NovelToon NovelToon
IMAMKU,SANG BAD BOY

IMAMKU,SANG BAD BOY

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Nikahmuda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melodi Rintik Hujan dan Batas Semesta

Langit di atas kampus Universitas Airlangga Nusantara mendadak berubah warna menjadi kelabu legam menjelang petang. Awan tebal bergulung rendah, menahan beban air yang perlahan-lahan mulai tumpah dalam bentuk rintik hujan yang lembut. Sebagian besar mahasiswa berlarian mencari tempat teduh, meninggalkan pelataran taman pusat kampus yang biasanya ramai menjadi lengang dan sunyi.

Nayara Zayna Az-Zahra berdiri di bawah naungan pilar gazebo kayu jati di sudut taman. Ia mengenakan gamis berwarna sage green yang senada dengan payung transparan di tangan kanannya. Matanya menatap butiran air hujan yang jatuh menghantam dedaunan hijau, menciptakan keheningan yang menenangkan di tengah hiruk-pikuk kota yang mulai basah. Ia sedang menunggu Alya yang tertinggal di gedung laboratorium untuk membereskan sisa laporan praktikum.

Suara langkah kaki yang tenang terdengar mendekat di atas paving block yang basah.

Nayara menoleh sekilas. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat ketika melihat sosok Revan berjalan mendekat tanpa menggunakan payung. Pemuda itu mengenakan jaket bomber hitam dengan rambut sedikit basah oleh rintik hujan, memberikan pesona natural yang begitu kuat. Di tangannya, ia membawa sesuatu yang disembunyikan di balik punggungnya.

Revan berhenti tepat di ambang batas gazebo, menjaga jarak dengan sopan sesuai batasan yang selama ini mereka bangun, namun cukup dekat untuk membuat kehadirannya terasa begitu nyata.

"Hujan deras gini malah sendirian di sini," suara Revan terdengar berat namun lembut, memecah kesunyian sore itu.

Nayara menarik napas perlahan, menundukkan pandangannya sejenak untuk menjaga adab, lalu mendongak menatap sekilas. "Alya masih di lab, sebentar lagi menyusul. Kamu sendiri... kenapa tidak berteduh di kafetaria?"

Revan tersenyum tipis. Senyuman itu berbeda dari senyuman arogan yang biasa ia tunjukkan pada awal perjumpaan mereka beberapa bulan lalu. Ada ketulusan dan ketenangan yang terpancar dari sorot matanya. Ia melangkah maju satu langkah kecil, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya—sebuah tangkai bunga Edelweis putih segar yang terbungkus rapi dengan pita kain goni sederhana.

"Aku ke sini bukan mau cari tempat berteduh, Nay," ucap Revan pelan, suaranya berpadu dengan derai rintik hujan yang semakin menenangkan. "Aku ke sini karena aku tahu kamu ada di sini."

Nayara tertegun. Ia menatap bunga di tangan Revan, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain, merasakan debaran di dadanya semakin tak beraturan. "Revan... jangan mulai lagi."

"Dengarin aku sebentar saja, Nay," pinta Revan dengan nada tulus yang memohon. Ia melangkah pelan, berdiri di hadapan Nayara dengan jarak yang tetap menghargai ruang pribadi gadis itu. Di bawah rintik hujan yang membasahi bumi, suasana taman kampus itu seolah berubah menjadi sunyi, hanya menyisakan mereka berdua di dalam dunia kecil ciptaan takdir.

Revan mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan segenap keberanian yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya—keberanian yang jauh lebih besar daripada saat ia menghadapi musuh atau memenangkan taruhan bodoh di masa lalu.

"Nay... semenjak hari pertama aku melihatmu di koridor fakultas, hidupku jungkir balik," mulai Revan, suaranya bergetar halus namun penuh keyakinan. "Aku tadinya adalah seorang pemuda yang hidup tanpa aturan, menganggap segalanya adalah permainan, dan menjadikan wanita sebagai objek kepuasan egonya semata. Aku hidup di dunia gelap yang penuh kepalsuan."

Nayara tetap diam, menjaga pandangannya tetap tertunduk, mendengarkan setiap kata yang meluncur dari lubuk hati pemuda di hadapannya.

"Tapi semuanya berubah semenjak aku mengenalmu, dan lebih dari itu, semenjak aku melangkah masuk ke dalam rumahmu, ke dalam pesantren keluargamu, dan melihat bagaimana ketulusan hidup di sana," lanjut Revan, matanya menatap lekat-lekat wajah tenang Nayara yang dibingkai jilbab anggun. "Kamu mengubah caraku melihat dunia, Nay. Kamu menunjukkan arti ketulusan, kesucian, dan cinta yang sebenarnya. Hari ini, di hadapan hujan ini, aku ingin jujur sepenuhnya pada diriku sendiri dan padamu."

Revan mengangkat tangannya perlahan, menyodorkan tangkai bunga Edelweis itu ke hadapan Nayara.

"Nayara Zayna Az-Zahra... aku jatuh cinta padamu. Bukan karena permainan, bukan karena taruhan, tapi dengan seluruh jiwa dan ketulusan yang aku punya. Maukah kamu menerimaku, berjalan bersamaku, dan menjadi kekasihku?"

Suara Revan melayang di udara, berpadu sempurna dengan gemercik air hujan. Kalimat itu diucapkan dengan begitu tulus, penuh cinta, dan tanpa ada keraguan sedikit pun. Momen itu begitu romantis—sebuah pernyataan cinta dari seorang bad boy yang telah menemukan pelabuhan terakhirnya pada jiwa seorang putri kiai yang suci.

Namun, di balik keindahan dan keromantisan momen tersebut, angin dingin malam berhembus membawa kesadaran pahit tentang kenyataan yang mengitari mereka.

Nayara perlahan mengangkat wajahnya. Manik mata cokelat jernihnya berkaca-kaca, memantulkan bayangan kerinduan dan kepedihan yang mendalam. Ia tidak langsung menerima bunga itu. Sejenak, ia menarik napas panjang, meredam gemuruh di dalam dadanya sebelum akhirnya membuka suara dengan nada yang sangat lembut namun tegas.

"Revan..." panggil Nayara, suaranya nyaris berbisik namun terdengar begitu menusuk hati. "Terima kasih... terima kasih atas semua ketulusan, perubahan positif, dan perasaan tulus yang kamu berikan untukku."

Revan mengerjap, melihat ada kilatan kesedihan di mata gadis itu. Senyuman di bibirnya perlahan memudar. "Nay... kenapa nadamu terdengar seperti itu? Kamu... menolakku?"

Nayara menunduk sejenak, lalu kembali menatap mata Revan dengan keteguhan hati seorang wanita yang memegang prinsip hidupnya erat-erat. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos menetes membasahi pipinya.

"Kita berbeda, Revan," ucap Nayara dengan suara bergetar namun penuh penekanan di setiap suku kata. "Kita berdiri di atas semesta yang tidak sama. Keyakinan kita berbeda, prinsip hidup kita berakar dari dua dunia yang saling bertolak belakang. Dan tembok pemisah di antara kita... terlalu tinggi untuk kita lewati."

Revan menggeleng pelan, rasa nyeri tiba-tiba menghantam dadanya. "Tembok bisa dirobohkan, Nay! Aku bisa belajar, aku bisa berproses—"

"Bukan sekadar masalah proses, Revan," potong Nayara cepat, air matanya semakin deras mengalir di balik senyuman pahitnya. "Agamaku, prinsip keluargaku, dan jalan hidupku tidak mengizinkanku untuk melangkah ke arah yang kamu inginkan tanpa mengorbankan hal-hal paling suci dalam hidupku. Aku tidak bisa mencintaimu dengan cara mengabaikan keyakinan yang akupegang sejak kecil. Dan aku juga tidak ingin mengubahmu hanya demi memaksakan sebuah kecocokan yang sejak awal memang ditakdirkan berada di jalur berbeda."

Revan terpaku di tempatnya. Bunga Edelweis di tangannya terasa begitu berat, seolah ribuan ton es menimpa dadanya. Kalimat itu begitu menohok, namun disampaikan dengan kelembutan yang membuat Revan tidak memiliki ruang sedikit pun untuk marah atau membantah.

"Maafkan aku, Revan..." bisik Nayara lirih, suaranya bergetar hebat menahan sesak di dada. "Aku tidak bisa menerima ini. Kita harus berhenti sebelum perasaan ini berjalan terlalu jauh dan melukai kita berdua lebih dalam lagi."

Setelah mengucapkan kalimat penolakan itu dengan sisa-sisa kekuatannya, Nayara memutar tubuhnya. Ia membuka payung transparan miliknya, lalu melangkah cepat menerobos rintik hujan sore itu, meninggalkan Revan seorang diri berdiri terpaku di bawah naungan gazebo.

Rintik hujan di taman kampus terus turun tanpa henti, membasahi tanah dan menyiram sekeliling dengan kesunyian yang pekat.

Revan masih berdiri mematung di tempatnya. Tangannya yang memegang tangkai bunga Edelweis perlahan terkulai lemas ke sisi tubuhnya. Kelopak bunga putih itu tampak rapuh, sama rapuhnya dengan harapan yang baru saja ia bangun di dalam hatinya. Tidak ada amarah, tidak ada makian yang keluar dari bibirnya. Yang ada hanyalah rasa sesak yang luar biasa sebuah bukti nyata bahwa cinta yang tulus tidak selamanya harus bersatu dalam ikatan duniawi.

Di kejauhan, bayangan Nayara perlahan menghilang di balik pintu gedung fakultas. Namun di bawah rintik hujan sore itu, kisah cinta terlarang antara sang bad boy dan bidadari pesantren tidak serta-merta padam; ia justru bertransformasi menjadi sebuah luka indah dan ujian kesetiaan terberat yang harus mereka jalani dalam diam.

1
Bu Dewi
seru kak ceritanya,, lanjut donkzzz😍😍😍😍🙏
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!