Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Prom
Aira duduk kaku di depan cermin.
Tangannya di atas paha. Punggungnya tegang.
“Tenang, Aira,” suara Tante Mala lembut tapi penuh semangat. “Ini bukan mau ke kondangan.”
“Iya, Tante…” Aira menelan ludah. “Tapi aku belum pernah pakai dress begini.”
“Makanya,” Tante Mala tersenyum penuh arti. “Sekali-kali.”
Dia memakaikan gaun warna krem pucat itu ke tubuh Aira dengan hati-hati.
“Lihat bahunya jangan ditutup semua,” gumam Tante Mala. “Kamu tuh manis pake yang ini,”
Aira tertawa kecil. “Tante…”
“Diam. tante tahu selera Tante.”
Tante Mala mulai menyisir rambut Aira, mengikat sebagian, membiarkan sisanya terurai.
“Kenapa Tante baik banget sama aku?” tanya Aira pelan, refleks.
Tangan Tante Mala berhenti sesaat.
“Karena Tante sayang sama Aira,” katanya lembut.
“Dan Aira pantas bahagia,”
Aira menunduk, Matanya hangat.
“Sudah,” Tante Mala menepuk bahunya. “Sekarang senyum jangan kelihatan tertekan mentang-mentang pergi sama Damar,”
Aira mengangkat wajah, bahkan dia sendiri terkejut melihat bayangannya di cermin.
“Aku… aku beda ya, Tante?”
“Bukan beda,” Tante Mala tersenyum bangga.
“Aira aslinya memang cantik.”
Ketika Aira keluar kamar, Damar berdiri di ruang tengah dengan jas hitam rapi.
Dan wajah yang… error, Damar menatap Aira.
Diam, terlalu lama.
Tante Mala menyilangkan tangan sambil mengamati anaknya.
“Heh, Kok bengong?”
Damar berkedip. “Aku?”
“Iya kamu,” Tante Mala menyeringai. “Kayak lihat alien.”
Aira gugup. “Aku… aneh ya?”
“Enggak,” jawab Damar cepat.
Terlalu cepat.
Tante Mala tertawa kecil. “Mar, bilang jujur.”
Damar menarik napas. Menatap Aira lagi.
“…Kamu,” katanya pelan, “ini nggak seperti kamu.”
Aira berkedip. “Hah?”
Tante Mala menarik napas dalam," Tinggal bilang Kamu cantik aja, ribet,"
"Mah..."
Tante Mala tersenyum puas.
“Bagus,” katanya sambil meraih tas Aira.
“Kalau anak Tante ngomong belibet dia lagi salah tingkah,”
Damar mendengus. “Mamah…”
“Ayo berangkat,” Tante Mala mendorong mereka.
“Dan Mar,”
Damar menoleh.
“Jaga Aira,” kata Tante Mala lembut tapi tegas.
Damar mengangguk tanpa ragu.
Karena malam itu, dia sadar Aira bukan lagi sekadar gadis yang ia goda setiap hari.
*** Aula prom sudah penuh cahaya.***
Lampu-lampu kristal memantul di lantai mengilap. Musik pelan mengalun. Tawa dan gaun berkilau di mana-mana.
Aira melangkah masuk… lalu refleks melambat.
Di depan sana Evan, dengan setelan abu-abu rapi. Senyum khas atlet di lengannya Anne.
Gaun merah gelap melekat sempurna di tubuh Anne. Rambutnya ditata elegan. Mereka berdiri berdekatan.
Dan anehnya mereka tampak… serasi.
Aira terdiam.
“Oh,” gumamnya tanpa sadar.
Damar yang berdiri di sampingnya menangkap perubahan itu.
Tatapannya mengikuti arah pandang Aira, lalu rahangnya mengeras tipis.
Tanpa berkata apa-apa, Damar menggeser posisinya setengah langkah ke depan… dan menggenggam tangan Aira.
Hangat.
Tegas.
Aira tersentak kecil. “Damar... ”
Damar tidak melepaskannya.
Damar menunduk sedikit, suaranya rendah nyaris tenggelam oleh musik.
“Kamu nggak nyesel kan,” katanya, “pergi sama aku?”
Aira menatap tangan mereka yang saling bertaut.
Lalu menatap wajah Damar, Mata itu… gugup tapi serius.
“Kenapa nanya gitu?” balas Aira pelan.
“Karena…”
Damar mengalihkan pandangan sebentar, lalu kembali menatap lurus.
“Aku nggak jago bikin orang senang.”
Aira tersenyum kecil.
“Kalau gitu,” katanya sambil menggenggam balik tangan Damar, “kita impas.”
Damar mengangkat alis. “Maksudnya?”
“Aku juga nggak bisa menyesal, pergi bareng cowok sekeren Damar Mahesa”
Damar terdiam, lalu sudut bibirnya naik sedikit.
Tipis.
Puas.
“Bagus,” katanya.
“Berarti pilihanku tepat.”
Dari kejauhan, Evan sempat melirik ke arah mereka.
Pandangan mereka bertemu sesaat.
Damar tidak berpaling.
Dia justru menarik Aira lebih dekat, bahunya nyaris bersentuhan.
“Ayo,” katanya ringan, “ini prom kita.”
Aira mengangguk, dan untuk pertama kalinya malam itu,Evan dan Anne hanya jadi latar belakang.
Lampu aula diredupkan, musik berubah pelan, dalam, mengalun seperti napas yang ditahan terlalu lama.
“Slow dance,” gumam Aira.
Damar mengangguk kecil, “Kayaknya… iya.”
Damar mengulurkan tangan gerakannya kaku. Jelas bukan tipe yang sering berdansa.
Aira menatap tangan itu sebentar lalu meletakkan tangannya di sana.
Sentuhan pertama,Jantung Aira langsung berisik.
Damar menarik napas dalam, lalu menaruh tangan di pinggang Aira agak canggung, terlalu sopan.
“Kalau salah langkah,” katanya pelan,
“Pura-pura aja bagian koreografi.”
Aira terkekeh gugup. “Deal.”
Mereka mulai bergerak,pelan, terlalu dekat.
Aira bisa mencium wangi Damar. Bisa merasakan dadanya naik turun.
Bisa mendengar detak jantung itu atau mungkin itu jantungnya sendiri.
“Kamu tegang,” bisik Damar.
“Kamu juga,” balas Aira cepat.
Damar terkekeh kecil. “Ketahuan.”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang nyaman.
Lalu Damar berbicara.
“Aira.”
“Hm?”
“Aku mau bilang sesuatu.”
Nada suaranya berubah lebih serius.
“Aku… Lulus di.”
Aira tersenyum refleks. “Di mana?”
Damar menelan ludah.
“Universitas Tokyo.”
Langkah Aira tersendat.
“Hah?”
Musik masih berjalan. Orang-orang masih berdansa.
Tapi dunia Aira seperti berhenti.
“Tokyo?” ulangnya pelan.
Damar mengangguk. “Beasiswa penuh."
Aira menatapnya,terkejut,bangga, takut. Semua bercampur.
“Kapan?” tanyanya nyaris berbisik.
“Bulan depan,” jawab Damar jujur.
Dadanya sesak.
“Oh,” hanya itu yang keluar.
Damar menunduk sedikit, mendekat agar hanya Aira yang mendengar.
“Aku belum cerita ke siapa-siapa,” katanya.
“Kamu yang pertama tahu setelah mamah.”
Aira menelan ludah.
“Kamu… mau pergi sejauh itu?”
“Aku harus,” jawab Damar pelan.
“Tapi aku nggak mau pergi tanpa kamu tahu."
Musik pelan itu berakhir tepuk tangan menggema.
Mereka berhenti bergerak, tapi tangan Damar masih di pinggang Aira.
Dan sebelum Aira sempat berkata apapun suara pembawa acara menggema.
“Perhatian semuanya!”
Lampu panggung menyala terang.
“Kita akan mengumumkan Prom King dan Prom Queen tahun ini!”
Nama itu disebut.
“Evan Pratama… dan Anne Valerie!”
Sorak sorai pecah, lampu menyorot ke depan.
Evan dan Anne melangkah naik ke panggung, tersenyum percaya diri.
Serasi. Populer. Sempurna di mata semua orang.
Aira menatap mereka lalu menoleh ke Damar wajah itu tenang.
Malam ini bukan tentang siapa yang dinobatkan.
Tapi tentang sesuatu yang baru saja dimulai…dan sesuatu yang mungkin akan diuji jarak.