Martini Salsabila Utari.
Dia adalah istri seorang preman terkenal bernama Gres Sandy.
Ini adalah kisahnya dan juga isi diarynya sejak masih di bangku SMP.
Kisah cinta juga persahabatannya yang penuh gejolak rasa serta dilema berwarna.
Kisah perjalanan hidupnya hingga menjadi istri dari seorang preman yang penuh suka serta duka pastinya.
Selamat membaca🙏🙏🙏Semoga tulisan sederhana author amatir ini mendapat kesan di hati para reader🙏🙏🙏
Mohon dukungan like, komen serta votenya jika berkenan🙏🙏🙏 Terimakasih banyak🙏🙏🙏😍😘💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KESADARAN YANG HILANG
"Alhamdulillaaah... Akhirnya!... Rie? Ririe?... Hehehe... ga papa khan, Rie?"
Aku terhenyak kaget.
Melihat wajah-wajah cantik satu persatu dengan guratan kelegaan disana. Senyum mereka mengembang membuatku ikut tersenyum.
"Auww!!!!!"
Aku meringis kesakitan.
Hah?!?!?... Apa yang terjadi pada diriku????
Bibirku sakit. Dan terasa berat sekali.
Segera kuraba pelan-pelan. Sakit.
"Udaaah!! Jangan dipegangin mulu! Bengkak itu!" Kak Maya menegurku dengan suara khasnya.
Hah??? Bengkak????...
Ternyata... Aku, kena jotosan abang Rizal semalam ya? Karena waktu itu aku menarik bang Gres guna melerai pertikaian mereka yang makin sengit.
"Ini udah pagi kak?"
"Hahaha... Masih jam 9 malem, Rieeee!!! Ya Allah ya Tuhan, ni anak ya? Emang kamu ngerasa pingsan berapa malem?"
Aku tersenyum, tapi membuatku meringis kesakitan.
"Mereka pada kemana, Kak Dahlia?" tanyaku segera setelah ke"ogeb"anku menghilang dan fikiranku kembali normal.
Kak Dahlia menunjuk kearah pintu. Dan tanpa perlu komando, pintu kamar kost-anku langsung terbuka dan muncul dua kepala manusia dari baliknya.
"Si Ririe udah sadar?"
Abang Gres langsung menghampiriku terlebih dahulu. Membuat para perempuan sedikit menyingkir karena kamar kost yang tak terlalu luas.
"Rie! Lu ga papa khan? Apa mending kita kerumah sakit?" pertanyaan abang Gres membuat jatuh airmataku. Aku terharu, atas perhatiannya yang sangat tulus kurasa.
"Bangs*t, gue bilang jan jadi cewek cengeng! Malah nangis!!!"
Lagi-lagi aku hanya bisa segera menghapus lelehan airmataku.
Bang Rizal menarik tubuh bang Gres hingga sedikit menyingkir tanpa perlawanan.
"Yuk, bangun Mar! Bunda pengen ketemu elu katanya. Kangen!"
"Apaan si lu!? Bunda, bunda! Bunda piara akan daku!!!!!!!"
Aku hanya terpaku melihat kerusuhan kembali tercipta dihadapanku. Tapi kali ini hatiku yang menghangat.
Aku terharu.
Haruskah aku bahagia diantara keributan dua pria ini karena memperlihatkan kepeduliannya padaku?
Dosakah aku jika hatiku benar-benar merasakan kehangatan ini ya Tuhan?
"Udah, udah! Kalo kalian ribut terus, justru buat si Ririe tambah kejer, khan! Kamu juga Gres! Kamu harusnya sebagai kakak lebih ngemong. Tanya dulu adeknya baik-baik! Bukan main jotos temannya sembarangan!"
Perkataan kak Maya, perempuan yang usianya lebih banyak membuat abang Gres diam. Tapi kurasakan ia memendam amarahnya karena rahang pipinya terlihat mengeras.
Bang Rizal pun terlihat menunduk. Entah apa yang ada didalam fikirannya. Tapi aku mengenang kembali kebaikan bundanya abang Rizal. Dan aku benar-benar tak peduli, menangis aku sejadi-jadinya.
Bomat lah, mau bang Gres membentakku dengan perkataan kasarnya. Tapi aku ingin melampiaskan kesedihanku dan kehampaan dalam jiwaku.
"Udah sana kalian, para cowok! Biar Ririe kami yang urus!... Sana, sana! Pada keluar!!!"
Kali ini kak Lyona yang bersuara. Sedikit kasar mendorong keduanya keluar dari kamar kostanku.
Aku masih menangis sesegukan meski sesekali meringis sakit.
Aku merasa kehangatan luar biasa dalam hatiku. Dipeluk oleh keempat gadis cantik yang kini mendukung dan menyemangatiku untuk kembali tersenyum.
"Udah, dek! Jangan nangis lagi!... Tar bibirmu tambah monyong lho!"
"Iya! Tar jadi 'bimoli'!"
"Apa itu BIMOLI? Minyak kemasan khan?"
"Bimoli, bibir monyong lima senti!"
Wkwkwkwk...
Pecah tiba-tiba kamar kost-anku karena suara tawa kami yang menggema.
"Auw, sakit!" Aku hanya bisa meringis menahan sakit karena tergelitik untuk tergelak.
"Tidur barengan yuk?" ajak kak Senja membuat yang lain saling pandang.
"Aku ga bisa tidur kalo banyakan!"
"Aku juga ga bisa tidur kalo ga pake kasur!"
"Tidur aku tuh grusak-grusuk, tauuuuu!!! Ga bisa tidur desak-desakan!"
Lagi-lagi aku tersenyum. Argumen mereka macam-macam membuat wajah kak Senja meredup.
Tapi tak lama kemudian, wajahnya kembali cerah. Dan mengajak ketiga kakak-kakak lainnya untuk kembali ke kamar masing-masing agar aku bisa beristirahat dengan tenang.
(Hiks huaaaaaa... Thooooor, emangnye mati, 'beristirahat dengan tenang')
Mereka bubar. Kembali kekamarnya masing-masing. Membuatku menarik nafas panjang mengenang kembali kejadian tadi dengan memutar memori ingatan.
Hadeeeuuuuh!!!!... Aku hanya menghela nafas sekali lagi. Guna menghilangkan sedikit bebanku yang masih mengganjal.
Seperti mimpi tapi bukan mimpi. Rasa berhalusinasi namun kesadaranku tidak lagi hilang.
Hidupku sungguh berwarna bagaikan pelangi setelah hujan disore hari.
Namun pelangi itu tidak terlihat indah bagiku. Karena warnanya tidak se-soft warna orang biasa yang memandangnya.
Pelangiku warna gelap dan pucat semua.
Mungkinkah karena aku ANAK HARAM? Membuat setiap gerak-gerikku juga terlihat buruk dan menyeramkan.
Bukankah perbuatan orang-orang yang menjadikanku HARAM yang seharusnya dikatakan HARAM? Tapi kenapa kebanyakan orang justru membully dan 'menelanjangi' sosok korban yang seharusnya dilindungi keberadaannya yang sangat tidak ingin siapapun menyandang predikat buruk itu?
Orang dewasa memang picik jalan fikirannya. Dan anak-anak pun mengikuti cara mereka seperti bayangan.
Hhhh...
It's okay, Ririe! Fighting, Ririe!!! No problemo, right? Semangat 3x!!!! Toh selama ini kamu sudah melewatinya dengan banyaknya kebaikan Tuhan padaku! Oke? Senyum, senyum...
No girl, no cry! Just keep smile, n' go with the flow!
Abang Gres masuk kekamarku tiba-tiba. Membuatku yang baru saja hampir tenggelam dalam alam bawah sadar kembali membuka mata dan mengekor langkahnya dengan ekor mataku.
"Udah, tidur! Besok jangan dulu sekolah!"
Dia menarik selimutku hingga keatas dadaku. Membuatku nyaris menahan nafas ketakutan sendirian.
Tapi syukurlah, tangannya hanya mengangkat daguku sedikit. Berusaha sepelan mungkin sepertinya, mungkin takut aku kesakitan.
Abang membuka kantong plastik hitam yang dibawanya. Ada sepotong es lilin. Yang akhirnya dia ambil dan tempelkan dibibirku yang terluka akibat hasil pertempuran ga jelasnya dengan bang Rizal.
"Siapa itu Rizal?"
Aku tak berani menatap balik tatapannya yang tajam seakan menghujam jantungku.
"Jawab! Kalo ga dijawab, muka lu ancur gua tambahin jotosannya!"
Aku menunduk seraya menelan salivaku.
"Abang Rizal adalah dewa penolongku!"
"Wooow, anjii*iiimm!!! Dewa penolong! Kalo lu apa? Dewi Penderitaan?? Keren sangat ucapan lu!!!!"
Aku lupa merangkai kata sebelum bicara. Dan akhirnya justru memancing kemarahan abang Gres yang membuatku bingung akan kemarahannya itu.
Aku bicara jujur. Apa adanya. Dan memang itulah kenyataannya. Karena beberapa kali abang Rizal menolongku disaat yang sangat tepat.
Bahkan bila aku tidak mengenal abang Rizal, mungkin jalan cerita kehidupanku akan berubah tidak seperti sekarang ini. Dan mungkin aku juga tidak akan mengenal abang Gres jika tak bertemu abang Rizal.
Tapi rupanya penjelasanku membuat amarah abang Gres kembali mencuat kepermukaan.
Hhh... Bingung aku!
Hanya bisa menunduk menahan airmata yang nyaris meluncur dari sudut mataku.
Abang meringkuk rebahan diujung kasurku setelah memasukkan kembali es lilin kedalam kantong kresek hitam. Memang ini adalah kali pertama ia tiduran dikamarku. Biasanya hanya duduk, merokok sambil membawa segelas kopi hitam yang ia beli di warung kopi dekat kostan.
Hampir aku mengeluarkan perkataan, "Abang ga pulang?". Tapi untung kuurungkan karena kesannya pasti aku mengusirnya agar segera pergi sedangkan semuanya ini, yang bayar kostan ini adalah dia.
Aku hanya menarik nafas panjang. Kembali memejamkan mata dan merapatkan selimutku yang sebenarnya gerah tapi aku takut terjadi sesuatu.
Dan ini seumur hidup pertama kali aku tidur sekamar dengan seorang lelaki. Bahkan dengan papaku dahulu pun aku sepertinya tak pernah.
Ya Allah, jagalah tidurku dari segala macam gangguan dan marabahaya. Aamiin ya Allah ya Robbal'alamiin...
-Bersambung-