Haruskah cinta dan pernikahan yang diberikan sahabatnya, ia kembalikan?
Ini gila!
cinta dan pernikahan yang Elea jaga untuk Radjendra dan demi amanah yang diberikan sahabatnya, Erika. justru malah dihancurkan oleh Erika sendiri.
Apa yang harus Elea lakukan?
Haruskah ia kembalikan cinta dan pernikahan itu?
Atau ia harus mempertahankannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu lagi.
Elea membuka beberapa lowongan pekerjaan yang ia lihat diinternet, ada beberapa yang sesuai namun usia dan pengalaman sangat mempengaruhi prasyaratan lowongan tersebut.
Ia yang tengah duduk ditaman sendirian dengan ponsel yang digenggamnya, begitu serius sampai tak kenal waktu. Entah sudah berapa jam dia ditempat itu, sepulang dari menemui pengacara ia langsung mencari pekerjaan.
Ibu dua anak itu tak ingin berlama-lama lagi, semuanya harus segera ia pikirkan karena ia tak tahu kapan Rajendra akan membuangnya. Bukan tak ingin menunggu tapi ia ingin hak asuh anaknya jatuh padanya, karena ia tak punya siapapun selain dua anak kembarnya.
Apa lagi sekarang dua anaknya dalam pengasuhan ibu mertuanya, ia takut jika dia dibuang maka ia tak akan diijinkan bertemu lagi. Jadi ia harus segera memikirkannya sebelum waktu itu tiba.
"Kamu lagi," suara lelaki tak asing berdiri didekatnya.
Elea menengadah dan melihat pria asing yang pernah memberikan es krim padanya. Ia pun duduk dengan tegak.
"Kamu ...." Elea lupa siapa lelaki itu, tapi ia ingat mereka pernah bertemu.
"Marcel," jawab singkat pria tersebut sambil duduk disamping Elea, "kamu pelupa ternyata, padahal kita belum lama bertemu."
"Bukan pelupa, tapi kita memang belum berkenalan," ralat Elea memanyunkan bibirnya.
"Benarkah," Marcel mencoba mengingat-mengingatnya, ia juga tak tahu siapa nama wanita disampingnya kini.
"Benar juga, kalau begitu kita kenalan sekarang. Nama aku Marcelino, kamu?" ucap Lelaki itu lagi.
"Panggil aja nona E," jawab Elea singkat namun tak jelas.
Marcel menautkan kedua alisnya, "Nona E," lelaki itu tersenyum.
"Jijik dong, masa aku panggilnya Ee," canda Marcel, terkikik geli mendengarnya.
"Panggil aja El," ralat Elea memalingkan mukanya karena kesal namanya dianggap kotoran.
"Dih, kamu judes juga ternyata aku kan cuma bercanda." Marcel memangku tangannya, matanya lurus melihat air mancur didepan mereka. Cukup menenangkan bisa beristirahat disana walaupun dengan wanita yang baru ia kenal.
Rasa membosankan pun hilang bertemu lagi dengan gadis ini, ditambah dia cantik juga dimatanya. Sesekali ia melirik pada nona El itu, yang tengah melihat sesuatu diponselnya.
"Kamu sedang apa?" tanya lelaki itu melirik sejenak pada Elea.
"Mencari pekerjaan, zaman sekarang ternyata mencari kerja sulit juga," jawab Elea berkeluh kesah, ia meluruhkan badannya dan bersandar pada kursi panjang itu.
"Memang kamu lulusan apa?" tanya Marcel membuat Elea melirik padanya.
"Lulusan manajemen bisnis, dulu pernah jadi sekertaris hanya sekitar satu tahunan karena aku harus menikah," jawab Elea dengan jujur, ia menundukkan kepalanya ada sebutir sesal yang mendalam tentang keputusannya menikah muda.
Apalagi, selain karena masalah rumah tangganya yang tak lagi adem ayem dan sikap suaminya yang kian buruk. Malahan selingkuhannya adalah wanita yang menjodohkannya dengan Rajendra, itu membuat kisah mereka rumit dan sekarang ia ingin bebas.
"Kebetulan sekali, lamarlah ke perusahaan KG. Aku juga bekerja disana," ucap lelaki itu dengan semringah, ia tengah butuh seseorang yang bisa dipercaya dan ia merasa bisa percaya pada gadis tersebut.
"KG, perusahaan apa itu?" tanya Elea menautkan kedua alisnya, ia merasa baru mendengar nama perusahaan tersebut di kota itu.
"Yang jelas bukan kilo gram singkatannya," canda Marcel kembali tersenyum.
"Oh begitu, kupikir juga begitu," Elea tersenyum ia merasa terhibur oleh candaan receh pria asing tersebut.
Mereka sama-sama tersenyum dengan pandangan lurus pada hiasan air yang meluncur tinggi itu. Hanya ada mereka berdua ditaman itu, cuaca yang lumayan terik namun pohon dibelakang mereka menyejukkan hati keduanya.
"Apakah ini cinta awalnya?" pikir Elea dalam kebimbangannya.
Elea merasa nyaman secara perlahan dengan pria yang baru dikenalnya itu. Meski jantungnya masih berdebar didekat Rajendra, kalau cintanya tak pernah terbalas ia bisa apa. Sudah beberapa kali ia menjatuhkan diri kedalam rasa malu, hanya untuk menaklukan hati seorang Rajendra.
Ia hanya berharap bisa melupakannya secara pelan, rasa sakit itu akan terulang jika ia masih berharap. Mungkin dengan mengenal pria lain ia akan bisa melupakan perasaannya.
Sesekali dua insan itu saling tatap, tersenyum dan bercerita, seakan dunia merestui mereka untuk sebuah takdir. Entah takdir seperti apa yang menunggu mereka, baik atau buruk.
*
Langit yang terang perlahan menggelap, Elea diantarkan pulang oleh Marcel. Pria itu tak hanya memaksanya untuk pulang bersama, tapi juga meminta no ponselnya.
Awalnya ragu, tapi mengingat perselingkuhan suaminya ia nekat memberikannya. Lagi pula ia tak pernah punya teman laki-laki, sesekali tak apa menurutnya toh hanya teman. Memang ia polos tapi tak ada yang salah, ia berpikir itu adalah jalan untuknya mendapatkan pekerjaan tetap.
Dengan riang Elea masuk kedalam rumah, senyuman manis terpancar jelas dibibirnya yang merah muda itu. Mengingat candaannya dengan Marcel, ia seakan kembali ke masa mudanya yang hilang oleh pernikahan.
Hanya berselisih 4 tahun usia mereka, sesekali berteman dengan brondong katanya bisa meremajakan kulit.
"Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang," suara menggelegar Rajendra mengagetkannya, ia membalikkan badannya dan menatap sejenak lelaki itu dan malas.
"Cari kerja," jawab Elea singkat..
"Buat apa? Memangnya uang yang aku kasih masih kurang," tanya Rajendra mengerutkan keningnya, ia pura-pura tak paham saja. Padahal jelas ia tahu, Elea mencari pekerjaan karena ingin menggugatnya.
"Nggak juga, aku cuma pengen mandiri," jawab Elea yang langsung kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Rajendra mengkutinya, saat Elea masuk ia pun ikut masuk ke kamar istrinya. Sehari tak melihatnya, dunianya terasa gelap bak mendung dimusim kemarau, panas ingin bertengkar dan gelap seakan tak berwarna. Begitulah yang lelaki itu rasakan bila tak ada Elea dirumah.
Ia bahkan pulang lebih cepat hanya ingin bertemu saja, karena istrinya itu mendadak ingin berpisah, tentu ia ingin tahu sesuatu.
"Lumayan rapi, kenapa kau memilih kamar ini dibanding kamar lain?" tanya Rajendra yang langsung duduk ditepi diranjang.
Elea menoleh pada suara itu, ia kira suaminya tak mengekorinya namun faktanya ia sudah duduk saja diranjangnya.
"Kenapa kamu ikut masuk? Keluar sana!" usir Elea yang langsung mendekati Rajendra, tanpa apapun ia menarik tangan kekar lelaki itu untuk segera keluar.
"Ayo cepat keluar! Aku mau mandi," usir Elea sambil menarik lengan Rajendra, tapi lelaki itu malah ogah beranjak.
"Kamu kalau mau mandi, ya mandi aja. Aku kan sudah lihat seluruh badan kamu, bahkan aku tahu tahi lalat kamu dibagian—" mulut Rajendra ditutup oleh tangan Elea dengan kuat.
"Jangan buka aib istri!" larang Elea yang membuat Rajendra mengangguk pelan dengan sorot mata polos padanya.
Elea hendak pergi, karena sudah ingin segera mandi.
Namun ...
"Tahi lalat dibagian dada," seloroh Rajendra dengan lantang, yang membuat Elea mengurungkan niatnya dan ingin menutup mulut ember lelaki ini.
Akan tetapi Rajendra tahu akan aksi istrinya, hingga ia menepis tangan itu dengan kasar dan membuat Elea ambruk kedalam tubuhnya dan menindihnya. Jika dalam novel posisi seperti itu berujung saling tatap, namun pasangan ini malah lain dari yang lain.
Bagian dada Elea justru berada diposisi muka Rajendra, membuat lelaki itu gelagapan melihat apa yang menindih wajahnya. Ia hampir kehabisan nafas saking kenyalnya bagian itu, bekas bagian tempat menyusu anak kembarnya.
Jantung Rajendra mendadak memompa dengan keras, mengingat posisi yang tak menyenangkan itu. Ada sesuatu yang mengalir ditubuhnya tapi ia tak tahu, apa itu?
Yang jelas badannya mendadak mati rasa, membayangkan posisi Elea diatas badannya. Mana yang didepan matanya itu adalah buah melon istrinya, jujur jakunnya naik turun.
Hanya sekian detik posisi itu terjadi, Elea yang menyadari kesalahan itu langsung bangun. Dia berdiri sambil merapikan pakaiannya, ia memakai dress berkancing bagian dada jadi ia berpikir sudah membuat hal yang memalukan mengingat posisi barusan.
"A-aku mandi dulu," ucap Elea yang secepatnya pergi meninggalkan Rajendra yang masih rebahan.
Sedangkan lelaki itu termangu, ia tahu betul berapa ukuran buah melon istrinya itu. Wajahnya yang dihimpit tadi bisa ia rasakan seberapa kenyal dan padatnya buah tersebut.
Ia menyentuh dadanya yang didalamnya ada suara yang berdebar dengan kencang. Ia telan ludahnya merasakan hawa panas yang mendadak datang, lalu memejamkan matanya dengan kuat.
"Rajendra, kau sudah gila," ujar Rajendra merutuki diri.
Dibibir ia mengaku cinta Erika, tapi organnya malah berdetak cepat didepan Elea. Ia bingung dengan perasaannya kini, ia tak paham dengan kondisi jantung dan hatinya.
Ia pikir, ia sakit.
^
Makan malam ini mereka makan berdua lagi, namun bedanya rasa canggung keduanya memenuhi aura ruangan tersebut. Ini bukan kali pertama, tapi mengingat hal yang memalukan selalu membuat keduanya kikuk sendiri.
Pasangan rasanya orang asing dan setiap kejadian memalukan membuat keduanya berada didalam ruangan canggung. Mungkin karena mereka menikah dadakan tanpa cinta, mereka dekat hanya karena status pasangan suami istri saja.
Hening sekali sampai tak ada yang berani mengeluarkan suara, bahkan para asisten rumah tangga pun ikut panik dengan keadaan tuan dan nona majikannya.
"Ehem," Rajendra berdehem, tenggorokannya gatal ingin meneriaki Elea seperti biasanya.
Elea enggan bersuara dan memilih melanjutkan makan malamnya, anggap saja patung moai.
Melihat itu, Rajendra membulatkan matanya. Ia berdehem karena ingin Elea bersuara, memberinya perhatian begitu maksudnya. Tapi wanita itu justru mengabaikannya.
"Elea, apa kau sedang hamil? Sikapmu akhir-akhir ini sangat aneh," geram Rajendra yang akhirnya mulai mengeluarkan suara kasarnya.
"Siapa bilang aku hamil? Memangnya mas lihat aku mual muntah? Atau ... Ada yang bilang ke kamu aku hamil," tanya Elea melirik suaminya dengan sorot mata yang menusuk.
Benar, Elea yang katakan itu pada Erika, itu hanya untuk memanasinya saja.
Rajendra terdiam. Ia tak sadar dengan ucapannya, yang memberitahukan Elea hamil kan Erika.
Canggung yang tadinya memenuhi ruang kini berubah menjadi panas, bukan gairah tapi api yang kembali bergejolak dihati Elea.
Tangan wanita itu mengepal dibawah meja, ia mendadak kesal karena pertanyaan Rajendra itu adalah yang ia katakan pada Erika. Artinya mereka sudah bertemu lagi, itulah alasan api cemburunya datang.
"Anu, aku ....?