Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 18
Braaaakkk
Aruna sepertinya sudah tak kuat dan tak punya tenaga lagi untuk bertarung. Sehingga membuat dia jatuh pingsan. Edwin yang sudah berhasil melumpuhkan Bruno segera berlari dan melihat keadaan Aruna.
"Urus si Bruno dan anak buahnya! Bawa mereka semua ke markas kita!" perintah Edwin kepada Ramon yang tak jauh darinya.
"Aruna!" panggil Edwin.
Dia mencoba menepuk-nepuk pipi gadis yang sudah terdapat beberapa lu-ka le-bam di kedua pipinya. Edwin segera menggendong tubuh lemah Aruna dari sana dan membawanya ke mobil karena Aruna tak kunjung mau sadar dan membuka matanya. Mereka pulang ke markas dengan membawa kemenangan. Dalam pertempuran pasti ada saja korbannya. Dan begitupun di anggota mereka ada dua orang korban te-was dan selebihnya mengalami lu-ka.
Mereka semua mendapatkan perawatan dari dokter dan perawat khusus yang bekerja untuk mereka. Dan juga beberapa orang yang memang belajar maslaha medis dasar. Hal itu berguna untuk mereka di saat darurat.
"Bagaimana keadaan Aruna dok?" tanya Edwin yang terlihat khawatir.
"Dia akan segera sadar. Dan semua lu-kanya sudah di obati. Termasuk lu-ka di punggung yang masih belum kering kembali mengeluarkan cairan merah. Mungkin karena dia terkena pukulan lagi," jelas Dokter.
"Lu-ka di punggung? Lu-ka apa?" tanya Edwin bingung karena selama ini dia melihat keadaan Aruna terlihat baik-baik saja tanpa memperlihatkan kalau dirinya terlu-ka. Bahkan berlatih seprti biasa.
"Seperti lu-ka cam-bukan. Ada beberapa bekasnya juga kemungkinan lu-ka sekarang bukan yang pertama," jelas dokter membuat Edwin hanya menatap gadis kecil itu yang sedang di obati lu-kanya oleh perawat.
"Baik dok!" jawabnya.
Aruna masih terlelap, wajahnya terlihat sangat tenang namun menyimpan kelelahan. Gadis sekecil itu harus ikut betarung demi bisa keluar dari situasi yang dia sebut sebagai neraka.
"Bagaimana keadaan Aruna bang?" tanya Ramon mendekat setelah semua lu-kanya di obati.
"Kata dokter, dia kelelahan," jawabnya.
"Aku tak heran, apalagi dia masih kecil dan harus bertarung dengan mereka yang sudah terbiasa seperti kita. Tapi aku salut karena dia bisa bertahan sejauh ini. Tak mudah bagi anak sekecil dia. Malang sekali jadi Aruna, menjadi anak orang kaya dan sekaligus Pimpinan kita tak menjamin membuatnya hidup bahagia selayaknya anak seumuran dia! Bahkan dia tak di akui ayahnya sama sekali!" jawab Ramon.
Edwin tak menjawab sama sekali ucapan Ramon. Dia hanya diam menatap Aruna yang masih betah tertidur. Mereka membiarkan Aruna untuk istirahat, sepertinya dia memang butuh tidur yang banyak. Kurang istirahat karena harus sekolah dan juga latihan setiap malam.
"Kamu sudah bangun? Nyenyak sekali tidurmu!" kekeh Edwin yang duduk di kursi sebelah ranjang Aruna.
Sambil menenteng gelas berisi kopi hitam yang masih terlihat mengepul. Sedari tdi dia menunggui Aruna di sana. Dia juga mendengar beberapa kalimat yang membuatnya bertanya-tanya. Aruna sepertinya bermimpi buruk, entah mungkin itu adalah semua perasaan yang berada di bawah alam sadarnya.
"Jam berapa ini bang? Aku harus sekolah!" tanya Aruna bangkit dan menyibak selimutnya.
"Memangnya sejak kapan hari Minggu sekolah?" tanya Edwin menaikkan sebelah alisnya.
"Loh sekarang hari Minggu?" tanya Aruna yang baru tersadar.
"Hem, istirahat lagi..kau butuh istirahat, nanti Ramon bawakan sarapan untukmu!" jawab Edwin bangkit dari duduknya setelah memastikan keadaan Aruna baik saja.
"Ck! Aku nggak lumpuh dan bukan jompo Om. Aku bisa ke sana sendiri dan mengambil makananku!" jawab Aruna yang memang tak pernah mau di kasihani.
"Baiklah! Kalau begitu bangun, sarapan dan minum obatnya. Memang kamu mau besok ke sekolah dalam keadaan bonyok seperti itu?" jawab Edwin yang sedikit demi sedikit mulai memahami gadis yang seusia dengan adiknya itu.
"Iya Om. Bagaimana hasilnya? Apa kita berhasil menang?" tanya Aruna.
"Iya, kita sudah berhasil menang. Sore nanti Tuan Bima akan kesini, maka dari itu sebelum dia datang gunakan kesempatan untuk beristirahat!" jawab Edwin membuat Aruna menatap pria yang sekitar berumur tiga puluh awal.
Aruna bangkit dan melangkahkan kakinya pergi dari kamar yang di khususkan untuknya. Edwin menempatkan Aruna di kamarnya dan tak di tempat khusus untuk pengobatan seperti yang lain. Hal itu dia lakukan selain karena Aruna adalah anak dari pimpinannya. Aruna juga satu-satunya wanita di sana.
"Om Ramon yang masak?" tanya Aruna saat melihat ada makanan di meja tang biasa mereka gunakan untuk berkumpul.
"Jadi kamu pikir siapa? Di sini kita harus mandiri, kalau lapar ya masak sendiri. Sudah jangan banyak tanya, cepat makan biar kamu cepat besar!" jawab Ramon membuat Aruna mencebikkan bibirnya.
"Lumayan!" jawab Aruna saat menyuapkan makanan.
"Astaga! Cuma lumayan! Ini adalah makanan terbaik yang pernah aku buat tahu!" jawab Ramon tak terima.
"Iya ini lumayan enak sekali," dengar dulu sampai akhir, Om! kebiasaan deh suka potong-potong!" jawab Aruna membuat Ramon tersenyum lebar dan suka sekali jika makanannya di puji.
"Makan! Nggak usah berisik!", tegur Edwin.
"ck! Kamu tak pernah memuji masakan aku, Bang!" protes Ramon.
"Yang terpenting aku selalu menghabiskan makanannya. Mau enak atau tidak!" jawab Edwin membuat Aruna menatap bergantian kedua pria yang ada di depannya.
Aruna merasa memiliki teman saat berada di markas. Walau mereka berusia lebih tua darinya, tapi mereka begitu menghargai dia dengan segala kekurangan yang dia miliki. Markas ini selain tempat yang aman untuknya, juga merupakan tempat yang nyaman. Aruna kembali beristirahat setelah meminum obat, dia tak mengeluh sama sekali kepada keduanya. Padahal saat ini badannya demam dan seluruh tubuhnya terasa ringsek. Dan benar kata Edwin, dia sedang butuh istirahat.
Edwin terlihat menatap pintu kamar Aruna yang tertutup dari tadi. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Tapi perkataan dokter membuatnya kepikiran.
"Apa Tuan Bima selama ini menyik-sa kamu seperti itu? Bahkan bukan hanya melakukan latihan pisik selama ini? Tapi kenapa? Bukannya kamu adalah anak kandungnya? Hasil tes DNA juga jelas kalau kamu anak kandung Tuan Bima. Lalu apa alasannya?" seru Edwin sedikit bingung dengan yang di lakukan oleh pimpinannya.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/