Cinta Adharra dan Rafael sudah terjalin saat mereka masih kecil. Usia keduanya yang terpaut beberapa tahun dan masalah silih berganti datang menguji cinta keduanya. Terlebih setelah kesalahan besar yang Rafael lakukan membuat Adharra goyah dalam kekecewaan. Walaupun saat bersama Rafael membuatnya lemah dan terluka tapi dia tidak bisa berhenti mencintainya, dia telah terjebak dalam cinta Rafael.
Akankah mereka bisa mempertahankan kisah asmaranya? Simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinbisar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Menghitung hari dengan terus melirik kalender. Arra yang dulu masih kekanakan dan memang seorang anak-anak kini sudah bertransformasi menjadi remaja yang sedikit pendiam. Lebih tepatnya introvert.
Tiap beberapa minggu sekalian ia masih bisa leluasa menghubungi Angga ataupun Rafael. Namun seiring waktu berjalan dan sekarang setelah Arra duduk di kelas enam SD.
Komunikasi itu seakan semakin singkat dan jarang. Mungkin juga faktor kerena sudah semester enam dan itu berpengaruh besar dengan kesibukan kedua lelaki yang akan mengejar skripsi kuliah.
Tokk.. Tok...
"Dek.. Arra buka pintunya sayang. Ayo makan, bunda tunggu di bawah," panggil Nisa berlalu dari pintu kamar anak gadisnya.
Semenjak hari dimana Angga dan Rafael bertolak keluar negri untuk meneruskan pendidikannya. Disitu pula sikap Arra perlahan berubah.
Ia tak lagi bersikap manja, selalu ingin menjadi pusat perhatian dan selalu apa yang ia inginkan dituruti. Yang ada sekarang gadis itu lebih menyukai hal-hal sepi, sunyi, dan senyap.
"Iya bunda, sebentar lagi Arra akan turun," sahutnya membuka pintu dan melirik ibunya yang berjalan menuju ruang tamu.
***
Tita dan Sifa bahu-membahu mempromosikan selebaran kertas untuk usaha mereka. Ia, Tita dan Sifa kini sedang merintis usaha kecil-kecilan.
Hanya kedai kecil dengan makanan rumahan yang dibungkus bowl kertas agar simple dan bisa dibawa-bawa juga bisa langsung dibuang.
"Bismillah semoga bisnis kita lancar," Tita menyerahkan satu botol mineral, dan langsung disambut bersemangat Sifa.
"Aamiin. Biar kita bisa bahagiain orang tua masing-masing. Gue mau Bapak naik haji, kalau bisa juga dapat jodoh. Kasihan nyokap sendirian terus, sedang gue sibuk kuliah sama merintis usaha," seru Sifa berucap santai.
Sudah tidak asing lagi bagi Tita mendengar cerita dari sahabatnya itu. Pasalnya dari awal mereka bertemu, gadis itu sangat terbuka dan friendly. Dan itu hanya pada Tita, mungkin Sifa merasa kalau Tita itu satu frekuensi dan dapat dipercaya. Apalagi Tita orangnya cukup pendiam dan tak suka mengobrol dengan orang asing selain dengan ia teman akrab dan satu-satunya. Mungkin.
"Haha iya, Aamiin yang kenceng buat jodohnya Sifa." balas Tita berkelakar. Ia bahkan terkekeh saat mengatakan itu.
"Apaan lo ta. Jodoh-jodoh. Lo ah gua mah udah punya pacaran. Sekarang tuh giliran elo sama bokap gue. Eh btw gimana kalau kita jodohin aja Mama lo sama Bapak gue. Gimana Ta, ide baguskan," pungkas Sifa asal ceplos. Raut wajahnya bahkan berbinar riang membayangkan jika ia akan memiliki orang tua lengkap dan lagi membayangkan mama dari temannya itu akan ia panggil dengan sebuah Mama.
"Kita bakal jadi saudara, Ta. Boleh ya," rayu Sifa lagi menggerayapi lengan Tita yang membuat si empunya merasa geli.
***
Wajah Vira muram saat mengetahui Gerald tidak bisa menemaninya jalan-jalan ke mall. Lelaki yang sudah menjadi pacarnya hampir 2 tahun lamanya itu, sikapnya masih sama seperti dulu saat sekolah SMA. Dingin!
Meskipun status mereka adalah sepasang kekasih, namun Gerald sangat jarang bisa bersikap romatis dan selalu ada untuknya.
"Gue punya pacar, tapi berasa kaya jomblo." debus Vira menghentak-hentakan kakinya.
Suara dari lantai yang beradu dengan Sepatu heels nya bergema di ruang tengah rumahnya.
"Kamu kenapa nah?" Novia yang terganggu dengan suara berisik itu keluar dari kamar dan menghampiri Vira yang masih di posisinya.
"Ada maslah lagi hemm, cerita sama Mama." rayu Novia menenangkan.
"Mama gak usah sok peduli sama Vira. Mama tuh sama aja kaya yang lainnya," ucap Vira marah dan meninggalkan Novia.
***