Aleta merasa hidupnya hancur setelah dikhianati oleh orang yang ia sayangi, malam dimana seharusnya dia yang bertunangan dengan kekasihnya. Namun, justru adiknya yang menggantikannya dan tepat pada malam itu juga Aleta tidak sengaja masuk kedalam kamar hotel yang akhirnya membuat hidupnya hancur sehancur-hancurnya, dia harus menanggung akibat dari perbuatan yang dilakukannya dengan seseorang yang tidak ia kenal.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Apakah Aleta mampu bertahan?
Ig : @elaretaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semangka
Pagi harinya, Aleta terbangun dan melihat ke sampingnya yang ternyata ada Arka. Hampir saja Aleta teriak saat melihat Arka, tapi untung saja hal itu tidak terjadi.
Aleta sangat terkejut apalagi posisi Arka yang begitu dekat dengannya, bahkan Aleta dapat merasakan hembusan napas Arka.
Aleta mencoba untuk bangun karena ia tidak ingin Arka marah karena melihatnya tidur di kasur bersama Arka.
'Aku kok bisa ada di sini ya? pasti aku tidurnya sambil jalan deh,' tanya Aleta dalam hati.
Baru saja Aleta duduk dan ingin menyingkap selimutnya tiba-tiba terdengar suara dari sampingnya.
"Mau kemana?" tanya Arka, dengan suara serak khas bangun tidurnya.
Aleta yang mendengar hal itupun langsung menoleh dan menatap Arka yang saat ini juga tengah menatapnya, dengan cepat Aleta pun berdiri.
"Maaf Mas, Aleta gak sengaja tidur di sini. Aleta akan bersihin semuanya," ucap Aleta dan menunduk.
"Huh, biarkan saja. Sekarang masih pagi lebih baik kamu tidur lagi," ucap Arka.
"I-iya, Mas," ucap Aleta dan berjalan menuju sofa.
"Mau kemana?" tanya Arka.
"Mau tidur, Mas. Tadi kan Mas Arka nyuruh Aleta tidur lagi," ucap Aleta.
"Ya, tapi kenapa malah pergi ke sofa?" tanya Arka.
"Aleta kan tidurnya di sofa," ucap Aleta.
"Siapa yang suruh tidur di sana?" tanya Arka.
"Gak ada," ucap Aleta, dengan menggelengkan kepalanya.
"Terus kalau gak ada yang nyuruh tidur di sana kenapa malah tidur di sana?" tanya Arka.
"Aleta cuma takut Mas Arka gak nyaman kalau Aleta tidur di kasur," cicit Aleta dan masih dapat di dengar oleh Arka.
Arka tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan Aleta, apakah dirinya begitu jahat pada istrinya itu hingga Aleta berpikir seperti itu pada Arka.
"Tidur di sini," ucap Arka.
"Tapi, Mas...," ucapan Aleta terhenti lantaran Arka menyelanya.
"Kalau sampai kau tidak tidur di sini, saya pastikan hotel ini akan bangkrut hari ini juga," ancam Arka.
Mau tidak mau Aleta pun akhirnya mengikuti apa yang dikatakan Arka, Aleta berjalan menuju kasir lalu tidur di sebelah Arka.
"Jangan pernah berpikir seperti itu, kamu adalah istri saya. Kamu berhak dengan apapun yang saya miliki, saya sangat tidak suka dengan apa yang kamu katakan tadi," ucap Arka.
"Iya, Mas," ucap Aleta.
"Yasudah sekarang kita tidur lagi, kita akan pulang nanti siang jam 1," ucap Arka lalu mendekatkan dirinya pada Aleta.
Bukan hanya itu, Arka bahkan memeluk Aleta tanpa rasa bersalah padahal Aleta sudah terkejut bukan main dengan tindakan Arka ini.
Arka juga mengusap lembut perut Aleta dan hal itu membuat Aleta nyaman hingga tanpa terasa Aleta pun terlelap dalam pelukan sang suami.
Arka yang merasa jika Aleta sudah terlelap pun langsung membuka matanya dan menatap sang istri.
"Selamat tidur cantik," gumam Arka lalu mengecup pelipis dan bibir Aleta.
Setelah itu, Arka pun menutup mata dan mengikuti Aleta menuju alam mimpi.
.
Siang harinya Arka dan Aleta sudah siap untuk pulang ke rumah, mereka harus segera pulang karena Mama Febby sejak tadi pagi menghubungkan Arka untuk menanyakan kabar Aleta.
Aleta pun saat ini menggunakan baju yang sudah Arka pesan tadi, tidak mungkin kan Aleta menggunakan kemeja besar milik Arka.
"Ayo, Mama udah nungguin dari tadi," ucap Arka.
"Iya, Mas," ucap Aleta.
Arka dan Aleta pun mulai berangkat menuju rumah keluarga Andrean, saat di tengah perjalanan mobil yang Arka dan Aleta kendarai berhenti karena lampu merah dan tiba-tiba Aleta tidak sengaja melihat toko buah dimana bertepatan dengan itu, ada seorang anak kecil yang keluar dari toko tersebut dengan memakan semangka.
Aleta yang melihat itu pun tiba-tiba ingin memakan semangka, Aleta hanya melihat karena ia berpikir tidak mungkin dapat membeli buah semangka tersebut karena ia tidak memiliki uang dan tidak mungkin ia harus meminjam uang pada Arka.
Jadi, Aleta memilih diam dan terus melihat anak kecil tersebut, 'Anak Bunda pengen semangka ya, sabar ya sayang nanti kalau Bunda punya uang kita beli semangka,' ucap Aleta dalam hati dan mengusap perutnya.
Arka yang melihat Aleta mengusap perutnya pun bertanya pada Aleta, "Kenapa?" tanya Arka.
"Kenapa maksudnya?" tanya Aleta.
"Perutnya sakit?" tanya Arka dan mengusap perut Aleta.
"Gak kok, Mas. Perut aku gapapa," ucap Aleta.
"Terus kenapa tadi usap-usap perut?" tanya Arka.
"Gapapa, tadi baby-nya pengen di usap-usap aja kok," ucap Aleta dan diangguki Arka.
Arka tidak bodoh, ia tau jika Aleta tengah berbohong karena tadi ia sempat melihat Aleta yang melihat keluar jendela mobil lebih tepatnya pada anak kecil yang tengah memakan semangka di depan toko buah.
Arka hanya ingin Aleta lebih berani mengatakan apa yang dia inginkan sebab itu arak diam agar Aleta mau mengatakannya, tapi sayang Aleta justru tetap diam padahal Arka tidak akan marah pada Aleta meskipun Aleta menginginkan rumah sekaligus padanya.
Setelah lampu berubah menjadi warna hijau, Arka pun melajukan mobilnya lalu putar balik dan hal itu membuat Aleta menatap Arka dengan tatapan bertanya-tanya.
"Mas Arka mau kemana? bukannya kita mau pulang ya kok Mas Arka malah putar balik?" tanya Aleta.
Arka hanya diam lalu menuju toko buah yang tadi di lihat oleh Aleta, "Mas Arka pengen buah ya?" tanya Aleta.
Arka dan Aleta pun masuk ke dalam toko tersebut, "Kamu pilih mau beli buah yang mana?" tanya Arka.
"Mas Arka mau beli buah buat Mama, yaudah kalau gitu kita beli apel aja Mas. Setau Leta Mama suka buah apel," ucap Aleta.
"Saya berhenti di sini bukan untuk beliin Mama," ucap Arka.
"Terus kalau bukan untuk Mama untuk siapa, Mas? untuk Audy ya, tapi Leta gak tau Audy suka buah apa," tanya Aleta.
"Huh, saya berhenti di toko ini biar kamu bisa beli buah yang kamu pengen," ucap Arka.
"Tapi, aku gak pengen buah, Mas," ucap Aleta.
"Tinggal pilih aja apa susahnya sih, saya lagi baik ini," ucap Arka, yang mulai kesal karena sikap Aleta.
Aleta pun akhirnya memilih buah semangka yang sejak tadi ia inginkan, Arka yang melihat Aleta memilih semangka pun tersenyum karena ia tau jika Aleta menginginkan semangka dan sebab itu arak sengaja berhenti di depan rak semangka.
Dengan cepat Arka mengambil buah semangka tersebut dan membayarnya. Setelah membeli buah semangka Arka dan Aleta kembali masuk ke dalam mobil untuk pulang ke rumah.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun sampai di kediaman keluarga Andrean, saat di luar rumah mereka sudah di sambut heboh oleh Mama Febby.
Bahkan saat Aleta keluar dari mobil, Mama Febby pun langsung memeluk Aleta. Tak hanya itu Mama Febby Samapi menangis di pelukan Aleta dan hal itu membuat Aleta merasa bersalah karena ia Mama Febby menangis.
"Kamu gapapa kan sayang?" tanya Mama Febby.
"Aleta gapapa kok, Ma. Mama jangan nangis dong, Aleta gak bisa lihat Mama nangis. Maafin Aleta ya Ma, karena Aleta Mama jadi nangis kayak gini," ucap Aleta.
"Kamu gak salah sayang, emang dasar Mama aja yang cengeng. Mama kangen banget sama kamu, Mama gak bis jauh dari kamu apalagi dari baby-nya," ucap Mama Febby dan mengusap perut Aleta.
Aleta pun tersenyum, 'Sadar, Al. Kamu gak diharapkan di keluarganya Mas Arka, mereka hanya ingin kamu baik-baik aja supaya anaknya Mas Arka juga baik-baik aja,' ucap Aleta dalam hati.
"Yaudah, ayo masuk. Kamu pasti capek kan," ucap Mama Febby lalu menuntun Aleta untu masuk ke dalam rumah.
Saat di ruang tamu, Mama Febby pun menggenggam erat tangan Aleta seolah takut kehilangan Aleta lagi.
"Jadi gimana ceritanya kamu bisa pergi sih sayang?" tanya Mama Febby.
Aleta pun mulai menceritakan apa yang terjadi padanya, kecuali saat ia berada di rumah Ayah Abram dan Bunda Dea. Aleta tidak ingin orangtuanya dipandang buruk oleh orang lain sebab itu Aleta tidak menceritakannya.
"Jahat banget sih ibu-ibu itu, awas aja ya kalau Mama ketemu sama tuh ibu-ibu. Mama bakal habisin ibu-ibu itu," ucap Mama Febby.
"Aleta gapapa kok, Ma. Lagian wajarlah kalau mereka kayak gitu apalagi mereka juga dalam keterbatasan secara ekonomi dan Aleta juga yang salah udah milih tempat orang lain,," ucap Aleta.
"Tapi, tetap aja dong sayang. Orang kayak gitu gak bisa dibiarin gitu aja dan harus dikasih pelajaran," ucap Mama Febby.
"Mama gak sudah khawatir, Arka udah ngasih pelajaran buat ibu-ibu itu," ucap Arka.
"Beneran, Ka?" tanya Mama Febby.
"Iya," jawab Arka.
"Tumben banget kamu cepet, tapi Mama bangga deh sama kamu," ucap Mama Febby.
"Selalu berlebihan," gumam Arka dan untungnya Mama Febby tidak mendengarnya.
.
.
.
Tbc.
eehhh.... ternyata udah lahiranpun masih lo-la
Tuhan.... tolong dong bebasin kami dan semua pembaca cerita ini dari keturunan yg lengkap seperti ALETA
tapi gak bisa dipungkiri sosok seperti ini banyak didunia nyata
betul yg dibilang Arka itu "pantes Leta ditinggal pacar krn bodoh dan lemah"
ya... semoga anak keturunan para pembaca g' ada yg seperti Aleta
lemah sih gakpapa tapi jgn suka bohong juga kan bisa
lemah gakpapa tapi jgn semua rasa cuma dibicarakan dlm hati juga kali, kangak semua orang cenayang yg ngerti isi hati org lain