NovelToon NovelToon
ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.

Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KOTAK KENANGAN

Lina duduk di tepi kasur, menatap sebuah kotak kardus bekas sepatu yang dia bawa dari rumah nya tadi pagi. Isinya bukan sepatu melainkan adalah Isinya "sisa-sisa".

sedangkan Arka duduk di kursi dekat jendela, membaca sebuah buku dengan kacamata bacanya yang baru dibeli Arka sesekali melirik kearah Lina, dia tidak berniat mengganggunya. Dia tahu, ada momen-momen di mana kata-kata hanya akan menjadi sampah verbal yang mengganggu kesedihan.

"isinya Apa ?" tanya Arka akhirnya, suaranya pelan.

Lina menatap kotak itu. Tangannya gemetar saat membuka tutupnya. "Kenangan. Atau lebih tepatnya, bukti bahwa aku pernah bahagia. Sebelum semuanya jadi lelucon buruk."

Lina mengeluarkan sebuah bingkai foto kecil. Foto itu diambil lima tahun yang lalu, saat mereka masih berpacaran. Raka dan Lina berdiri di depan pantai, rambut mereka berantakan diterpa angin, bibirnya tersenyum lebar hingga gigi geraham terlihat. Mata Raka bersinar, menatap Lina seolah-olah dialah satu-satunya sumber cahaya di dunia itu.

"Lihat," bisik Lina, air matanya mulai menggenang. "Dulu, dia bilang dia nggak bisa hidup tanpaku. Katanya, aku adalah jangkar hidupnya. Sekarang? Jangkarnya dilempar ke laut, dan dia memilih untuk berenang menuju batu karang bernama Dinda."

Arka kemudian meletakkan bukunya. Dan berjalan mendekati Lina Lalu duduk di sampingnya, Arka menjaga jarak yang aman namun tetap terasa hadir.

"Manusia itu aneh, Lin," kata Arka lembut. "Janji itu seperti tulisan di atas pasir. Pasang surut emosi bisa menghapusnya dalam sekejap. Bukan berarti janjinya palsu saat diucapkan. Tapi artinya, manusia itu rapuh. Dan Raka... dia sangat rapuh."

Lina tertawa getir. Tawanya pecah menjadi isakan. "Rapuh? Dia menghancurkanku, Ka! Dia menghancurkan harga diriku di depan adikku sendiri! Dan yang paling menyakitkan bukan pengkhianatannya..."

Lina berhenti, kemudian menarik napas dengan segukan Lina kemudian mengambil benda lain dari kotak itu. Sebuah kartu ucapan ulang tahun pernikahan pertama. Tulisan tangan Raka yang terlihat rapi dan indah.

Untuk istriku tercinta, Lina. Terima kasih telah membuat hari-hariku berwarna. Aku berjanji akan selalu menjagamu, mencintaimu, dan menjadi rumah bagimu. Selamanya.

"Yang paling menyakitkan," lanjut Lina, suaranya bergetar hebat, "adalah menyadari bahwa semua ini... semua kenangan indah ini... adalah nyata bagi saya, tapi mungkin cuma sandiwara bagi dia. Atau lebih parah lagi, mungkin dia benar-benar mencintai ku saat itu. Tapi cintanya punya tanggal kedaluwarsa. Dan aku terlalu bodoh untuk melihat tanda-tandanya."

Air mata Lina Akhirnya tumpah . Bukan tangisan histeris seperti sebelumnya, tapi tangisan yang dalam, sunyi, dan menusuk tulang. Tangisan seorang wanita yang menyadari bahwa fondasi hidupnya ternyata dibangun di atas tanah longsor.

"Saya merasa bodoh, Arka,Saya merasa seperti orang paling dungu di dunia. Bagaimana bisa aku tidak melihatnya? Bagaimana bisa aku percaya pada pria yang setiap kali memeluk saya, pikirannya mungkin sedang membayangkan wanita lain? yang tak lain adalah Adik saya sendiri!"

Arka bergerak dan memeluk bahu Lina, dia membiarkan kepala Lina bersandar di dadanya Lina tidak menolak. Dia membutuhkan sandaran,membutuhkan tempat untuk menumpahkan racun yang sudah lama menggerogoti hatinya.

"sebenarnya Kamu tidak bodoh, Lin," kata Arka, suaranya berat dan penuh empati. "Kamu hanya terlalu mempercayai. Kesalahan nu bukan karna percaya, tapi pada dia yang menyalahgunakan kepercayaan itu. Jangan hukum dirimu sendiri atas kejahatan orang lain."

Lina menggenggam erat baju Arka. "Tapi sakitnya, Rak... Sakitnya nggak wajar. Rasanya seperti ada lubang besar yang menggerogoti di dada dan rasanya sakit sekali."

"Boleh saya bertanya sesuatu," kata Arka pelan. "Apa ada momen tertentu, sebelum semua ini terungkap, di mana kamu merasa... berbeda? Di mana kamu merasa Raka sudah jauh, meski fisiknya ada di sampingmu?"

Lina terdiam. Otaknya bekerja keras menembus kabut kesedihan.

"Ada," bisiknya. "Bulan lalu. Saat ulang tahun ku. Dia ngasi kalung emas yang Sangat mahal. Tapi waktu saya pakai dan meminta untuk di foto, dia malah sibuk ngecek ponselnya Dia terlihat tersenyum, tapi matanya kosong. Saat itu... aku merasa seperti hantu di rumah sendiri. aki pikir mungkin dia hanya lelah kerja. aku selalu membenarkan sikapnya itu"

Arka menghela napas. "Itulah trap-nya, Lin. Kita sering kali lebih memilih kenyamanan kebohongan daripada ketidaknyamanan kebenaran. Karena kebenaran itu tajam. Kebenaran itu melukai."

Lina perlahan melepaskan Diri dari Arka . Dia mengusap air matanya dengan kasar. Wajahnya bengkak, matanya merah, tapi ada kilatan kekuatan baru di sana.

"Aku capek, Arka" kata Lina. "Capek menjadi korban. Capek merasa sedih. aku ingin marah. Tapi marah pun rasanya sia-sia. Apa gunanya marah pada orang yang sudah tidak peduli?"

"Marah itu penting," kata Arka tegas. "Marah adalah batas terakhir harga diri. Kalau kamu nggak marah, berarti kamu sudah pasrah dihina. Tapi jangan biarkan marah itu membakar kamu. Gunakan marah itu sebagai bahan bakar. Bahan bakar untuk bangkit. Untuk berubah. Untuk menjadi versi Lina yang lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih berbahaya bagi mereka yang meremehkanmu."

Lina menatap Arka. Pria ini terus-menerus memberinya perspektif baru. Dari sekadar teman curhat, kini dia menjadi mentor kehidupan yang tidak diminta tapi sangat dibutuhkan.

"Berbahaya?" tanya Lina, alisnya terangkat.

"Ya," jawab Arka sambil tersenyum tipis. "Wanita yang terluka tapi bangkit dengan elegan adalah makhluk paling menakutkan di bumi. Mereka punya nothing to lose. Dan itu kekuatan super."

Lina kembali menatap foto di tangannya. Foto Raka yang tersenyum bahagia. Kali ini, dia tidak merasakan sakit yang menusuk. Dia hanya merasakan... keterpisahan. Seperti melihat foto orang asing.

"Dulu, aku pikir cinta itu tentang memiliki," kata Lina pelan. "Sekarang aku sadar, cinta itu tentang menghargai. Dan Raka... dia tidak pernah menghargai ku. Dia hanya memanfaatkan kehadiran ku"

Lina akhirnya menutup kotak kardus itu. Suara tutup kardus yang tertutup terdengar final.

"Aku akan menyimpan ini," kata Lina. "Bukan karena aku masih mencintai masa laluku . Tapi sebagai pengingat bahwa aku pernah cukup naif untuk percaya pada kata-kata manis. Dan aku berjanji tidak akan pernah mengulangi itu lagi."

Arka mengangguk. "Bagus. Simpan sebagai museum pribadi. Tiket masuknya gratis, tapi pelajaran harganya mahal."

Lina tertawa kecil. Namun matanya masih basah oleh air mata,

"Terima kasih, Arka," katanya. "Karena sudah mendengarkan. Karena sudah tidak menghakimi. Dan karena sudah menjadi 'bantal tangis' darurat yang efektif."

Arka terkekeh. "Sama-sama. Tapi ingat, layanan konsultasi emosional saya berikutnya berbayar. Bayarannya satu gelas kopi hitam tanpa gula. Pahit, seperti kenyataan."

Lina mengangguk. "Deal."

Di luar, hujan mulai reda. Awan hitam perlahan tersingkap, memperlihatkan sedikit celah cahaya bulan. Cahaya itu redup,

Lina kemudian berdiri, membawa kotak kardus itu ke sudut kamar. Dia tidak membuangnya. Dia juga tidak memeluknya erat-erat. Dia hanya meletakkannya di sana. Sebagai saksi bisu bahwa bab itu sudah selesai.

Dan besok, halaman baru akan dimulai. Halaman yang ditulis oleh Lina, untuk Lina. Tanpa Raka. Tanpa Dinda. Hanya ada dia, dan mungkin, pria aneh berkacamata hitam yang mengajarkan cara menjadi dingin.

1
Allea
kok bisa dapet harta selama baca novel anak haram nasabnya ( bener ga) ikut ibu jd ga berhak atas warisan ( kata cerita2 novel ya bukan kata saya)😄
Nuna_Pena: bikin berbeda dari yang lain🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!