar menulis:
"Murni, kamu adalah matahari yang menyinari hari-hariku yang gelap,
Kamu adalah air yang menghidupkan tanamanku yang layu,
Kamu adalah cinta yang aku cari sepanjang hidupku.
Hari ini, aku ingin mengajakmu untuk selalu bersama,
Untuk merayakan setiap ulang tahun yang akan datang,
Untuk membangun rumah yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan."
Murni menangis dengan kebahagiaan, air matanya seperti matahari yang menyinari permukaan air kolam. Ia mengelilingi leher Khem dengan tangan yang lembut, mencium pipinya yang kasar namun hangat. "Aku mau, Khem," ujarnya dengan suara yang bergetar. "Aku mau selalu bersama kamu, sekarang dan selamanya."
Ketika mereka kembali ke warung mie Gacoan pada malam hari, semua orang sudah menunggu dengan penuh semangat. Rekan kerja Murni membawa sebuah kue ulang tahun berbentuk bunga mawar—warna merahnya seperti cinta yang menyala, dan warna putihnya seperti kesucian hati mereka. Balon-balon warna muda seperti awan pagi menggantung di setiap sudut, dan pita-pita warna emas melayang seperti sinar matahari yang menyinari jalan mereka.
"SELAMAT ULANG TAHUN, MURNI!" sorak semua orang dengan suara yang meriah, membuat malam yang tenang menjadi hidup dengan kegembiraan.
Murni melihat sekeliling dengan mata yang penuh kagum. Ia melihat teman-teman kerjanya yang sedang tersenyum dengan penuh cinta, melihat hidangan yang lezat yang sudah disiapkan dengan hati-hati, dan melihat wajah Khem yang penuh dengan kebahagiaan seperti anak kecil yang mendapatkan mainan impiannya.
"Makasih banyak untuk semua orang," ujar Murni dengan suara yang sedikit bergetar, air mata kebahagiaan kembali mengucur lewat pipinya. "Aku tidak pernah menyangka bahwa ulang tahunku akan dirayakan dengan begitu meriah."
Mereka makan bersama dengan sukacita, menikmati mie Gacoan yang pedasnya seperti kehidupan yang penuh tantangan namun enaknya seperti cinta yang selalu ada untuk menghangatkan hati. Teman-teman bercerita tentang momen-momen lucu dengan Murni di pabrik—ketika ia salah mencampur bahan sehingga kue menjadi terlalu manis, atau ketika ia menghibur teman yang sedang sedih dengan cerita lucu yang membuat semua orang tertawa.
Setelah makan, Khem berdiri dan membawa sebuah kotak hadiah yang lebih besar dari kemarin. "Ini untukmu, sayang," ujarnya dengan suara yang lembut, matanya bersinar seperti bintang yang paling terang di langit.
Murni membuka kotaknya dengan hati-hati, dan di dalamnya ada sebuah cincin emas kecil dengan batu permata yang berwarna biru seperti laut yang dalam. Di bagian dalam cincin, ada tulisan yang diukir dengan rapi: "Murni & Khem—Selalu Bersama."
"Khem..." ucap Murni dengan suara yang penuh emosi, menangis sambil tersenyum. "Ini adalah hadiah paling indah yang pernah kiterima."
Khem mengambil cincin itu dengan hati-hati, kemudian memasangkannya pada jari manis Murni. "Ini bukan hanya cincin," katanya dengan nada yang penuh makna, seperti puisi yang terucap dari dalam hati. "Ini adalah janjiku untuk selalu mencintaimu, selalu melindungimu, selalu ada untukmu dalam suka dan duka."
Semua orang bersorak dan membunyikan sendok dan garpu sebagai tanda kegembiraan, suara mereka seperti hujan yang menyenangkan jatuh di atas tanah yang kering. Bulan purnama muncul dari balik awan, menyinari mereka dengan cahaya yang lembut dan damai, seolah menyaksikan momen bahagia yang sedang terjadi di warung mie sederhana itu.
Di sudut warung, Aksa sedang duduk bersama Amara, menyaksikan seluruh acara dengan senyuman yang tulus. Ia melihat bagaimana bahagia Murni dan Khem, dan meskipun di dalam hati masih ada sedikit rasa sakit yang tersisa, ia tahu bahwa ini adalah yang terbaik untuk mereka berdua. Amara memberikan tangan nya pada Aksa dengan lembut, dan ia merasakan kehangatan yang membuat hati nya menjadi lebih tenang.
Malam semakin larut, tapi kegembiraan tidak pernah surut. Mereka bernyanyi, tertawa, dan berbagi cerita hingga jam yang sangat larut. Ketika acara akhirnya berakhir dan semua orang mulai pulang, Khem dan Murni berdiri bersama di depan warung mie Gacoan, melihat langit malam yang penuh dengan bintang-bintang yang bersinar seperti harapan yang tak pernah padam.
"Kamu tahu apa, sayang?" ujar Khem dengan suara yang lembut, mengelilingi pinggang Murni dengan tangan nya. "Ini adalah ulang tahun terbaik yang pernah kulalui dalam hidupku."
Murni menyandarkan kepalanya pada bahu Khem, merasakan detak jantung nya yang berdebar dengan irama yang sama dengan dirinya. "Aku juga begitu, Khem," jawabnya dengan suara yang lembut seperti bisikan angin. "Semoga setiap ulang tahun kita akan selalu dirayakan bersama seperti ini."
Khem mencium dahi Murni dengan lembut, kemudian melihat ke arah langit yang luas. "Amin," ucapnya dengan penuh keyakinan. "Semoga kita akan selalu bersama, seperti dua bintang yang tidak pernah terpisahkan di langit malam."
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Setelah hiruk-pikuk perayaan yang penuh dengan tawa dan kehangatan teman-teman, tanggal 17 datang seperti embun pagi yang lembut menyentuh daun-daun yang masih basah. Khem dan Murni bangun dengan senyuman yang tertanam dalam hati—senyuman yang membawa bekas kebahagiaan dari dua hari penuh suka cita. Hari itu, mereka telah menyepakati satu hal: malam ini adalah milik mereka berdua saja, sebuah malam yang akan mereka isi dengan kehangatan cinta yang tak perlu dibagi dengan siapapun.
Khem telah menyusun segalanya dengan hati-hati. Ia mengantarkan Murni ke kamar untuk bersiap dengan senyum misterius yang membuat hati wanita itu berdebar seperti burung merpati yang siap terbang ke langit yang luas. "Hanya kenakan yang paling cantik ya, sayang," katanya sambil mencium pelan bibir Murni, suara nya seperti musik yang lembut mengiringi langkahnya pergi.
Saat matahari mulai bersandar ke arah barat, mengecat langit dengan warna jingga dan merah muda seperti kelopak bunga kamboja yang mekar di pagi hari, Murni berdiri di depan cermin yang didekorasi dengan renda putih yang melayang seperti awan tipis. Ia mengenakan gaun panjang warna biru laut yang mengalir seperti aliran sungai yang lembut, dengan renda di bagian bahu yang seperti selaput embun yang menutupi kulitnya yang lembut. Rambutnya diikat dengan anggrek putih yang harumnya seperti doa yang penuh harapan, sementara bibirnya diolesi lipstik warna merah anggur yang seperti buah matang yang mengundang untuk dicicipi.
Ketika ia keluar dari kamar, Khem yang telah menunggu di ruang tamu kos terkejut hingga napasnya terhenti sejenak. Ia mengenakan jas hitam yang rapi seperti malam yang damai, dengan dasi warna emas yang bersinar seperti sinar matahari sore yang menyentuh permukaan laut. Matanya yang biasanya penuh dengan kekerasan karena bekerja dengan besi dan baja kini lembut seperti air kolam yang tenang, memandang Murni seolah ia adalah satu-satunya makhluk indah di dunia ini.
"Kamu cantik sekali, Murni," ucap Khem dengan suara yang sedikit bergetar, hati nya berdebar seperti anak kecil yang melihat keajaiban pertama kalinya. Ia merentangkan tangan nya dengan lembut, seperti seorang pangeran yang mengajak ratunya untuk menari di atas lantai balai. "Siapkah kamu untuk pergi ke tempat yang spesial?"
Murni mengambil tangan nya dengan senyuman yang penuh dengan cinta dan kepercayaan. "Aku siap kapan saja, selama bersamamu," jawabnya dengan suara yang lembut seperti bisikan angin malam yang menyapu dedaunan kering.
Khem mengemudikan mobilnya dengan perlahan, melalui jalan-jalan kota yang mulai terlihat lebih damai dengan datangnya malam. Cahaya lampu jalan menerangi jalan mereka seperti titik-titik harapan yang menyala di tengah kegelapan, sementara pepohonan yang tumbuh di pinggir jalan bergoyang perlahan seperti penari yang menari dengan irama malam. Udara malam membawa aroma bunga melati dari rumah-rumah yang mereka lewati, serta sedikit aroma garam dari laut yang tidak jauh dari sana.
Mereka keluar dari kota, menuju arah pantai yang dikenal dengan pasirnya yang putih seperti gula halus dan ombaknya yang lembut seperti sapuan tangan yang sayang. Di kejauhan, lampu mercusuar menyala dengan terang seperti mata raksasa yang menjaga pantai dari bahaya yang tak terlihat. Ketika mereka tiba di tempat tujuan, Murni terkejut melihat sebuah meja makan yang telah disiapkan di atas pasir putih, di bawah kanopi kayu yang dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang bersinar seperti bintang jatuh ke bumi.
Di sekitar meja, lilin-lilin kecil menyala dengan lembut seperti nyala cinta yang tak pernah padam, sementara kelopak bunga mawar merah dan putih berserakan di atas pasir seperti permata yang tersebar di lantai surga. Di kejauhan, ombak menyapu pasir dengan suara yang seperti lagu cinta yang selalu dinyanyikan alam untuk mereka berdua.
"Khem... ini semua untuk kita?" tanya Murni dengan suara yang penuh kagum, air mata kebahagiaan mulai mengumpul di sudut matanya seperti embun pagi yang menetes di daun keladi.
"Hanya untuk kita berdua, sayang," jawab Khem dengan suara yang lembut, menarik kursi untuk Murni dengan penuh kesopanan seperti seorang lelaki yang menghormati ratunya. "Kita telah berbagi begitu banyak hal dengan orang lain—waktunya kita punya sesuatu yang hanya milik kita sendiri."
Mereka duduk bersebelahan, tangan mereka saling terjalin di atas meja yang ditutupi kain putih yang bersih seperti awan pagi. Seorang pramusaji datang membawa hidangan dengan pelayanan yang lembut seperti angin malam—sup krim jamur yang aroma bawang putihnya meresap ke udara seperti pesona yang tak bisa ditolak, diikuti dengan steak daging sapi yang matangnya pas seperti waktu yang selalu tepat untuk cinta, dan sayuran panggang yang segar seperti rasa bahagia yang baru tumbuh.
Mereka makan dengan perlahan, menikmati setiap suapan dengan penuh rasa syukur. Tidak banyak kata yang diucapkan—kata-kata sepertinya terlalu dangkal untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hati mereka. Mata mereka saling bertemu seperti dua aliran sungai yang menemukan jalan ke laut yang sama, setiap pandangan membawa makna yang lebih dalam dari ribuan kata yang bisa diucapkan.
Setelah makan, pramusaji membawa hidangan penutup—sebuah kue coklat yang lembut seperti awan, dengan saus karamel yang mengalir seperti cinta yang tak pernah berhenti mengalir. Di tengah kue, ada lilin kecil yang menyala dengan nyala yang tenang seperti harapan yang selalu ada di dalam hati mereka.
"Mari kita buat keinginan," ujar Khem dengan suara yang penuh kehangatan, melihat mata Murni yang bersinar seperti bintang kembar di langit malam.
Mereka menutup mata bersama, membuat keinginan dalam hati—keinginan yang sama, keinginan untuk selalu bersama, untuk merayakan setiap hari seperti ulang tahun, untuk membangun rumah yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan. Kemudian mereka meniup lilin itu bersama-sama, dan nyalanya padam dengan lembut seperti malam yang memberikan tempat bagi matahari untuk bersinar keesokan harinya.
Setelah selesai makan, mereka berdiri dan berjalan menyusuri pantai, kaki mereka menyentuh pasir yang hangat seperti pelukan yang lembut. Ombak menyapu kaki mereka dengan lembut seperti air yang membersihkan segala beban yang ada di dalam hati, sementara angin malam menyapu wajah mereka dengan kesegaran yang membuat jiwa menjadi lebih tenang.
Khem mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantong jasnya, kotak yang sama dengan yang ia bawa pada malam ulang tahun Murni, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di dalamnya. "Murni," ujarnya dengan suara yang penuh tekad, berdiri menghadap Murni dengan mata yang penuh dengan cinta dan keyakinan. "Selama kita bersama, hidupku telah menjadi seperti lautan yang luas dan penuh dengan keindahan. Kau adalah bintang yang selalu menunjukkan arah padaku, air yang menghidupkan aku, dan rumah yang selalu kutuju setiap kali aku merasa tersesat."
Ia membuka kotak itu dengan hati-hati, dan di dalamnya ada sebuah cincin emas yang lebih besar dari yang diberikan pada malam ulang tahun, dengan batu permata biru yang lebih cerah seperti laut yang dalam pada hari yang cerah. Di bagian dalam cincin, ada tulisan yang diukir dengan rapi: "Murni—Wanita yang Aku Cinta, calon Istri yang Akan Kubawa Pulang."
"Murni, akankah kamu mau menjadi istriku?" tanya Khem dengan suara yang sedikit bergetar, namun penuh dengan kebenaran yang tak bisa diragukan lagi. "Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu, merayakan setiap ulang tahun, setiap musim, setiap momen yang ada di depan kita. Aku ingin membangun keluarga denganmu, mengajari anak-anak kita tentang cinta dan kebaikan, dan melihatmu menjadi nenek yang penuh cinta bagi cucu-cucu kita nantinya."
Murni menangis dengan kebahagiaan yang luar biasa, air matanya seperti matahari yang menyinari permukaan laut. Ia mengangguk dengan penuh emosi, menangis sambil tersenyum. "Ya, Khem! Tentu saja aku mau!" ujarnya dengan suara yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan. "Aku telah mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, dan aku akan selalu mencintaimu hingga akhir hayatku. Kamu adalah pria terbaik yang pernah kukenal, dan aku bersedia menghabiskan seluruh hidupku bersamamu."
Khem memasangkan cincin itu pada jari manis Murni dengan hati-hati, kemudian menariknya ke dalam pelukan yang hangat dan erat—pelukan yang penuh dengan janji-janji yang tak perlu diucapkan dengan kata-kata, pelukan yang membawa mereka kembali ke awal semua hal, ketika cinta pertama kali tumbuh di antara mereka seperti benih yang tumbuh menjadi pohon yang besar dan kuat.
Mereka berdiri di sana untuk waktu yang lama, saling memeluk di bawah langit yang penuh dengan bintang-bintang yang bersinar seperti permata mahkota alam semesta. Ombak terus menyapu pasir dengan suara yang seperti lagu cinta yang tak pernah berakhir, sementara angin malam menyanyi lagu yang sama untuk mereka berdua—lagu tentang cinta yang kuat, tentang kebahagiaan yang sesungguhnya, tentang dua hati yang akhirnya menemukan rumah di dalam satu sama lain.
Ketika mereka akhirnya berjalan kembali ke mobil, tangan mereka tetap saling terjalin seperti dua rantai yang tidak bisa dipisahkan. Di jalan pulang, matahari mulai menunjukkan tandanya akan muncul kembali di ufuk timur, mengecat langit dengan warna-warna yang indah seperti harapan yang baru tumbuh. Khem melihat ke arah Murni yang sedang tertidur dengan damai di sebelahnya, kepala nya menyandar pada bahu nya seperti bayi yang merasa aman di pelukan ibunya.
Di dalam hati, ia berjanji pada dirinya sendiri dan pada alam semesta yang telah menyatukan mereka—ia akan selalu mencintai Murni dengan sepenuh hati, akan selalu melindunginya, akan selalu ada untuknya dalam suka dan duka. Ia tahu bahwa kehidupan tidak akan selalu mudah, bahwa akan ada masa-masa sulit seperti badai yang mengguncang kapal. Tapi ia juga tahu bahwa dengan cinta yang mereka miliki, mereka akan mampu menghadapi segala sesuatu yang datang—bersama-sama, seperti dua jiwa yang telah terikat untuk selama-lamanya.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Setelah malam romantis yang seperti mimpi yang tak ingin terbangun, kehidupan kembali mengalir seperti sungai yang tenang setelah badai berlalu. Hari-hari kembali ke ritme yang biasa—matahari terbit dengan kehangatan yang selalu sama, lalu terbenam dengan keindahan yang tak pernah membosankan. Namun ada sesuatu yang berbeda sekarang, sesuatu yang seperti sinar matahari yang menyinari setiap sudut hidup mereka: cinta mereka semakin dalam, semakin romantis, seperti anggur yang semakin manis seiring berjalannya waktu.
Setiap pagi, Khem bangun sebelum matahari muncul dari balik ufuk timur. Ia memasak kopi hangat untuk Murni dengan cara yang selalu ia lakukan—dengan sedikit gula dan susu yang membuat rasanya seperti pelukan yang hangat. Setelah mereka sarapan bersama di meja kecil kos yang penuh dengan tawa dan candaan, ia berangkat ke pabrik besi dan baja dengan hati yang penuh semangat.
Pabrik yang biasanya terasa seperti tempat kerja yang keras kini terasa seperti rumah kedua bagi Khem. Suara mesin yang berdecit dan las yang berbunyi seperti petasan tidak lagi terdengar seperti kebisingan yang mengganggu—melainkan seperti simfoni yang mengiringi langkahnya dalam membangun masa depan bersama Murni. Tangan nya yang kasar karena bekerja dengan logam setiap hari kini terasa lebih kuat, karena ia tahu setiap pekerjaannya adalah untuk menyusun pondasi rumah yang akan mereka bangun bersama.
"Ternyata cinta bisa membuat pekerjaan besi jadi lebih hangat ya, mas Khem!" ujar Pak Koko dengan senyuman yang penuh makna, sambil melihat Khem yang sedang memasang pelat baja dengan kehati-hatian yang luar biasa.
Khem tersenyum sambil terus bekerja. "Betul sekali, Pak Koko," jawabnya dengan suara yang penuh kebahagiaan. "Setiap pelat yang kusambungkan, setiap las yang kukasih—semuanya adalah untuknya. Seperti merakit puzzle yang bagiannya adalah kebahagiaan kita berdua."
Pada jam istirahat, ia selalu mengambil ponselnya untuk melihat foto Murni yang ada di layar—foto mereka bersama di pantai pada malam itu, wajah Murni yang tersenyum bahagia dengan cincin di jari nya yang bersinar seperti bintang. Kadang-kadang ia mengirim pesan singkat yang penuh cinta: "Sedang merindukanmu, sayang. Semoga hari mu menyenangkan di pabrikmu."
Setiap pesan itu seperti embun pagi yang menyegarkan hati Murni di tengah kesibukannya.
Sementara itu, Murni menghabiskan hari nya di pabrik makanan ringan yang beraroma manis dan gurih seperti dunia permen yang nyata. Tangannya yang terampil dalam membuat kue dan makanan ringan kini bekerja dengan lebih penuh cinta—setiap kue yang dia bentuk, setiap saus yang dia campur, semuanya terasa seperti karya seni yang ia berikan untuk orang-orang tersayang.
Rekan kerja nya selalu melihatnya tersenyum sendiri ketika sedang bekerja, tangannya yang cepat dan terampil bergerak seperti penari yang menari di atas lantai panggung. "Murni, kamu jadi lebih cantik dan bahagia ya sejak akhir-akhir ini!" ujar Bu Lina dengan senyuman yang hangat, sambil melihat Murni yang sedang menghias kue bolu dengan bunga gula yang indah seperti bunga asli.
Murni tersenyum sambil menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang sedikit memerah. "Karena aku punya alasan untuk bahagia, Bu Lina," jawabnya dengan suara yang lembut seperti madu yang mengalir.
Pada jam istirahat, ia selalu berlari ke kamar istirahat untuk melihat pesan dari Khem. Setiap kata yang ia baca membuat hati nya berdebar seperti burung yang sedang bersiap terbang. Kadang-kadang ia membuat makanan khusus untuk Khem—kue coklat yang lembut seperti awan, atau nastar yang manis seperti cinta mereka. Ia membungkusnya dengan kertas kado yang cantik dan memberikan nya pada teman kerja Khem yang bersedia membawanya ke pabrik.
Ketika Khem menerima makanan itu, wajahnya akan bersinar seperti matahari tengah hari. Rasanya tidak hanya enak di lidah—melainkan hangat di hati, seperti rasa cinta yang selalu ada untuk menghangatkan dirinya di tengah dinginnya pabrik besi dan baja.
Setelah pulang kerja, kehidupan mereka semakin penuh dengan kehangatan dan keakraban. Kadang-kadang Khem mengantar Murni pulang dari pabrik, mengendarai mobilnya dengan perlahan sambil bernyanyi lagu cinta yang mereka sukai bersama. Suara nya yang tidak terlalu merdu namun penuh dengan rasa membuat Murni tersenyum setiap saat.
Di kos mereka, mereka sering memasak bersama di dapur kecil yang penuh dengan aroma rempah-rempah dan cinta. Khem akan membantu memotong sayuran sambil cerita tentang kejadian lucu di pabrik, sementara Murni memasak hidangan kesukaan mereka—rendang yang pedasnya seperti kehidupan yang penuh semangat, atau ikan bakar yang aromanya seperti pantai yang selalu mereka rindukan.
Malam hari mereka sering menghabiskan waktu di halaman kos, duduk di bawah pohon jambu air yang rindang sambil melihat langit bintang. Khem akan mengajak Murni berbicara tentang rencana mereka—tentang rumah yang akan mereka bangun di pinggir kota, dengan kebun sayuran di belakang rumah dan taman bunga di depan nya. Murni akan mendengarkan dengan penuh perhatian, kadang-kadang menambahkan ide nya sendiri—tentang kamar anak-anak yang akan dihiasi dengan warna-warni, atau ruang tamu yang akan diisi dengan buku-buku dan tanaman hijau.
"Kita akan punya sebuah taman yang indah, sayang," ujar Khem dengan suara yang penuh harapan, mengelilingi pinggang Murni dengan tangan nya. "Kita akan menanam bunga mawar merah dan putih—seperti warna cinta kita."
Murni menyandarkan kepalanya pada bahu Khem, merasakan detak jantung nya yang berdebar dengan irama yang sama dengan dirinya. "Dan aku akan membuat taman sayuran yang penuh dengan sayuran segar," jawabnya dengan suara yang lembut. "Jadi kita tidak perlu membeli sayuran di pasar lagi—semuanya ada di halaman rumah kita sendiri."
Mereka sering berbagi cerita tentang masa lalu mereka—tentang hari-hari ketika mereka masih muda dan tidak tahu apa-apa tentang cinta, tentang kesalahan yang mereka buat dan pelajaran yang mereka dapatkan. Setiap cerita membuat mereka semakin menghargai hubungan yang mereka miliki sekarang, semakin menyadari bahwa cinta yang sejati bukanlah tentang menemukan orang yang sempurna—melainkan tentang menerima orang tersebut dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dan bersama-sama menjadi lebih baik setiap hari.
Hidup mereka kembali normal, tapi normal nya adalah yang terbaik yang bisa mereka dapatkan. Tidak ada lagi pertengkaran yang menyakitkan atau kesalahpahaman yang membuat hati mereka terluka. Setiap hari adalah kesempatan untuk saling mencintai lebih dalam, untuk saling menghargai lebih banyak, untuk membangun kenangan indah yang akan mereka ceritakan kepada anak-anak dan cucu-cucu mereka nantinya.
Suatu sore, ketika matahari mulai bersandar ke arah barat dan mengecat langit dengan warna jingga yang indah, Khem dan Murni sedang duduk di halaman kos sambil menikmati teh hangat yang dibuat Murni dengan daun teh kemangi segar dari pot di luar jendela kamar mereka. Udara sore membawa aroma daun pepaya yang tumbuh di sudut halaman dan sedikit aroma bunga melati dari pot kecil di dekat meja mereka.
"Kamu tahu apa, sayang?" ujar Khem dengan suara yang penuh kebahagiaan, melihat mata Murni yang bersinar seperti bintang kembar di langit sore. "Hidupku tidak pernah seindah ini sebelum aku bertemu denganmu."
Murni tersenyum dengan penuh cinta, memberikan tangan nya pada Khem dengan lembut. "Aku juga begitu, Khem," jawabnya dengan suara yang lembut seperti bisikan angin. "Kamu telah mengubah hidupku menjadi seperti buku cerita yang indah—setiap halamannya penuh dengan kebahagiaan dan cinta."
Mereka saling memandang dengan mata yang penuh dengan cinta dan rasa syukur. Di sekitar mereka, kehidupan terus berjalan seperti biasa—suara anak-anak yang bermain di gang belakang, suara penjual bakso yang sedang menjajakan dagangannya, suara ayam yang berkokok menyambut malam yang akan datang. Tapi bagi mereka berdua, semuanya terdengar seperti musik yang indah—musik yang menyertai mereka dalam setiap langkah kehidupan mereka yang semakin romantis dan penuh makna.
...