NovelToon NovelToon
Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku

Status: tamat
Genre:Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:467.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: cucu@suliani

Aulia merasa sangat kaget karena Andika tiba-tiba saja meminta dirinya untuk mengandung benihnya, awalnya dia tidak mau karena tidak mungkin dia mengandung benih dari pria yang sudah beristri.


Walaupun pada kenyataannya dia mencintai Andika dalam diam, tapi dia tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang lain.


"Gue mohon, elu mau ya, hamil anak gue?"

"Ngga mungkin gue hamil anak elu, bini elu gimana entar?"

"Jangan sampai dia tahu, nyokap minta cucu. Mereka ngancem kalau bini gue ngga cepet hamil, gue disuruh cerai. Padahal, bini gue mandul."

Kuy pantengin kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obrolan Rahasia

Aulia benar-benar merasa kaget karena tiba-tiba saja Alika datang menegurnya, tentu saja yang lebih mengagetkan lagi ketika Alika memandang perutnya dengan tatapan penuh tanda tanya.

Alika bahkan terlihat langsung duduk tepat di samping Aulia lalu dia memperhatikan Aulia dari ujung rambut sampai ujung kaki, Aulia merasa risih.

Namun, walau bagaimanapun juga dia tidak bisa melayangkan protesnya karena Alika adalah Ibu dari suaminya.

Walaupun pernikahan mereka tersembunyi dan tidak ada orang banyak yang tahu sama sekali, tapi tetap saja dia harus menghormati Alika sebagai mertuanya saat ini.

"Pimoy, Sayang. Sudah lima bulan kita ngga ketemu, kamu udah hamil aja. Nikahnya sama siapa? Kenapa nggak ngundang-ngundang? Tante kenapa ngga dikasih tahu?" tanya Alika dengan raut wajah kecewa.

Untuk sesaat Aulia terdiam, dia seolah sedang menimang-nimang ucapan apa yang sekiranya baik untuk diucapkan.

"Ehm! Iya, Tante. Aku sudah menikah, aku sedang hamil," jawab Aulia tidak enak hati.

Mendengar apa yang dikatakan oleh Aulia, Alika semakin merasa penasaran. Saat dia meminta Aulia untuk menikah dengan Andika, dia sangat serius.

Namun, Aulia seolah menolak. Kini malah dia melihat Aulia sudah menikah, bahkan Aulia berkata jika dirinya sudah mengandung.

Alika menjadi penasaran, siapakah sosok lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. Setampan apa dan sekaya apa suami dari Aulia itu, lalu bagaimana cara pria itu bisa memikat hati Aulia, pikirnya.

Karena setahunya, sedari dulu Aulia sangat sulit untuk berdekatan dengan seorang pria, hanya Andika yang dekat selalu dengan Aulia dari dulu.

"Siapa sih suami kamu? Kenapa nikahnya kayak sembunyi-sembunyi gitu? Kenapa Tante ngga pernah dengar kamu nikahan? Kenapa kita bertemu kamu malah sudah hamil kaya gini?" tanya Alika berturut-turut.

Mendapatkan banyak pertanyaan dari Alika, Aulia terlihat mengusap tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa dingin.

"A--aku, aku sudah berumur Tante. Jadinya pas ada yang ngelamar aku langsung menikah, lagian nikahannya juga ngga dirame-ramein," jawab Aulia beralasan.

Alika terlihat menggelengkan kepalanya mendengar penjelasan dari Aulia, walaupun tidak dirayakan tapi setidaknya dia ingin menghadiri acara pernikahan dari Aulia.

Karena walau bagaimanapun juga, Aulia sudah dia anggap sebagai putrinya sendiri. Alika terlihat kecewa.

"Walaupun seperti itu, tetap saja kamu itu seharusnya bilang-bilang sama Tante. Biar Tante hadir di acara pernikahan kamu, kamu tega banget deh sama Tante," kata Alika dengan gurat kecewa yang semakin jelas.

Aulian terlihat begitu kebingungan untuk menjelaskan kepada Alika tentang pernikahannya, karena pria yang dia nikahi itu tidak lain dan tidak bukan adalah putra dari Alika sendiri.

Jika dirinya mengundang Alika, itu adalah hal yang mustahil, pikir Aulia. Dia tidak mungkin melakukannya.

"Maaf, Tante." Hanya itu kata yang keluar dari bibir Aulia.

"Memangnya siapa sih lelaki yang beruntung itu? Tante kepo," kata Alika.

Aulia terdiam, dia bingung harus berkata seperti apa. Alika sempat menatap Aulia dengan raut wajah kecewa, dia sempat mengira jika Aulia hamil duluan. Maka dari itu Aulia memutuskan untuk menikah secara sembunyi-sembunyi.

"Berapa bulan usia kandungan kamu?" tanya Alika.

Alika ingin memastikan apakah benar Aulia menikah dadakan karena hamil duluan, atau karena memang ada yang melamarnya dan menikah secara dadakan.

"Delapan belas minggu, Tante," jawab Aulia.

Alika terdiam, dia seolah sedang menghitung pertemuannya dengan Aulia saat itu. Tidak lama kemudian dia nampak tersenyum, karena itu artinya Aulia tidak hamil duluan.

"Oh, syukurlah. Tapi, kenapa perut kamu terlihat besar sekali? Padahal menantu Tante hamil usia delapan belas minggu kecil banget loh," kata Alika seraya tersenyum kecut.

Tentu saja perut Andini tidak terlihat besar, karena Andini tidak memakai apa pun. Dia hanya berkata jika dirinya hamil, tapi dia tetap tidak mengganjal perutnya dengan alat apa pun.

Karena pada dasarnya memang dia tidak berniat berbohong kepada mertuanya itu, dia hanya menuruti apa yang Andikan katakan saja.

Mendengar nama istri dari Andika disebutkan, Aulia terlihat tersenyum kikuk. Dia benar-benar bingung harus berkata apa, dia benar-benar bingung harus menimpali ucapan Alika seperti apa.

Jujur saja dia merasa bersalah kala mendengar nama Andini disebutkan, dia sudah menjadi orang ketiga di antara Andini dan juga Andika.

Sudah dapat dipastikan akan ada perubahan pada rumah tangga Andika dan juga Andini, karena semenjak hamil justru Andika lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan dirinya.

"Loh, kok, kamu diam aja? Oh iya, Tante mau tanya. Ini kenapa perutnya gede banget kaya udah hamil tujuh bulan aja? Badan kamu juga makin berisi, tapi malah makin seksi," ucap Alika.

Aulia tersenyum kala mendengar Alika yang berkata jika dirinya semakin seksi, pantas saja Andika begitu betah bersama dengan dirinya, pikirnya.

Bahkan, terkadang Andika tidak ingin melepaskan Aulia. Andika slalu saja memeluknya dengan posesif dan Andika juga selalu terkesan memberikan perhatian yang berlebih kepada dirinya.

Apalagi ketika dia menginginkan sesuatu, Andika pasti akan segera mencari apa yang dia inginkan. Bahkan, Andika tidak akan pulang jika belum menemukan apa yang diinginkan oleh Aulia.

"Kamu kok jadi banyak ngelamun begitu? Jawab dong pertanyaan dari Tante, kenapa perut kamu gede banget kaya gitu? Padahal usia kandungan kamu baru delepan belas minggu." Alika keheranan.

Aulia terlihat kebingungan, haruskah dia jujur kepada mertuanya itu atau harus berbohong. Namun, jika berbohong rasanya itu tidak akan mungkin.

Kepada Andika saja dia tidak pernah mengatakan jika buah hatinya ada satu atau dua, hanya saja dia selalu berkata jika calon buah hati mereka dalam keadaan baik-baik saja.

Setelah beberapa saat mempertimbangkan, akhirnya Aulia memutuskan untuk berkata jujur kepada Alika.

"Sebenarnya calon buah hati aku ada dua Tante, makanya perut aku terlihat besar. Tapi aku mohon Tante jangan bilang siapa-siapa kalau aku mengandung bayi kembar, termasuk Andika," kata Aulia mengiba.

"Kenapa? Andika sahabat kamu dari dulu, dia juga anak Tante. Masa Tante harus bohong sama Andika," ucap Alika penuh protes.

"Bukan seperti itu, Tante. Biar jadi kejutan aja, jadi nanti pas ada saudara ataupun sahabat yang datang ke Rumah Sakit saat aku melahirkan, mereka akan terkejut," kata Aulia beralasan lagi.

"Ah, kamu benar. Tapi, kamu sudah memberitahukannya pada Tante. Jadi, Tante nanti nggak bakal terkejut," kata Alika seraya terkekeh.

"Tante adalah orang yang spesial, makanya aku beritahukan terlebih dahulu dari sekarang," kilah Aulia.

"Oh Aulia, Sayang. Tante sangat senang karena kamu masih menganggap Tante sebagai orang yang spesial," kata Alika seraya memeluk Aulia.

Aulia membalas pelukan Alika cukup lama, tidak lama kemudian dia melerai pelukannya dan kemudian dia berkata kepada mertuanya tersebut.

"Oh iya, Tante. Kenapa Tante pagi-pagi sudah datang ke kedai soto ini? Memangnya Tante belum sarapan?" tanya Aulia setelah melihat sekilas jambi yang melingkar di tangan yang menunjukkan pukul sembilan pagi.

"Tadi Tante habis dari rumah menantu Tante, ngajakin dia buat memeriksa kandungannya. Tapi dia ngga mau, Tante jadi sebel. Tante mau ke sini aja, mau makan soto yang pedas. Siapa tahu rasa kesal Tante itu bisa hilang," kata Alika.

Aulia langsung terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Alika, sejak dulu jika Ibu dari Andika itu sedang kesal pasti dia akan pergi ke kedai soto itu dan memakan soto dengan kuah yang sangat pedas.

"Tapi kuahnya sambelnya jangan banyak-banyak, ingat umur!" kata Aulia.

Alika langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Aulia, dia memang sudah berumur dan sudah sepantasnya menjaga kesehatannya.

"Kamu benar pimoy, Sayang. Tante sudah tua, Tante sudah pantasnya pensiun. Tapi Andika malah membuat cabang baru, jadi di kantor pusat tetap Tante yang cape. Karena Andika hanya akan datang sesekali saja," kata Alika mengeluh.

1
neny
Luar biasa
Imaz Ajjah
Thor ngg ad kelanjutan cerita nya Asep kah..??
Safa Almira
, yuhuy
Cis Siu
semua bahagia
neur
👍😎🌹☕
Itin
kok Hans bisa tau tatapan Abinya? bukannya Abinya meninggal saat Hams baru seminggu?
Itin
Aiden inikah yang mengantar Aulia ke klinik waktu itu???
Reni Sumarni
like
kavena ayunda
Aulia cm.di jadiin cadangan wanita bodoh
kavena ayunda
g rela deh dapet andika bekass andini mana masih cinta andini malsss bgt jangan satuin lah kasian
Meidy Mangalengkang
𝘷𝘪𝘴𝘶𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘩𝘰𝘳
Shella Saelani
haduhhhhhh
Shella Saelani
mengecek lapangan yang tandus 😅😅😅😅
Debbie Teguh
dengerin tuh adik lu yg pinter
Debbie Teguh
baperan bgt sih aulia
Debbie Teguh
yg ini A semua ya pelakonnya? iseng ya kamu thor
Suci Priyatmi
aq ikut nangis Aulia😭😭😭
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
makasih banyak author yang baik karnyamu sangat bagus dan sangat menghibur kami para pembaca,semoga sukses selalu 🙏🤲
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂: sami sami Thor🙏🤗
total 2 replies
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
waduh si Asep jodohnya jahe ini,dewasa sebelum waktunya kamu sep🤣🤣🤣
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
astaga Andika mesumnya hadeh ,di gaplok juga ga apa" tu ular kadut😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!