Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16. MASUK KE MULUT SINGA
..."Di antara kemiskinan yang meragukan dan kemewahan yang menguji, seorang tabib harus memilih jalur dan setiap pilihan membawa harga."...
...---•---...
Pagi itu balai kampung terasa berbeda.
Jumlah pasien yang datang berkurang drastis. Kalau kemarin ada lebih dari seratus orang mengantri, hari ini cuma sekitar dua puluh. Dan mereka yang datang pun terlihat ragu-ragu. Mata melirik kiri kanan seolah takut dilihat orang lain, langkah cepat saat dekat pintu, kepala menunduk.
Bambang duduk di meja dengan buku catatan di pangkuan. Kepala tertunduk. Ia tak angkat kepala dari buku kecuali untuk tanya singkat. Wajahnya murung. Bibir menipis, alis bertaut.
"Kang Doni, banyak orang yang sudah daftar kemarin tak datang. Mereka kirim pesan bilang batal."
"Karena rumor yang disebar Ki Darmo?" Doni tanya meski sudah tahu jawabannya.
"Ya. Kemarin malam dia keliling kampung dengan beberapa pengikutnya." Bambang tatap bukunya, tak berani tatap Doni. "Mereka bilang kalau orang yang berobat padamu akan terkutuk, keluarganya akan kena sial."
Karyo yang berdiri di pojok ruangan tendang tiang kayu. Keras. Suara gedebuk bergema. "Omong kosong!" Suaranya pecah. "Tari sembuh karena Doni. Mbok Supi selamat karena Doni. Itu bukti nyata, bukan ilmu hitam!"
"Tapi orang-orang takut." Bambang bicara pelan, hampir berbisik. "Mereka lebih percaya dukun yang sudah puluhan tahun mereka kenal daripada tabib baru yang tiba-tiba muncul dengan ilmu yang tak mereka pahami."
Seorang perempuan tua masuk dengan langkah tertatih. Wajahnya keriput dalam seperti kertas diremas berkali-kali, mata berkantung hitam. Ia bawa keranjang berisi telur dan pisang, letakkan di meja dengan tangan gemetar. Jari-jari kurus bergetar seperti daun di angin.
"Nak Doni," katanya suara serak. "Cucuku yang kau obati seminggu lalu sudah sembuh. Kudisnya hilang. Kulitnya mulus lagi. Ini sedikit pemberian dariku sebagai tanda terima kasih."
Doni terima keranjang itu. Tenggorokan tercekat. "Terima kasih, Mbah. Bagaimana keadaan cucumu sekarang?"
"Baik, sangat baik. Dia sudah bisa sekolah lagi di sekolah desa." Perempuan itu diam sebentar. Jari remas ujung kain sarung, berulang-ulang, seperti mencari ketenangan. "Tapi kemarin Ki Darmo datang ke rumahku. Dia bilang kalau aku terus berhubungan denganmu, cucuku akan sakit lagi, lebih parah. Dia bilang kesembuhan itu cuma sementara, nanti penyakitnya akan kembali dengan dendamnya."
"Itu tak benar, Mbah. Kudis sembuh karena kebersihan dan pengobatan tepat. Tak ada dendam atau kutukan."
Perempuan tua itu menatapnya. Mata berkaca. Basah, berkilat di cahaya pagi. "Aku percaya padamu, Nak. Tapi aku cuma janda tua yang tak punya kekuatan. Kalau Ki Darmo benar-benar kutuk aku, aku tak bisa lawan. Jadi maafkan aku, setelah ini aku tak akan datang lagi."
Ia bungkuk dalam. Tubuh hampir lipat dua. Lalu balik dan pergi dengan langkah cepat, seolah takut lama-lama akan bawa malapetaka.
Karyo kepalkan tangannya lebih kuat. Buku jari memutih, tulang menonjol. "Ini tak adil. Ki Darmo pakai ketakutan untuk kendalikan orang."
"Itulah senjata paling ampuh," Pak Karso yang baru datang bawa bundel tanaman obat berkata. Suara rendah, berat seperti batu jatuh ke air. "Ketakutan bikin orang irasional. Bikin mereka pilih yang kenal meski tak efektif, daripada yang asing meski berhasil."
Doni paham frustrasi mereka. Tapi ia juga paham posisi orang kampung. Mereka hidup dalam sistem kepercayaan sudah tertanam berabad-abad. Ubahnya tak bisa dalam seminggu atau sebulan. Butuh waktu, sabar, dan yang paling penting, bukti yang konsisten. Bukti yang tak bisa dibantah, bahkan oleh ketakutan.
"Kita tetap buka," Doni putuskan. "Bagi siapa saja yang masih percaya dan mau datang. Kita tak bisa paksa orang, tapi kita juga tak akan menyerah."
...---•---...
Pasien-pasien yang datang hari itu kebanyakan orang dari kampung lain yang belum terpengaruh rumor, atau mereka yang kondisinya sudah terlalu putus asa untuk peduli ancaman kutukan.
Lelaki dengan luka membusuk di kaki. Bau busuk menyengat, memenuhi ruangan. Kulit hitam, nanah kuning mengalir. Aku tahu ia harus amputasi kalau punya alat bedah steril. Tapi tanpa itu, aku cuma bisa bersihkan luka dengan hati-hati, buang jaringan mati yang bisa dijangkau, beri ramuan antiinflamasi, dan harap sistem imun pasien cukup kuat lawan infeksi. Harapan tipis, tapi lebih baik dari tidak ada.
Anak perempuan dengan mata merah dan bengkak. Radang selaput mata akut. Mudah ditangani dengan kompres daun sirih dan menjaga kebersihan.
Ibu hamil dengan kaki bengkak dan tekanan darah tinggi. Pertanda awal keracunan kehamilan. Tanpa fasilitas rumah sakit, jika kondisinya memburuk hingga kejang atau pendarahan, ibu dan janin bisa berada dalam bahaya besar. Yang bisa aku lakukan hanyalah memantau dan berharap keadaan tidak bertambah parah.
...---•---...
Menjelang siang, kereta kuda berhenti depan balai kampung.
Kereta bagus. Cat hitam mengkilap seperti batu obsidian yang dipoles sempurna, kursi beludru merah di dalamnya. Kusir berkulit putih duduk depan dengan cambuk di tangan, punggung kaku, tatapan meremehkan.
Pak Wiryo yang sedang bantu keluar. Bahu kaku. Napas pendek. "Itu kereta dari kompleks Belanda."
Doni angguk. Tuan Van der Berg tepati janjinya. "Aku harus pergi sekarang. Karyo, Bambang, tolong lanjutkan pendaftaran. Aku akan kembali sebelum sore."
"Aku ikut," Karyo langsung berdiri. Gerakan cepat, tangan sudah raih kain ikat pinggangnya.
"Tidak. Kau tetap di sini bantu. Aku akan baik-baik saja."
"Tapi…"
"Percaya padaku."
Karyo terlihat sangat tak senang. Rahang mengatup keras. Tangan kepal di samping tubuh, gemetar menahan emosi. Tapi akhirnya angguk. Perlahan, enggan.
Doni naik ke kereta dengan perasaan campur aduk. Ini pertama kalinya ia naik kereta kuda sejak terdampar di masa ini. Interior mewah dengan bantal empuk sangat kontras dengan kehidupan keras yang ia jalani di kampung. Baunya beda. Kulit, lilin, parfum mahal yang menyengat halus. Sesuatu yang terasa asing dan mengganggu.
Kereta laju lewati jalan tanah berdebu, lewati sawah-sawah hijau berkilau basah di bawah matahari, kebun tebu tinggi menjulang. Beberapa petani yang sedang kerja berhenti. Cangkul terangkat di udara, membeku. Tatap dengan mata membulat lihat pribumi naik kereta Belanda. Bisikan dan tatapan penasaran ikuti perjalanan mereka seperti bayangan yang menempel.
Setelah sekitar tiga puluh menit, mereka tiba di area sangat berbeda.
Jalan berubah jadi lebih lebar dan rata. Batu paving tersusun rapi sempurna, tak ada lubang, tak ada debu. Tumbuhi pohon rindang di kedua sisi. Pohon-pohon besar disengaja tanam dengan jarak teratur, bukan tumbuh liar. Rumah-rumah besar bergaya Eropa berdiri kokoh dengan jarak teratur, dikelilingi pagar putih bersih dan taman terawat. Bunga-bunga warna-warni. Air mancur. Rumput potong pendek rata seperti permadani hijau.
Beberapa orang berkulit putih jalan di trotoar. Pakai pakaian rapi, topi, payung meski tak hujan. Pelayan pribumi hilir mudik dengan pakaian seragam. Hitam putih, rapi, kepala menunduk. Tidak berani tatap mata majikan.
Ini dunia berbeda. Dunia terpisah dari gubuk kumuh dan sawah berlumpur. Dunia kolonial dibangun di atas punggung rakyat pribumi. Di atas keringat, darah, dan air mata yang tak pernah dihitung.
Kereta berhenti depan rumah besar putih dengan jendela tinggi dan teras luas. Taman depan penuh bunga impor yang tak tumbuh alami di daerah tropis. Mawar merah, tulip, lavender yang dipaksakan hidup di tanah asing. Ada air mancur kecil di tengah taman. Patung malaikat tuang air dari kendi, wajah pucat menatap kosong.
Kusir buka pintu tanpa bicara. Doni turun hati-hati. Napas tertahan. Telapak tangan berkeringat dingin, lengket. Ia rasa tatapan dari beberapa orang Belanda yang lewat. Tatapan campuran penasaran dan tak suka. Jelas tak biasa lihat pribumi datang ke sini bukan sebagai pembantu.
Tuan Van der Berg muncul di teras. Wajah lega. Bahu turun, napas keluar panjang. "Kau datang. Bagus. Masuk, silakan."
Doni ikuti masuk ke dalam rumah. Interior mewah buatnya tertegun sebentar. Lantai marmer mengkilap. Dingin di bawah kaki, pantulkan cahaya seperti cermin. Lukisan besar di dinding dalam bingkai emas tebal. Furniture kayu jati dengan ukiran rumit yang pasti butuh bulan untuk selesai. Lampu kristal gantung dari langit-langit tinggi seperti bintang jatuh dan beku di udara, cahayanya memantul ribuan arah.
Ini kemewahan yang tak pernah aku bayangkan ada di masa ini, setidaknya tidak untuk daerah terpencil seperti ini. Kemewahan yang terasa menindas, membuat dada sesak.
Mereka naik tangga kayu yang berderit pelan. Bunyi yang justru terdengar mahal. Ke lantai dua. Di kamar luas dengan jendela besar tertutup tirai tebal, seorang perempuan Belanda terbaring di tempat tidur berkanopi. Kulitnya pucat seperti porselen, rambut pirang terurai di bantal seperti benang emas, mata tertutup. Ia pakai gaun tidur putih longgar.
"Ini istriku, Mevrouw Hendrika Van der Berg," Van der Berg perkenalkan suara lembut, hampir berbisik. "Sayang, ini tabib yang kuceritakan."
Perempuan itu buka mata. Perlahan, berat. Tatap Doni dengan tatapan kosong sebentar, lalu fokus. Ia bicara dalam bahasa Belanda. Nada ragu, lemah. Doni tangkap kata yang sering ia dengar: inlander. Pribumi.
Van der Berg yakinkan istrinya dengan lembut, suara memohon, lalu berbalik pada Doni. "Dia tanya apa kau benar-benar bisa bantu."
Doni dekat ke tempat tidur hati-hati. "Saya akan coba, Nyonya. Boleh saya periksa?"
Perempuan itu lirik suaminya. Mata cari persetujuan. Van der Berg angguk mantap. Dengan ragu, dia ulurkan tangan kurus kering. Tulang terasa jelas di bawah kulit tipis transparan.
Doni periksa nadi. Cepat lemah. Sekitar sembilan puluh per menit. Lalu ia minta izin periksa perut. Dengan sentuhan lembut, jari tekan perlahan, ia raba area abdomen. Perempuan itu meringis ketika ia sentuh area perut bagian atas, tepat di bawah tulang dada.
"Nyeri di sini?" Doni tanya.
"Ya." Suaranya tercekat. "Sangat sakit. Terutama setelah makan."
"Apa makanan biasa Nyonya makan?"
Van der Berg jawab, "Makanan Belanda. Roti, keju, daging merah. Dia tak suka makanan lokal. Bilang terlalu pedas."
Doni angguk perlahan. Diet banyak lemak dan daging, ditambah stres beradaptasi dengan panas lembab yang tak biasa, kemungkinan besar sebabkan luka lambung atau peradangan kronis parah. Muntah darah tunjukkan sudah ada erosi di dinding lambung. Kondisi serius.
"Nyonya harus ubah pola makan," Doni jelaskan. Suara tenang, jelas, hati-hati memilih kata. "Hindari makanan terlalu berlemak, terlalu pedas, atau terlalu asam. Semua itu buat lambung produksi asam berlebihan yang kikis dinding lambung. Makan porsi kecil tapi sering. Lima atau enam kali sehari. Dan saya akan beri ramuan yang bisa tenangkan lambung."
"Ramuan?" Hendrika terdengar ragu. Alis terangkat tinggi. "Bukan obat yang nyata?"
"Ramuan ini obat nyata, Nyonya. Dari tanaman mengandung zat penyembuh." Doni pilih kata hati-hati. "Di masa depan, dokter-dokter akan temukan banyak obat modern sebenarnya berasal dari tanaman."
Ia tak sadar hampir ungkap rahasianya, tapi untungnya mereka tak menangkap kesalahan itu. Van der Berg hanya angguk, seperti itu informasi menarik tapi tak penting.
Van der Berg panggil pelayan bawa air panas. Doni keluarkan beberapa bahan yang sudah siap dari tas kain. Daun pegagan kering, kunyit bubuk, jahe segar, madu dalam botol kecil.
Ia racik ramuan di depan mereka. Tangan bergerak cekatan, terlatih. Jelaskan fungsi setiap bahan dengan sabar. "Pegagan lindungi lapisan lambung dari asam. Kunyit kurangi peradangan. Jahe perbaiki pencernaan dan kurangi mual. Madu antiseptik alami dan pemanis."
Air panas dituang. Aroma mengepul. Pedas, hangat, menenangkan. Mengisi ruangan dengan bau yang asing tapi mengundang.
"Minum ini tiga kali sehari sebelum makan," ia serahkan cangkir berisi ramuan hangat kuning keemasan. "Dan ini resep makanan yang sebaiknya dimakan dan dihindari."
Ia tulis di secarik kertas yang diberikan Van der Berg. Pakai bahasa Melayu mudah dipahami, tulisan rapi.
Makanan aman: nasi lembut, bubur, pisang rebus, ubi kukus, ikan rebus atau kukus tanpa banyak bumbu.
Harus dihindari: daging berlemak, keju keras, kopi, alkohol, makanan pedas, makanan digoreng.
Hendrika minum ramuan itu dengan ekspresi ragu. Bibir sentuh cangkir perlahan, seperti takut terbakar atau diracuni. Tapi setelah beberapa teguk, ekspresinya berubah. Mata sedikit melebar, bahu relaks. "Hangat… dan menenangkan. Tak seperti kubayangkan."
"Itu efeknya," Doni jelaskan. "Akan lebih terasa beberapa hari. Nyeri harus berkurang, nafsu makan kembali normal."
Van der Berg menatap Doni dengan mata sulit dibaca. Campuran harap, ragu, dan sesuatu lain. Rasa hormat, mungkin. "Berapa bayaranmu?"
"Lima gulden cukup untuk ramuan seminggu."
Jumlah sangat murah untuk standar Belanda. Van der Berg terlihat terkejut. Alis terangkat, mulut sedikit terbuka. Tapi ia keluarkan dompet kulit tebal dan serahkan sepuluh gulden. Koin perak berat, dingin. "Ini untuk dua minggu. Dan kalau istriku membaik, akan ada lebih banyak lagi."
Doni terima uang itu. Jari remas. Berat. Tapi juga… aneh. Ini uang paling banyak yang pernah aku terima sejak di sini. Sepuluh gulden bisa beli beras untuk puluhan keluarga miskin selama sebulan. Bisa bangun dua balai pengobatan. Bisa beli obat untuk ratusan orang.
Ketika ia turun dan akan masuk kereta, Van der Berg hentikan. Tangan sentuh lengan Doni. Cengkeraman ringan tapi bermakna. "Satu lagi. Hati-hatilah. Aku dengar ada dukun lokal tak senang denganmu. Di kampung ini, politik bisa berbahaya. Bahkan untuk orang yang cuma ingin tolong."
"Terima kasih atas peringatannya, Tuan."
"Dan satu lagi," Van der Berg tambah suara lebih rendah. Hampir berbisik, mata melirik ke kiri kanan. "Kalau kau butuh perlindungan, aku punya pengaruh di pemerintahan lokal. Jangan ragu datang padaku."
Tawaran menggiurkan. Tapi aku tahu itu datang dengan harga. Perlindungan kolonial berarti di bawah kekuasaan mereka. Berarti pilih sisi dalam struktur kekuasaan kompleks. Dan itu bisa buatku dimusuhi rakyat pribumi yang seharusnya aku bantu. Bisa jadi pengkhianat di mata rakyatku sendiri.
...---•---...
Doni duduk di kereta yang laju pulang. Jari remas koin di kantung. Berat. Dingin. Seperti batu. Seperti dosa yang belum sempurna tapi sudah mulai terbentuk.
Hari ini aku masuk dunia kolonial. Dunia kemewahan dibangun dari keringat rakyat sendiri. Aku terima uang dari mereka. Aku terima tawaran perlindungan.
Apakah ini awal kompromi? Apakah ini bagaimana seseorang perlahan jadi bagian sistem yang seharusnya dilawan?
Kereta berderak pelan. Matahari condong ke barat. Cahaya jingga keemasan merayap di sawah-sawah, membuat segalanya terlihat lebih indah dari kenyataannya.
Malam ini, aku harus hadapi Ki Darmo. Ritual pembersihan. Konfrontasi publik antara cara lama dan cara baru.
Dan setelah perjalanan ke kompleks Belanda tadi, aku tak yakin lagi aku masih berdiri di pihak yang benar.
Koin di kantungnya terasa lebih berat dari seharusnya. Seperti membawa beban yang tak bisa ia lepas. Seperti membawa pilihan yang sudah dibuat, meski belum sepenuhnya disadari.
...---•---...
...Bersambung...
jadi sebenarnya tokoh yang pindah raga itu harusnya sudah meninggal ya?
lalu kemana jiwa atau roh dari si pemilik tubuh yang dia masuki karena kayanya hampir ga dijelasin di setiap cerita tema kaya gini kaya suatu misteri 🤔
kalau roh pemilik asli balik gimana sama nasib tokoh utama
anyway tulisannya rapih kak, dan sedikit masuk akal buatku waktu dia dapat kenangan dari si pemilik tubuh asli 👍