Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 11_Jamuan di Bawah Cahaya Rembulan
Gaun merah itu terasa seperti kulit kedua yang terlalu mewah bagi Anya.
Kain sutranya jatuh dengan sempurna, memeluk lekuk tubuhnya yang selama ini tersembunyi di balik kaus-kaus longgar dan seragam kedai kopi yang kusam.
Saat ia menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar mandi, Anya hampir tidak mengenali gadis di sana.
Rambutnya yang biasanya hanya di kuncir kuda kini tergerai indah, berkilau di bawah lampu kristal.
"Ini bukan aku," bisiknya pada bayangan itu.
Namun, ia tahu ia tidak punya pilihan, menolak perintah Marco malam ini hanya akan memperburuk keadaan bagi orang-orang di sekitarnya, terutama bagi Leo yang nasibnya kini berada di ujung tanduk.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Anya menyentuh kalung mawar pemberian Marco yang melingkar di lehernya.
Logam dingin itu seolah mengingatkannya pada rantai yang mengikatnya di sini.
Pukul tujuh malam tepat, seorang pelayan menjemputnya dan mengantarnya ke balkon utama di lantai paling atas mansion.
Udara malam yang sejuk menyambutnya begitu pintu geser kaca terbuka, di sana sebuah meja kecil telah ditata dengan sangat romantis.
Lilin-lilin kecil menari ditiup angin, dan aroma masakan Italia yang lezat memenuhi udara.
Marco sudah menunggu, dia berdiri di tepi balkon, menatap lampu-lampu kota di kejauhan.
Kali ini dia tidak memakai kemeja hitam biasanya, melainkan kemeja putih yang bagian kancing atasnya dibuka, memberikan kesan santai namun tetap sangat berwibawa.
Luka di perutnya tampaknya sudah tidak lagi mengganggunya saat dia berbalik untuk menyambut kedatangan Anya.
Langkah Marco terhenti sejenak, matanya menyusuri sosok Anya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan intensitas yang membuat napas Anya tertahan, ada kilatan kekaguman yang tak tertutup di mata gelap pria itu.
"Kau terlihat sangat cantik, Anya," suara Marco terdengar lebih rendah dari biasanya, hampir seperti bisikan.
Anya menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberaniannya.
Dia memutuskan untuk mengubah caranya berbicara, jika dia ingin Marco mendengarkannya, dia harus menunjukkan bahwa dia bukan sekadar tawanan yang ketakutan.
"Terima kasih," jawab Anya pelan.
"Tapi kamu tahu kan kalau gaun ini sebenarnya tidak cocok untukku? Aku merasa seperti memakai kostum." seru Anya merasa tidak percaya diri dengan gaun yang sedang dia pakai ini.
"Itu cocok untukmu." jawabnya.
"Duduklah," Marco menarikkan kursi untuknya.
"Dan kenapa kamu merasa itu hanya kostum? Bagiku, gaun itu hanya mempertegas apa yang selama ini sudah ada padamu. Kecantikanmu tidak butuh pengakuan dari kain mahal, tapi aku suka memberikan yang terbaik untukmu." seru Marco.
Anya duduk dengan kaku, pelayan mulai menuangkan wine merah ke gelas kristal mereka.
Setelah pelayan itu pergi, suasana kembali sunyi dan hanya ada suara jangkrik dari arah taman di bawah sana.
"Marco," panggil Anya.
"Hmm?"
"Soal Leo... aku mohon, jangan pindahkan dia ke dermaga atau tempat berbahaya lainnya, dia tidak salah apa-apa. Aku yang mengajaknya bicara duluan, kalau kamu mau marah maka marahlah padaku, jangan pada staff-mu yang tidak tahu apa-apa." ucap Anya.
Marco memutar-mutar gelas wine-nya, menatap cairan merah itu seolah sedang mencari jawaban di sana.
"Kenapa kamu begitu peduli pada orang yang baru kamu kenal selama sepuluh menit?" tanya Marco penasaran.
"Karena dia manusia Marco! Sama seperti aku, sama seperti kamu. Di duniaku menolong sesama dan bersikap ramah itu hal biasa. Kenapa di duniamu segalanya harus berakhir dengan hukuman?" seru Anya tidak habis pikir.
Marco meletakkan gelasnya dan menatap Anya dalam-dalam.
"Di duniaku, ramah adalah celah dan celah adalah kematian. Aku tidak marah karena dia bicara padamu, Anya. Aku marah karena dia melihatmu dengan cara yang seharusnya hanya menjadi hakku." serunya.
Anya menggelengkan kepalanya, merasa frustrasi. "Kamu gila Marco, kamu tidak bisa memiliki setiap pikiran dan pandangan orang lain terhadapku. Aku bukan patung di galeri seni milikmu." ucap Anya dengan kesal.
"Mungkin aku memang gila," sahut Marco tenang.
Dia mulai memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang sangat presisi.
"Tapi kegilaan ini yang membuatku tetap hidup hingga hari ini dan sekarang kegilaan ini juga yang melindungimu."lanjutnya.
Mereka makan dalam keheningan selama beberapa saat.
Anya mencoba menikmati makanan itu, yang sejujurnya adalah makanan terenak yang pernah ia makan seumur hidup tapi rasanya hambar karena hatinya yang gelisah.
"Ceritakan padaku tentang masa kecilmu," kata Marco tiba-tiba, memecah keheningan.
"Bukan apa yang ada di laporan anak buahku, tapi apa yang kamu rasakan saat itu." ucap Marco.
Anya terdiam sejenak, sia menatap lilin yang hampir padam. "Kenapa kamu ingin tahu? Hidupku sangat membosankan dibandingkan hidupmu yang penuh ledakan." ucapnya.
"Karena aku ingin mengenal setiap inci dari duniamu sebelum dunia itu benar-benar hilang digantikan oleh duniaku," jawab Marco dengan nada yang terdengar hampir seperti permohonan.
Anya akhirnya bercerita, dia bercerita tentang ladang jagung di desanya, tentang bagaimana ayahnya selalu pulang dengan bau tanah yang segar, dan tentang ibunya yang selalu menyanyi saat memasak sayur lodeh.
Dia bercerita tentang kesederhanaan yang penuh cinta, sesuatu yang tampaknya sangat asing bagi Marco.
Sambil mendengarkan, ekspresi Marco melunak, dia tampak terpaku pada cara Anya bercerita, pada binar di matanya saat ia mengenang masa lalu.
Marco menyadari bahwa harta karun terbesar Anya bukanlah kecantikan fisiknya, melainkan kemampuannya untuk menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil yaitu sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.
"Duniaku sangat berbeda," gumam Marco setelah Anya selesai bercerita.
"Ayahku adalah pria yang keras, dia mengajariku cara memegang pisau sebelum aku bisa menulis namaku sendiri. Baginya, kasih sayang adalah kelemahan. Ibuku? Dia hanya bayangan yang menangis di kamar setiap malam hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi selamanya saat aku berumur sepuluh tahun." ucap Marco mulai terbuka.
Ini adalah pertama kalinya Marco menunjukkan sisi rentannya.
Anya merasakan sedikit rasa iba muncul di hatinya, di balik kekejaman dan obsesi pria ini, ternyata ada seorang anak kecil yang hancur dan tidak pernah sembuh.
"Itulah sebabnya kamu jadi seperti ini?" tanya Anya lembut.
"Kamu ingin mengontrol segalanya karena kamu takut kehilangan sesuatu lagi?" ucap Anya.
Marco tertegun, dia tidak pernah membiarkan siapa pun menganalisis jiwanya seperti itu.
Dia berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Anya, dia mengulurkan tangan, dan kali ini Anya tidak menjauh.
Marco membelai rambut Anya dengan sangat lembut, seolah-olah Anya adalah sesuatu yang sangat suci.
"Mungkin," jawab Marco pendek.
"Tapi denganmu ini berbeda, saat aku melihatmu di gang itu, di tengah hujan, kamu terlihat seperti satu-satunya hal yang nyata di dunia yang penuh kebohongan ini. Aku tahu saat itu juga, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi." serunya lagi.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪