Satria seorang remaja keturunan kaya raya, telah lama jatuh hati pada wanita yang beberapa tahun lebih tua dari umurnya.
Wanita usil yang selalu menganggapnya bocil.
“Aku ingin Kakak menjadi pacarku.”
“Aku tak sudi jadi pacarmu!”
“Kenapa Kak?”
“Kau bocah! Pipis saja belum lurus.”
“Maksud Kakak, aku kurang jantan? Tapi kita sudah sering berciuman!”
“Anggap saja itu kenangan, carilah pacar yang seusia denganmu!”
“Tidak! Aku ingin Kakak menjadi pacarku! Titik.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gara-gara Obat
Minggu pagi yang cerah, kicauan burung bersiul-siul di dahan pohon rindang, tawa riang orang-orang meramaikan suasana. Tetapi tidak di kamar Tuan Muda Satria.
Kamar itu hamburadul, Pemuda itu sedang meringkuk dengan seprai yang sudah berantakan. Di sudut tempat tidur, Sekretaris Dewa dengan kening bengkak sebesar telur ayam, eh tidak selebay itu juga Maimunah! Cuma sedikit benjol dan memar saja, setidaknya sebesar telur puyuh, berdiri mematung.
Di lantai kamar itu berserakan tisu dan pecahan kaca, entah kaca botol ataukah kaca gelas. Sedangkan Bi Mona lari tergopoh-gopoh bersama seorang pria dewasa yang berpakaian putih.
Aira dan Arnel hanya berdiri di luar kamar, mereka baru saja di usir oleh Satria. Sedangkan Nurbaya tidur nyenyak di kamarnya, walaupun seisi rumah telah berisik sejak tadi pagi. Ia tak peduli, tak mau tahu.
Setelah sampai, Pria Dewasa yang berprofesi sebagai Dokter itu mengetuk pintu. “Tuan Muda, Dokter sudah datang.” ucap Bi Mona yang berdiri di samping Dokter itu.
Satria hanya diam saja. “Apakah boleh saya melihatnya, Tuan Muda?” tanya Dokter itu mulai mendekat dengan jalan perlahan.
Satria hanya mendengus, lalu menendang seprai ke lantai dengan posisi masih meringkuk. Dokter itu berjalan perlahan mendekat, cemas juga kalau di semprot Tuan Muda Satria.
Saat Dokter Sudah sampai, tiba-tiba saja Satria duduk. Eh, eh, copot! Hampir saja jantung Dokter yang sedang cemas itu jungkir balik keluar. Satria mengambil bantal lalu melempar Sekretaris Dewa. “Keluar!” ucapnya dengan sorot mata tajam.
Sekretaris itu patuh, ia berjalan keluar, berbaris rapi dengan Arnel dan Aira di luar kamar, bersandar di dinding. Namun di luar kamar bukanlah tempat yang bagus juga untuknya, karena tatapan mata Arnel lebih mencekam dari lorong kamar jenazah rumah sakit.
“Boleh saya lihat dan sentuh lukanya, Tuan Muda?” tanya Dokter itu hati-hati.
“Huh.” Mendengus. Dokter melirik Bi Mona, Ia tak mengerti dengan itu. Emang di kira orang dari dalam otaknya apa? Kira-kira begitu protes Dokter itu, kalau dia berani melawan sih!
Bi Mona mengangguk, yang artinya dengusan Tuan Muda itu mengizinkan. Setelah melihat jawaban itu, Sang Dokter memberanikan diri. “Permisi ya, Tuan Muda.” ucap Dokter itu. Lalu menyentuh wajah Satria.
Melihatnya beberapa saat, memastikan jangan sampai ada kesalahan. Namun saking grogi nya, ia cukup lama memegang wajah Satria.
“Masih lama?” Suara Satria menyadarkannya.
“A..a..” Dokter itu gugup parah. Satria mengernyit.
“It.. Itu...” Masih terbata-bata.
“Kau Dokter gak sih? Bisa gak obati?!” Menatap tajam.
“Kalau tak bisa, keluar sana!” Mengusir dengan mengibaskan tangan kirinya. Lalu merebahkan tubuhnya lagi.
Dokter itu melirik Bi Mona kembali, Bi Mona pun mengangguk.
“Apa saya boleh bertanya, apakah Tuan Muda punya alergi dengan makanan atau obat, Bi?”
“Selama ini belum ada Dokter.” jelas Bi Mona.
“Kalau begitu, apakah Tuan Muda ada mengkonsumsi obat-obatan?” tanya Dokter itu menatap Bi Mona, lalu menatap Satria, karena Bi Mona juga tidak tahu.
“Itu.” sahut Satria menunjuk sesuatu. Entah apa yang Ia tunjuk.
Kedua bola mata Bi Mona dan Dokter itu juga melihat ke arah yang di tunjuk. Hanya ada serakan tisu kotor serta pecahan kaca.
Tak ingin kena semprot, Dokter itu berjalan mendekat, memegangi pecahan kaca yang berwarna coklat tua. Sepertinya itu pecahan botol kaca.
Ia terus mengumpulkan dan menyatukannya di bantu oleh Bi Mona. Namun, menyatukan kertas sama menyatukan botol itu beda, sehingga ia tak dapat petunjuk.
“Maaf, Tuan Muda. Bisakah Saya tau, obat apa ini? Saya tidak mengetahui kandungan di dalamnya, karena petunjuknya rusak.”
Satria menunjuk ke arah meja. Dokter hanya melihat Handphone dengan logo buah tergigit berwarna gold. Lalu menatap Bi Mona.
Bi Mona keluar, lalu membawa Sekretaris Dewa masuk. Bi Mona menyerahkan Handphone itu pada Sekretarias Dewa.
Dewa langsung mengetahui maksud Satria menunjuk Handphone. Ia langsung membuka galeri, menunjukkan foto botol serta foto komposisi dari botol tersebut kepada Sang Dokter.
Dokter itu manggut-manggut. Lalu meresepkan obat. “Sepertinya obat ini tidak cocok untuk Tuan Muda, karena ada beberapa bahannya mengandung zat berbahaya dan juga obat ini ilegal.” jelas Sang Dokter.
“Ini saya resepkan obatnya. Tuan Muda harus meminum obat ini dan mengoleskan cream nya ke wajah yang terluka selama seminggu.” sambung Dokter itu lagi.
Satria duduk, lalu menatap Dokter dan Dewa dengan mata elangnya. “Kau bilang apa tadi? Ilegal?” tanyanya tak sopan. Seharusnya panggil Bapak sama yang tua, mentang-mentang Tuan Muda!
“Iya, Tuan Muda.”
Satria meraih kotak tisu, bahkan dibantu oleh Dewa, sayang seribu kali sayang, pertolongan dewa itu adalah petaka. Bahwasanya, tisu sekotak itu untuk dilemparkan ke tubuhnya.
“Apa kau bod*h?!” hardiknya pada Dewa.
“Sudah berapa lama kau bekerja di Damrah Groub?”
“Apa kau mau ku kirim ke pedalaman?!” Tak ada lagi embel-embel Kakak yang di lontarkan Satria padanya. Ia pun paham, karena saat ini Satria sangat emosi.
“Maafkan saya, Tuan Muda.” ucap Dewa tertunduk. Entah berapa kali pemuda dewasa itu minta maaf pada pemuda remaja yang menjadi atasannya ini.
“Ini semua gara-gara obat yang kau berikan padaku, kau tau tidak?!” Sekretaris Dewa hanya mampu mengangguk dan mendengarkan omelan demi omelan.
“Sudah berapa lama kau bekerja denganku, huh?” tanya Satria lagi.
“Kenapa kau diam saja, kau tuli?!”
“Sudah 4 tahun lebih, Tuan Muda. Semenjak Tuan Muda kelas 6 SD.”
“4 Tahun, apa saja yang kau lakukan selama itu, sampai kau tak tahu kalau aku tak bisa memakai sembarangan obat. Padahal aku selalu percaya padamu. Pergilah, aku tak ingin melihat kau!” usir Satria.
Terenyuh rasanya, Sekretaris Dewa merasa langitnya menjadi gelap. Pemuda remaja yang menjadi atasannya itu memang selama ini mempercayakan apapun padanya. Walaupun dia kejam, tapi menjadikan Dewa berbeda dari pada yang lain.
Apakah rasa percaya yang diberikan Satria selama ini akan runtuh seutuhnya? Ataukah Ia bisa memperbaiki nya kembali. Sekretaris Dewa berjalan tertunduk lesu. Menyandar ke dinding. Di mana Arnel dan Aira masih setia menunggu.
Dokter dan Bi Mona hanya diam membisu, melihat adegan Dewa keluar lesu.
Menatap Dokter, “Huh.” Mendengus lagi sembari melirik Bi Mona. Kemudian merebahkan tubuhnya lagi.
“In...” ucap Dokter terpotong.
“Wow, Adik Kecil Nakalku, kenapa? Demam, ya? Makanya, jadi orang jangan usil.” seloroh Nurbaya yang datang tiba-tiba. Lalu mendapat jitakan hebat dari Bi Mona.
“Kamu ini yang sopan sama, Tuan Muda.” hardik Bi Mona.
Mendengar suara Nurbaya, Satria masuk ke dalam selimut, memegangi selimut itu dengan erat.