NovelToon NovelToon
Sistem Sultan Tanpa Batas

Sistem Sultan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eido

Dion Arvion, siswa kelas tiga SMA yang kurus dan pendek, menjalani hari-harinya sebagai korban penindasan.

Diperas, dihina, dan dipaksa menyerahkan uangnya oleh teman-teman sekelas, Dion hidup dalam ketakutan dan keputusasaan tanpa jalan keluar.

Hingga suatu hari, saat hatinya hampir hancur, sebuah suara terdengar di dalam benaknya, sebuah layar hologram muncul di hadapannya.

[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]

Sejak saat itu, hidup Dion berubah drastis. Dengan bantuan sistem misterius, ia tidak hanya menjadi semakin kuat, tetapi juga berubah menjadi crazy rich dalam waktu singkat.

Uang, kekuatan, dan pengaruh, semuanya berada dalam genggamannya. Kini, Dion bukan lagi korban.

Dengan senyum dingin dan kekuatan sistem di sisinya, ia bersiap membalas semua penghinaan, menghancurkan para penindas, dan menginjak dunia yang pernah merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: PERTEMUAN DION DAN ALEX

Bus berhenti dengan desis pelan di halte seberang gerbang sekolah.

Dion dan Barra turun hampir bersamaan. Keduanya berdiri sejenak di tepi trotoar, menatap gerbang SMA Cahaya Senja yang menjulang di seberang jalan. Besi hitam itu tampak biasa saja, namun bagi banyak siswa, ia adalah pintu menuju dunia kecil penuh hierarki, kekuatan, dan ketakutan yang tak tertulis.

“Udah kebiasaan ya, tiap pagi lewat sini,” ucap Barra sambil tersenyum kecil, “Iya,” jawab Dion singkat.

Mereka berjalan berdampingan, menyebrangi jalan raya yang cukup lebar melalui zebra cross. Kendaraan melambat, klakson terdengar jauh, dan angin pagi menyapu wajah mereka.

Obrolan terus mengalir tanpa terasa dipaksakan, tentang game yang sama-sama mereka mainkan.

Tentang novel yang sama-sama mereka baca, tentang karakter favorit dan ending yang bikin kesal.

Percakapan itu terasa alami, seperti dua orang yang sudah lama saling mengenal, bukan baru duduk berdampingan di bus pagi ini.

Hingga mereka memasuki koridor sekolah, langkah kaki mereka baru beberapa meter ketika.

Sret.

Sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram bahu Barra.

“Hey…”

“Bukankah ini si Sapu Lidi?”

Suara mengejek itu terdengar dari belakang, kasar, santai, dan penuh kebiasaan merendahkan.

Dion dan Barra berhenti. Mereka berbalik, empat orang berdiri di belakang mereka.

Barra langsung menegang.

“Ra-Rangga…?” suaranya bergetar, “ada urusan apa…?”

Tangan yang mencengkeram bahunya adalah milik seorang pemuda bertubuh cukup tinggi, sekitar 175 sentimeter, tubuh ramping namun padat, beratnya kira-kira 68 kilogram. Wajahnya tampan dengan garis tajam, senyum tipis yang tak pernah benar-benar ramah.

Rangga.

Salah satu murid yang terkenal kuat. Orang yang bisa mengalahkan sepuluh murid laki-laki sendirian, dan menikmati reputasi itu.

“Kau nggak lupa kan,” ucap Rangga sambil menepuk bahu Barra ringan, seolah bercanda, “beliin aku makan, Sapu Lidi?”

Tiga anak buahnya di belakang tertawa kecil, senyum mereka licik, penuh kebiasaan menyaksikan ketakutan orang lain.

“Ta-tapi…” Barra menelan ludah, “a-aku kemarin sudah beliin kamu makan… hari ini aku nggak ada duit…”

“Hah?” Nada Rangga berubah, matanya menyipit.

“Hey, Sapu Lidi,” katanya, kini dingin, “kalau aku suruh kamu beliin makan, ya beliin.” Nada itu bukan permintaan. Itu perintah.

“Hiiik!”

Barra refleks mundur setengah langkah. Tubuhnya gemetar. Rangga adalah salah satu nama yang selalu muncul di pikirannya setiap kali ia merasa takut datang ke sekolah.

Ia hendak berlari ke arah kantin, namun langkahnya terhenti, Dion menahan lengannya.

“Tunggu,” ucap Dion tenang, namun suaranya dingin, “apa yang kamu lakukan, Barra?”

Barra menoleh panik.

“Apakah kamu benar-benar mau nurutin kata-kata bangsat ini?”

Kata bangsat itu jatuh jelas di udara. Barra terkejut, Rangga, dan anak buahnya, ikut terdiam sesaat.

“Ta-tapi, Dion…” suara Barra bergetar semakin parah, “kalau aku nggak beliin, aku bakal dihajar!”

Dion menatap Barra lurus-lurus.

“Kamu nggak perlu nurut,” katanya pelan namun tegas, “kamu harus melawan. Apa kamu mau terus begini?”

Barra membuka mulut, ragu.

“A-aku...”

“WOI!” Rangga memotong kasar.

Ia melangkah maju setengah langkah, wajahnya mulai memerah.

“Kau siapa, hah?!” bentaknya ke arah Dion, “berani-berani nya, kau ngelarang si kurus ini buat beliin aku makan!”

Dion menatapnya datar. “Oh,” katanya ringan, hampir santai, “jadi kamu pengemis ya? Hobi minta-minta beliin makan begitu.”

Sengaja, kalimat itu jelas disengaja.

“BANGSAT KAU!”

Rangga meledak. Urat-urat di dahinya menonjol, rahangnya mengeras.

“Apa maksud kau, aku pengemis, hah?!”

“Kau siapa dari tadi? Sok jago ganggu urusan orang!”

Aura Rangga berubah. Tekanan kasar keluar dari tubuhnya, pengalaman bertarung, kebiasaan menindas, semuanya menekan ruang di sekitarnya.

Salah satu anak buahnya tiba-tiba mendekat dan berbisik cepat di telinga Rangga.

“Bos… dia kayaknya Dion.”

“Yang ngalahin Darma.”

Rangga terdiam sekejap, lalu.

“Hoho.”

Ia tertawa pelan, penuh minat.

“Jadi kau yang nama nya Dion?”

“Yang lagi viral itu?”

Dion mengernyit tipis. 'Viral? Kenapa kedengarannya aneh…'

“Apa maksudmu?” tanya Dion.

“Hahaha!” Rangga tertawa lebih keras, “Kau bener-bener nggak tahu?” Ia menyeringai.

“Kalau aku bisa ngalahin kau,” lanjutnya dengan nada mengejek, “berarti aku juga bakal jadi terkenal dong?”

Barra berdiri di belakang Dion, tubuhnya gemetar hebat. Aura Rangga menekannya seperti dinding. Dan yang membuatnya semakin takut, masalah ini awalnya miliknya.

Namun sekarang, teman baru yang bahkan belum lama ia kenal, sudah berdiri di depannya. Melawan orang yang paling ia takuti.

.....

“Mengalahkanku dan jadi terkenal?” suara Dion terdengar tenang, dingin, tanpa emosi, “Percaya diri yang tidak tahu diri.”

Tatapan matanya lurus menembus mata Rangga. Wajah tampannya sama sekali tak berubah, malas, datar, seolah orang di depannya tak lebih penting dari debu di lantai koridor.

“Kau!!” teriak Rangga.

Harga dirinya terasa diinjak. Bukan karena kata-kata Dion semata, melainkan karena ekspresi itu, ekspresi seseorang yang benar-benar tidak menganggapnya ancaman.

Teriakan Rangga menggema di koridor.

“Eh, suara apa itu?”

“Ada yang ribut, ya?”

“Jangan-jangan berantem!”

Siswa-siswi yang lalu-lalang mulai melambat, lalu berhenti. Pandangan mereka tertuju pada kerumunan kecil, Dion, Barra, Rangga, dan tiga anak buahnya. Ponsel mulai terangkat, kamera bersiap merekam.

“Bos, tahan emosi!” bisik salah satu anak buah Rangga tergesa, “banyak yang lihat!”

Rangga mendengus keras. Matanya melirik sekeliling, murid-murid sudah berkerumun cukup banyak. Situasi jelas tidak menguntungkan.

“Brengsek…” desisnya, “kau beruntung hari ini, bangsat!”

Ia berbalik, berniat pergi.

“Pengecut,” ucap Dion datar, “mau lari?”

Kalimat itu seperti paku yang menghentikan langkah Rangga. Tangannya mengepal. Urat-urat menonjol di lengan dan lehernya. Amarahnya nyaris meledak, ia ingin menghantam Dion saat itu juga, di depan semua orang.

Namun sebelum ia sempat bergerak.

“Wah…”

“Ini ramai sekali.”

Suara itu santai, nyaris malas, namun cukup jelas untuk memotong ketegangan. Seorang siswa melangkah keluar dari kerumunan.

Bahu lebar. Postur tegap. Rambut biru yang mencolok, wajah tampan dengan senyum tipis penuh percaya diri. Tingginya sekitar 182 sentimeter, tubuhnya ramping namun berisi kekuatan yang terasa bahkan dari jarak beberapa langkah.

Dia adalah Alex.

“Apa yang ingin kau lakukan di sini, Rangga?” tanyanya ringan.

“A-Alex…?” Rangga tersentak, nada suaranya berubah, gugup.

Alex adalah nama yang tak asing. Jagoan Kelas Bahasa dan Sastra. Rumor menyebutkan ia bisa menjatuhkan enam puluh murid sendirian, dan memiliki koneksi dengan geng yang tak main-main.

“Orang ini,” Rangga menunjuk Dion cepat, “ganggu urusanku sama si kurus, bahkan ngajak ribut!”

Alex tidak langsung menanggapi. Matanya justru berpindah, dan berhenti, menyipit. Ekspresinya berubah.

“Bukankah ini…” bibirnya melengkung, “Dion.” Nada suaranya naik, penuh minat.

Ia melangkah mendekat, jaraknya tinggal beberapa langkah.

“Jadi ini kamu,” katanya antusias, “pria tampan yang ingin sekali kutemui.” Nada bicaranya terdengar sok akrab, hampir berlebihan.

Dion tetap diam. Tatapannya tak bergeser. Tak ada ekspresi senang, tak ada rasa tertarik.

Kerumunan makin membesar.

“Eh, itu Alex!”

“Serius? Dion dan Alex ketemu?”

“Wah, dua orang tampan…”

Bisik-bisik siswi mulai riuh.

“Yang rambut hitam lebih ganteng!”

“Aku suka yang rambut biru!”

“Gila, auranya beda banget…”

Alex tertawa kecil.

“Kamu siapa?” tanya Dion akhirnya, datar.

“Haha!” Alex terkekeh, “wajar kalau kamu nggak kenal aku.”

Ia menepuk dadanya ringan, “Alex Sergio. Kelas Bahasa dan Sastra.” Ia mengulurkan tangan.

Dion menatap tangan itu sejenak, lalu menyambutnya. Jabat tangan terjadi, awalnya biasa. Lalu, perlahan, tekanan meningkat.

Alex menambah tenaga.

Namun detik berikutnya, matanya sedikit membelalak. Kuat.Bukan sekadar kuat lebih kuat dari yang ia perkirakan.

Dion membalas. Tenang, terkontrol, namun tekanannya jelas.

Alex merasakan telapak tangannya berdenyut. Otot lengannya menegang. Ia menahan senyum, namun rasa nyeri mulai menjalar.

'Orang ini… tidak menahan diri,' pikir Alex, justru semakin bersemangat, 'dan lebih kuat dariku.'

Ia yang pertama melepaskan.

“Hahaha!” Alex tertawa, mengibaskan tangannya pelan, “Menarik. Kau benar-benar menarik, Dion.” Tatapan matanya tajam, penuh gairah bertarung.

“Apakah kamu gila?” tanya Dion datar, “dari tadi ketawa terus. Lebih baik ke psikiater.”

Kerumunan terdiam sejenak, lalu beberapa tertawa tertahan.

“Hahaha!” Alex tertawa lebih lepas, “tidak, aku tidak gila.” Ia melangkah mundur, “Kau memang menarik. Sampai jumpa lain kali.” Alex berbalik.

Rangga dan tiga anak buahnya tak berani berkata apa-apa. Mereka segera mengikuti Alex pergi, meninggalkan koridor yang masih dipenuhi bisik-bisik kecewa.

“Yah, nggak jadi berantem…”

“Padahal udah siap rekam…”

“Sayang…”

Kerumunan perlahan bubar.

Dion berbalik dan melangkah pergi, Barra mengikutinya dengan langkah gugup.

“Di-Dion…” suaranya pelan, “kau nggak apa-apa?”

“Tidak papa,” jawab Dion singkat.

Ia melirik Barra. “Kalau mereka berani ganggu kamu lagi, beri tahu aku.” Nada suaranya tenang, tapi tegas, “kamu punya nomor ponselku, kan? Jangan sungkan.”

Barra menelan ludah, lalu mengangguk cepat. “O-oke… aku akan menelepon.”

Mereka berjalan berpisah di persimpangan koridor, Barra menuju kelasnya. Dion melangkah ke arah Kelas Matematika.

Di belakang mereka, koridor SMA Cahaya Senja kembali ramai, namun satu hal sudah jelas, nama Dion kini bukan lagi sekadar rumor.

1
iky__
I keep reading
iky__
up trus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!