Dilarang boom Like xxx
Area ***
Haraf bijak dalam memilih bacaan
Kisah ini Tentang seorang gadis belia yang baru saja lulus SMA berusia 18 tahun, terpaksa harus melakukan Pernikahan Mendadak dengan seorang pria yang tidak pernah dia kenal sebelumnya.
Apa yang akan terjadi dalam rumah tangganya? Mari ikuti kisahnya di sini. Selamat Membaca... By Tina Rifky. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina rifky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Papi Dahlan dan Mami Safira, tetap menginginkan Andi untuk tinggal terpisah. Akhirnya Andi memutuskan untuk tinggal di Apartement saja.
Papi Dahlan dan Mami Safira tersenyum penuh kemenangan. Andipun berjalan gontai menuju kamarnya.
Andi melihat istrinya yang sedang menyisir rambutnya yang basah. Ada rasa ingin mengeringkan rambutnya, namun dia urungkan niatnya. Diapun tertawa kecil karena Istri bocilnya terlihat lucu, saat mengenakan baju tidur miliknya yang kebesaran.
"Kamu lucu pakai baju itu, he.. he.. ! Mulai besok, kita akan pindah ke Apartement. Setelah pindah nanti, kita beli beberapa baju dan gaun untukmu." Kata Andi terkekeh.
"Besok Mas? Apa tidak terlalu mendadak Mas?" Tanya Mutiara panik.
"Kenapa memangnya kalau mendadak? Semua ini permintaan Papi dan Mami. Kalau kamu tidak mau, bilang saja sana sama Papi dan Mami." Ucapnya ketus, lalu dirinya masuk ke dalam kamar mandi.
"T.. tapi, Mas.." Ucap Mutiara terhenti saat Andi menutup pintu kamar mandi dengan kencang.
"Bruuuk." Bunyi pintu kamar mandi ditutup dengan kencang.
"Mas Andi kenapa sukanya marah-marah gitu sih? Apa aku salah ngomong barusan? Perasaan apa yang aku lakukan dan ucapkan dimatanya selalu salah. Tapi, kenapa kemarin dia sudah merampas ciuman pertamaku?" Tanya Mutiara dalam hatinya, dirinya resah memikirkan ciuman pertamanya.
Mutiarapun akhirnya keluar dari kamarnya, dia menemui Papi dan Mami mertuanya.
"Hai.. menantu cantikku, kenapa kamu pakai baju suamimu? Kamu seperti orang-orangan sawah, dengan baju yang kebesaran itu. Tapi, tetap terlihat cantik." Sapa Mami Safira dengan senyum khasnya.
"Hi.. hi.. iya Mih, baju Mutia belum digosok kata Mas Andi. Jadi terpaksa pakai baju ini sementara." Ucap Mutiara tertawa kecil, lalu duduk didepan Mami Safira dan Papi Dahlan.
"Benar-benar yah, suamimu itu! Uangnya banyak, kenapa dia tidak memesan dibutik Tantenya Zahra lewat online? Dasar suami pelit, bisa-bisanya membiarkan istrinya memakai bajunya yang kebesaran ini." Tutur Mami Safira, lalu mengomentari baju yang di pakai menantunya.
"Tidak apa-apa Mih." Ucap Mutiara, lalu dia tertunduk malu.
"Iya sudah Mih, bawa saja menantu kita ke butik Adikmu itu." Ucap Papi Dahlan menimpali.
"Okay Pih, Mami sama menantuku yang cantik saja yah, perginya." Pamit Safira, bangkit dari sofa dan mengecup bibir suaminya sekilas. Papi Dahlanpun bangkit dari duduknya, membalas kecupan istrinya kembali.
Mami Safira kemudian langsung menggandeng lengan Mutiara, berjalan keluar rumah.
"Ayo.. cantik." Ajak Mami Safira ramah.
"Iya Mih." Sahutnya.
Mutiara hanya menurut saja ucapan Mami mertuanya itu, saat tangannya sudah dipegang olehnya. Mutiara sangat menyukai hubungan Papi dan Mami mertuanya, yang selalu terlihat romantis disetiap kesempatan. Bahkan mencium wajah dan bibir didepannyapun, sudah tidak ada rasa canggung lagi.
"Hati-hati kalian dijalan yah, sayang." Ucap Papi Dahlan melambaikan tangannya
"Iya Pih, "Assalamu'alaikum.." Ucap salam Safira dan Mutiara bersamaan.
"'Wa'alaikumussalam..." Jawab salam Papi Dahlan dengan tersenyum.
"Kalian terlihat seperti Adik dan Kakak kalau seperti itu. Safira memang selalu awet muda dimataku, sungguh aku pria beruntung sudah mendapatkan cintamu." Papi Dahlan bergumam pelan.
"Siapa yang beruntung, Pih?" Tanya Angga yang baru saja datang, namun terdengar gumaman Papi Dahlan sedikit.
"Eeh.. kamu sudah rapi saja! Sepertinya kamu mau pergi yah?" Tanya Papi Dahlan kepo.
"Aiish.. Papi kepo banget sih! Angga 'kan pria lajang Pih, memangnya tidak boleh kalau berdandan rapi dan keren kayak gini?" Decak Angga sebal.
"Ha.. ha.. ha.. iya sih, Papi bangga punya dua anak pria yang tampan dan keren seperti kamu dan kakakmu." Tawa Papi Dahlan pecah.
"Siapa dulu Papinya? He.. he.. he.." Puji Angga pada Papi Dahlan.
"Kalau muji Papi kayak gini, pasti ada maunya?" Tebak Papi Dahlan lalu berjalan duduk disofa kembali.
"Papi tahu saja! Angga 'kan masih kuliah, belum bisa kerja kayak Kak Andi. Jadi, masih minta jajan sama Papi lah."
"Berapa?" Tanya Papi saat memegang ponselnya untuk mentrasfer uang ke rekening Angga.
"Tidak banyak Pih, seperti biasanya saja. Tapi, dilebihin sedikit deh. Angga 'kan kepingin beli sesuatu buat Kak Andi. Besok Kak Andi ulang tahun, bukan?"
"Huuss.. jangan berisik! Nanti Kakakmu dengar." Bisik Papi Dahlan dengan menaruh jari telunjuknya dibibir Angga.
"Iya.. iya.. Angga lupa Pih." Ucapnya Angga lalu menyengir mirip kuda.
Papi Dahlanpun mentransfer uang bulanan Angga, lebih banyak dari bulan sebelumnya.
"Ting." Bunyi pesan Notifikasi ponsel Angga.
"Terima kasih, Pih. The best pokoknya deh, I love yau Pih." Puji Angga senang mendapatkan uang jajan bulanan lebih banyak hampir separuhnya.
"Iya sayang, jangan boros!" Ucap Papi Dahlan mengingatkan. Anggapun mengangguk pelan dengan tersenyum.
Mbo Yuyun pulang membawa bungkusan kotak yang berisi kue Tar. Dia berjalan ke arah Papi Dahlan dan Angga berada.
"Maaf Tuan, ini kuenya saya simpan dimana?" Tanya Mbo Yuyun.
"Sini Mbo, saya simpan di kamar saya saja." Kata Papi Dahlan, lalu mengambil bungkusan kotak tersebut dari tangan Mbo Yuyun.
"Kalau begitu, saya permisi dulu yah Tuan." Ucap Mbo Yuyun pamit meninggalkan mereka.
"Iya Mbo, terima kasih yah." Ucap Papi Dahlan, lalu pergi menuju kamarnya.
Angga mengikuti Papinya masuk kedalam kamarnya. "Ini kue kejutan buat Kak Andi Pih?" Tanya Angga penasaran.
"Iya dong, buat siapa lagi? Yang akan berulang tahun 'kan, kakakmu. Tapi ini rahasia, nanti malam pas jam 12 kita akan kasih kejutan, untuk kakakmu" Ujar Papi Dahlan.
"Okay, ya sudah Angga pamit dulu mau ke Mall untuk beli hadiah buat kak Andi."
"Iya, hati-hati nak." Ucap Papi Dahlan mengingatkan.
"Iya Pih, Asalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Anggapun pergi ke toko hadiah di Mall terdekat dari rumahnya.
******
Mutiara dan Mami Safira, baru saja sampai di Mall terdekat. Mereka langsung menuju Butik Zahra adiknya Mami Safira.
"Hallo.... adikku sayang." Sapa Mami Safira saat baru sampai di Butik Zahra.
"Hallo juga, Kak.. ! Waah.. ini siapa Kak? Cantik sekalih?" Tanya Zahra penasaran.
"Ini menantu Kakak, istrinya Andi." Jelas Safira.
Mutiara langsung memperkenalkan dirinya kepada Tante Zahra.
"Salam kenal Tante, nama saya Mutiara Pandini. Saya berasal dari Yogyakarta, senang berkenalan dengan Tante."
"Cantik sekalih namanya, sama seperti wajah kamu, sangat cantik. Salam kenal juga, nama Tante panggil saja Tante Zahra. Tante senang punya keponakkan cantik seperti ini."
"Kapan nikahnya? Kenapa aku tidak tahu, Kak?"
"Baru nikah empat hari yang lalu dik, di Yogyakarta. Tapi, baru nikah sirih saja. Belum nikah resmi dan resepsinya."
"Kenapa seperti itu? Mendadak sekalih kalian menikahkan Andi? Memangnya Andi yang keras kepala seperti itu mau menikah dadakan gitu?"
"Ceritanya panjang dik, kapan-kapan Kakak cerita sama kamu."
"Okay, Kak! Aku akan tagih janjimu."
"Dik, tolong carikan beberapa gaun dan pakaian yang pas dan cantik untuk menantuku ini."
"Siap kak! Ayo.. Mutiara, kita cari gaun yang pas dan cantik buat kamu." Ajak Tante Zahra seraya menarik lengannya dengan lembut.
"Iya Tante." Ucap Mutiara menurut saja.
Tante Zahra mengambil beberapa gaun dan dres cantik, yang menurutnya pas ditubuh Mutiara.
"Coba dulu, sayang." Ucap Tante Zahra, yang diangguki oleh Mutiara.
Akhirnya Mutiara mencoba memakai gaun indah tersebut, didalam ruang ganti. Setelah dirinya memakai gaun tersebut, Mutiarapun keluar dari ruang ganti untuk menunjukkan gaun yang dipakainya.
"WOOW... CANTIKNYA.... !"
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏...