NovelToon NovelToon
Pergi Tanpa Kembali

Pergi Tanpa Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Anak Genius
Popularitas:877
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekad bulat

Menjelang Maghrib Ferdy menghampiriku yang masih setia berada di uks. Dia baru saja kembali dari perkumpulan tim panitia pensi. Siang tadi kami memang tertidur cukup lama di UKS ini. Hampir jam dua siang saat kami terbangun dan sebagian besar siswa di sekolah ini pun sudah pulang. Setelah sholat dan makan siang, Ferdy langsung bergabung bersama panitia pensi yang lain sementara aku kembali melangkahkan kaki ke arah UKS.

"Ayo balik! Gue aja ya Dit yang bawa." Aku mengangguk meresponnya. Saat ini kondisi Ferdy jauh lebih baik dari pagi tadi, aku memang belum sempat menanyakan alasan nya ke UKS siang tadi. Tapi jika dilihat secara mata telanjang, aku yakin dia baik-baik saja sekarang. Rona wajahnya tidak lagi pucat dan binar di matanya pun terlihat kembali tidak sayu dan redup seperti pagi tadi.

Kami berjalan beriringan menuju tempat parkir menghampiri motor bebek Ferdy yang sudah sejak pagi tadi berada disini.

Perjalanan kami cukup lancar sampai di apartemen kak Ivan. Kami pun membuka nasi goreng yang kami beli di pinggir jalan tadi dan mulai menyantapnya penuh selera.

Hidup tanpa obat ARV sangat menyenangkan. Aku merasa sangat sehat hari ini. Hanya ada sedikit mual yang masih setia bertandang di perutku tapi selebihnya aku merasa sangat baik-baik saja. Namun jika tanpa bantuan obat itu, virus dalam tubuhku akan sangat merajalela dan mulai bebas bergerak menggerogoti semua yang ada di dalam tubuhku. Konsekuensi yang sebanding dengan rasa sakit yang akan kurasakan jika mengkonsumsi obat ARV ini. Meski menyakitkan tapi akan jauh lebih menyakitkan jika tidak menelan obat itu.

Hhh

Semoga saja aku bisa melewati seluruh sisa hidupku dengan baik meski harus ditemani obat ARV setiap hari.

"Dy, tadi Lo kenapa tiba-tiba minta ke UKS." Aku mencoba bertanya disela suapan kami.

"Mau tidur lah... Kan tadi Lo liat sendiri." Jawabnya enteng.

"Maksud gue, kenapa Lo mau tidur?" Perlu kesabaran ekstra saat mengorek sesuatu dari Ferdy, terutama terkait keadaan nya.

"Ngantuk Dit. Kan gue udah bilang." Lagi dan lagi Ferdy menjawab dengan jawaban yang tidak kuinginkan sama sekali.

"Oke, selain karena ngantuk?! Jangan sampai Lo jawab karena gue begadang beberapa hari ini. Males gue denger jawaban Lo. Kondisi Lo Ferdy, apa yang Lo rasain? apa yang membuat Lo memutuskan ke UKS tadi? Ada yang sakit kah?" Kali ini aku benar-benar greget dengan nya.

"Hahaha... Ada yang sebel. Oke, oke gue jelasin. Jadi, sahabatku Adit yang super ganteng se SMA Sun flower, tadi di panggung gue berasa dunia berputar. Hampir aja gue salah petik gitar di akhir tadi. Tapi ya, Alhamdulillah masih terkendali. Suara tepukan yang terdengar juga tiba-tiba jadi dengungan aja di telinga gue. Keras banget. Makanya gue pengen segera keluar dari sana, dan pilihan paling tepat menurut gue ya ke UKS." Masih dengan sikap santai nya Ferdy menjelaskan tanpa menoleh kepadaku sama sekali.

"Lo coba periksain diri Lo deh. Gue khawatir." Aku menanggapi dengan sikap serius ku seperti biasanya.

"Udah, konsultasi aja si ke om Hendry. Keadaan gue yang selalu muntah pas bangun tidur beberapa hari ini. Terus gue yang terserang insomnia beberapa hari ini. Dan yang paling menyakitkan sensasi berputar yang sering menghampiri." Ucapan nya terhenti dengan memasukkan suapan nasi goreng kedalam mulutnya kembali. Padahal sangat kutunggu kelanjutannya yang sepertinya akan berlanjut menjelaskan diagnosa hasil konsultasinya.

"Terus,, apa kata om Hendry?" Aku memutuskan langsung bertanya, karena kulihat Ferdy justru semakin semangat menyuapkan nasi kedalam mulutnya dan tidak terlihat berniat untuk melanjutkan ucapannya.

"Gue kecapean, kelelahan, terlalu cemas banyak pikiran, kebanyakan begadang. Kurang lebih begitu lah. Wajar asam lambung gue naik tiap pagi karena tidur gue bawa stress di dalam nya. Wajar juga gue merasakan vertigo tiap waktu, karena gue kurang tidur dan banyak pikiran. Dan kata om Hendry obatnya cuma banyakin tidur banyakin istirahat. Gue cuma diminta minum obat tidur aja biar malam ga begadang." Aku menanggapinya hanya dengan mengangguk mengerti. Syukurlah Ferdy tidak ada sakit parah saja. Dan aku yakin, setelah ini dia akan kembali baik-baik saja karena acara pensi yang menguras banyak pikiran nya telah berakhir.

"Oh iya Dit. Gue diminta buka nakas di kamar. Kata om Hendry ambil obat di botol yang ada tulisan efavirenz. Terus Lo suruh minum." Aku mengangguk lagi, ada rasa sedih tiba-tiba menelusup ke dalam hatiku. Perjuangan ku belum berakhir.

"Jangan murung gitu bro, gue ada disini. Kita hadapi bareng-bareng." Tiba-tiba Ferdy merangkul ku dan mengacak pelan rambutku.

"Gue siap. Thanks ya Dy." Aku tersenyum menanggapinya.

***

Sudah jam 10 malam, aku masih terjaga. Kulihat Ferdy disampingku sudah mulai teratur nafasnya menandakan bahwa dia telah terlelap. Entah kenapa rasa kantuk seakan hilang setelah aku meminum obat ARV yang Ferdy ambilkan. Meski setelah sholat isya tadi aku berpura-pura mengantuk dan segera mengajak Ferdy untuk tidur, tapi sebenarnya itu semua hanya trik ku untuk membuat Ferdy tidak begadang lagi. Dan benar saja, sahabatku ini langsung memejamkan mata saat melihatku terbaring dan pura-pura terlelap.

Aku masih terus mencoba terlelap, namun mata terpejam ku tidak membuat otak dan tubuhku rileks. Ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman, entah apa itu. Yang jelas, aku merasa sedikit kepanasan padahal AC sudah menyala dengan derajat suhu terendah yang bisa dicapai. Dan aku juga agak merasa gelisah, entahlah, sulit kugambarkan, aku merasa ada hal besar yang tengah kulupakan atau hal besar yang tengah kukesampingkan. selain itu, gejolak mual yang menguasai ku pun membuat kondisiku benar-benar tidak nyaman. Meski tidak sampai membuatku ingin muntah, tapi aku merasa dadaku penuh dan berat membuat nafasku pun sedikit tersengal.

Aku beranjak ingin berpindah kedepan. Kurasa lebih baik aku tiduran di sofa atau karpet depan dan menghidupkan televisi untuk mengusir bosan ini. Mungkin aku akan berusaha nonton atau membaca buku-buku kak Ivan didepan sana. Semoga dengan begitu bisa mengundang rasa kantukku kembali.

Dengan perlahan kulangkahkan kaki berusaha tanpa suara, selanjutnya kuhidupkan lampu tidur dan mematikan lampu utama di kamar ini. Aku ingin Ferdy bisa nyaman dalam tidurnya sampai besok pagi.

Kuambil satu buku yang paling tipis dari lemari buku di depan. Buku-buku tebal disana tidak menarik perhatian ku sama sekali, aku yakin buku-buku tebal itu hanya susunan jurnal-jurnal kesehatan yang tidak akan kumengerti isinya. Aku mengambil asal buku tipis tersebut tanpa memperhatikan judulnya. Kulangkahkan kaki ke karpet di depan tv dan mulai menghidupkan televisi tanpa suara.

Tidak ada acara yang menarik

Aku memang tidak terlalu suka menonton seperti kebanyakan orang, bagiku menonton film atau acara apa pun hanya membuang waktu saja dan akan cepat membuatku bosan. Kubiarkan televisi menyala dan mulai kualihkan perhatianku pada buku yang kuletakkan asal di karpet ini.

Asuhan keperawatan pada pasien terinfeksi HIV/AIDS

Mataku membulat sempurna membaca judul ini, sungguh kebetulan yang sempurna.

Kubuka buku ini perlahan mulai dari halaman sampul depan, aku mulai membacanya. Tak ada satu halaman pun yang kulewatkan, termasuk bagian kata pengantar, daftar isi bahkan sampai abstrak pun kubaca sebelum benar-benar kubaca halaman isi nya.

Aku merasakan kesungguhan kak Ivan disini, bagaimana dia mempersiapkan semua perawatan untukku benar-benar sangat matang penuh dengan persiapan.

Kubaca halaman demi halaman dengan fokus, aku tidak tahu sudah berapa lama larut dalam buku ini. Jumlah halaman buku yang mencapai 350-an halaman telah kubaca 200-an halaman.

Banyak hal baru, pengetahuan baru yang kudapatkan dari buku ini. Benar-benar sangat membantu kebuta-an ku selama ini pada virus yang bersarang di tubuhku.

Memang bukan sekedar isu ataupun wacana kalau virus di tubuhku ini sangat berbahaya.

Aku harus segera menyelesaikan semua uji coba obat ini dan memulai kehidupan baru ku.

Aku sudah bertekad akan segera mengakhiri kehidupan disini setelah semua uji coba ARV ini telah kuselesaikan.

Tekadku sudah bulat.

1
salma
jadi nostalgia ke masa perpisahan SMA dlu. lagu nya sama
halwa diyah: 🤭 memang lagu itu yang paling cocok buat moment nya kak
total 1 replies
salma
Suka ceritanya ngalir. alurnya santai tapi bikin penasaran kelanjutan nya
halwa diyah
siaap...
semangatt juga kak 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!