Apa yang akan pertama kali kalian lakukan, jika mengetahui pasanganmu berselingkuh?
Sebagian besar wanita, pasti akan menjawab, melabrak si pelakor. Tapi, tidak bagi Miranda Gunadhya. Dia malah pergi ke Club, melampiaskan semua amarahnya dan kekesalannya, dengan minum banyak alkohol dan berujung mabuk berat. Dalam keadaan tak sadarkan diri, ia tak tahu jika sudah bercinta dengan seorang pria.
Di sewaktu hari, Miranda begitu syok saat mendapati dirinya tengah berbadan dua. Sebab sudah lama suaminya tak menyentuhnya. Lalu benih siapakah yang berada di dalam tubuhnya saat ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan Aku
Tawa Tono terhenti saat Rikardo baru saja tiba di mansion bersama Nanny (pengasuh anak). Bocah gembul itu begitu terkejut, melihat Tono berada di mansion. Dengan cepat ia berlari kencang, berhamburan memeluk Tono.
Tono bangkit berdiri sambil merentangkan kedua tangannya, menyambut Rikardo.
"Om Tono, sudah lama di sini?" Rikardo melompat rendah kemudian mendekap erat Tono.
Tono menjawil gemas hidung Rikardo lalu berkata,"Eits panggil eyke tante Tina,"candanya sejenak sembari menggelitik perut bocah tersebut.
Rikardo menahan geli lalu tertawa kecil. "Hihi, iya om Tono."
Tono mendengus. "Dasar bocah. nakal deh you!" Kesalnya lalu mengalihkan pandangan ke arah Miranda yang tersenyum melihat interaksi mereka. Walau demikian sorot mata Miranda menyimpan kesedihan. Tono dapat melihat dengan jelas pancaran mata Miranda, biarpun wanita itu mencoba menutupinya, tapi tetap saja tak kan bisa, sebab Tono akan selalu bisa membaca gerak-gerik Miranda. Terlebih lagi wanita bertubuh molek ini adalah sahabatnya sedari dulu.
"Mir, mumpung anak you sudah pulang, kita ke mall you!" Tono mengajak Miranda, bermaksud menghiburnya agar wanita hamil itu tak stres.
"Yei! Ayo ma ke mall!" Rikardo mengepalkan kedua tangannya ke atas sejenak sambil mengembangkan senyuman.
Miranda tersenyum tipis, mau tak mau dia mengiyakan ajakan Tono dan anaknya. Lagipula di rumah tidak ada orang sama sekali, selain para asisten di mansion. Seketika dia teringat Alfredo yang sampai saat ini entah sedang berbuat apa di sana. Dia begitu nelangsa ditinggalkan Alfredo.
Sebelum pergi ke mall. Miranda membersihkan diri dan memandikan Rikardo. Tak lupa pula ia meminta izin pada sang mertua dengan mengirim pesan singkat melalui whatsapp.
Sesampainya di mall. Miranda, Tono dan Rikardo makan terlebih dahulu, sebelum membeli pakaian. Setelah selesai mengisi perutnya, ketiganya pun langsung pergi ke butik, yang menjual berbagai macam pakaian trendy.
Selagi menunggu Tono memilih-milih, Miranda dan Rikardo duduk di bangku bersama sambil memperhatikan tingkah absurd Tono yang ceriwis dalam memilih baju sedari tadi, sampai-sampai pelayan di toko terlihat kewalahan melayani Tono.
"Badan eyke kayaknya gendutan, ini nggak cocok, ini juga ngak cocok. Aduh eyke pusiang deh." Tono meliuk-liukan tangannya sambil mendelik mata pada sang pelayan.
Sementara itu, Rikardo tertawa lebar, melihat tingkah laku Tono. Sedangkan Miranda hanya tersenyum kecil.
"Mira! Rikardo!"
Miranda dan Rikardo tertegun saat mendengar suara yang sangat tak asing berasal dari belakang mereka. Keduanya serempak memutar kepala.
"Papa!" Rikardo bangkit berdiri lalu berlari kencang ke arah Tama yang saat ini memandanginya dengan tatapan penuh kerinduan. Ia langsung memeluk sang anak dan mengecup wajah Rikardo dengan penuh kasih sayang.
Miranda melemparkan pandangan pada Tono sejenak, memberinya kode untuk berbicara bersama Tama. Ia pun mendekati Tama dan Rikardo yang masih melepas kerinduan satu sama lain.
"Mir, akhirnya aku bisa bertemu denganmu, bisakah kita ke restaurant, ada yang ingin aku bicarakan." Tama menatap penuh harap pada Miranda.
Miranda tak langsung menjawab, tengah menimbang-nimbang.
"Sebentar saja, Mir. Aku mohon setelah itu aku tidak akan menampakkan lagi wajahku di hadapanmu."
Suara Tama terdengar sendu dan pelan. Membuat Rikardo yang berada di gendongannya langsung memeluk papanya dan menepuk-nepuk pelan punggung papanya itu. Miranda menghela nafas berat, mencoba menghilangkan perasaan bencinya pada Tama.
"Baiklah." Final Miranda lalu melirik ke arah Tono, meminta izin dari sahabatnya untuk berbincang sesaat pada Tama.
***
"Mira, mungkin aku tak pantas kamu maafkan, tapi percayalah aku sangat menyesal karena kebodohanku membuat kita bercerai, aku meminta maaf atas segala sikapku dulu padamu, apa kamu mau memaafkanku?" Tama menyambar tangan Miranda yang berada di atas meja, lalu mengenggam tangan mantan istrinya itu begitu erat. Beberapa hari yang lalu dia memaksa Eyangnya memberitahukan keberadaan Miranda. Ingin meminta maaf dan menebus semua kesalahannya.
Miranda memejamkan sesaat matanya lalu melirik Rikardo di sampingnya, tengah mendengarkan obrolan kedua orangtuanya.
Dari kejauhan, tanpa ketiganya sadari, di balik pilar restaurant, seorang wanita berambut coklat, siapa lagi kalau bukan Anne' tengah memotret Miranda dan Tama berbicara satu sama lain. Entah kebetulan atau apa, dia yang sedang berbelanja di mall. Tak sengaja melihat Miranda bersama pria asing. Tak mau membuang kesempatan emas Anne pun berniat mengirim foto-foto mesra Miranda pada Alfredo, berharap wanita itu akan segera diceraikan sang pujaan hatinya.
Haha, satu hama kecil akan segera di lenyapkan.
Anne tersenyum licik membayangkan Miranda dimarahi Alfredo.