NovelToon NovelToon
Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:17.1k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.

Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.

Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.

Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasehat Bunda

#18

••• Yang masih bingung dengan hubungan keluarga antara Ammar dan Azam, silahkan mampir ke novel Seven Years After Divorce. Siapa Bunda Hilda, siapa Papa Aldy, dan siapa Ayah Irfan, semua lengkap di sana. Plus ulat bulunya sekalian. 😜

•••

Pagi itu, sesuai dengan janjinya pada sang adik, Ammar mampir ke rumah sakit tempat Ghazi di rawat. Bunda Hilda menyambut kedatangan putra sulungnya itu dengan senyum dan sapaan hangatnya yang khas. 

“Bunda kangen, Mas. Kenapa baru datang?” bisik Bunda Hilda saat memeluk Ammar erat-erat. 

“Aku juga, Bund. Tapi, duh, beneran aku lagi sibuk banget, apalagi sejak Papa memindahkan aku ke kursinya.” 

“Syukurlah, Allah masih kasih kamu kesibukan yang positif, jangan lupa jaga kesehatan, ya. Bunda nggak mau kamu sakit lagi.” 

Ammar mengangguk dengan senyum kecilnya yang khas. “Ayah, nggak di sini, Bund?” 

“Ayahmu mengurus perkebunan kita, karena sementara ini Azam di rumah sakit mengurus Ghazi. Sementara Aisha, dia yang mengambil alih urusan catering Bunda, jadi dia nggak bisa kemana-mana.” 

Mendengar nama Ghazi, Ammar pun menoleh ke box tempat Ghazi yang tertidur lelap. Pria itu mendekat, “Hai, Jagoan. Om Ammar datang, nih,” sapa Ammar, sedikit kagok, tapi juga gemas melihat bayi mungil itu. 

Jari tangannya menyentuh kaki Ghazi yang tak tertutupi selimut. Kulit bayi itu terasa lembut di tangan Ammar, jauh beda dengan kulit orang dewasa. Disisi lain, ia pun merasa sedih saat mendengar tentang Nayla yang meninggal usai melahirkan, tapi tak ingin menampakkan kesedihannya. 

“Mau menggendongnya—” Pertanyaan yang cukup mengejutkan bagi Ammar, pria itu pun segera menggeleng. 

“Nggak, Bund, masih kecil gitu bayinya, takut jatuh,” tolak Ammar. 

“Nggak akan jatuh, kecuali kamu sengaja ingin menjatuhkannya.” 

“Nggak, deh, Bund. Yang ada bayinya nanti sawan karena aku.” 

“Hush! Ngomongnya,” tegur Bunda Hilda. Ammar menyeringai lebar. 

“Assalamu'alaikum,” ucap Azam, pria itu baru kembali dari luar membeli makanan untuk sarapan. Wajah penuh semangat, pria itu berusaha tidak menampakkan kesedihan, dan rasa putus asa. Sebab ada Ghazi yang membutuhkan kehadiran seorang ayah yang kuat dan tegar. 

“Waalaikumsalaam,” jawab Bunda Hilda dan Ammar bersamaan. 

“Eh, Mas. Sudah datang?” 

“Hmmm, sebelum aku dikurung pekerjaanku lagi.” 

“Ayo, Mas. Ikut sarapan. Aku juga beli buah potong di minimarket depan.” 

Ammar tak menolak, meski dari rumah tadi ia sudah sarapan, tapi makan bersama bunda dan adiknya, adalah momen yang kini langka baginya. 

“Oh, iya. Masalah yang kamu bicarakan kemarin malam, belum sempat aku bahas bersama Papa. Karena aku belum menemukan waktu yang pas.” 

“Nggak papa, Mas, santai aja, aku, sih, pengennya pakai cara cepat, tapi ayah melarang, takut hasilnya tidak berkah.” 

“Bener, kan, kata ayahmu?” cetus Bunda Hilda. 

Azam menggaruk kepalanya, malu, “Iya, Bund. Aku terlalu buru-buru, sebab Perasaanku bahagia karena Ghazi menemukan Ibu ASI.” 

“Bahagia untuk Ghazi, atau bahagia untuk dirimu sendiri—” ledek Ammar, tepat sasaran. 

“Eh, eh, maksudnya apa nih? Aku dan Dina hanya berteman.” 

Tapi Ammar tak peduli dengan pembelaan Azam. “Bunda tahu nggak? Dulu, nih, Azam pernah curhat padaku, jauh-jauh dia menelpon dari Yogya. Katanya dia galau karena tak berani menyampaikan perasaannya pada gadis yang dicintainya. Jangan-jangan gadis yang dia maksud— akh! Akh! Bunda! Anak Bunda KDRT, nih!” jerit Ammar karena Azam memukul punggungnya beberapa kali. 

“Ngadu! Ngadu! Udah tua juga, bisanya cuma ngadu,” ejek Azam. 

“Biarin, tanya sama Bunda, biar pun aku tua, aku masih dianggap kecil seperti Ghazi. Iya, kan, Bund?” 

“Hah! Seperti Ghazi?! Tengok kaca, badan Tinggi menjulang seperti monas, ngakunya seperti Ghazi.” 

Beberapa saat kemuduan, mereka tertawa bersama. sementara Bunda Hilda hanya tersenyum sambil menggeleng pelan, tak menanggapi pertengkaran kedua putranya yang sudah sama-sama dewasa. Biarkan saja, hitung-hitung mengulang momen ketika mereka kanak kanak dahulu. 

Kedua pria itu berkejaran seperti anak-anak, anehnya Ghazi tetap tidur pulas tak merasa terganggu. 

“Tapi, Zam. Kalau kamu memang menyukai Dina, Bunda tak keberatan."

Perkataan Bunda Hilda membuat Azam terdiam. "Dina wanita yang baik, Bunda dan Ayah juga kenal orang tuanya, mereka semua orang-orang baik. Insya Allah Dina bisa jadi ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak.” 

Azam tetap menggeleng, senyumnya pahit, sepahit kenyataan hidupnya yang kini menduda. “Aku hanya ingin fokus pada anak-anakku, Bund. Lagi pula Nayla baru saja pergi, masa aku buru-buru cari pengganti?” 

“Apa salahnya? Nayla nggak akan kembali, Nak. Nayla sudah mendapatkan surga, karena ia wafat setelah melahirkan. Nayla juga wanita yang baik, pasti ia tak keberatan, apalagi Ghazi sangat membutuhkan ibu yang tulus menyayanginya.” 

Azam masih menunduk diam, mencerna setiap kata dalam ucapan sang bunda. Azam yakin Bundanya ingin yang terbaik untuknya. 

“Dulu, Bunda juga begitu. Siapalah Bunda ini, janda, dengan seorang bayi. Tapi Ayah, dia begitu ikhlas menerima keadaan Bunda, bahkan berhasil membuktikan kasih sayangnya yang tulus buat anak yang bukan darah dagingnya.” 

“Nantilah, Bund. Saat ini aku gak ingin buru-buru.” 

1
Shee_👚
liat perkebunan sekalian liat pujaan hati ya zam, sambil berenang minum air🤭
Shee_👚
intinya azzam gak mau di panggil nama doang, harus ada embel - embelnya. gitu kan ya zam🤣
Ma Em
Ayo Zam jgn malu dan ragu2 segera bilang bahwa Azam suka sama Dina jgn ditunggu lama lama nanti Dina nya di serobot orang .
Shee_👚
cie cie azzam mulai nyaman sama panggilan mas😂
vania larasati
lanjut
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
astaga, bacanya sampai ikut ikutan gelo, senyum senyum sendiri 🤣🤣🤣🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hahaha.... iya🤣🤭
total 2 replies
Nar Sih
blm puas chat dgn dina ,eh..bpk nya wa ,lebih baik dtg lansung azam ke kebun dina biar tau dan jls
🌷Vnyjkb🌷
cieee cieee,, basabasi pakkk??? calon mantu tuuu🤣🤣
🌷Vnyjkb🌷
🤣🤣🤣🤣abg tua pasangan masdud dan mbakjan
Bunda Idza
😂😂😂😂😂😂😂😂😂 begitulah Dud Jan yang punya something
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
dyah EkaPratiwi
benar kata bunda zam
Sh
Mas Azam atau Mas Antam😂😂😂
🌷Vnyjkb🌷: 🤣🤣🤣🤣🤣 juragan emas ini kyknya deh🤭
total 3 replies
Shee_👚
ternyata dina gak sadar🤣🤣
Shee_👚
itu baru dipanggil mas, coba kalau di panggil sayanggggg apa gak kelojotan itu jantung🤭
Shee_👚
bagus sha terus ingetin apa yang azzam lakukan😂
Shee_👚
nah itu baru nunggi balasan, ampe gelisah begitu, apa lagi nunggu balas perasaan🤣
Shee_👚
terserah mau ngomong apa, tanya aja di peres belum asi, apa mau bantu peresin🤣
Nar Sih
plong kan azam hti mu udah dibls tuh wa nya jdi senyum,,kan ,dobel up lgi kak moon🙏🥰
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!