NovelToon NovelToon
Apakah Itu Kamu?

Apakah Itu Kamu?

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / Selingkuh / Janda / Romansa / Berondong
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Menjadi Nyata

Sheila melangkah mendekat, mengabaikan Attar yang masih meratap. Ia berhenti tepat di depan Ayub, menatap pemuda itu dengan mata yang melotot ngeri. "Ingat wajahku, Ayub. Kamu sudah mencampuri urusanku. Kamu membela wanita yang sudah tidak punya apa-apa ini. Aku bersumpah, aku akan membalasmu dengan cara yang paling kejam. Aku akan menghancurkan hidupmu, studimu, dan masa depanmu sampai kamu memohon ampun di kakiku!"

Ayub tidak mundur satu inci pun. Ia justru maju satu langkah, membuat tubuhnya yang lebih tinggi menjulang di atas Sheila. "Silakan coba, Sheila. Saya sudah biasa menghadapi lawan yang kasar di lapangan. Tapi menghadapi monster seperti Anda? Itu bahkan bukan pertandingan yang sulit. Karena monster biasanya hancur oleh kegilaannya sendiri."

"ARGHHHH!" Sheila berteriak frustrasi, tawanya kembali pecah menjadi histeria yang tak terkendali. Ia berlari meninggalkan koridor itu sambil tertawa-tawa sendiri, membuat beberapa perawat ketakutan dan menghindar.

****

Malam semakin larut. Hilman akhirnya tertidur di kursi tunggu karena kelelahan dan pengaruh obat penenang yang diberikan perawat. Attar masih duduk di lantai, menatap pintu UGD dengan pandangan kosong, sementara Livia duduk di sudut lain, termenung.

Ayub mendekati Livia, membawa dua botol air mineral dan sebungkus roti dari kantin bawah. "Mbak, minumlah dulu. Mbak belum makan sejak siang."

Livia menerima botol itu, jemarinya bersentuhan dengan tangan Ayub yang hangat. "Terima kasih, Ayub. Kamu seharusnya pulang. Ini bukan urusanmu, dan kamu punya kuliah besok pagi."

Ayub duduk di lantai di samping kursi Livia, menyandarkan kepalanya ke dinding. "Saya sudah izin tidak masuk kelas pertama besok. Saya tidak bisa meninggalkan Mbak dalam kondisi seperti ini. Apalagi setelah melihat wanita gila itu mengancam Mbak dan saya."

Livia menatap profil wajah Ayub yang tegas di bawah lampu neon rumah sakit. "Dia sangat berbahaya, Ayub. Kamu tidak tahu apa yang bisa dilakukan Sheila jika dia sudah dendam. Aku merasa bersalah telah menyeretmu ke dalam masalahku."

Ayub menoleh, tersenyum tipis yang menenangkan. "Mbak Livia, dalam olahraga, kita diajarkan untuk tidak pernah takut pada gertakan lawan. Sheila hanya bicara besar karena dia merasa kehilangan kendali. Biarkan dia dengan kegilaannya. Yang penting sekarang adalah Mbak tetap berdiri tegak."

Livia terdiam. Di tengah badai pengkhianatan suaminya dan ancaman gila sahabatnya, kehadiran Ayub adalah satu-satunya hal yang masuk akal baginya. Pemuda ini tidak punya kepentingan, tidak punya rahasia, hanya sebuah ketulusan yang murni.

Di sisi lain koridor, Attar melihat interaksi antara istrinya dan pemuda asing itu. Ada api cemburu yang membakar hatinya, namun ia sadar ia tidak punya hak lagi untuk marah. Ia telah membuang permata demi segenggam kerikil beracun, dan sekarang ia harus menyaksikan permata itu mulai bersinar di tangan orang lain.

Tiba-tiba, suara monitor dari dalam ruang UGD berbunyi panjang dan nyaring. BIIIIIIIIIIIIIIIIIP!

Livia, Attar, dan Hilman serentak berdiri dengan wajah pucat pasi. Para perawat dan dokter berlarian masuk ke dalam ruangan.

****

Lampu indikator di ruang ICU akhirnya berubah menjadi hijau setelah tiga jam yang mencekam. Dokter keluar dengan sisa peluh di dahi, memberikan anggukan kecil yang membuat beban di pundak Hilman dan Livia seolah terangkat sebagian. Rahmi berhasil melewati masa kritisnya. Meski detak jantungnya masih lemah, wanita itu telah menunjukkan tanda-tanda stabilisasi yang cukup untuk dipindahkan ke ruang perawatan VVIP.

Di ruang inap yang tenang itu, aroma bunga lili yang dibawa perawat mencoba menutupi bau obat-obatan. Attar duduk bersimpuh di samping ranjang ibunya. Wajahnya yang biasanya angkuh kini kusam, matanya merah karena tangis yang tak kunjung berhenti. Ia menggenggam jemari Rahmi yang dingin dan pucat, lalu menciumnya berulang kali.

"Ma... maafkan Attar," isaknya pecah, suaranya teredam oleh sprei putih. "Attar bodoh, Ma. Attar sudah menghancurkan hati Mama. Tolong bangun, Ma... jangan hukum Attar seperti ini."

Livia berdiri di sudut ruangan, memperhatikan suaminya dengan tatapan kosong. Dulu, melihat Attar menangis akan membuatnya lari untuk memeluk pria itu. Sekarang, air mata Attar hanya terasa seperti garam yang ditaburkan di atas luka terbuka. Ia tidak merasakan empati, hanya rasa lelah yang amat sangat.

****

Sementara itu, di sebuah kantor mewah yang dipenuhi jajaran buku dan piagam penghargaan, seorang pria tua bernama Pak Jamal sedang duduk dengan raut wajah gelisah. Tangannya gemetar saat memegang ponsel yang menempel di telinganya.

"Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Sheila. Itu sudah sepuluh tahun yang lalu!" suara Jamal berbisik, penuh ketakutan.

Di seberang telepon, Sheila Nandhita sedang menyesap espresso di balkon apartemennya, menyeringai menatap pemandangan kota. "Sepuluh tahun atau sepuluh hari, skandal dosen dengan mahasiswinya—yang saat itu masih di bawah umur—akan tetap menghancurkan reputasi rektor terhormat sepertimu, Jamal. Kamu ingin video itu sampai ke meja senat universitas?"

Jamal terdiam, keringat dingin membasahi kerah kemejanya. "Apa... apa yang kau inginkan?"

"Sederhana. Ada mahasiswa bernama Ayub Sangaji, jurusan Pendidikan Olahraga. Dia terlalu banyak menghabiskan waktu di luar kampus untuk mengurusi urusan orang lain," suara Sheila berubah menjadi tajam dan dingin. "Buat dia sangat sibuk. Berikan dia pembatasan kegiatan organisasi, banjiri dia dengan tugas penelitian, dan pastikan dia tidak punya waktu untuk bernapas, apalagi untuk menemui wanita lain. Jika dia gagal, cabut beasiswanya."

"Tapi Ayub adalah mahasiswa berprestasi—"

"Lakukan atau hancur, Jamal!" Sheila mematikan sambungan telepon dengan kasar. Ia tertawa, sebuah tawa pendek yang penuh kemenangan. Ia tahu betul cara mematahkan sayap seseorang: hancurkan dunianya sedikit demi sedikit.

****

Keesokan harinya, Ayub baru saja tiba di lobi kampusnya ketika ia dipanggil oleh bagian administrasi. Tidak hanya itu, tiga dosen pengampunya tiba-tiba mengirimkan email mendesak mengenai revisi tugas besar yang tenggat waktunya dipercepat menjadi lusa.

"Ayub, berdasarkan instruksi Rektorat, kamu diminta untuk membatasi kegiatan di luar kampus. Ada evaluasi mendadak terkait jam kehadiranmu," ucap salah satu staf akademik dengan nada kaku.

Ayub mengernyitkan dahi. "Tapi Pak, prestasi saya stabil, dan saya selalu hadir tepat waktu."

"Ini perintah langsung dari atas, Ayub. Sebaiknya kamu fokus pada tumpukan jurnal penelitian ini jika ingin indeks prestasimu tetap aman."

Ayub menatap tumpukan berkas di meja dengan perasaan gusar. Ia tahu ini bukan kebetulan. Ia teringat ancaman Sheila di rumah sakit semalam. Wanita itu benar-benar bergerak cepat. Di tengah kepeningannya, Ayub mengkhawatirkan Livia. Siapa yang akan menjaga wanita itu jika ia dikurung oleh tugas-tugas yang tidak masuk akal ini?

****

Sore itu, hujan turun rintik-rintik membasahi gang sempit di depan kost-kostan Ayub. Ayub baru saja pulang dengan bahu lemas, membawa tumpukan buku referensi dari perpustakaan. Saat ia hendak menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua, sebuah mobil mewah berwarna merah menyala terparkir sembarangan di depan gerbang kost.

Seorang wanita turun dengan payung hitam transparan. Sheila Nandhita. Ia melangkah dengan sepatu hak tinggi yang berbunyi klak-klak di atas aspal basah, kontras dengan lingkungan kost mahasiswa yang sederhana.

"Tempat yang menyedihkan untuk pahlawan sepertimu," ucap Sheila, suaranya merobek keheningan sore.

Ayub berhenti, menatap Sheila dengan mata tajam. "Mau apa Anda ke sini? Tempat ini terlalu 'kotor' untuk wanita seperti Anda."

Sheila mendekat, ia berdiri tepat di hadapan Ayub. Ia melihat tumpukan buku di tangan Ayub dan menyeringai lebar. "Bagaimana harimu di kampus, Ayub? Kudengar para dosen sangat merindukanmu hingga memberimu banyak sekali hadiah tugas?"

"Jadi benar, ini ulah Anda," desis Ayub, rahangnya mengeras.

Sheila tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru meledak dalam tawa histerisnya yang khas. Ia menutup mulut dengan tangan yang terbalut sarung tangan sutra, namun matanya melotot gila ke arah Ayub.

"Hahahaha! Ini baru permulaan, bocah! Kamu menghinaku di depan semua orang, kamu mempermalukanku seolah aku ini sampah!" Sheila tiba-tiba berhenti tertawa dan wajahnya berubah sangat dingin, hanya berjarak beberapa senti dari wajah Ayub. "Aku akan memastikan kamu tidak punya waktu untuk sekadar mengirim pesan pada Livia. Aku akan membuatmu tersingkir dari kampus itu dengan cara yang paling memalukan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!