NovelToon NovelToon
Dekat Namun Jauh

Dekat Namun Jauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:811
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

​"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."

​Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.

​Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PESTA DI ATAS PIJAKAN KACA

Malam puncak pesta peresmian konsorsium antara Alveric Group dan Barito Group digelar di Grand Ballroom hotel berbintang lima terkemuka di kawasan Jakarta Selatan. Lampu-lampu gantung kristal berukuran raksasa membiaskan kilau cahaya keemasan ke atas lantai pualam yang mengilap, memantulkan bayangan para jajaran pengusaha atas, politisi, serta keluarga konglomerat papan atas ibu kota yang hadir dengan pakaian formal terbaik mereka.

Di salah satu sudut ruangan, Nayla berdiri mendampingi Bundanya, Eleanor. Gaun malam berwarna navy blue berbahan sutra yang dikenakannya jatuh dengan sangat anggun, membingkai tubuhnya secara sempurna namun tetap memancarkan kesan sopan. Di dadanya, sebuah kalung berlian murni warisan keluarga Alveric berkilau tipis, menambah kesan eksklusif yang tak terbantahkan.

Namun, di balik penampilannya yang memukau, mata Nayla beberapa kali melirik ke arah pintu masuk utama ballroom. Setiap kali rombongan tamu baru melangkah masuk, dadanya berdesir cemas. Ia tahu betul bahwa dalam pesta aliansi sebesar ini, kedatangan keluarga Mahendra adalah sebuah kepastian yang tak terelakkan.

"Nayla, senyum sedikit Sayang," bisik Eleanor lembut seraya menyentuhkan jemarinya di lengan sang putri. "Beberapa wartawan media bisnis sedang mengarahkan kamera ke arah kita."

Nayla menarik napas halus, lalu memasang senyum elegannya secara instan. "Baik, Bunda."

Dari arah depan, Alexander Lauren Alveric melangkah mendekati mereka bersama dua putra tertuanya, Adrian dan Julian. Di sebelah Alexander, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan garis wajah tegas dan kumis tipis tersenyum lebar. Pria itu adalah Gatan Aldous Rain, pimpinan tertinggi Barito Group.

Di belakang Gatan, dua anaknya berdiri memancarkan aura keangkuhan yang familier. Gadrian Rain tampil tampan dengan setelan jas tuxedo hitam, sementara Salmania Rain mengenakan gaun merah menyala yang menyedot perhatian banyak pasang mata.

"Alexander, ini putrimu yang sering dibicarakan itu?" ujar Gatan Rain dengan suara bas yang lantang, menatap Nayla dari atas ke bawah dengan pandangan menilai. "Sangat anggun dan memancarkan wibawa Alveric. Pantes saja Gadrian sering bercerita tentangnya."

Gadrian melangkah satu tapak maju, menyunggingkan senyum menawan yang terkesan dipaksakan di hadapan Alexander dan Eleanor. "Selamat malam, Om Alexander, Tante Eleanor. Nayla... kamu kelihatan sangat mempesona malam ini."

Nayla menyambut uluran tangan Gadrian secara formal, hanya menyentuh ujung jemarinya sejenak sebelum menariknya kembali dengan sopan. "Terima kasih, Gadrian. Selamat atas resminya kerja sama Barito dan Alveric."

Salma yang berdiri di sebelah ayahnya mendengus tipis, walau senyum palsu di wajahnya tetap dipertahankan demi menjaga nama baik keluarga di depan kamera. "Nayla memang selalu pandai menjaga image di depan umum, Papa. Di sekolah pun dia sangat tenang, padahal banyak anak laki-laki yang sibuk mencari perhatiannya."

Kalimat Salma tersirat nada sindiran yang tajam, namun Alexander hanya menanggapi dengan kekehan dingin yang penuh kontrol. "Nayla tahu cara membawa nama besar Alveric, Salma. Itu adalah hal mendasar yang diajarkan di keluarga kami."

Adrian melirik jam tangan mewahnya, lalu menatap sang Ayah. "Keluarga Mahendra sudah tiba di lobby utama, Ayah. Pak Kael dan rombongannya sedang menuju ke sini."

Suasana di sekitar meja keluarga Alveric dan Barito mendadak berubah sedikit lebih tegang. Masuknya klan Mahendra ke dalam ruangan pesta selalu berhasil mengalihkan gravitasi perhatian seluruh tamu undangan.

Pintu ganda ballroom terbuka lebar. Kael Mahendra melangkah masuk dengan aura dominasi yang luar biasa, didampingi oleh Clara Mahendra. Di belakang mereka, kelima anak klan Mahendra berjalan mengekor: Ethan dengan raut kaku tanpa cela, Raka yang menyunggingkan senyum dingin penuh kalkulasi, Nora yang tampil memikat dengan gaun hitamnya, Leo yang tampak tegap, dan di barisan paling belakang... Zavier.

Zavier mengenakan setelan jas hitam terukur dengan kemeja putih di bagian dalam. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan garis rahangnya yang tegas dan manik mata kelam yang memancarkan aura dingin tak tersentuh.

Saat rombongan Mahendra mendekati area utama, mata Zavier yang tajam menyapu sekeliling hingga akhirnya bertabrakan langsung dengan tatapan mata Nayla. Untuk sekian detik yang terasa begitu panjang di antara kebisingan musik instrumental pesta, dunia di sekitar mereka seolah mengabur. Tatapan Zavier yang dalam menyalurkan rasa tenang sekaligus ketegasan yang tak tergoyahkan.

"Kael! Akhirnya kamu tiba juga," sapa Alexander seraya melangkah menyambut kolega utamanya itu. Kedua pimpinan konglomerat itu berjabat tangan erat di depan puluhan kilatan lampu kilat kamera wartawan.

"Tentu saja aku datang, Alexander. Acara penting dua mitra Mahendra tidak mungkin aku lewatkan," balas Kael dengan senyum formalnya. Pandangan Kael lalu beralih pada Gatan Rain. "Gatan, selamat atas bergabungnya Barito Group dalam konsorsium ini."

"Terima kasih banyak, Pak Kael. Suatu kehormatan bagi Barito bisa berdiri sejajar di antara Mahendra dan Alveric," sahut Gatan santai, walau matanya menyiratkan ambisi besar untuk menggeser dominasi Mahendra di masa depan.

Saat para orang tua dan anak-anak tertua mulai tenggelam dalam obrolan tingkat tinggi mengenai pembagian saham dan ekosistem bisnis, anak-anak muda di lingkaran itu perlahan bergeser ke sudut area lounge yang lebih privat.

Gadrian dengan sengaja mengambil posisi berdiri di sebelah Nayla, memegang segelas champagne tanpa alkohol di tangannya. "Nayla, setelah acara peresmian selesai, bagaimana kalau kita ngobrol di balkon luar? Ada beberapa hal tentang proyek anak muda yang ingin didiskusikan Papaku."

Nayla membasahi bibirnya, merasa risih oleh kehadiran Gadrian yang terlalu memaksakan jarak. Sebelum Nayla sempat menyusun kata-kata penolakan yang halus, sebuah bayangan tegap melangkah mendekat dari arah samping.

Zavier berdiri tepat di antara Nayla dan Gadrian, memotong jarak di antara mereka dengan gerakan yang amat alami namun penuh penekanan. Pria Mahendra itu memegang dua gelas air mineral dingin, lalu menyodorkan salah satunya pada Nayla.

"Minum ini. Kamu belum minum apa-apa sejak tadi," kata Zavier dengan suara beratnya yang tenang, sama sekali tidak menoleh ke arah Gadrian.

Nayla menerima gelas itu dengan rasa lega yang membuncah di dadanya. "Terima kasih, Zav."

Gadrian menyipitkan matanya tajam, rahangnya mengetat melihat Zavier yang secara terang-terangan mengabaikannya di depan umum. "Mahendra, kamu tidak punya sopan santun, ya? Aku sedang bicara dengan Nayla."

Zavier perlahan memutar tubuhnya, menatap Gadrian dari ketinggian tubuhnya yang sedikit lebih tegap. Manik mata kelam Zavier menatap Gadrian tanpa ada sedikit pun riak cemas atau ragu.

"Dan aku sedang memastikan teman sekelasku tidak terganggu oleh kebisingan yang tidak perlu, Rain," balas Zavier dingin, tiap katanya menghantam ego Gadrian tepat di tengah ruangan pesta yang megah itu.

Di balik pijakan pualam dan kilau lampu kristal malam itu, api persaingan antara tiga klan besar resmi tersulut, bukan lagi sekadar di meja rapat para orang tua, melainkan di dalam hati anak-anak mereka yang siap mempertahankan apa yang menjadi milik mereka.

Atmosfer di area lounge privat itu mendadak mendingin seketika. Ketegangan tak kasat mata di antara Zavier dan Gadrian merebak bagaikan aliran listrik bertegangan tinggi, membuat beberapa orang di sekitar mereka, termasuk Salma dan Vanya yang berada tak jauh dari sana menahan napas.

Gadrian menggeram rendah, memindahkan gelas di tangannya ke meja terdekat dengan dentang halus yang menyengat. "Kamu pikir karena nama Mahendra ada di belakangmu, kamu bisa bersikap sesuka hati di depan klan Rain, Zavier?"

"Aku bersikap berdasarkan tempat dan situasinya, Gadrian," sahut Zavier tanpa mengubah intonasi suaranya yang tenang namun menekan. "Ini pesta peresmian bisnis, bukan arena untuk menunjukkan dominasi murahan yang tidak pada tempatnya."

Nayla memegang gelas air mineralnya dengan jemari yang meremas kuat. Di balik ketenangannya, dadanya berdegup kencang secara tak teratur. Ia bisa melihat bagaimana matamu yang tajam dari Zavier mengunci Gadrian, melindunginya dengan cara yang amat terselubung namun begitu kentara bagi siapa pun yang mengamati.

Salma melangkah maju dengan hela napas kasar, gaun merahnya mengibas pelan. "Zavier! Kamu tidak usah sok jadi pahlawan untuk Nayla. Gadrian cuma mengajak dia bicara baik-baik. Kenapa kamu yang selalu sibuk campur tangan?"

Sebelum Zavier sempat merespons, sebuah langkah kaki yang mantap dan ketus mendekat ke arah mereka dari arah kerumunan utama para direksi. Raka Mahendra berdiri di sana, memegang segelas minuman dengan senyum miring yang menyimpan bahaya.

"Ada masalah di sini?" tanya Raka datar, tatapan matanya menyapu Gadrian, Salma, lalu berlabuh pada Zavier.

Gadrian menegakkan posisinya, mencoba mengembalikan wibawa keluarganya di depan Raka, pria yang dikenal memiliki reputasi dingin dan tanpa ampun di dunia eksekutif muda. "Tidak ada masalah, Mas Raka. Hanya sedikit salah paham antara adikmu dan aku."

Raka terkekeh tipis, sebuah kekehan yang sama sekali tidak memancarkan kehangatan. Ia melangkah mendekati Zavier, meletakkan sebelah tangannya di bahu adik bungsunya itu dengan cengkeraman yang agak menekan.

"Zavier ini memang anak kesayangan Papi Kael, Gadrian," ujar Raka dengan intonasi menyindir yang amat halus, cukup tajam untuk membuat Zavier meliriknya dari sudut mata. "Tapi di acara seperti ini, dia harus belajar menjaga sikap agar tidak merusak reputasi Mahendra di depan mitra baru kita."

Zavier sama sekali tidak menepis tangan Raka di bahunya. Ia tahu persis Raka sedang memanfaatkan situasi ini untuk melampiaskan kekesalan pribadinya di depan orang luar. Zavier tetap berdiri tegap, menatap Raka dengan raut tenang yang tak terpancing.

"Aku hanya memastikan tidak ada yang mengganggu ketenangan putri Alveric, Bang," balas Zavier pelan, mengembalikan alasan tersebut pada koridor formalitas keluarga. "Bukannya Papi sendiri yang selalu menekankan pentingnya menjaga kenyamanan klan Alveric?"

Raka menyipitkan matanya, kilatan rasa tidak suka berkelebat cepat di balik matanya sebelum ia tertawa pendek. "Kamu makin pintar bersilat kata, Zavier."

Di sisi lain ruangan, Alexander dan Kael yang sedang berbincang dengan Gatan Rain sempat mengalihkan pandangan mereka ke arah kerumunan anak-anak muda tersebut. Alexander memperhatikan interaksi itu dengan pandangan tajam penuh kalkulasi, sementara Kael menyunggingkan senyum puas melihat bagaimana Zavier berdiri kokoh di tengah tekanan.

Nayla yang menyadari tatapan para orang tua dari kejauhan, perlahan menggeser posisinya. Ia menatap Zavier, mengodekan isyarat mata yang meminta pria itu untuk tidak memperpanjang perdebatan di bawah intaian puluhan mata wartawan.

"Terima kasih atas air minumnya, Zavier," ujar Nayla dengan suara halus yang memecah ketegangan, memberikan jalan keluar bagi situasi yang makin meruncing itu. "Gadrian, Salma, saya permisi sebentar untuk menemui Bunda di area depan."

Nayla membalikkan tubuhnya secara anggun, melangkah meninggalkan area lounge dengan ketenangan sempurna. Zavier menatap punggung Nayla yang menjauh, lalu menurunkan tangannya yang terkepal di dalam saku celana bahan mewahnya.

Gadrian mendengus sinis, menyilangkan tangannya di dada sembari menatap Zavier yang masih bergeming. "Dia memang pintar meloloskan diri. Tapi ingat, Mahendra... pesta malam ini baru permulaan dari aliansi tiga klan ini. Kita akan sangat sering bertemu setelah ini."

Zavier tidak membalas provokasi itu. Ia melepas cengkeraman Raka di bahunya dengan gerakan halus, lalu memutar tubuhnya tanpa mengucap sepatah kata pun. Ia melangkah menyusuri koridor kaca ballroom yang membawanya menuju balkon luar yang sepi di tempat udara malam yang dingin menyambutnya.

Di bawah pijaran lampu-lampu kota Jakarta yang terhampar luas dari ketinggian lantai lima, Zavier menyandarkan kedua tangannya di atas pembatas pualam. Napasnya terembus panjang, membentuk kabut tipis di udara dingin.

Suara gesekan kain gaun halus terdengar dari balik pintu kaca balkon yang terbuka sedikit. Zavier tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja menyusulnya ke tempat persembunyi yang sunyi itu.

Nayla berdiri dua langkah di sampingnya, membiarkan angin malam membelai lembut rambut cokelat keemasannya.

"Kamu tidak apa-apa, Zav?" bisik Nayla lirih, menatap profil samping wajah Zavier yang diterpa cahaya bulan.

"Harusnya aku yang bertanya begitu padamu, Nay," sahut Zavier pelan, memutar kepalanya untuk menatap manik mata gadis di sampingnya. "Gadrian dan Salma... mereka akan makin bertingkah begitu Barito Group resmi masuk ke dalam proyek Alveric."

Nayla tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh ketabahan yang menghangatkan dada Zavier. "Biarkan saja mereka bertingkah. Di dalam ballroom tadi, saat kamu berdiri di depanku... aku sadar satu hal, Zav."

Zavier mengangkat alisnya sedikit, menantikan kelanjutan kalimat tersebut.

"Tak peduli seberapa rumitnya intrik yang dibangun Ayahku, Papi Kael, atau keluarga Rain," lanjut Nayla, mengulurkan tangannya di atas pembatas pualam hingga jemarinya menyentuh pergelangan tangan Zavier secara perlahan, "selama kita tidak membiarkan mereka merusak rasa percaya di antara kita, semua ancaman itu cuma akan jadi kebisingan di luar sana."

Zavier menatap jemari Nayla yang menyentuhnya, lalu membalikkan telapak tangannya untuk menggenggam jemari lembut itu secara utuh. Di atas balkon malam yang sunyi, jauh dari riuk pikuk puluhan manusia bergaun dan berjas mahal yang sibuk memperebutkan kekuasaan di dalam sana, dua telapak tangan itu saling mengunci erat, sebuah kesetiaan rahasia yang siap melintasi perang dingin antar-klan yang baru saja dimulai.

1
MULIANA 💦
lama-lama bosan juga nora. gak ada yang bahas kejadian lucu yang mungkin salah satu dari kalian alami
MULIANA 💦
saking dinginnya. bahkan mungkin dia gak ada ekspresi ya 🤭
Three Flowers
padahal lagi seru-serunya membahas tentang nasib mereka di keluarga masing-masing, eh keputus lagi komunikasi nya
Three Flowers
Zavier juga mencintai dalam diam kah?
Three Flowers
Nayla apakah jatuh cinta sama Zavier?
Three Flowers
berarti duduknya bersebelahan ya?
Mingyu gf😘
penasaran banget ada apa dengan nayla dan zaviet
Mingyu gf😘
apa mereka punya kenangan masa lalu yang membuat mereka pura pura tidak saling mengenal
Mingyu gf😘
waoww banyak juga anaknya
Mingyu gf😘
wahh krenn, dia bisa di katakan ahli It kan
Mingyu gf😘
waoww, apakah kehidupan orang kaya memang se menyeramkan itu
Sarifah_Aini97: entahlah kak
total 1 replies
Xlyzy
didikan nya berarti tidak ada yang gagal ya semua anak nyaemiliki karakteristik nya masingasing
Xlyzy
mirip banget Ethan sama bapak e ya sama sama tegas dan dingin
Filan
anggota keluarganya banyak-banyak ya...
Sarifah_Aini97: banyak anaknya
total 1 replies
Filan
ada perasaan apa nih.
Three Flowers
apakah mereka saling tertarik? tapi kelihatannya kedua keluarga bersaing ketat, inikah yang membuat mereka terasa jauh?
Three Flowers: ga sabar pingin lihat romansa mereka
total 2 replies
Three Flowers
karena peran seorang ibu adalah pemberi kesejukan bagi keluarganya
Miu.Nuha
mami tersenyum penuh arti itu tandany mami tahu akan perasaanmu tuh /Chuckle/ ugh! kek bunda maya ke Naru, hihi...
Sarifah_Aini97: Iya yah kak, kok bisa samaaan ya
total 1 replies
Lasa Hardianti
Jadi penasaran sebenarnya hubungan Zavier sma Nayla tuh apasih, apa mereka saling memiliki perasaan yah?😌
Sarifah_Aini97: Halo Kak Lasa! Rasa penasarannya dapet banget nih! 😌 Di antara rasa peduli, persahabatan, dan tekanan klan, perasaan mereka memang terikat sangat dalam. Yuk lanjut ikuti bab-bab berikutnya buat lihat perkembangan hubungan mereka! 🤗
total 1 replies
Miu.Nuha
aku suka yg dingin2 baik tapi
kekny zavier ini tipe aku 🤭
Sarifah_Aini97: bisalah gantiin Nayla 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!