Ratri adalah potret perempuan sempurna: seorang istri yang berdedikasi sekaligus pilot sukses dengan jam terbang tinggi. Namun, dunianya runtuh dalam semalam ketika kejutan manis yang ia siapkan untuk suaminya, Indra, justru mengungkap pengkhianatan keji. Ratri memergoki Indra berselingkuh dengan sahabat karibnya sendiri, Imelda.
Rasa sakitnya kian menghujam ketika ia menyadari bahwa kedua anak mereka justru berpihak pada sang ayah. Diperlakukan layaknya mesin uang oleh keluarga parasit yang membodohinya, Ratri hanya bisa menangis dalam senyap di dalam lemari, sembari memahat sumpah untuk membalas setiap tetes air mata yang jatuh.
Setelah memutuskan pergi dengan hati yang hancur, Ratri jatuh pingsan di depan bandara karena guncangan hebat. Beruntung, seorang pria bernama Devandra datang menolongnya. Pertemuan tak terduga ini menjadi titik balik bagi Ratri untuk menyembuhkan luka, mengepakkan kembali sayapnya yang patah, dan memulai misi menuntut keadilan mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
...Pintu depan telah tertutup rapat, mengunci semua jeritan makian Indra dan tangisan histeris anak-anaknya di luar sana....
...Keheningan yang begitu pekat mendadak jatuh menyelimuti ruang tamu yang luas itu....
...Ratri masih berdiri mematung di tengah ruangan. Bahunya yang semula tegak dengan pangkat empat garis emas itu perlahan-lahan mulai bergetar....
...Seluruh kekuatan yang ia paksakan muncul sejak menginjakkan kaki di bandara seolah menguap begitu saja....
..."Apakah tindakanku sudah benar, Dev?" bisik Ratri lirih, suaranya pecah menahan sesak....
...Ia menoleh ke arah Devandra dengan tatapan mata yang kosong dan rapuh....
..."Kenapa, keluargaku bisa seperti itu?"...
...Tanpa berkata-kata, Devandra langsung melangkah lebar memangkas jarak di antara mereka....
...Ia membawa tubuh Ratri ke dalam dekapannya, memeluk wanita itu dengan erat seolah ingin menyatukan kembali kepingan-kepingan jiwanya yang hancur....
...Detik itu juga, pertahanan terakhir Ratri runtuh total....
...Ia menangis sesenggukan di dalam pelukan hangat Devandra....
...Wajahnya disembunyikan di dada pria itu, membiarkan air matanya membasahi kemeja Devandra, menumpahkan seluruh rasa perih, kecewa, dan pengkhianatan yang teramat dalam dari orang-orang yang paling ia cintai....
...Thomas yang mengerti situasi segera memberikan kode kepada petugas keamanan untuk menjaga area luar....
...Dengan langkah tanpa suara, Thomas berjalan keluar dan menutup pintu dengan rapat, membiarkan mereka berdua mendapatkan ruang privasi....
...Devandra mengusap lembut rambut Ratri yang terikat rapi, lalu mengecup puncak kepalanya dengan penuh perasaan....
...Suara baritonnya terdengar begitu lembut, berbanding terbalik dengan nada dinginnya saat menghadapi Indra tadi....
..."Kamu sudah melakukan hal yang sangat benar, Ratri. Sangat benar," bisik Devandra, menekan setiap kata agar meresap ke dalam hati wanita itu....
..."Jangan pernah meragukan keputusanmu malam ini."...
...Devandra sedikit merenggangkan pelukannya, menangkup kedua pipi Ratri dengan telapak tangannya yang hangat, memaksa wanita itu untuk menatap langsung ke matanya yang memancarkan ketegasan sekaligus perlindungan....
..."Dengar aku," ucap Devandra dengan lembut namun bertenaga....
..."Keluarga bukanlah orang-orang yang hanya memanfaatkan darah dan keringatmu lalu menginjak-injak harga dirimu saat kamu lengah. Mereka yang di luar sana bukan keluarga, Ratri. Mereka adalah parasit yang kebetulan berbagi nama dan atap denganmu selama ini."...
...Air mata Ratri masih menetes perlahan, namun ia mendengarkan setiap bait kata yang keluar dari bibir pria yang selalu ada di sampingnya ini....
..."Kamu tidak menghancurkan siapa pun malam ini. Mereka yang menghancurkan diri mereka sendiri dengan keserakahan dan pengkhianatan mereka," lanjut Devandra lagi, ibu jarinya bergerak lembut menghapus air mata di pipi Ratri....
..."Tugasmu bertaruh nyawa di angkasa adalah untuk kehidupan yang terhormat, bukan untuk membiayai kemaksiatan dan ketidakpuasan mereka. Kamu seorang kapten, Ratri. Kamu berhak menentukan siapa saja penumpang yang layak berada di dalam pesawat kehidupanmu. Dan sampah-sampah itu... sudah sepantasnya kamu hempaskan keluar."...
...Ratri menghirup napas dalam-dalam, merasakan sesak di dadanya perlahan berkurang digantikan oleh kehangatan yang dialirkan oleh pelukan Devandra....
..."Mulai malam ini, kamu tidak perlu menanggung beban ini sendirian lagi. Ada aku di sini. Kita akan selesaikan urusan hukum mereka sampai mereka mendapatkan hukuman yang setimpal," ucap Devandra menutup kalimatnya dengan sebuah janji yang mutlak, lalu kembali mendekap Ratri ke dalam pelukannya yang aman dan menenangkan....
...Ratri perlahan melepaskan diri dari dekapan hangat Devandra....
...Ia menyeka sisa air mata di pipinya, lalu menatap pria itu dengan pandangan yang jauh lebih tenang, meski kelelahan yang amat sangat masih membekas di wajahnya....
..."Dev, aku bisa minta tolong?" suara Ratri terdengar lirih namun pasti....
...Devandra menatapnya lembut, menggenggam jemari wanita itu....
..."Iya, Ratri. Apa?"...
..."Jual rumah ini," ucap Ratri tanpa keraguan sedikit pun....
...Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu yang penuh memori menyakitkan itu....
..."Jual dengan harga rendah pun tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin menyisakan satu pun jejak mereka dalam hidupku lagi. Lalu..." Ratri mendadak menjeda kalimatnya, tampak ragu....
...Devandra menaikkan sebelah alisnya, menanti kelanjutan kalimat Ratri....
..."Lalu apa, Ratri? Katakan saja."...
..."Apakah aku boleh meminjam Thomas untuk mengantarkan aku ke Solo? Bibi Ningsih pasti ada di sana, di kampung halamannya," pinta Ratri dengan nada memohon....
..."Aku tahu dialah satu-satunya orang yang tulus merawat rumah ini. Aku ingin menjemputnya dan mengajaknya pindah ke rumah baruku nanti."...
...Devandra tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepalanya pelan....
..."Ratri, biar aku yang akan mengantarmu ke Solo. Dan Thomas yang akan tinggal di Jakarta untuk mengurus penjualan rumah ini secepatnya."...
...Ratri terkejut, matanya membelalak kecil. "Tapi, bagaimana dengan pekerjaanmu, Dev? Kamu kan sibuk."...
...Devandra terkekeh pelan melihat kepanikan di wajah wanita di depannya....
..."Ratri, jangan mengkhawatirkan hal itu. Aku ini pemilik sekaligus pimpinanmu di maskapai."...
...Ratri mengerutkan keningnya, mendadak bingung di tengah suasana melankolis ini....
..."Pemilik? Tapi kemarin kamu mengatakan kalau kamu hanya pimpinan di manajemen?"...
...Devandra mengusap tengkuknya, menyadari lidahnya baru saja terpeleset membocorkan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari sang kapten....
..."Sudah, soal itu kita bahas lain kali saja. Yang penting sekarang kita keluar dari tempat ini."...
...Devandra kemudian mengajak Ratri untuk kembali ke apartemen mewahnya agar Ratri bisa beristirahat dengan layak....
...Sebelum melangkah keluar, Devandra menoleh ke arah asisten setianya yang sejak tadi menunggu instruksi....
..."Thomas, jual rumah ini secepatnya. Aku tidak peduli berapa harganya, yang penting segera ganti kepemilikannya," perintah Devandra dengan nada dingin....
...Thomas menganggukkan kepalanya dengan takzim....
..."Baik, Pak. Segera saya urus."...
...Begitu mobil Devandra dan Ratri melaju meninggalkan halaman, Thomas langsung berbalik badan menghadap rumah mewah tersebut....
...Ia mengeluarkan ponselnya, memanggil beberapa anak buahnya yang berbadan tegap untuk masuk ke dalam rumah....
..."Keluarkan semua barang, pakaian, dan apa pun yang milik Indra, Tasya, dan Gabriel. Buang semuanya ke tempat pembuangan sampah. Jangan biarkan ada satu pun barang menjijikkan mereka yang tertinggal mengotori rumah milik Kapten Ratri," perintah Thomas tegas tanpa kompromi....
...Dalam hitungan jam, rumah yang dulunya menjadi saksi bisu kesombongan Indra dan anak-anaknya kini dikosongkan secara paksa, menyapu bersih seluruh eksistensi mereka dari kehidupan Ratri....
...Sesampainya di koridor apartemen, tepat saat Devandra hendak menekan kode akses pintu unit mewahnya, Ratri tiba-tiba menghentikan langkah....
...Ia menatap Devandra dengan guratan sungkan yang jelas di wajahnya....
..."Dev, aku ke mess saja ya? Tidak enak kalau aku terus-terusan menginap di apartemen kamu," ujar Ratri, merasa tidak nyaman jika harus terus merepotkan pria yang kini menjadi atasannya itu....
...Devandra menghentikan gerakan tangannya di atas panel pintu, lalu berbalik dan menatap Ratri dengan tatapan hangat namun tidak menerima bantahan....
..."Ratri, besok pagi-pagi sekali kita sudah harus berangkat ke Solo. Kalau kamu ke mess malam ini, waktu istirahatmu akan terpotong untuk bolak-balik. Jadi, kamu tidur di sini saja," jawab Devandra lembut....
...Melihat Ratri yang masih tampak ragu dan menunduk, Devandra tersenyum tipis....
...Ia tahu betul wanita di depannya ini adalah sosok yang sangat menjaga kehormatan diri....
..."Lagipula, bukankah kita tidur di tempat yang berbeda?" ucap Devandra dengan nada sedikit menggoda untuk mencairkan suasana....
..."Apartemen ini punya tiga kamar, Ratri. Aku tidak akan menggigitmu."...
...Mendengar penuturan Devandra yang begitu menghargai batasannya, ketegangan di pundak Ratri perlahan mengendur....
...Ia menganggukkan kepalanya pelan, menyetujui ajakan pria itu demi efisiensi perjalanan mereka besok....
...Pintu apartemen pun terbuka, menyambut mereka dengan kehangatan yang kontras dengan dinginnya badai kehidupan yang baru saja Ratri lewati di luar sana....
tinggal tunggu karmaa yg menghampiri kalian ,,
sama2 gx punya maluu ,, sama2 gx tau diri ,, dan sama2 haus harta yg bukan milik ny ,, 😏😏😏😏
jgn hidup ngandelin keringat orang lain ,, apa lagi istri yg sbntar lgi jd mantan ,, gx maluu tuuh ma b*lalai ,,
😒😒😒😒😒😒😒😒
tp tdk memungkinkan badai yg sebenarnya baru aj di mulai ,,
😒😒😒
semoga cepat bisa di temukan ,
gregeet bangeet
😒😒😒😒
😒😒😒😒
udh numpang hidup tp gx tau diri ,,
jgn2 si indra juga gx kerja ,, hidup Dr uang istriny Selama ni ,,
dasar tak tau malu ,,
skraaang masa aktif ATM berjalan kalian sudah habis ,,
waktuny kerja keras sendri buat gaya hidup kalian ,,, 😒😒😒😒