Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu
Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPPL 11
“Kamu ngapain, Dan?”
Suara Fadi membuat Zaidan tersadar dari lamunannya. Pria paruh baya itu baru saja keluar dari kamar, masih mengenakan sarung dan kemeja koko. Pandangannya langsung tertuju pada putranya yang duduk di meja makan dengan gelas kosong di hadapannya.
“Nggak ada, Pa. Lagi pengin duduk aja,” jawab Zaidan sekenanya tanpa mengangkat kepala.
Fadi melangkah ke dapur kecil, menuang air hangat ke dalam gelas, lalu ikut duduk berhadapan dengan Zaidan.
“Mau berangkat pagi banget hari ini?” tanyanya santai. “Atau mau sarapan dulu?”
“Nggak, Pa. Santai aja. Berangkat kayak biasa.”
Jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit. Seperti biasa, selepas Subuh berjamaah di masjid, para lelaki di rumah itu memang sudah siap dengan aktivitas masing-masing. Rian tadi turut ikut ke masjid, tapi sekarang mungkin masih di kamar.
Fadi menyeruput airnya pelan, lalu menatap putranya lebih saksama.
“Kamu lagi ada masalah?”
Nada suaranya lembut, dan tidak menginterogasi. Hanya bertanya, seperti ayah yang mengenal betul anaknya.
“Nggak ada,” jawab Zaidan cepat, meski suaranya terdengar tidak meyakinkan. “Masalah kantor aja.”
Fadi mengangguk pelan, namun tatapannya tak lepas dari wajah Zaidan.
“Yakin cuma masalah kantor?” tanyanya lagi. “Bukan masalah wanita?”
Zaidan yang sejak tadi menunduk spontan mengangkat kepala. “Pa… please, jangan ikutan Mas Rian.”
Fadi tersenyum kecil. “Papa nanya baik-baik.”
Ia menyandarkan punggung ke kursi. “Kamu dari SMA sampai sekarang belum pernah pacaran sama sekali. Teman perempuan juga hampir nggak ada karena sekolah otomotif isinya cowok semua. Wajar kalau di usia kamu sekarang mulai ada yang mengusik pikiran.”
Zaidan menghela napas pelan. “Memangnya Zaidan boleh nikah duluan? Ngelangkahin Kak Qilla, emangnya nggak apa-apa?”
Fadi tertawa kecil. “Kalau menurut Papa, ya nggak apa-apa. Kamu nunggu Qilla? Itu anak santai banget hidupnya. Pulang aja harus disuruh. Kalau jodoh kamu datang duluan, ya kenapa harus ditahan?”
“Kalau Mama sih mungkin pura-pura protes, tapi Papa yakin Mama nggak keberatan,” tambahnya.
Zaidan tersenyum tipis, lalu kembali menunduk.
“Terus…” Fadi menyipitkan mata penuh selidik. “Udah ada pacar kamu?”
“Belum ada, Pa,” jawab Zaidan cepat.
“Tapi…” Fadi mencondongkan tubuhnya sedikit. “Udah ada yang bikin kamu kepikiran, kan?”
Zaidan terdiam cukup lama. Wajah seorang perempuan dengan mata sendu dan tubuh ringkih itu kembali muncul di benaknya. Cara dia menunduk, dan cara dia berusaha kuat meski sangat jelas terlihat rapuh.
“Ada,” jawabnya akhirnya, lirih.
Fadi tersenyum tipis. “Siapa? Teman kantor? Junior kamu di kepolisian?”
“Bukan.”
“Terus siapa?”
Zaidan menggeleng. “Nanti aja, Pa. Zaidan belum siap cerita.”
Fadi mengangguk. “Papa nggak maksa. Yang penting kamu jujur sama diri kamu sendiri. Dan satu lagi… jangan kamu mainkan perasaannya. Suka bilang suka, tidak bilang tidak.”
Saat suasana mulai hening, terdengar langkah kaki dari tangga.
“Wah, serius amat nih pagi-pagi.”
Rian muncul dengan rambut basah dan juga wajah berseri. Ia langsung menarik kursi dan duduk di samping Zaidan.
“Ngomongin apa, Pa? Jangan bilang Zaidan curhat soal pacar,” godanya sambil menyeringai.
“Mas…” Zaidan melirik tajam. “Nggak usah sok tahu. Situ tuh, udah subuh langsung gempur Kak Jelita. Ingat, ada Naira di kamar.”
“Naira udah pindah ke kamar Kakek Neneknya tadi,” jawab Rian santai tanpa rasa bersalah.
Zaidan menatap ke arah Fadi yang terlihat langsung manyun.
“Bisa-bisanya dia ungsikan anaknya,” sinis Fadi.
Rian terkekeh. “Kembali ke topik, bener ‘kan ngomongin cewek? Buktinya kemarin jaket aja dipinjemin. Itu udah tanda bahaya, tahu.”
Fadi menghela napas pendek. “Kamu ini, Ran, pagi-pagi sudah usil.”
“Biar hidup rame, Pa,” jawab Rian santai. Lalu ia menepuk bahu Zaidan. “Tenang aja, Dan. Kalau memang ada perempuan yang bikin kamu mikir, itu artinya kamu masih manusia normal.”
Zaidan kembali menatap sinis ke arah iparnya itu. “Memangnya aku selama ini nggak normal apa?”
Rian mengedikkan bahunya. “Selama ini, Mas nggak pernah lihat kamu dekat sama perempuan.”
“Bukan berarti aku nggak normal!” geram Zaidan.
“Ya udah, diperjuangkan.”
“Pak Bupati… udah, mending balik ke kamar aja. Kelonan lagi sama istrinya mumpung anaknya lagi diungsikan ke kamar Kakek-Neneknya,” usir Zaidan.
“Ide bagus,” jawab pria itu sambil cengengesan. Ia bahkan langsung meninggalkan meja makan dan berjalan kembali ke arah kamarnya yang di lantai atas.
“Eh eh.. itu anaknya jemput. Istri Papa didominasi itu.”
Zaidan hanya menghela napas melihat papa dan iparnya.
“Nasib jomblo.”
****
Seminggu berlalu begitu saja.
Hari-hari Zaidan berjalan seperti biasa, berangkat pagi dan pulang petang, tenggelam dalam tumpukan laporan dan rutinitas yang nyaris tak pernah berubah. Satu-satunya yang membuat suasana rumah sedikit berbeda adalah kehadiran Elran, putra pertama Rian dan Jelita, yang memutuskan menghabiskan libur sekolahnya di rumah kakek-neneknya.
Rian, Jelita, dan juga Naira telah kembali ke kota mereka. Sebagai Bupati, Rian tak mungkin mengambil cuti panjang. Jadwal Jelita pun padat, mengurus kegiatan PKK sekaligus mendampingi suaminya dalam berbagai agenda resmi.
Maka hampir setiap malam, Zaidan dan Elran menghabiskan waktu bersama. Bermodal dua ponsel dan jaringan internet yang kadang naik turun, mereka larut dalam game online hingga larut malam. Tawa, umpatan kecil karena kalah, dan teriakan kemenangan sering terdengar dari kamar Zaidan.
“Tidur, Dan!” suara Bunga biasanya menyusul tak lama kemudian. “Besok kamu kerja. Elran juga walaupun libur, nggak boleh begadang!”
Begitulah Bunga yang selalu mengawasi putra bungsunya dan cucunya sekaligus, dengan nada tegas yang tak pernah benar-benar galak.
Anehnya rutinitas sederhana itu cukup membantu Zaidan. Setidaknya, ia bisa sedikit mengusir keresahan yang belakangan sering datang tanpa permisi.
Meski begitu, satu nama tetap saja muncul di sela-sela kesibukan.
Zahra.
Bayangan gadis itu kerap menyelinap begitu saja. Suara lirihnya, serta matanya yang menyimpan terlalu banyak luka. Zaidan berusaha meyakinkan diri bahwa perasaan ini hanyalah iba. Rasa kasihan seorang manusia normal.
Namun… entahlah.
Kalau memang cuma iba, kenapa ia masih memikirkannya bahkan di saat lelah?
Beberapa kali Zaidan nyaris menekan tombol panggil di ponselnya. Nomor Zahra tersimpan rapi di ponselnya. Untuk mendapatkan nomor Zahra bukan perkara sulit. Tapi setiap kali jari itu telah berada di depan pilihan ‘menghubungi’, jarinya berhenti.
Tidak sekarang.
Belum ada alasan. Sampai hari itu tiba.
Sepucuk surat panggilan sidang dari pengadilan atas nama Zahra.
Zaidan menatap amplop itu cukup lama sebelum akhirnya mengambil keputusan. Ia tidak ingin menyampaikannya lewat pesan singkat atau telepon. Entah kenapa, rasanya tidak pantas.
Ia ingin menyerahkannya secara langsung.
Tujuannya adalah tempat kerja Zahra, sebuah minimarket ritel yang jaraknya sekitar dua puluh menit dari kantornya. Zaidan sendiri tidak tahu pasti apakah Zahra sedang bertugas hari ini atau tidak.
“Tapi kayaknya ada,” gumamnya, seolah mencoba menenangkan diri sendiri.
Motor sport hitamnya melaju dengan kecepatan sedang. Angin sore menyusup lewat helmnya, tapi tak mampu menenangkan degup di dadanya. Ada rasa ingin segera sampai, bercampur gugup yang tak mau diakui.
Saat motor berhenti di depan minimarket itu, pandangannya langsung tertuju ke dalam.
Di sana Zahra berdiri. Mengenakan kaus merah khas karyawan, rambutnya terikat sederhana, sedang menyusun barang di rak dengan gerakan cekatan namun tenang.
Jantung Zaidan berdetak lebih cepat.
“Please, jantung… selow dong,” gumamnya lirih. “Jangan sampai ketahuan kalau lagi gugup begini.”
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah turun dari motor.
...****************...
Eh bang, kita kok ikut deg degan juga nih 😂😂
Btw jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, best ❤️
Like, komen, kopi dan bunga author tunggu 🥰🥰