NovelToon NovelToon
L.S. Underworld

L.S. Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Mafia
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: ANDIKA,312

Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 14

Setelah perjalanan panjang membelah malam dari area gurun Grand Senora, raungan mesin mobil Franklin dan gema knalpot Chopper Scorpio milik Andika akhirnya mereda di depan gerbang besi gudang amunisi Cypress Flats.

Andika mematikan mesin motornya, menyandarkan Chopper hitam mengkilat itu di sudut ruangan, lalu melangkah masuk bersama Franklin. Di dalam gudang yang tenang, ketegangan yang mengepung mereka sepanjang malam perlahan mencair. Rasa puas dan lega merayapi perasaan mereka setelah berhasil menuntaskan dendam atas kematian Little Jacob.

Franklin tertawa pelan sambil melempar jaketnya ke atas peti kayu. "Gila, malam ini benar-benar gila, Andika! Orang-orang Ying Long tidak akan pernah menyangka kita balik menyerang sereda ini."

Andika ikut tertawa renyah, menyandarkan punggungnya di tumpukan peti amunisi. "Mereka pikir kita cuma bakal sembunyi dan ketakutan, Frank. Sekarang Lee Dong tahu siapa yang dia hadapi."

Franklin berjalan ke sudut ruangan, mengambil beberapa botol bir dingin dari lemari pendingin kecil, lalu melempar satu botol ke arah Andika. Kedua pria itu memetik korek api, menyalakan rokok masing-masing, dan membenturkan botol bir mereka di udara. Mereka duduk santai, menikmati tegukan demi tegukan bir dingin dan hembusan asap rokok di tengah keheningan gudang, merayakan kemenangan besar mereka atas geng Ying Long.

Sekitar 30 menit berlalu diisi dengan obrolan dan tawa ringan, hingga suara decitan pintu besi gudang yang digeser memecah suasana.

Kreeek...

Lamar melangkah masuk dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah paket terbungkus rapi yang berisi ganja kualitas terbaik yang diambilnya dari rumahnya di Davis.

"Ayy, homies! Maaf membuat kalian menunggu!" seru Lamar dengan gaya khasnya yang ramah dan penuh energi. "Lihat apa yang saya bawa! The finest green in Los Santos!"

Franklin menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh melihat antusiasme kawan tingginya itu. "Kau selalu tahu cara mencairkan suasana, Lamar."

Tanpa membuang waktu, Lamar duduk di antara Franklin dan Andika, lalu meracik lintangan ganja tersebut dengan lihai. Tak berapa lama, asap tipis beraroma khas mulai membumbung memenugi sudut ruangan gudang yang remang.

Ketiganya duduk melingkar di atas peti-peti kayu amunisi, bergantian menikmati lintangan tersebut diiringi tegukan bir dingin. Sensasi rileks dan tawa lepas memenuhi ruangan saat efek dari lintangan tersebut mulai bekerja, membuat pikiran mereka terasa melayang tajam—melepas seluruh beban, rasa lelah, dan trauma pertempuran sengit yang baru saja mereka lalui bersama sepanjang hari.

Malam makin larut di dalam gudang amunisi Cypress Flats. Dentuman tawa, asap tipis yang membumbung di udara, dan botol-botol bir yang kosong menjadi saksi bisu pesta kemenangan kecil mereka bertiga. Tubuh yang lelah akibat pertempuran sengit dan ketegangan berhari-hari akhirnya menyerah. Satu per satu dari mereka terlelap—Lamar bersandar di tumpukan peti, Franklin tertidur di sofa tua, dan Andika selonjoran di atas tumpukan karung sandbag.

Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerobos masuk dari celah-celah atap seng gudang.

Andika menjadi orang pertama yang terbangun. Matanya berkedip menyesuaikan cahaya terang, kepalanya sedikit berat sisa pesta semalam. Ia mengusap wajahnya, merapikan jaket kulitnya, lalu melangkah pelan menuju pintu gerbang besi gudang yang sedikit terbuka untuk menghirup udara segar pagi hari.

Namun, saat kakinya baru melangkah keluar melewati ambang pintu, langkah Andika terhenti.

Tepat di atas tanah semen di depan gerbang, tergeletak sebuah kotak kardus (box) kustom berukuran kecil berwarna hitam tanpa label. Suasana jalanan industri Cypress Flats di sekitarnya tampak lengang dan sepi.

Andika menyipitkan mata. Dengan kewaspadaan tinggi, ia mengamati sekeliling sebelum akhirnya membungkuk dan menyambar kotak kecil tersebut. Ia membawa kotak itu masuk kembali ke dalam gudang.

"Woy, Frank! Mar! Bangun Cok!" panggil Andika sambil menendang pelan kaki Lamar dan menepuk bahu Franklin.

"Eungh... ada apa, man?" gumam Lamar sambil mengucek matanya, menguap lebar. Franklin ikut terduduk, memegang kepalanya yang pusing sambil menatap bingung ke arah kotak hitam di tangan Andika.

"Ada yang mengantar kotak ini di depan pintu," kata Andika datar.

Mereka bertiga berkumpul mengelilingi meja kayu. Andika merogoh pisau lipatnya, menggores selotip penutup, lalu perlahan membuka lipatan kotak kardus tersebut.

Aroma amis darah segar langsung menyeruak keluar.

Di dalam kotak itu, tergeletak seekor anak ayam kuning kecil dengan leher yang telah disayat hingga hampir putus, mengucurkan darah kental yang membasahi secarik kertas catat terlipat di bawahnya.

Franklin mengambil kertas bernoda darah itu menggunakan ujung pisaunya, lalu membukanya. Di atas kertas tersebut, tertulis pesan singkat dengan tinta merah darah:

"Salam hangat dari geng Ying Long. Kalian bertiga akan segera bernasib sama seperti anak ayam ini."

Keheningan dingin mendadak menyergap ruangan gudang.

Lamar menatap bangkai anak ayam itu, Franklin mengatupkan rahangnya erat-erat, dan Andika menatap surat ancaman tersebut dengan mata menyipit tajam. Wajah mereka bertiga menunjukkan riak ketegangan tipis—menyadari bahwa Lee Dong yang terluka parah tidak akan berhenti dan perang ini belum sepenuhnya usai.

Namun, di balik ketegangan itu, tidak ada sedikit pun rasa takut di mata Andika, Franklin, maupun Lamar. Mereka bertiga berdiri tegap, siap menyambut gelombang serangan balasan apa pun yang akan dikirimkan Ying Long ke hadapan mereka

Andika melempar surat bernoda darah itu kembali ke dalam kotak dengan gerakan santai, lalu menarik napas panjang. Lamar mengusap rahangnya, sementara Franklin mengambil botol air mineral untuk membasuh wajahnya yang masih sedikit lelah.

​"Anjing tua itu berpikir gertakan anak ayam ini bisa bikin kita gemetar," dengus Lamar sambil menyalakan rokok terakhirnya. "Dia lupa kalau anaknya sendiri baru saja kita kirim ke neraka."

​"Tapi ini artinya Lee Dong sudah tahu kita bertahan di mana, atau paling tidak orang-orangnya mulai mengawasi pergerakan area Cypress Flats ini," sahut Franklin, matanya menatap tajam ke arah pintu gerbang besi yang sedikit terbuka. "Dia tidak akan kirim pasukan besar-besaran lagi seperti Shen. Taktik mereka pasti berubah—mungkin pembunuh bayaran, penembak jitu, atau sabose di tempat ini."

​Andika melangkah menuju Chopper Scorpio hitam mengkilat miliknya, meraba stang kustom dingin itu sambil mengumbar senyum tipis yang penuh tantangan. "Bagus kalau begitu. Makin cepat dia kirim orang-orangnya, makin cepat bisnis Ying Long di kota ini bersih sampai ke akar-akarnya."

​"Langkah kita selanjutnya apa, Frank?" tanya Lamar, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

​Franklin melangkah ke tumpukan peti kayu, membuka salah satu peti besar berisi deretan AK-47 dan bom tempel (sticky bombs) hasil rampasan dari pasukan Shen kemarin malam.

​"Pertama, kita pasang perangkap di sekitar gudang ini. Kalau ada anjing-anjing Lee Dong yang mencoba merayap masuk malam-malam, mereka akan langsung meledak bersama tanah," ujar Franklin tegas. "Kedua, kita tidak bisa cuma menunggu diserang. Kita peras habis sisa-sisa aset Lee Dong di Los Santos sebelum dia sempat menata ulang pasukannya."

​"Ada ide lokasi berikutnya?" tanya Andika sambil mengenakan jaket kulitnya.

​Franklin menyeringai. "Kevin pernah bilang, selain Red Dragon Club, Lee Dong punya pencucian uang lewat kasino ilegal dan pacuan kuda rahasia di daerah Vinewood. Tanpa Tuu Lee dan Shen, tempat itu cuma dijaga orang-orang gajian biasa. Kita pukul tempat itu, kita ambil semua uang tunainya, dan kita pancing Lee Dong keluar dari lubang persembunyiannya!"

​"Itu baru rencana!" seru Lamar bersemangat. "Mari kita buat bos Tionghoa itu benar-benar bangkrut dan gila!"

​Ketiganya langsung bersiap. Franklin membagikan amunisi tambahan dan beberapa granat kustom ke dalam tas taktis, sementara Andika memeriksa kesiapan Chopper hitamnya. Ancaman anak ayam bersayat leher dari Ying Long bukannya membuat mereka gentar, justru makin menyulut api keberanian mereka untuk mengakhiri perang berdarah di Los Santos ini sampai tuntas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!