NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Bertani / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.

Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.

Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Panggilan "Berbakti"

Sebuah sedan hitam mengkilap, terlalu bersih untuk jalanan desa yang berdebu, berhenti tepat di depan pagar bambu yang baru diperbaiki.

Di kap mesinnya, bendera kecil merah putih berkibar lemah. Pelat nomornya berwarna merah, memancarkan aura birokrasi yang intimidatif.

Pak Man, yang sedang menyiangi rumput liar, sontak berhenti. Cangkulnya tertahan di udara.

Warga desa yang kebetulan lewat, melipir minggir dengan tatapan segan campur takut. Bagi rakyat jelata, mobil dinas pejabat adalah simbol kekuasaan yang tak boleh diusik.

Pintu mobil terbuka.

Seorang pria muda berambut klimis turun. Pakaiannya setelan safari cokelat muda yang licin, lengkap dengan pena emas yang menyembul di saku dada.

Dia memandang sekeliling dengan hidung berkerut, seolah udara desa yang segar ini mengandung racun bagi paru-paru kotanya.

Sepatu kulit pantofelnya yang mengkilap kini ternoda debu kapur putih saat ia melangkah masuk ke pekarangan.

"Permisi. Apakah benar ini kediaman Saudari Rahayu Ningsih?" tanyanya. Suaranya sopan, tapi nadanya mekanis. Tanpa rasa hormat.

Rahayu, yang sedang menjemur kerupuk gendar di tampah, nyaris menjatuhkan wadah bambu itu. Tubuhnya menegang. Dia mengenali seragam itu.

Itu adalah seragam staf Sekretariat Keraton. Seragam yang sama dengan yang sering dipakai sopir atau asisten suaminya dulu.

"I-inggih, Den... Saya Rahayu," jawabnya tergagap. Tangannya yang basah buru-buru dilap ke kain jarik yang lusuh.

Jantung Rahayu berdegup kencang, memompa harapan semu yang menyakitkan ke seluruh pembuluh darahnya.

Apakah Mas Radit mengirim kabar? Apakah dia ingat jalan pulang?

Pria bersafari itu tidak tersenyum. Dia mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna putih gading dari tas kulitnya. Di sudut amplop itu, tercetak lambang resmi dengan tinta emas yang timbul.

"Saya Hendra, staf khusus Bapak Radityo Adhiwijaya. Saya diamanatkan untuk menyampaikan surat penting ini langsung ke tangan Ibu."

Nama itu. Radityo Adhiwijaya.

Mendengarnya diucapkan dengan gelar resmi membuat lutut Rahayu lemas.

Sekar Wening muncul dari ambang pintu. Gadis itu baru saja selesai meracik pupuk cair. Aroma fermentasi samar-samar menempel di baju kerjanya. Matanya menatap tajam ke arah Hendra, lalu turun ke amplop mewah di tangan ibunya.

Insting profesornya langsung bekerja.

Kedatangan ini bukan kunjungan keluarga. Ini adalah manuver politik.

"Buka, Bu," perintah Hendra, sedikit mendesak. "Bapak menunggu jawaban segera."

Dengan tangan gemetar hebat, Rahayu merobek segel amplop itu. Dia mengeluarkan kertas surat yang tebal dan wangi. Wangi kertas mahal yang asing di hidung orang desa.

Mata sayu Rahayu menyusuri barisan kalimat yang diketik rapi itu. Bibirnya bergetar saat membaca isinya.

Air mata mulai merebak di sudut matanya, namun kali ini bukan air mata sedih, melainkan air mata haru yang keliru.

"Nduk..." panggil Rahayu parau. Dia menoleh pada Sekar. Wajahnya berseri-seri, sebuah pemandangan yang langka.

"Bapakmu... Bapakmu minta kita pulang."

Sekar tidak bereaksi. Dia berjalan mendekat, langkahnya tenang namun penuh kewaspadaan.

"Boleh saya baca, Bu?"

Rahayu menyerahkan surat itu dengan hati-hati, seolah menyerahkan benda keramat.

Sekar membaca surat itu.

Setiap kata yang tertulis di sana bagaikan jarum yang dicelupkan ke dalam madu beracun.

...Mengingat kondisi kesehatan Ibu dan masa depan Ananda Sekar, Bapak memutuskan untuk mengakhiri masa 'refleksi diri' kalian di desa...

Refleksi diri? batin Sekar mendengus sinis. Dia menyebut pembuangan kejam selama belasan tahun sebagai 'refleksi diri'?

Mata Sekar menyipit saat membaca paragraf berikutnya.

...Demi kelancaran administrasi bisnis yang kini dijalankan Ananda Sekar, dan mengingat usia yang belum cakap hukum, maka hak wali dan manajemen usaha akan diambil alih oleh Bapak selaku kepala keluarga yang sah, demi ekspansi yang lebih terarah di bawah bimbingan Keraton...

Sekar menahan napas.

Di dalam otaknya, analisis linguistik berjalan cepat.

Gaslighting. Manipulasi psikologis.

Surat ini membungkus keserakahan dengan bahasa kasih sayang palsu.

Ayahnya tidak menginginkan mereka kembali. Dia menginginkan kontrak eksklusif Keraton yang baru saja didapat Sekar. Dia ingin menguasai aset.

"Kita akan dijemput minggu depan, Nduk," ucap Rahayu penuh harap.

"Bapak sudah siapkan kamar di rumah kota. Kita bakal kumpul lagi jadi keluarga utuh..."

Hendra tersenyum miring, merasa tugasnya sudah selesai dengan mudah.

"Benar sekali. Pak Radit sangat merindukan kalian. Beliau ingin menebus waktu yang hilang. Mobil jemputan akan dikirim Senin pagi."

Hendra melirik jam tangan mahalnya. "Tanda tangan persetujuan di bagian bawah, biar saya bawa kembali berkasnya."

Rahayu sudah siap mencari pena. Dia begitu rindu pada suaminya, begitu haus akan validasi, hingga logikanya tumpul total.

"Tunggu," suara Sekar memotong, dingin dan tajam seperti silet bedah.

Rahayu berhenti. "Kenapa, Nduk?"

Sekar menatap ibunya dalam-dalam.

"Bu, sadarlah. Dia tidak memanggil kita karena rindu. Dia memanggil kita karena aku masuk koran."

"Dia mau uangnya. Dia mau bisnisnya. Bukan kita."

Wajah Rahayu memucat. "Jaga mulutmu, Sekar! Dia itu Bapakmu!"

"Bapak yang mana?" balas Sekar datar. "Bapak yang membiarkan kita makan nasi aking? Bapak yang membiarkan anaknya hampir mati dipukuli keponakannya sendiri?"

Hendra berdeham keras, merasa tersinggung atas nama bosnya.

"Nona Sekar, tolong jaga sopan santun. Pak Radityo berniat baik mengangkat derajat kalian kembali. Jangan jadi anak durhaka yang tidak tahu untung."

Sekar menoleh perlahan ke arah Hendra. Tatapan gadis 18 tahun itu begitu intens, membuat nyali staf muda itu menciut seketika. Itu bukan tatapan gadis remaja, melainkan tatapan seorang predator puncak yang wilayahnya diganggu.

"Mas Hendra, ya?" tanya Sekar lembut, tapi mematikan.

Sekar berjalan menuju meja kayu di teras. Di sana, ada sebuah lampu teplok minyak tanah yang menyala kecil untuk mengusir lalat.

Tangan Sekar mengangkat surat berharga itu.

"Apa yang kamu lakukan?" seru Hendra panik. "Itu dokumen resmi negara! Ada kop surat kedinasan!"

"Dokumen resmi?" Sekar terkekeh pelan. "Ini cuma sampah yang dibungkus amplop emas."

Tanpa keraguan sedikitpun, Sekar mendekatkan ujung kertas surat itu ke lidah api lampu teplok.

Wush.

Api dengan lahap menyambar kertas kering itu.

"TIDAK! Nduk!" jerit Rahayu histeris, hendak maju merebut surat itu.

Tapi Sekar mengangkat tangannya tinggi-tinggi, membiarkan api merambat naik, memakan kata-kata manis penuh kepalsuan itu.

Tulisan 'Hak Wali' dan 'Kepala Keluarga' berubah menjadi abu hitam yang rapuh, melayang tertiup angin panas Kulon Progo.

Hendra mundur selangkah, matanya terbelalak ngeri. Dia tidak pernah melihat keberanian, atau kegilaan, seperti ini.

Sekar memegang kertas itu sampai api nyaris menyentuh ujung jarinya, lalu menjatuhkannya ke tanah dan menginjak sisa baranya dengan sepatu boots karetnya.

Krak.

Surat itu hancur lebur. Menyatu dengan tanah debu yang selama ini menghidupi mereka.

Suasana hening mencekam. Hanya terdengar isak tangis tertahan dari Rahayu yang terduduk lemas di kursi bambu.

Sekar berdiri tegak di hadapan utusan ayahnya. Tubuhnya kecil, tapi bayangannya seolah raksasa.

"Sampaikan pesan saya pada Tuan Radityo Adhiwijaya," ucap Sekar. Suaranya tenang, datar, tanpa emosi meledak-ledak, namun setiap suku katanya memiliki bobot yang berat.

Hendra menelan ludah, tidak berani menyela.

"Katakan padanya..."

Sekar menatap lurus ke mata Hendra, memastikan pesannya terekam jelas di memori pria itu.

"...anak yang dia buang sudah mati."

Angin berhembus, menerbangkan abu sisa surat itu ke arah Hendra.

"Yang berdiri di sini sekarang adalah pemilik tanahnya sendiri."

"Dan pemilik tanah ini tidak sudi menerima tamu yang datang hanya untuk merampok."

Wajah Hendra memerah padam, campuran antara marah dan malu. Dia mendengus kasar, membenarkan kerah bajunya dengan gugup.

"Kamu akan menyesal, Nona. Kamu tidak tahu siapa yang kamu lawan," ancam Hendra dengan suara bergetar, lalu berbalik badan dengan kaku.

"Ayo pulang!" bentaknya pada sopir. Pintu mobil dibanting keras. Sedan hitam itu menderu, berputar arah dengan kasar, meninggalkan kepulan debu tebal yang menyesakkan dada.

Sekar tidak bergeming sedikitpun sampai mobil itu hilang di tikungan.

Setelah suara mesin menjauh, barulah bahu tegapnya turun sedikit. Dia berbalik menatap ibunya.

Rahayu menangis tergugu, menatap sisa abu di tanah dengan tatapan kosong. Hancur sudah mimpi indahnya untuk kembali ke kota.

"Kenapa, Nduk... Kenapa kamu bakar..." ratap Rahayu pilu.

Sekar berlutut di depan ibunya, menggenggam tangan kasar wanita yang melahirkannya itu.

Tidak ada penyesalan di wajah Sekar. Yang ada hanya determinasi baja seorang ilmuwan yang baru saja membuang variabel parasit dari eksperimen kehidupannya.

"Karena kita bukan pengemis, Bu," bisik Sekar tegas.

"Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan Bapak sekalipun, mengambil apa yang sudah kita bangun dengan darah dan air mata ini."

1
Luvqaseh😘😘
mak nye pun..bodo amat...
Musdalifa Ifa
bagus Sekar pertahankan sikap tegas mu dan beri pengertian pada ibu mu walaupun itu menyakitkan nya tapi itu lebih baik daripada hidup dalam dunia halu
Leni Ani
lanjut thor,bagus sekar.kalau bapak durjanem mu iku banyak tingkah mintak tolong aja sm mas arya😅😅👍👍
Leni Ani
ndas mu prasitiyo,mana mau sekar sm kamu yg mentelantar kan nya sm ibu nua di gubuk reyo,malah nanti karir mu yg amblas😅😅😅😅👍
gina altira
jgn kasih celah Sekar,, babat habis klo bisa
Leni Ani
mantap sekar jangan mau jd alat uji coba orang lain.lebih baik kamu tambah beli tabah supaya orang tahu kerja keras mu💪💪👍👍
nur
aq kok ksel banget rsane ro ibumu sekar
Leni Ani
😅😅😅😅💪👍
sahabat pena
dia adalah pangeran.
Lala Kusumah
good job Sekar 👍👍👍💪💪💪😍😍😍
lin sya
good sekar bpk durhaka itu anak yang dibuang dan dianggep sial mau dijdiin sapi perah gk tau malu, klo mengusik viralin aj dimajalah koran biar jabatan terancam jd gembel, greget bacanya 🤭
Markuyappang
suka dengan karakter sekar tapi nggak suka dengan karakter ibunya. ibunya terlalu bodoh dan gampang banget ditipu, alasannya selalu ingin jadi keluarga yg utuh tapi nggak pernah ngelihay gimana anaknya berjuang. udah selalu diingetin tapi selalu diulangin trs menerus gak pernah berubah. kirain yg habis nyuri barang anaknya bakalan berubah eh ternyata masih sama aja masih sama sama bodoh, terlalu nurut keluarga laknat itu, terlalu takut, dan terlalu berharap. kenapa gak bisa lihat susahnya anaknya berjuang dan menderitanya anaknyaaa gegara keinginan dia coba. lama lama anak mu sendiri yg pergi gegara sikap bodohmu itu bu rahayuu
Darti abdullah
luar biasa
Leni Ani
cerita nya bagus tapi kebanyaan analisis ngak bagus jg thor,jadi analidis yg banyak cerita pemeran nya sedikit,itu jadi nya cerita pemeran dlm cerita ini kayak kasat mata🙏🏻
INeeTha: Terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Alif
alurnya lambat readher harus sabar membacanya
Musdalifa Ifa
wow Sekar selamat ya🤝, dan untuk author juga wow ceritanya bagus 👍
nur
lanjut kan sekar
Lala Kusumah
Alhamdulillah akhirnya .... bahagianya aku 😍😍😍
gina altira
Jd tarung ga yaaaa
gina altira
Kereennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!