Andini wulandari mempunyai mata yang indah dengan warna kecoklatan. Datang ke ibukota untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Kedatanganya ke ibu kota membuat hidupnya berubah saat pertemuan tidak sengajanya dibandara dengan seorang pria bernama Bima. Bima mulai jatuh cinta kepadanya saat pandangan pertama tetapi ada hal lain yang Andini tidak ketahui tentang Bima. Hal lain apakah itu? Bagaimana kisah selanjutnya? silahkan membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvani Rosita Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bumi khatulistiwa.
Tangan Andini menggengam erat pada kursi pesawat, sebuah pendaratan yang mulus di bandara Sis Aljufri Palu ibu kota Sulawesi Tengah. Ia masih mengatur nafasnya setelah sebuah pendaratan yang menegangkan baru saja terjadi. Kata pertama yang Andini ucapkan ketika pesawat telah berada pada posisi tenang adalah 'alhamdulillah'. Bisma meliriknya mengucapkan kata yang sama seraya mengucap syukur pada yang maha esa.
Pertama kalinya di ucapkan Bisma saat kakinya berpijak di kota Palu adalah 'HOT'. Kota yang terletak di dekat garis khatulistiwa dan jika berada disini maka akan disuguhkan dengan cuaca panas. Terkadang hujan mengguyur kota itu dan menjadi berkah tersendiri untuk mereka yang sering merasakan hawa panas. BDW Andini bukanlah tinggal di kota Palu melainkan agak dipinggiran kota. Rumahnya sekitar tiga puluh menit perjalanan dari ibu kota Sulawesi Tengah itu.
Berbeda dengan ibu kotanya, dipinggiran kota hamparan sawah terbentang luas, suasana hijau disuguhkan sepanjang jalan membuat mata tak berhenti memandang keindahan yang diberikan alam semesta. Walaupun hanya sekitar tiga puluh menit dari pusat kota kita sudah bisa menikmati keindahan hamparan hijau sepanjang jalan. Dulunya Andini tinggal di pusat kota itu, rumah mereka tak jauh dari pantai hingga suatu kejadian tangal 28 September 2018 tidak pernah dia lupakan dalam hidupnya.
Kejadian hari itu mampu memporak-porandakan seluruh isi kota setelah terjadi gempa besar diikuti dengan gelombang tsunami dan likuifaksi yang membuat mereka kehilangan segalanya. Dari kejadian itu dia kehilangan harta bendanya dan untung saja mereka masih bisa selamat dari bencana yang menyedihkan itu. Saat kejadian itu untung saja mereka tidak berada dilokasi kejadian, mereka berada dirumah nenek mereka dia pinggiran kota yang mereka tempati sekarang. Agak jauh dari laut tetapi gempa itu berpuluh-puluh kilometer dirasakan oleh bumi Sulawesi bahkan hingga pulau Kalimantan.
Suara gemuruh dan goncangan keras tak henti-henti mereka rasakan disenja itu, pergeseran tanah dibeberapa tempat karena kerasnya gempa itu membuat rumah-rumah masuk kedalam tanah hingga sekarang ribuan mayat terkubur didalamnya. Andini meneteskan air matanya saat sorot matanya meluas dibandara tersebut. Udara panas tak dia pedulikan saat mengenang kembali derita mereka yang harus memulai kehidupan dari nol.
Kehilangan teman, sanak saudara dan beberapa orang dia kenal membuatnya selalu ingin menangis bila mengingatnya kembali. Sesuatu yang ingin dia lupakan tetapi sulit untuk dilupakan. Orang tuanya begitu trauma setelah kejadian itu hingga mereka memutuskan untuk tinggal dipinggiran kota dengan berternak dan bertani. Dulunya mereka mempunyai kafe yang sangat maju pesat di dekat pantai itu tetapi takdir berkata lain mereka harus merelakan semua harta benda mereka terhapus oleh tsunami.
"Kamu sangat merindukan kampung halamanmu?" Ucap Bisma saat melihat Andini meneteskan air matanya.
"Sangat, sangat merindukannya." Sahutnya.
Mereka telah berada di dalam taksi, Andini sengaja tidak memberi tahu kepada orang tuanya bahwa dia akan datang hari ini.
Bisma menarik kepala Andini bersandar dibahunya lalu menghapus air mata yang jatuh dikedua pipinya.
Aku beruntung bertemu dengan wanita sepertimu. Terima Tuhan karena engkau telah mempertemukan aku dengan wanita sebaik dia, terima kasih kak Bima karena perjodohan ini.
Setelah menempuh perjalan sekitar tiga puluh menit taksi berhenti disebuah rumah dengan cat hampir pudar. Tak ada pagar tinggi yang membentengi rumah itu dan hanya pagar kayu yang membatasi antara rumah Andini dan rumah disebelahnya. Bisma kali ini meluaskan pandangannya melihat beberapa orang yang berkumpul diteras mereka sambil menatap kedatangan Bisma dan Andini.
"Ini rumah nenekku, untuk waktu yang lama orang tuaku tinggal dirumah ini. Ayo masuk." Ajak Andini saat Bisma hanya terpaku seraya memperhatikan lingkungan sekitarnya.
Tok..tok..
Saat pintu terbuka mamanya Andini tidak percaya jika menantunya bersama anaknya berdiri dihadapannya.
"Dini? Astaga nak, datang kok tidak bilang-bilang. Maaf loh nak Bisma keadaan rumah Dini seperti ini." Kata mamanya Andini.
"Hehehe aku suka lingkungannya tenang dan terasa damai bu." Bisma tersenyum.
"Istriku dimana kamar kita? Aku mau buang air kecil." Bisik Bisma.
"Hehehe kamar kita? Dikamar tidak ada WC suamiku. Kamar mandi hanya satu dirumah ini dan kita sekeluarga memakainya." Andini hanya tersenyum mendengarkan ucapan suaminya.
"Benarkah?" Bisma mengerutkan dahinya seakan tidak percaya dengan ucapan Andini.
"Antar barang kalian kedalam kamar nak dan tunjukan letak kamar mandinya kepada suaminya."
"Iya ma. Eh mama sama adik dimana?"
"Lagi diempang, mereka lagi memancing ikan." Sahut mamanya Andini.
"Oh asyik, aku juga akan kesana."
Setelah mengantar Bisma kedalam kamar mandi Andini merebahkan tubuhnya sejenak diatas tempat tidur, tak lupa dia membuka jendela kamarnya. Saat dibukanya jendela kamar terlihat hamparan sawah yang luas.
"Aku merindukan pemandangan seperti ini." Gumamnya lalu kembari berbaring.
Bisma masuk kedalam kamar dan ikut berbaring disamping Andini. Bukan hanya berbaring Bisma mulai meletakkan hidungnya yang mancung dileher Andini. Tangannya menahan tangan Andini diatas kepalanya agar Andini tidak bisa bergerak untuk menolaknya.
"Tiba-tiba aku ingin melalukannya dikamar ini istriku."
Andini melotot "Kamu jangan gila?" Jawabnya tak percaya.
"Ayo lakukan! aku serius. Aku sudah mengunci pintunya istriku."
Andini menghela nafasnya "Apa dia tidak punya rasa lelah." Batinya bergejolak.
momen yg sudah lama di tunggu oleh Bisma...
rajin ibadah tp tidak tahu aturan agama terhadap pernikahan.
lucu sekali kau Andini
baru nyaho kmu, nt bisma 😅