Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.
Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Hazel bergegas kembali ke apartemen. Setir mobil digenggamnya lebih erat dari biasanya. Bayangan Maira terus berputar di kepalanya, wajah gadis itu saat bertengkar dengan ibunya, tatapan kosong yang sempat membuat dadanya sesak dan iba. Ia takut Maira melakukan hal nekat.
Begitu sampai, Hazel bahkan tak sempat menenangkan napasnya. Dengan langkah tergesa, ia membuka pintu apartemen.
Begitu pintu terbuka, Hazel langsung terdiam.
Matanya membulat tak percaya.
Di tengah ruang tamu, Maira berdiri sambil bernyanyi dengan penuh penghayatan. Sebuah mic kecil digenggamnya, musik mengalun cukup keras. Hazel sama sekali tak mengerti bahasa yang dipakai Maira. Asing di telinganya, tapi nadanya ceria, bahkan terdengar bersemangat.
Maira berputar kecil, lalu tanpa sengaja menoleh ke arah pintu. Ia terkejut setengah mati saat mendapati Hazel berdiri di sana, menatapnya dengan ekspresi bingung bercampur kaget.
“Anda ngapain berdiri natap saya kayak gitu?” tanya Maira sambil buru-buru mematikan musik dan menurunkan mic dari mulutnya.
Hazel masih mematung sejenak sebelum akhirnya mengerutkan kening.
“Kamu oke?” tanyanya, suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia kira.
“Baik.” Maira mengangguk cepat.
“Emangnya kenapa?”
Alih-alih menjawab, Hazel justru melangkah masuk lebih jauh. Matanya tertuju pada sudut meja, tempat beberapa kaleng berserakan. Dari pantauan CCTV sebelumnya, Hazel sempat mengira itu minuman beralkohol.
“Kamu mabuk?” tanyanya lagi, nada suaranya datar tapi penuh selidik.
“Enggak.” Maira menggeleng cepat. Namun dari sudut matanya, ia menangkap arah pandang Hazel yang tak lepas dari kaleng-kaleng itu.
“Anda pasti ngira saya minum-minuman beralkohol, ya?” Maira mendekat, lalu mengambil salah satu kaleng dari sudut meja. Ia menyodorkannya tepat ke depan wajah Hazel.
“Baca deh. Ini minuman isinya teh cincau!”
Hazel menerima kaleng itu dan membacanya. Beberapa detik berlalu sebelum ia menghembuskan napas pelan. Benar, bukan minuman beralkohol.
“Ah…”
“Anda mengkhawatirkan saya, ya?” Maira melangkah lebih dekat. Kali ini, matanya dibuat berbinar-binar, senyumnya menggoda tanpa usaha menutupinya.
“Kalau khawatir,” lanjutnya santai, “tidurin saya saja.”
Hazel tersentak.
“Biar saya cepat hamil anak Anda, dan istri Anda puas!”
Refleks, Hazel mengangkat tangannya dan mendorong pelan wajah Maira dengan ujung telunjuk. Gerakannya ringan, tapi cukup membuat Maira mundur selangkah. Bibirnya langsung mengerucut, cemberut.
“Ayolah, Pak Hazel,” rengeknya.
“Saya butuh kerja sama Anda. Atau jangan-jangan Anda memang ingin berhubungan lama-lama dengan saya, ya?”
“Jangan ngadi-ngadi kamu!” potong Hazel tegas. Ia duduk di sofa, menyandarkan punggung dengan ekspresi santai tapi dingin, jarak yang sengaja ia ciptakan.
Maira menyilangkan tangan. “Lalu buat apa dong Anda setuju menjadikan saya madu Anda?”
“Karena saya nggak punya pilihan lain,” jawab Hazel tanpa ragu.
“Dasar pria aneh!” gumam Maira kesal. Ia berbalik dan melangkah masuk ke kamarnya, meninggalkan Hazel di ruang tamu.
Di dalam kamar, Maira menjatuhkan diri ke atas ranjang. Matanya menatap langit-langit sambil berpikir keras. Cara halus jelas tak mempan pada Hazel. Pria itu terlalu dingin, terlalu terkendali.
Ia bangkit kemudian duduk, sorot matanya berubah penuh tekad.
“Fiks. Aku harus agresif dan maksa kayaknya kali ini,” ujarnya dalam hati.
Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum seseorang yang sudah menyusun rencana berikutnya.
***
Tak menunggu lama, Maira keluar dari kamar dengan mengenakan lingerie yang cukup seksi. Rambutnya dibiarkan tergerai, jatuh lembut membingkai wajah dan bahunya. Ia melangkah pelan menuju ruang tamu dengan senyum penuh percaya diri.
Namun baru beberapa langkah, senyum itu langsung pudar.Ruang tamu kosong. Hazel tidak ada di sana.
“Aisss…” Maira menghela napas kecewa. Padahal ia sudah bersusah payah berdandan, bahkan sempat bercermin berkali-kali demi memastikan penampilannya cukup menggoda.
Ia berjalan menyusuri apartemen, lalu melangkah ke arah dapur.
Di sana, Hazel sedang berdiri sambil mengambil minum. Begitu menoleh dan melihat Maira, Hazel tersentak kaget. Air di mulutnya hampir saja disemburkan kembali.
“Kamu ngapain pakai baju kayak gitu?” ucap Hazel spontan. Suaranya terdengar tak setenang biasanya. Tatapannya berusaha dialihkan, tapi jelas gagal. Pakaian itu terlalu mencolok, memperlihatkan dada, paha, serta lekuk tubuh Maira tanpa ampun.
Maira mengibas rambutnya santai, lalu melangkah mendekat dengan langkah ringan namun penuh percaya diri dan tak lupa dengan senyum menggodanya.
“Kamu mau ngapain?” tanya Hazel sambil refleks memundurkan tubuhnya saat wajah Maira semakin dekat.
Jari jemari Maira terangkat, menyentuh dan membelai wajah Hazel perlahan, seolah sedang menguji kesabarannya.
“Menggoda Anda,” bisiknya pelan, suaranya manja dan sengaja direndahkan.
“Dasar gila!” Hazel mendorong tubuh Maira dan langsung melangkah pergi.
Namun Maira tak menyerah. Ia mengejar Hazel dan memeluknya dari belakang. Lengannya melingkar di tubuh pria itu, tangannya sempat meraba dada Hazel dengan berani.
“Saya memang gila,” bisik Maira dekat telinga Hazel.
“Sebaiknya kamu menjauh, kalau tak ingin…” Hazel berusaha melepaskan diri.
“Tak ingin apa?” potong Maira tanpa gentar.
Ia memutar tubuh Hazel agar menghadapnya. Tatapan Maira kali ini serius, tidak lagi sekadar bercanda. Dengan berjinjit, ia menarik kerah kemeja Hazel dan mengecup bibir pria itu secara tiba-tiba.
Hazel terdiam seketika. Matanya mengerjap bingung, tubuhnya kaku beberapa detik. Namun kesadarannya segera kembali. Ia mendorong tubuh Maira menjauh lagi.
“Bagaimana? Masih belum tergoda, kah?” tanya Maira penasaran. Ia menatap wajah Hazel yang kini terlihat memerah, entah karena marah atau karena sesuatu yang lain.
Hazel menghela napas panjang. Tangannya terangkat membuka dasi di lehernya, lalu tiba-tiba ia menarik tangan Maira dan membawanya masuk ke kamar.
Maira sempat tersenyum puas. Ia pikir, rencananya akhirnya berhasil.
Namun semua harapan itu runtuh dalam hitungan detik.
Tanpa banyak bicara, Hazel justru mengikat kedua tangan Maira di tonggak tempat tidur dengan dasinya tadi. Gerakannya cepat dan tegas, membuat Maira tak sempat bereaksi.
“Pak Hazel… Anda kok mengikat saya, sih?” protes Maira dengan nada kesal sekaligus tak percaya.
“Renungkan kesalahan kamu di sana,” jawab Hazel dingin.
“Kalau kamu sudah waras, baru saya buka.”
Hazel kemudian duduk santai di sofa dalam kamar, menyandarkan punggungnya seolah tak terganggu sama sekali.Padahal dia sendiri juga merasa tak tenang setelah ciuman singkat tadi.
“Dasar pria gila!” umpat Maira kesal. Ia meronta kecil, tapi sia-sia. Rencananya kembali gagal.