novel ini sedang direvisi.
Menceritakan kisah Nana yang tumbuh di tengah keluarga yang berantakan.
Membuatnya hidup tanpa aturan, menjadi gadis yang liar mencari kebahagian.
Namun, suatu hari Nana harus menerima kenyataan bahwa dirinya memiliki Ibu tiri. Siapa sangka Nana yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu, kini mendapatkannya dari wanita simpanan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK INGIN EGOIS
Seorang gadis cantik sedang duduk di sudut kafe ditemani oleh teman lelakinya, mereka adalah Amara dan Lian.
Keduanya sedang menikmati lagu yang dibawakan oleh Tara.
Dan entah ini kebetulan atau bukan, Brian juga berada didalam kafe yang sama.
Tetapi dengan Brian yang posisinya membelakangi Amara tentu saja membuat dirinya tak melihat keberadaan Amara, sampai akhirnya Brian ingin kekamar mandi dan disana Brian bertemu dengan Lian.
Lian masih acuh tak acuh, sebenarnya Brian sangat rindu dengan adiknya itu dan ingin memeluknya.
Lalu Lian segera kembali menghampiri Amara, Brian melihat kearah Lian pergi, Brian hanya dapat melihat rambut gadis yang tertutup wajahnya oleh badan Lian.
Lian meminta Amara untuk memakai maskernya kembali dan Lian mengajak Amara untuk pulang.
Diperjalanan, Amara melihat abang somay lalu, "Lian, stop...stop gue mau itu," tunjuk Amara pada gerobak somay.
Lian menepikan motornya, karena sudah melewati gerobak tersebut Lian jalan mundur menggunakan kakinya.
Amara dan Lian memakan somay tersebut diatas motornya.
Lian memperhatikan Amara yang sangat lahap, padahal sebelumnya Amara sudah makan nasi goreng dan meminum jus saat di kafe tadi.
"Lo laper ya?"
Mendengar pertanyaan itu Amara hanya mengangguk, terlihat Amara mengusap pipinya. Ternyata Amara menitikkan air mata kesedihannya.
Lian melihat itu dan kembali bertanya, "Lo nangis?"
"Enggak, ini cuma pedes," jawab Amara dengan suara yang tertahan dan berat.
Dalam hati Amara, Amara sangat ingin bersama dengan ayah dari anak yang berada didalam kandungannya.
"Andai saja Om tahu, apa yang akan Om lakukan? Aku juga hamil Om, sama sepertinya,"
gumam Amara dalam hatinya.
"Iya udah sekarang pulang yuk, udah malem dingin," ajak Lian seraya memakaikan jaket kulitnya pada Amara.
"Gue rasa lo lebih membutuhkan ini dari pada gue,"
"Nggak papa, pakai aja," jawab Lian.
Kemudian Lian membayar somay tersebut dan mengatakan untuk mengambil kembaliannya.
"Terimakasih," sahut abang somay tersebut.
"Lumayan 20 ribu, Alhamdulilah"
Lian mengantar sampai kedepan kost Amara yang tanpa sepengetahuannya, Aksen sebenarnya mengikuti Lian.
Aksen tak henti-hentinya ingin terus mencari masalah dengan Lian dan kali ini Aksen akan menggunakan Amara untuk memancing kesabaran Lian.
______
Di istana Rindu yang sebenarnya adalah milik Tara, Bima sedang menyenangkan wanitanya yaitu ratu istana tersebut yang tak lain adalah Rindu.
Saat ini Rindu adalah uang berjalan Bima.
Bima menuangkan Anggur merah digelas Rindu kemudian keduanya bersulang.
"Kau tahu pabrik berkembang pesat karena bantuanmu, dan sekarang kami akan membuka cabang di jawa barat," ucap Rindu yang sekarang sudah berada dipangkuan Bima.
"Aku tak membantu banyak, dan aku senang bisa membantumu."
"Cup," Rindu mengecup bibir Bima dan mengucapkan kata terimakasih.
Sepertinya tak puas dengan mengecup lalu Rindu kembali mendaratkan bibirnya di bibir Bima, Bima melayani Rindu dengan setengah hati karena yang berada di otaknya saat ini adalah Tara.
Bima menyudahi ciuman itu dan menurunkan Rindu dari pangkuannya.
"Maaf aku masih ada urusan dan harus pergi," kata Bima dengan membenarkan kemeja yang dipakainya.
"Ck," decak Rindu.
Rindu yang hasratnya belum puas pun menyusul Bima dan menahan Bima dengan mencengkeram kerah kemeja Bima.
"Aku menginginkannya," lirih Rindu dengan mata yang sayu.
"Sial, wanita ini sangat merepotkan," gerutu Bima dalam hati.
Dan demi kelancaran usaha Bima untuk mengambil harta Rindu, akhirnya Bima membopong Rindu membawanya masuk kedalam kamar.
Pertempuran sengit terjadi antara Bima dan Rindu.
Setelah Rindu terkulai lemas Bima masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badannya, Bima merasa beruntung saat keluar dari kamar mandi melihat Rindu yang sudah tertidur pulas.
Bima juga tak lupa mengecek saldo rekening melalui ponselnya, Bima tidak lupa sebelum memyenangkan Rindu dirinya meminta sejumlah uang dan sekarang Bima tersenyum melihat jumlah yang fantastis.
"Senang berbisnis denganmu," ucap Bima dengan wajah yang menoleh kearah Rindu.
Setelah itu Bima pergi dari istana Rindu dan berniat akan menyusul Tara, sepanjang perjalanan Bima hanya memikirkan Tara Tara dan Tara. Agaknya Bima sudah terpesona oleh Tara.
Namun, Bima sedikit kecewa saat sudah sampai di kafe Tara bekerja, Tara sudah off dan Bima tak dapat bertemu dengan Tara.
____________
Di sebuah mini bar, Dewa menghentikan Brian yang terlihat sudah mulai mabuk.
"Lo kenapa? nggak biasanya lo kaya gini?"
tanya Dewa.
"Gue empet sama hidup gue, apa ini karma karna gue dulu ninggalin Mira gitu aja Wa?"
"Jangan menyalahkan diri sendiri, mungkin itu udah takdir kalian enggak jodoh. Kalau lo merasa bersalah mendingan lo minta maaf aja sama Mira."
"Gue nggak tau kabar Mira kaya gimana setelah menikah sama Mel. Lagipula Mira dulu selingkuhin gue, lo tau kan nggak ada toleransi buat gue atas perselingkuhan."
"Hhmmm, tapi lo udah—" belum sempat melanjutkan perkataannya Dewa harus membantu Brian yang sudah mulai oleng.
Lalu Dewa mengambil ponsel Brian yang kata sandinya masih belum berubah, yaitu ulang tahun Ratna.
Dewa berniat menelepon Egi dan saat membuka ponsel Brian, Dewa bertanya-tanya siapa gadis yang menjadi wallpaper ponsel Brian.
"Kalau anaknya nggak mungkin, anaknya juga udah meninggal beberapa bulan yang lalu dan saat itu Ica masih kecil. Berbeda dengan gadis ini," gumam Dewa.
Dewa ingin iseng dengan membuka album galery tetapi sayangnya ponsel Brian berdering, Melinda yang menelepon.
Dewa menerima panggilan itu dan menanyakan alamat rumah Brian.
Setelah itu Dewa kembali memasukkan ponsel Brian kedalam saku celananya dan mulai membantu Brian berjalan menuju mobil Brian.
Dewa yang mengantarkannya pulang.
__________
Dibawah cahaya rembulan, seorang gadis sedang memikirkan nasibnya yang entah akan dibawa kemana. Awalnya dirinya tak terlalu masalah dengan kehidupannya akan dibawa kemana saja karena dia hanya membawa badannya sendiri.
Berbeda dengan sekarang, dirinya tengah mengandung dan usia kehamilannya masih sangat muda. Dirinya tak ingin egois untuk anaknya tetapi dirinya masih tak mau bertemu dengan Brian.
Salah satu cara untuk melepas rindunya pada Brian adalah dengan memandangi foto Brian. Tetapi Amara semakin merasakan sakit saat melihat foto itu. Ingin mengahpusnya sayang ingin menyimpannya sakit.
Lalu Amara kembali mematikan ponselnya, Amara memilih mengerjakan tugas kuliahnya dari pada harus menangis mengingat Brian.
Amara mencoba untuk tidak egois dengan membuat dirinya stres, Amara sangat memikirkan bayi yang sedang berada didalam kandungannya.
Amara mengusap perutnya yang masih rata dan berkata, "Anak mamah harus kuat ya sayang."
Tara yang baru saja masuk kedalam kamar dengan membawa pesanan Amara dapat Melihat kesedihan sahabatnya itu.
"Mara, ini martabaknya."
Mendengar itu Amara menoleh dan mengusap air matanya.
"Terimakaaih," ucap Amara dengan tersenyum.
"Ra, lo lagi sedih gini aja masih sempetnya senyum," kata Tara dalam hati.
Tak terasa Tara pun menitikkan air matanya.
Bersambung..
Happy reading.
Jangan lupa untuk dukungannya kaka^^
soalnya ini kenapa tiba2 si nana meninggal? trus melinda sakit? sama amara berhubungan sma brian? dan brian tiba2 udah cerai sma melinda?
ini apa gue yang ngelengkah2 bacanya apa gimna sii😭
tapi perasaan gue liat ulang kagak salah bacanya🥲