Kisah seorang wanita bernama Kiko, karena trauma masa lalu nya membuat Ia jijik jika di sentuh oleh seorang pria.
Lebih parahnya akan membuat Ia panik, gemetar bahkan Pingsan.
apalagi Pria itu Tampan.
kemudian Ia bertemu dengan seorang Pria Tampan dan anehnya Ia bisa bersentuhan langsung dengannya, Karena hal itu lah yang membuat Kesalah Pahaman ini Terjadi.
Kiko tidak tahu bahwa Pria tersebut adalah Pria mapan, tampan dan berhati dingin. banyak di Gilai oleh banyak kaum hawa.
Pria tersebut tak lain bernama Dion, pengusaha muda sukses yang memiliki kuasa serta segalanya.
ikutilah Kisah mereka, jangan di lewatkan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyatukan Hati
saat memasuki gedung Bioskop yang lumayan ramai, Kiko sedikit was was juga gemetar akan banyaknya para pria ikut berkunjung dan mengantri dengan pasangan ataupun temannya.
"kau tak apa apa?" tanya Dion pada Kiko yang bersembunyi dibalik tubuh Dion.
"tidak apa apa Tuan" sahutnya sedikit ada nada getir didalamnya
Dion yang mengerti dan mampu menebak situasi kemudian berbalik kearah Kiko lalu Ia menggenggam tangan telanjang Kiko penuh yakin.
"jangan takut! ada aku disini"
entah apa yang dirasa, ucapan Dion layaknya seperti matra membuat Kiko menatap kagum tenang dan yakin bahwa dirinya akan baik baik saja jika bersama Dion.
belum lagi jemari yang saling menempel membuat Kiko tak henti meliriknya dengan jantung yang ber debar debar.
"kita akan menonton film apa, Tuan?" tanya Kiko
"terserah kau saja" sahut Dion datar
loh, bukannya dia yang mengajakku menonton. ah terserahlah
"kalau film ini bagaimana?" Kiko menunjuk film horror
sontak Dion mendehem serasa ada yang menyangkut ditenggorokannya, "ya boleh"
sebetulnya Dion jenis pria yang takut dengan hantu, tapi karena dihadapan Kiko. Ia tidak mau dianggap seperti pria yang remeh dan penakut.
"sekalian aku pesan popcorn ya, Tuan?"
"terserah padamu!"
lagi lagi terserah, okelah.
****
kemudian mereka memulai memasuki studio dan film segera diputar.
ya dapat kalian tebak bagaimana tegangnya Dion sambil mencoba menenangkan dirisendiri.
tenang, tenang.
Dion mencoba meyakinkan diri sembari mengunyah popcorn yang dibelinya tadi.
"apa Tuan takut?" tanya Kiko
"gak kok, kau malah yang akan takut dan merengek minta pulang!" tantang Dion
"he he aku suka film horror, jadi hal itu tidak berlaku untukku"
sial, kenapa dia setenang ini sih
Dion sempat keget ketika ada jump scare tapi dengan sekuat tenaga Dion mencoba tenang dan menutup matanya menggunakan sebelah tangan layaknya orang mengintip.
"Tuan takut?" tanya Kiko yang menyadari Dion tengah gemetar
"dih, siapa yang takut! aku cuma lagi ngantuk kok soalnya filmnya membosankan" lagi lagi Dion mencoba tenang
"oh begitu, sukurlah, karena film ini pasti banyak adegan jump scarenya"
Deg
Dion mulai gelisah, Ia mulai mengunyah kembali popcorn dengan perasaan tegang.
hingga tiba saatnya adegan itu penampakkan penampilan hantu yang terlihat jelas menyeramkan serta menjijikkan dan..
Byur!!
popcorn jatuh dimana mana dan Dion bersembunyi dibalik tubuh Kiko.
"Tuan apa apaan sih?" Kiko risih pasalnya orang orang protes akan reaksi gemuruh dari Dion.
****
"kau ngambek?" tanya Dion
"tau ah", Kiko memalingkan muka, "Tuan sendiri yang ngajakin nonton eh malah jadi begini"
Kiko kesal pasalnya film baru beberapa menit diputar, Dion sudah marah minta untuk keluar.
"ya udah gak usah marah, kita pergi jalan jalan saja ketempat lain!"
"kemana?" tanya Kiko masih dengan bibir kerucutnya
Dion menarik tangan Kiko menuntunnya melangkah pergi tanpa menjawab pertanyaan Kiko.
mereka datang ke sebuah tempat hiburan ramai di malam hari, banyak para pasangan serta keluarga datang untuk berkunjung. menghibur diri dipasar malam yang penuh dengan wahana permainan menarik.
"kau suka tempat ramai kan?" tanya Dion memberi senyum, "jadi tempat ini lumayan bagus untuk kita datangi"
Kiko mengangguk penuh takjub, "suka suka", sahutnya gembira
tapi keadaan begitu ramai, membuat Kiko juga tak kalah was was daripada di gedung bioskop tadi, banyaknya pria juga berkunjung.
"ta...tapi, apa tidak sebaiknya kita pulang saja?" tanya Kiko mulai merasa gugup saat berjalan ditengah keramaian.
Kiko mungkin masih mempunyai trauma berat, dan untuk melawannya sungguh juga tak mudah. sedangkan Dion sudah berjanji akan membantu Kiko untuk keluar dari rasa traumanya, mungkin metode tanpa menghindar atau melawan akan mempermudah Kiko untuk bisa sembuh lambat laun.
"kau tengahlah", Dion menggapai jemari Kiko lalu dimasukkannya kedalam saku blazernya bersamaan dengan jemarinya yang tengah menyatu, "berjalanlah disampingku, kau akan aman bersamaku"
kata kata Dion mampu membius kesadaran Kiko, membuat pipinya merona memerah menahan malu, apa lagi diliriknya tangan mereka saling menyatu dalam kehangatan.
sepanjang jalan Kiko hanya mengamati wajah tampan Dion dengan mengulas senyuman tanpa memperhatikan jalan.
hingga dimana Dion menyadari kelakuan Kiko yang aneh dan membuatnya canggung seperti ini.
"lihatlah!" menunjuk wahana keranjang putar, "kita coba naik itu, bagaimana?" tanya Dion
Kiko hanya membalas anggukan dan masih tertegun melihat Dion tanpa berkedip.
Dion akhirnya menghentikan langkahnya begitu pun Kiko juga ikut berhenti.
"kenapa berhenti Tuan?" tanya Kiko
Dion mengencangkan rahangnya penuh kesal dan membalikkan tubuhnya menatap Kiko.
"sampai kapan kau akan berjalan seperti seekor kepiting hah?", dengus Dion, "berhentilah menatapku seperti itu! berjalanlah dengan normal"
"maaf" Kiko menunduk sedih membuat Dion tak enak hati.
"ah sudahlah, aku hanya bercanda. terserah kau saja"
"benarkah?" Kiko menatap lagi dengan senyuman lebih lebar dari biasa, membuat Dion mengubur rasa salahnya kembali.
"tidak tidak, aku serius!" Dion melepas genggaman tangan mereka yang saling menyatu
"yah!" Kiko kembali menunduk sedih
"sudahlah, hayo kita memesan tiket!"
akhirnya mereka berdua memesan tiket, dan mengantri.
diliriknya sebuah makanan manis, Gulali. yang berwarna warni membuat Kiko ingin mencicipinya.
"kau mau kemana?" tanya Dion saat Kiko melangkah pergi
"Tuan tunggu disini sebentar! aku akan membeli makanan"
"ya baiklah, jangan lama lama!"
ah, gadis itu
lamat lamat Dion memandangi Kiko yang tengah berjalan dalam kejauhan dan memesan sebuah Gulali dengan wajah penuh gembira.
seakan kegembiraan itu juga ikut dalam hati Dion dikala dia tersenyum melihat wanita yang sedari tadi dipandanginya.
Kini Kiko melangkah membawa dua buah gulali berwarna Pink kedahapan Dion.
"ini untuk Tuan", menyodorkan gulali pada Dion, lalu Dion menerimanya.
"terimakasih" ucapnya
kemudian sudah tiba waktunya giliran mereka menaiki keranjang putar berdua.
wah
keterkejutan Kiko melihat suasana dari atas yang dimana bisa melihat keseluruhan tempat diwisata yang banyak dihiasi dengan lampu serta air mancur menjulang ditaman.
"kau suka?" tanya Dion
"suka", Kiko menjawab dan menoleh senang hingga lupa bahwa gulali mereka saling bersentuh dan lekat menjadi satu.
"eh", Kiko canggung
"tak apa, kita masih bisa memakannya!"
mereka saling pandang dan tersenyum bersama.
"apa Tuan sering datang ketempat seperti ini?" tanya Kiko sambil menggigit gulali bersamaan dengan Dion
Dion menggelengkan kepalanya, "ini pertamakalinya untukku", ucap nya sambil mengingat sesuatu, "aku penasaran ingin sekali datang ketempat dan menaiki wahana seperti ini, ternyata tidak begitu buruk"
"apa yang membuat Tuan penasaran?" tanya Kiko ingin tahu
"ah itu, orangtuaku pernah berkata bahwa mereka bersatu kembali ketika menaiki wahana seperti ini", Dion terkekeh, "mereka sepasang yang aneh, kenapa tidak ditempat restoran mewah atau tempat tempat mewah lainnya, kenapa harus dipasar malam yang banyak dikunjungi rakyat jelata seperti ini", Dion menggeleng kepala mengingat kedua orangtuanya, "apa romantisnya tempat seperti ini"
"Tuan salah", Kiko mengerut kening, "justru ditempat sederhana beginilah yang membuat mereka merasakan damai, dimana sesuatu yang biasa menjadi istimewa. bukan karena tempat, tapi dimana kedua hati itu saling menyatu"
"apa kau baru saja mengatakan kita berdua sedang menyatukan hati?"
"eh" Kiko terkejut
****