seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.
apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.
mencari ide itu sulit gusy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTARUNGAN ARIS DAN ADRIAN
Udara di dalam markas tersembunyi Adrian seketika menjadi vakum. Suara tembakan yang bergema dari arah aula depan bukan sekadar suara peluru, melainkan lonceng kematian bagi ketenangan palsu yang baru saja dibangun Adrian. Di dalam kamar baja, Kayla mendekap Ariel sekuat tenaga. Tubuhnya bergetar hebat, bukan lagi karena sup yang dibubuhi obat, melainkan karena teror murni yang kini memiliki dua wajah: Adrian yang dingin dan Aris yang gila.
Bab: Kebangkitan Sang Iblis yang Terluka
Aris melangkah masuk melalui pintu depan yang telah hancur. Penampilannya adalah definisi dari horor yang nyata. Ia tidak lagi tampak seperti manusia; kemejanya bersimbah darah, luka bakarnya meradang kemerahan, dan matanya hanya menunjukkan satu hal: obsesi yang tak bisa dibunuh oleh peluru maupun api. Ia memegang senjata otomatis dengan tangan yang gemetar, namun bidikannya masih mematikan.
"Adrian!" raung Aris, suaranya parau, bergema di dinding-dinding mewah rumah itu. "Kau pikir kau bisa mengambil apa yang aku tanam dengan darahku sendiri? Kau pikir kau bisa mencuri Kayla dariku?!"
Adrian berdiri di balik meja kerja jati yang tebal, tetap tenang meskipun situasi sedang berada di ujung tanduk. Ia memegang pistol kecil berkaliber tinggi. "Aris, lihat dirimu. Kau sudah menjadi mayat berjalan. Berikan bayi itu padaku, dan aku akan memastikan Kayla hidup dengan layak sebagai aset perusahaan. Kau hanya akan menghancurkan mereka dengan kegilaanmu."
"Dia bukan aset! Dia istriku! Dan anak itu adalah napasku!" Aris melepaskan rentetan tembakan ke arah meja Adrian.
Di dalam kamar, Kayla mendengar segalanya. Ia merangkak menuju pintu baja yang terkunci, mencoba mencari celah. Pikirannya berputar liar. Jika Aris menang, ia akan kembali ke pelukan pria yang bisa membunuhnya dalam serangan delusi. Jika Adrian menang, ia dan Ariel akan berakhir di meja operasi laboratorium.
"Ariel... maafkan Ibu," bisik Kayla pada bayinya yang mulai menangis keras karena kebisingan itu.
Tiba-tiba, sistem elektronik rumah itu berkedip. Tembakan Aris tampaknya mengenai panel kontrol utama. Pintu baja kamar Kayla berbunyi klik dan sedikit terbuka. Tanpa membuang waktu, Kayla menyelinap keluar, mencoba mencari jalan keluar di tengah baku tembak saudara itu.
Ia sampai di balkon lantai dua yang menghadap ke ruang tamu utama. Di bawah sana, ia melihat pemandangan yang akan menghantuinya selamanya. Aris dan Adrian sedang bergulat di lantai. Aris bertarung dengan kekuatan murni dari kegilaannya, sementara Adrian menggunakan teknik yang bersih dan taktis.
"Kau selalu menjadi beban, Aris!" teriak Adrian sambil menghantamkan gagang pistol ke wajah Aris yang sudah hancur. "Maya mati karena kau terlalu mencintainya, dan sekarang kau akan mati karena kau terlalu posesif pada Kayla!"
Aris terkapar, darah mengucur dari mulutnya. Namun, saat ia melihat bayangan Kayla di atas balkon dengan bayi Ariel di pelukannya, sebuah kekuatan mistis seolah merasuki tubuhnya. Aris meraih kaki Adrian dan menariknya hingga terjatuh.
"Kayla... lari!" teriak Aris. Matanya bertemu dengan mata Kayla selama satu detik yang terasa abadi. Di dalam tatapan itu, Kayla tidak melihat monster; ia melihat seorang pria yang benar-benar hancur, yang di saat-saat terakhirnya, menyadari bahwa mencintai seseorang berarti membiarkannya pergi. "Bawa Ariel pergi! Jangan biarkan Adrian menyentuhnya!"
Aris mengeluarkan sebuah granat dari saku jaketnya. Ia telah menyiapkan ini sebagai rencana terakhir jika ia gagal membawa Kayla kembali.
Adrian membelalak. "Aris, jangan! Kau gila! Kita semua akan mati!"
"Hanya kau dan aku, Kak," bisik Aris dengan senyum mengerikan. "Hanya kita yang harus berakhir di sini."
Bab: Pelarian di Tengah Puing-Puing
Kayla tidak menunggu sedetik pun lagi. Ia berlari menuju pintu belakang, menembus dapur dan keluar ke arah hutan salju. Ia berlari secepat yang ia bisa, kakinya yang masih lemas karena pasca melahirkan dipaksa untuk terus bergerak.
BOOM!
Ledakan dahsyat mengguncang hutan. Gelombang panas menghantam punggung Kayla hingga ia tersungkur ke depan, melindungi Ariel dengan tubuhnya. Saat ia menoleh, rumah mewah Adrian telah berubah menjadi lautan api. Dua saudara yang saling membenci dan memperebutkan dirinya telah terkubur bersama di bawah reruntuhan itu.
Hening kembali menyergap hutan. Hanya suara gemertak api dan tangisan Ariel yang terdengar. Kayla bangkit, napasnya keluar sebagai uap putih di udara dingin. Kali ini, tidak ada lagi yang mengejarnya. Tidak ada lagi sistem pengawasan. Tidak ada lagi Aris, tidak ada lagi Adrian.
Kayla terus berjalan. Kali ini ia tidak lari dengan ketakutan, melainkan dengan arah yang pasti. Ia mengikuti aliran sungai yang mengarah ke pemukiman warga yang lebih besar. Ia menemukan sebuah jalan raya utama saat matahari mulai terbit di ufuk timur, membiaskan cahaya keemasan di atas hamparan salju yang murni.
Sebuah truk pengangkut kayu berhenti di pinggir jalan. Sopirnya, seorang pria tua yang tampak ramah, turun dengan raut wajah khawatir.
"Nona? Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu?" tanya pria itu.
Kayla menatap pria itu, lalu menatap bayi Ariel yang kini tertidur lelap. Ia menarik napas panjang, menghirup udara kebebasan yang sesungguhnya untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir.
"Nama saya Kayla," ucapnya dengan suara yang tegas. "Dan saya butuh bantuan untuk pulang."
Bab: Penutup: Bayang-bayang di Mata Ariel
Bertahun-tahun kemudian, Kayla tinggal di sebuah kota kecil di tepi pantai, jauh dari pegunungan dan hutan pinus yang kelam. Ia bekerja sebagai guru seni, hidup dalam ketenangan yang ia bangun dengan susah payah.
Namun, setiap kali ia menatap putranya, Ariel, yang kini mulai beranjak remaja, ia sering kali terdiam. Ariel adalah anak yang sangat cerdas, sangat protektif terhadap ibunya, dan memiliki tatapan mata yang sangat tajam—tatapan yang sama dengan pria yang terkubur di pegunungan itu.
Suatu hari, Kayla menemukan Ariel sedang duduk di tepi pantai, menatap laut dengan sangat intens. Di pasir sampingnya, Ariel telah menggambar sebuah simbol yang sangat akrab: logo perusahaan yang dulu dimiliki Aris dan Adrian.
"Ariel, dari mana kau tahu gambar itu?" tanya Kayla, jantungnya berdegup kencang.
Ariel menoleh, tersenyum dengan senyuman yang membuat bulu kuduk Kayla berdiri. "Aku tidak tahu, Ibu. Aku hanya merasa bahwa aku harus menggambarnya. Sepertinya... ini adalah bagian dari diriku."
Kayla memeluk putranya erat, menyadari bahwa meskipun para monster itu sudah tiada, warisan mereka akan tetap ada dalam diri putranya.