Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Ketulusan Hati Aira.
Kinan menghela napas dalam-dalam. Gadis itu menatap sang ayah dengan tatapan yang mendalam.
"Yah, mungkin setelah ini Ayah tidak akan menganggap aku sebagai putri Ayah lagi," kata Kinan pelan, namun suaranya masih bisa didengar oleh semua orang.
"Maksud kamu apa, Nak? Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Ayah Fikri bingung.
"Masa iya, Bro, dia mau mengaku?" bisik Seno tepat di telinga Ardi.
"Aku sih tidak tahu, ya. Kan aku Ardi, bukan dia," jawab Ardi santai.
Seno memukul kepala Ardi dengan bantal sofa. Melihat kelakuan mereka, Ayah Niko memberikan isyarat agar keduanya diam.
"Maksud kamu apa, Kin, bilang begitu ke Om Fikri?" tanya Ardi santai.
Suasana mendadak hening.
"Yah, sebenarnya Kinan terpaksa melakukan ini karena Bunda masih disekap sama ayahnya Vito," lirih Kinan.
Kembali hening.
"Maksud kamu apa, Nak? Ayah tidak mengerti," kata Ayah Fikri, mencoba tetap tenang.
"Saat kejadian malam itu, aku yang sudah menyiksa Aira. Aku yang sudah menginjak tangan Aira. Aku yang sudah menyakiti Aira, hiks..." Seketika tangis Kinan pecah. Seumur hidupnya, baru kali ini dia melakukan kesalahan yang begitu fatal.
Deg!
Pyar!
Azam memukul keras meja kaca di depannya hingga pecah. Darah segar mengalir begitu banyak dari jari-jemarinya.
"JADI INI ALASAN DIA TIDAK MAU...?"
Ayah Niko langsung mencengkeram kuat pergelangan tangan Azam. Hal itu membuat Azam terpaksa menahan amarahnya dan kembali duduk. Sementara itu, Ayah Fikri seketika terdiam kaku.
"Ayahnya Vito, hiks... Dia... dia mengancam akan menyakiti Mama kalau aku tidak menuruti apa pun kemauan papanya Vito, hiks hiks... Dan sekarang Mama masih di rumah nenek. Mama lagi sakit, Yah. Hidup Mama tidak lama lagi, hiks hiks hiks..."
Azam mengepalkan kedua tangannya hingga darah segar terus menetes dari lukanya.
"Wow, Bro. Aku tidak salah dengar, kan? Si Kinan mengakui kesalahannya," kata Seno tertahan.
Ucapan Seno terhenti saat tiba-tiba seseorang datang. Azam, Ayah Fikri, Ayah Niko, Kinan, Ardi, dan Seno serempak menatap ke arah pintu utama. Di sana, Aira sudah berdiri sembari menangis tersedu-sedu.
Kinan langsung memalingkan wajahnya. Gadis itu sama sekali tidak sanggup jika harus menatap wajah saudara kembarnya yang pernah dia sakiti dengan biadab.
"Kamu jahat, Kinan! Hiks hiks hiks... Kamu jahat!" isak Aira.
Azam bergegas menghampiri Aira. Tetes demi tetes air mata Kinan mulai membasahi pipinya.
"Ayah... Ayah jangan marah sama Kinan, hiks. Aira mau Kinan. Aira sudah memaafkan Kinan, hiks..."
Ayah Fikri masih terdiam dalam posisi kaku. Tak lama kemudian, laki-laki berusia empat puluh tahun itu menarik Kinan ke dalam pelukannya.
"Ayah kecewa sama kamu, Kinan. Tapi kamu tetap putri Ayah," lirih Ayah Fikri. Kinan menangis sejadi-jadinya.
"Ayah... hiks... Aira juga mau dipeluk," isak Aira.
Mereka bertiga pun akhirnya saling berpelukan. Setelah beberapa menit larut dalam kehangatan pelukan itu, Kinan mulai menceritakan semuanya. Kini, tidak ada lagi beban rahasia yang membuatnya terus merasa gelisah dan tidak nyaman.
"Masalah Fina, kita harus segera menemukannya," kata Ayah Niko serius.
Saat Ayah Niko, Ayah Fikri, dan yang lainnya sedang membicarakan rencana matang untuk menyelamatkan Fina, Aira dengan sangat teliti mengobati luka di tangan Azam.
"Mas, maafkan Kinan, ya? Jangan marahi Kinan lagi, jangan diungkit-ungkit lagi, ya? Mungkin kalau aku berada di posisi Kinan, aku juga akan melakukan hal yang sama untuk melindungi orang yang aku sayang," kata Aira lembut.
Azam menggelengkan kepalanya gemas. Kebaikan dan ketulusan hati Aira selalu berhasil membuat Azam semakin tergila-gila padanya.
Kinan menghampiri Aira, lalu memeluk erat tubuh mungil saudara kembarnya itu.
"Maafin aku, Aira. Maafin aku, hiks hiks..." isak Kinan menyesal.
Aira mengangguk cepat. Dengan lembut, Aira mengusap-usap punggung Kinan agar gadis itu bisa menjadi lebih tenang.
"Iya, Kinan. Sebagai tanda maaf kamu, kamu harus janji ya sama aku, kalau kamu tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Kalau ada masalah, kita bicarakan baik-baik, ya," kata Aira lembut, yang langsung dibalas anggukan pasrah oleh Kinan.
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍