Laras Kinanti pergi mengadu nasib ke Ibukota, untuk mencari keberadaan suaminya yang menghilang tanpa kabar.
Pencarian Laras berujung luka, karena suami yang ia cari itu menikah dengan Nadine Chandra, yang tak lain adalah putri majikannya.
Sanggupkah Laras bertahan dengan status sebagai pelayan madunya?
Mampukah dia menghadapi kekejaman suaminya sendiri?
Adakah kebahagiaan untuk Laras?
Karya ini kolaborasi dua Author Kece
Nazwatalita dan Jannah Zein.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29 KEDATANGAN MAMA GALANG
"Aman, Ma." Rusdi menyeringai licik."
"Yang penting kita bisa membalas perlakuan Galang melalui Ningsih."
"Papa memperalat Ningsih lagi?" Mata istrinya membola.
"Mau gimana lagi?" ucapnya membela diri. "Aku sudah tidak punya cara lain untuk mendapatkan penghasilan, kalau bukan melalui Galang! Sekarang gara-gara perempuan itu bekerja di rumah yang sama dengan Galang, akhirnya kita tidak mendapatkan pemasukan lagi!" Rahang laki-laki itu tiba-tiba mengeras.
"Makanya, Pa, cari kerja! Tidak selamanya Galang akan percaya pada kita. Buktinya sekarang?" sentak istrinya. Dia mulai mengomeli suaminya.
"Mau kerja apa, Ma? Aku ini bukan Galang yang masih muda, pintar bisnis dan bisa menggaet wanita muda dari kalangan orang kaya. Hidupku tidak seberuntung Galang, Ma!" Keluhan yang membuat istrinya semakin marah.
"Ya, iyalah. Papa kan sudah tua, jadi nggak mungkin ada wanita kaya raya yang mau dengan Papa!" ketus istrinya.
"Ma, kamu cemburu?" Tiba-tiba laki-laki itu menyadari kesalahannya.
"Maaf, Papa kan hanya bercanda." Laki-laki itu mengelus bahu istrinya.
"Ya," tanggap istrinya dengan malas.
"Tapi tidak selamanya kita harus bergantung dengan Galang! Papa harus kerja mulai sekarang. Mama sudah terlanjur hidup nyaman selama ini dan Mama tidak mau lagi hidup susah seperti dulu."
"Kalau Mama sampai kembali hidup susah, mama tidak mau lagi hidup dengan Papa!" ancam istrinya yang seketika membuat laki-laki itu tersentak kaget.
"Ma, kok bisa gitu sih? Jangan gitu dong!" Rusdi buru-buru meraih tangan istrinya yang dengan sekejap dihempaskan oleh perempuan tengah tua itu.
"Sudah cukup ya, Pa. Hidup ini harus realistis dan semuanya memerlukan uang. Mama tidak mau hidup susah!"
"Ya, ya, ya." Akhirnya Rusdi mengalah.
*****
Sementara di tempat lain, Ningsih masih saja menimang ponselnya. Perempuan setengah tua itu benar-benar tak habis pikir. Siapa yang harus di percayainya sekarang. Rusdi atau Galang. Namun ia tidak menemukan kebohongan dari mulut adiknya.
"Perempuan tak tahu malu!" teriak Ningsih. Teriakannya menggema ke seisi rumah. Beruntung tak ada seorangpun di rumah itu sehingga tak ada yang mendengar teriakan dan melihat wajahnya yang merah padam.
Dia benar-benar marah, marah semarah-marahnya terhadap Laras. Perempuan itu sudah menjadi penghalang buatnya untuk mengeruk keuntungan lebih dari putranya.
Sejak lahir sampai sedewasa ini, Galang selalu berada dalam kendalinya. Justru setelah menikah dengan Laras, Galang menjadi berubah. Dia tak lagi sepenuh hati padanya bahkan Galang justru lebih mengistimewakan istri yang baru dinikahinya, bukan ibunya yang sudah bertaruh nyawa untuk melahirkannya.
Dia mengetahui semua itu sejak kepergian sang anak ke ibu kota. Dia bekerja paruh waktu demi kuliahnya, memulai bisnis restorannya dari nol, kemudian akhirnya sukses setelah bertemu dengan Nadine
Huffhtt...
Di kala seorang anak sukses, bukankah seharusnya dia sebagai ibunya yang paling utama untuk menikmati kesuksesan sang anak? Bukan seorang wanita yang baru dikenal saat dewasa. Jangan pernah melupakan pengorbanan seorang wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh cinta. Demikian pikiran Ningsih.
Dia mencoba mengetes anak itu dengan membuatkan nomor rekening atas nama Laras. Apa hasil yang ia dapat? Ternyata uang bulanan yang diterimanya dari Galang tidak ada apa-apanya dengan uang bulanan yang diterima oleh Laras melalui rekening yang di buatnya itu.
"Kurang ajar! Perempuan itu sudah benar-benar meracuni anakku." Ningsih mengumpat dalam hati.
"Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak mau kenyamanan hidupku terusik karena perempuan itu berada dekat gelang saat ini," tekadnya bulat.
*****
Hari masih pagi dan restoran ini masih sepi. Ningsih melangkah masuk ke dalam restoran milik Galang. Seorang pelayan mengarahkannya untuk duduk di salah satu kursi.
Tak lama kemudian, orang yang ditunggunya pun datang. Galang yang tengah bergegas mendekat dan begitu tiba, laki-laki itu merengkuh tangannya dan mencium dengan takzim.
"Mama," Laki-laki itu tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Kenapa Mama kemari? Apa ada yang penting? Biasanya Mama menelepon dulu." Galang mengerutkan kening, merasa heran dengan kedatangan Mamanya.
"Untung saja, hari ini aku belum berangkat ke perusahaan Nadine," lanjut Galang sambil tersenyum.
"Mama hanya ingin mengunjungimu, Galang. Sudah lama Mama tidak menengok restoran kamu. Terakhir Mama ke sini saat acara resepsi pernikahanmu dengan Nadine," ujarnya.
"Ternyata semakin bertambah maju ya?" Perempuan tua itu berusaha mengembangkan sebuah senyuman.
"Berkat doa Mama, Alhamdulillah restoran Galang semakin maju dan memiliki cabang dimana-mana."
"Syukurlah." Ningsih mencoba untuk bersikap manis.
"Doa seorang Ibu pastinya selalu dikabulkan oleh Allah dan kamu tahu juga, kan bahwa surga itu di bawah telapak kaki Ibu?"
"Aku tahu," ujarnya. dia selalu merasa tak enak apabila sang Ibu mengucapkan kata-kata itu.
"Galang, ada yang ingin Mama tanyakan kepadamu." Rona wajah Ningsih tiba-tiba berubah menjadi serius.
*
*
By: Jannah Zein
Ikutin terus ceritanya ya,. teman-teman ...
Jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya 🙏🙏
Sambil nunggu up, yuk intip karya temanku yang lain.
yg jahst tu kel nya