NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Dua Garis Merah

Bunyi debuman pintu mobil yang tertutup keras menyentak Alina dari lamunannya. Pria berjas rapi itu—Wisnu Abraham—turun dengan wajah panik, menghampiri Alina yang masih mematung di pinggir jalan dengan napas memburu.

"Mbak! Anda tidak apa-apa? Ada yang luka?" tanya pria itu, suaranya bariton dan penuh kekhawatiran. Matanya menyapu tubuh Alina, mencari tanda-tanda cedera.

Alina hanya menggeleng pelan. Ia terlalu lelah. Energinya sudah habis terkuras untuk memarahi Rendy di taman tadi. Kehadiran pria asing dengan mobil mewah ini hanya menambah kebisingan di kepalanya.

"Saya... saya tidak apa-apa," gumam Alina serak. Tanpa menunggu respons pria itu, Alina berbalik dan berjalan pergi, menyeret kakinya yang terasa seperti kapas. Ia bahkan tidak peduli ketika pria itu memanggilnya lagi, menawarkan tumpangan ke rumah sakit. Alina hanya ingin pulang. Ia ingin tidur dan melupakan dunia.

Dua minggu berlalu sejak hari itu.

Surabaya semakin panas, seolah matahari sedang marah pada bumi. Namun, bagi Alina, hari-hari terasa dingin dan abu-abu. Ia mencoba menjalani rutinitasnya sebagai staf admin bank seperti biasa. Bangun pagi, mandi, kerja, pulang, tidur. Seperti robot yang diprogram untuk bertahan hidup tanpa perasaan.

Tapi, tubuhnya mulai memberontak.

Pagi itu, aroma nasi kuning yang biasa dijual Ibu kos di lantai bawah—aroma yang biasanya menggugah selera Alina—tiba-tiba terasa menyengat. Bau bawang goreng dan santan itu merayap masuk ke celah ventilasi kamar, menusuk hidung Alina, dan memicu gejolak hebat di perutnya.

"Ugh..." Alina membekap mulutnya.

Ia berlari ke kamar mandi dalam yang sempit, berlutut di depan kloset, dan memuntahkan seluruh isi perutnya yang sebenarnya kosong. Hanya cairan bening yang keluar, menyisakan rasa pahit dan perih di tenggorokan.

"Masuk angin lagi..." keluh Alina sambil menyeka bibirnya dengan tisu. Wajahnya di cermin terlihat pucat pasi, lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas.

Sudah empat hari ini ia merasa tidak enak badan. Tubuhnya lemas luar biasa, seolah tulang-tulangnya dilucuti. Nafsu makannya hilang total. Melihat makanan saja membuatnya ingin muntah. Teman-teman kantornya bilang ia terlalu stres pasca putus, atau mungkin gejala tifus karena telat makan.

Alina membasuh wajahnya, mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya efek psikosomatis. Stres. Ini cuma stres, batinnya.

Namun, saat ia mengambil kalender duduk di meja rias untuk mengecek jadwal cuti, matanya terpaku pada deretan angka bulan lalu. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.

Ia belum menstruasi.

Tangannya gemetar saat menghitung mundur. Harusnya tamu bulanannya datang seminggu yang lalu. Alina memang kadang tidak teratur jika sedang banyak pikiran, tapi tidak pernah selama ini. Dan rasa mual ini... rasa mual yang aneh, yang hanya muncul saat bangun tidur atau mencium bau tajam.

Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di pelipisnya.

"Nggak mungkin," bisiknya pada pantulan cermin. "Nggak mungkin, kan?"

Ingatannya melayang pada malam sebulan lalu. Malam hujan saat Rendy datang ke kosannya untuk "memperbaiki genteng bocor". Malam di mana mereka terbawa suasana rindu yang hangat, lupa pada logika, dan lupa pada pengaman. Malam di mana Rendy berbisik, "Aku bakal nikahin kamu tahun depan, Al. Kita bakal punya anak-anak yang lucu."

Janji palsu itu.

Dengan tangan gemetar hebat, Alina meraih dompetnya. Ia menyambar jaket hoodie kebesaran, menudunginya hingga menutupi sebagian wajah, lalu setengah berlari keluar kos menuju minimarket di ujung jalan.

Ia mengambil test pack dengan gerakan cepat, menyembunyikannya di antara tumpukan roti dan susu agar kasir tidak menatapnya curiga. Sepanjang jalan pulang, ia meremas kantong plastik itu begitu erat hingga tangannya memutih.

Sesampainya di kamar mandi kos, waktu terasa melambat. Detik demi detik yang berlalu saat menunggu hasil alat itu terasa seperti penyiksaan abad pertengahan. Alina duduk di lantai kamar mandi yang dingin, memejamkan mata, merapalkan doa-doa panik.

Tuhan, tolong jangan. Tolong ambil semua hartaku, ambil pekerjaanku, tapi jangan yang satu ini. Jangan sekarang. Rendy mau menikah minggu depan, Tuhan. Tolong...

Alina membuka matanya perlahan saat timer di ponselnya berbunyi.

Ia melihat alat kecil berwarna putih itu.

Dua garis merah. Tegas. Jelas. Tanpa keraguan.

Dunia Alina tidak sekadar runtuh kali ini; dunia itu meledak berkeping-keping. Alat tes kehamilan itu terlepas dari tangannya, jatuh berdenting di lantai keramik.

Positif.

Ia mengandung anak Rendy Angkasa.

Alina mundur hingga punggungnya menabrak dinding kamar mandi yang lembap. Kakinya lemas, dan ia merosot jatuh. Tangannya bergerak menyentuh perutnya yang masih rata. Di dalam sana, ada kehidupan yang sedang tumbuh. Darah dagingnya. Darah daging pria yang telah membuangnya seperti sampah demi menikahi wanita kaya.

"Kenapa..." isak Alina, suaranya tertahan di tenggorokan. "Kenapa kamu harus ada?"

Ia meraung tanpa suara. Bayangan masa depan yang mengerikan berputar di kepalanya seperti film horor. Seorang ibu tunggal. Hamil di luar nikah. Diusir dari kosan. Dipecat dari pekerjaan. Dicemooh tetangga. Dan yang paling menyakitkan: anak ini akan tumbuh tanpa ayah, sementara ayahnya sedang bersiap-siap melakukan fitting baju pengantin dengan wanita lain untuk acara minggu depan.

Berita pernikahan Rendy dan Sisca Angela sudah menyebar di media sosial teman-teman mereka. Undangan digital yang mewah itu sudah beredar luas. Minggu depan. Tinggal tujuh hari lagi sebelum Rendy resmi menjadi milik orang lain.

Dan di sini Alina, duduk di lantai kamar mandi bau karbol, memegang bukti dosa masa lalu yang kini menjadi nyawa.

Alina merasa jijik pada dirinya sendiri. Merasa kotor. Merasa bodoh.

Ia mengambil ponselnya, menatap kontak Rendy yang sudah ia blokir. Haruskah ia memberi tahu? Haruskah ia datang ke Rendy dan berteriak, "Aku hamil anakmu! Batalkan pernikahanmu!"?

Tidak. Rendy pasti akan menuduhnya berbohong. Atau lebih parah, keluarga Sisca yang kaya raya akan menuduhnya menjebak Rendy demi uang. Alina tidak punya kekuatan untuk melawan mereka. Ia sendirian. Benar-benar sendirian di kota besar ini.

Air matanya menetes jatuh ke perutnya. Untuk pertama kalinya, Alina merasakan ketakutan yang jauh lebih besar daripada kematian.

"Maafkan Ibu..." bisiknya pada janin yang belum tahu apa-apa itu. "Maafkan Ibu karena kamu harus hadir di saat yang paling salah."

Di luar, suara pedagang bakso lewat terdengar riang, kontras dengan tragedi yang sedang terjadi di kamar mandi sempit itu. Alina tahu, mulai detik ini, hidupnya tidak lagi miliknya sendiri. Ia membawa satu nyawa yang menjadi bukti cinta sekaligus pengkhianatan terbesar dalam hidupnya.

Minggu depan, akad nikah mungkin akan berlangsung dengan penuh kebahagiaan Rendy. Tapi bagi Alina, hari ini adalah tanda dimulainya perjuangan hidup mati seorang diri.

Satu like dari kalian sangat berarti..

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!