Semua yang terjadi dalam kehidupan ini tidak pernah luput dari pengalaman masa lalu. Angin bertiup dan musim pun berganti, Andhra telah mencari jati diri yang entah dimana akan dia temui.
Kehidupan suram di masa lalu membuat hatinya dipenuhi oleh dendam.
Ozan yang selalu menemani, juga ada
keluarga yang selalu memberi, adik tiri yang berselimut mendung derita. Andhra mendapatkan semuanya bukan tanpa alasan.
Hingga masanya cinta masa lalu hadir dan membuat hidup Andhra berwarna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafi', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
"Jangan ge'er jadi orang!" Andhra berjalan ke arah Rossi. Otomatis Rossi mundur ke belakang.
"Mau apa kamu, jangan macam macam ya." Menudingkan telunjuknya ke wajah Andhra. Tubuh Rossi sudah terbentur pada sebuah lemari, membuatnya tidak bisa berkutik lagi. Andhra semakin memajukan tubuh, sangat dekat hingga hembusan nafasnya menerpa tengkuk Rossi yang memalingkan wajahnya. Bulu kuduk Rossi meremang dibuatnya.
Andhra tersenyum tipis, ada rasa yang menggelitik saat berada di dekat gadis ini, meski belum tahu apa itu. Yang pasti, dia merasa nyaman. Memperhatikan dengan seksama sebagian wajah Rossi lalu berpindah ke bibir dengan tahi lalat bawah bibir kanan, membuat Andhra sulit untuk sekedar berpaling.
*Tidak! Jangan lakukan itu.* Andhra menggelengkan kepala, berusaha menekan hasrat agar tidak meninggalkan jejak kenikmatan yang belum pernah dia rasakan.
"Aku hanya mau mengambil ini! Tapi kau menghalanginya." Sedikit menjauh dari tubuh Rossi, sambil menunjukkan kotak obat di tangannya. Rossi mengatur pasokan oksigen yang mulai habis, terkikis oleh pesona Andhra, dia sudah merasakan panas di wajah, berusaha menghilangkan pikirannya terhadap Andhra, karena menyangka yang tidak tidak.
*Aku pikir dia akan menciumku tadi. Dasar otak mesum* gerutu Rossi di dalam hati sambil menggetok kepalanya pelan. Mengurut dada yang belum juga berdetak normal.
"Kenapa tidak bilang saja seh!" Ucap Rossi Menutupi kegugupannya. Di lihatnya darah segar yang keluar dari telapak tangan Andhra. Rossi mendekati Andhra yang kesulitan mengobati tangan kanannya.
Minta bantuan kek, nggak ada salahnya juga kan?
"Sini aku bantu!"
Tanpa menunggu jawaban, Rossi mengambil alih tangan Andhra. Dengan telaten dia membersihkan darah yang masih menempel, lalu membalurkan salep antiseptik pada goresan luka itu. Andhra mendesis karna merasakan perih.
"Sakit ya!" Rossi langsung meniup luka di tangan Andhra.
Andhra begitu tersentuh dengan perlakuan Rossi, bahkan jantungnya ikut berdetak tak karuan.
"Kenapa tanganmu berubah dingin dan berkeringat, apa kamu masih kesakitan?" Andhra menarik tangannya, takut jika ketahuan.
"Terima kasih!"
Ujarnya singkat. Rossi merapikan rambutnya ke belakang telinga untuk mengurangi rasa canggung yang sama dengan apa yang dirasakan Andhra.
"Sama sama."
"Kau juga terluka ya, maaf!" Andhra meraih pergelangan tangan Rossi yang tampak memerah, lalu mengoleskan gel antiseptik di sana dengan lembut.
Jangan ditiup, hatiku bisa meleleh bagaikan es krim, meleleh dengan rasa manis
"Terima kasih!" Rossi tersenyum tulus mengucapkannya.
"Maaf!"
"Tidak apa apa, terkadang seseorang harus menyakiti orang lain juga untuk berbagi dukanya."
Andhra menatap lekat mata gadis di hadapannya, apa yang di katakan gadis itu membuatnya tercubit.
"Aku sudah meminta maaf bukan!" Ucap Andhra datar dia merasa bersalah, karna tanpa sadar menyakiti gadis itu.
"Aku tidak bermaksud menyinggung, kamu! Aku hanya...!"
"Tidak apa apa!" Andhra memotong ucapan Rossi. Keduanya pun hening kembali. Rossi benar benar merasa tidak enak hati membuat Andhra tersinggung.
"Ini kartu kamu!" Menyodorkan dengan tangan kanannya. Andhra masih berdiam diri tidak menerima ataupun bicara sepatah katapun. Sebenarnya Andhra ingin, malam ini ada yang menemani. Tapi dia bisa apa, Rossi adalah gadis yang tanpa sengaja bertemu dengannya.
"Permisi!"
Rossi mulai berdiri, tapi mengapa hatinya berharap untuk tetap bersama pria di hadapannya ini.
Dengan langkah pelan Rossi meninggalkan ruangan Andhra. Rossi masih memikirkan perasaan apa yang dialaminya saat ini, kenapa ada rasa khawatir dan juga rasa sakit saat Andhra mendapatkan luka?
Rossi melihat lagi pergelangan tangannya. "Kenapa rasa nyaman ini seperti pernah aku alami ya." Gumam Rossi, dia menyentuh dadanya sambil tersenyum. "Kang Andhra."
Seorang satpam yang memperlihatkan gerak geriknya menjadi was was.
"Mbak, mbak!"
Rossi tersentak kaget.
"Iya, pak! ada apa ya?"
"Mbak baik baik saja, kan? Senyam senyum sendiri, lagi jatuh cinta ya." Tebak satpam yang tertera nama Joko. Menaik turunkan alisnya.
"Jangan sotoy deh, pak!" Mengibaskan tangannya.
"Saya sukanya pecel non tapi kalau ada soto juga mau." Jawab satpam itu sambil nyengir.
"Sotoy, pak bukan soto!"
Rossi langsung melenggang pergi dari sana.
"Lah apa bedanya coba!" Joko menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Di tempat lain.
Seorang perempuan pulang ke rumahnya dengan keadaan kacau. Kejadian di kantor telah menguras seluruh tenaga dan pikirannya.
"Kenapa hidupku selalu seperti ini!" Teriak Mella setelah memasuki kamarnya, melempar tas ke sembarang arah, hingga semua isinya tercecer. Setelah itu dia bergegas ke kamar mandi, berdiri rapuh di bawah guyuran shower, berharap masalah hari ini hanyut bersama air.
Masalah yang kemarin saja, belum berakhir, kenapa harus ada masalah lagi?
Flashback satu Minggu lalu
'Ke ruangan bos sekarang!' begitulah kata singkat yang di ucapkan Ozan saat itu.
Dengan seribu langkah, dia bergegas ke ruangannya Presdir. Dan apa yang di lihatnya, Andhra sudah duduk di sofa. Ada perasaan lega saat melihat kakak kandung satu ayah itu sudah baikan. Sebab info yang dia dengar, Andhra sempat dirawat. Entah kenapa Andhra mudah sekali sakit, berbanding terbalik dengan perawakannya yang gagah.
"Ada yang bisa saya bantu, pak!" Ucap Mella setelah sampai di dalam ruangan.
"Tidak perlu basa basi lagi." Tegas Ozan.
"Apa maksud kamu dengan semua ini?" Ozan melemparkan sebuah amplop coklat di hadapan Mella. Mella yang belum mengerti masih bergeming di tempat. Dia tidak merasa melakukan sesuatu apapun.
"Ambil dan lihatlah!" Tegas Andhra menatap tajam Mella.
Dengan pelan Mella meraih amplop itu dan mulai membukanya. Di sana ada begitu banyak foto foto dirinya saat menyerahkan sejumlah uang kepada orang suruhan ibunya.
Namun yang sebenarnya adalah, Mella tidak tahu apapun. Dia hanya mendapat amanah dari Hasma membayarkan hutang kepada seseorang. Itulah yang dia tahu.
"Aku sudah begitu percaya kepada dirimu! Tapi mengapa kau tetap berkhianat." Andhra menatapnya dengan penuh kekecewaan. Mella bisa melihat itu.
"Ini tidak seperti yang kau perkirakan." Mella berusaha menjelaskan.
"Tapi itulah kenyataannya. Kau masih mau mengelak hahhh! Dia adalah orang suruhanmu. Kau ingin membuat Andhra bangkrut iyakan. Karna kau mau membalas dendam kepada Andhra." Tuduh Ozan.
"Tidak, aku tidak melakukan ini!" Sanggah Mella dengan meneteskan air mata.
"Aku tidak berbohong, aku memang memberikan uang itu."
"Lihatlah, kau sudah mengakuinya, bukan. Lalu kenapa tadi kau menyanggahnya." Dengan sinis Ozan berkata.
"Aku minta maaf Mella." Lirih Andhra. Matanya berkaca-kaca. Hancur sudah hatinya, karna ternyata orang yang selama ini dia anggap keluarga telah mengkhianatinya.
"Itu tidak benar Ndhra! Memang benar aku memberinya uang, tapi bukan atas kemauanku sendiri." Mella sudah sesenggukan meneteskan air matanya.
"Jangan bohong, kamu! Bukankah itu dirimu. Dan orang itu adalah orang yang telah menyelundupkan hasil produksi kita." Suara Ozan naik satu oktaf.
"Iya itu memang, aku! Tapi...!" Andhra mengangkat tangannya ke udara.
"Baiklah, ku beri waktu kau seminggu untuk membuktikan itu bukan kemauan dirimu. Tapi, jika dalam seminggu kau tidak bisa membuktikan, kau harus keluar dari kantor ini dengan tidak terhormat."
Itu artinya mendapat surat pemecatan dan tidak akan di terima bekerja di manapun lagi. Andhra bisa melakukan hal yang paling mengerikan terhadap orang yang berani bermain main dengannya.
"Ndhra percayalah!" Mella berusaha menyakinkan.
"Maka dari itu, aku memberimu kesempatan!"
"Ndhra, dia sudah terbukti bersalah. Jangan lepaskan dia. Atau dia akan berbuat lebih buruk dari ini." Ozan sudah tidak bisa mentolerir.
"Kenapa ini bisa terjadi? Bagaimana caraku membuktikan. Aku tidak ada sangkut pautnya dengan semua kejadian ini!"
Kembali lagi Mella mengingat kejadian tadi di kantor. Luka yang kemarin belum sembuh, kembali menganga.Tubuhnya merosot ke lantai, dia memegang lututnya dengan bergetar. Semua tuduhan berseliweran bagaikan beliung yang memporak-porandakan pertahanan hatinya. Hancur! Itulah yang terjadi pada hatinya sekarang.
Lebih baik aku mati saja jika begini. Ya itu akan lebih baik. Aku sudah tidak kuat menahan setiap tuduhan itu.
To be continued.
ozan dilema donk,mw nolong yg mana dulu...
aq agak amnesia😊😊😊
abis malam jumatan khan
Salam dari
SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA
🙏🙏🙏
salam dari jodohku Cinta Pertamaku 🙏🙏 by. Sri Ghina Fithri