Bagiku pulang adalah kembali bersamamu, tanpa peduli harus berapa banyak kehilangan yang harus kulalui.
Gadis miskin sepertiku memang tidak memiliki kekuatan apapun untuk mengejar mu, ongkos menuju kediamanmu saja aku tidak punya, konon lagi skill untuk memenangkan hatimu.
But, Appa i miss you. Aku hanya ingin menemui mu dan tetap bersamamu.
Love,
-Joelin-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diwelin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga di Musim Panas (3)
"So sweet." gumam Joelin, di berhenti sejenak sebelum kembali meminum air itu.
"Yes, you are." batin Mickey yang sibuk mengamati wajah Joelin yang kini dihiasi butiran keringat yang mengalir di sana.
"Thank you Mike." ujar Joelin setelah puas melepas rasa harusnya.
"No q." jawab Mickey.
"Kastilku sudah selesai." seru Joelin sambil kembali duduk diatas pasir.
Mickey langsung mengalihkan perhatiannya pada istana pasir yang tadi mereka kerjakan.
"Hei, bukan kastilmu Joe. Itu kastil kita. Aku juga ikut membangunnya."
Mickey mengungkapkan protesnya sambil memasang wajah merajuk, sebenarnya dia hanya menggoda gadis ini.
"Iya, maaf. Jangan marah Mike." jawab Joelin sedih.
"Kastinya bagus sekali ya." puji Mickey sambil duduk di sisi Joelin.
"Terimakasih sudah mengijinkan saya melihat kastil ini yang mulai." canda Mickey menghibur Joelin.
"Sama-sama yang mulia, silahkan berkeliling di sekitar kastil."
Joelin membalas candaan Mickey sambil tersenyum manis.
"Yang mulia, sebentar lagi sunset. Bersediakah anda menemani saya berjalan disekitar pantai sejenak?"
"Tentu saja yang mulia Mike."
"Tapi kita mungkin harus menjauh dari daerah kastil."
"Jangan khawatir, saya baik baik saja yang mulia."
"Apakah yang mulia perlu didampingi pengawal kerajaan?"
"Sepertinya tidak, saya merasa aman bersama yang mulia Mike."
Jantung Mickey semakin berdegup kencang mendengar kalimat Joelin.
"Izinkan saya menuntun anda yang mulia." ujar Mickey sambil meraih tangan Joelin. Pria itu langsung berdiri diikuti oleh Joelin.
Keduanya kini berjalan dalam diam, kembali menyisir tepi pantai. Melangkah diatas pasir yang berkali-kali disapa oleh debur ombak. Riak-riak ombak ikut membelai lembut kaki mereka. Joelin dan Mickey melangkah menjauhi kerumunan.
"Apakah yang mulia ingin istirahat?" tanya Mickey kemudian.
"Aku hanya khawatir kita terlalu jauh dari keramaian yang mulia." jawab Joelin jujur.
"Ayok duduk." ujar Mickey membawa Joelin melangkah menjauh dari kejaran gelombang.
Mereka berdua akhirnya duduk bersisian sambil memandang lepas ke arah laut. Langit mulai merona jingga. Sebentar lagi matahari akan menepi di ujung barat pantai ini, yang tentu saja langsung terbit di belahan lain bumi ini.
"Kau suka pemandangannya Joe?"
"Tentu saja."
"Terimakasih sudah membawaku melihat keindahan ini."
"Apa kau sangat sering ke pantai sebelumnya?"
"Hanya beberapa kali."
"Bukankah Indonesia memiliki banyak pantai?"
"Jangan lupa, negaraku juga punya banyak gunung. Dan aku tinggal di daerah gunung."
"Pantas saja kau sangat menggemari strawberry."
"Tentang itu, bukan karena aku tinggal di gunung Mickey."
"Lalu?"
"Orang tuaku adalah petani yang membudidayakan strawberry."
"Wah, sangat menarik."
"Mataharinya hampir menyentuh garus horizon." Seru Joelin, kini matanya berbinar dan fokus menangkap momen tenggelam nya sang bintang raksasa itu. Perlahan matahari hampir bersembunyi seutuhnya menyisakan cahaya jingga temaram yang cantik sekali untung saja bias lampu pantai masih sampai ketempat Joelin dan Mickey kini berada.
Mickey masih sibuk mengati wajah takjub Joelin. Dia tidak kalah takjub dengan pemandangan indah di hadapannya kini. Tiba-tiba saja Mickey mengecup singkat bibir gadis itu.
Gadis itu langsung menoleh kekanan karena terkejut dengan perlakuan Mickey. Kini Joelin bisa memandang langsung wajah pria itu.
"Maafkan aku Joe."
Mickey kembali mendaratkan banyak kecupan singkat di bibir Joelin. Merasa gadis itu tidak berontak akhirnya Mickey menempelkan bi*irnya sejenak di bi*ir gadis itu. Setelah yakin bahwa Joelin menerima tindakannya Mickey mulai menciu*i gadis itu lembut, mereka bertahan begitu untuk beberapa menit. Perlahan-lahan ciu*an Mickey berubah menjadi semakin agresif. Joelin kini membalasnya. Semakin Joelin membalas, semakin agresif jugalah Mickey. lalu salah satu tangan Mickey mulai menyelusup kebawah dres Joelin. Dia membelai p*ha gadis itu perlahan, memberikan sensasi aneh dalam diri Joelin. Mickey semakin menaikkan tangannya. Kini dia bisa mengelus inti Joelin yang dibungkus oleh dalamannya.
"aah... apa..yang kau lakukan?" tanya Joelin. Tubuhnya kini menegang seiring sengan jari Mickey yang menekan intinya dari balik dalamannya.
Mickey tidak ingin menghentikan aksinya, dia terus saja memangsa bibir gadis itu. Joelin ikut terbuai. Dalam satu gerakan, Mickey membuka sleting dress Joelin dan menariknya semakin kebawah menyisakan leher dan da** Joelin yang kini terekspos.
Mickey melanjutkan aksinya, kini dia bermain di leher Joelin. Tangannya yang tadi sibuk di inti Joelin kini beralih menyentuh payu**** gadis itu. Joelin semakin menikmati sensasi yang diberikan oleh Mickey.
Setelah puas bermain dengan leher dan da*a Joelin, pria itu kembali memangsa rakus bib*r gadis itu. Mereka berdua sungguh jatuh kedalam satu sama lain, hingga tanpa sadar kini mereka telah terbaring di pasir pantai. Angin pantai yang berhembus kencang tidak juga menyadarkan mereka.
"Mickey sudah ya." ujar Joelin ngosngosan setelah berhasil melepaskan ciuman mereka.
"Maaf." gumam Mickey sambil membawa Joelin kedalam pelukan. Dia sungguh butuh berendam di air dingin sekarang. Sesuatu sedang mengeras dibawah sana.
Joelin memilih diam dalam pelukan Mickey. Wajah mereka masih saling menempel. Keduanya terbaring dipantai.
"Apa kau tidak bawa jaket?"
"Tidak."
"Kau bisa sakit karena masuk angin."
Mickey duduk sambil membawa tubuh Joelin dalam pelukannya, agar gadis itu ikut duduk juga.
"Kita mampir ke toko pakaian." Mickey bergumam sambil menaikkan rel sleting dress Joelin.
"Buat apa?"
"Apa kau akan berkendara dengan mini dres ini di malam hari?"
"oh Iya."
"Ayok ikut denganku. Setidaknya kita bisa menemukan pakaian yang lebih hangat di beberapa toko dekat pantai."
Mickey berujar sambil menarik Joekin bangkit dari duduknya.
"Mickey, sebentar. Ada banyak pasir dipunggungku, boleh tolong lepaskan tanganku sebentar?"
"Hahahaa... Tenanglah. Aku akan membersihkannya untukmu."
Mickey memutar tubuh Joelin, hingga gadis itu kini memunggunginya. Sekali lagi dia melepas sleting gaun gadis itu. Lalu Mickey mengusap lembut punngung Joelin untuk membersihkan pasir yang tinggal di sana. Tubuh Joelin bergidik saat tangan Mickey menyentuhnya.
"Sudah bersih yang mulia." Mickey kembali merapikan dress Joelin.
"Joe"
"Iya?"
"Sebenarnya, i love you."
"Thank you."
Joelin melangkah pergi karena terkejud dengan kalimat yang keluar dari mulitnya, meninggalkan Mickey yang tidak kalah terkejutnya.
"Hei tunggu aku." Teriak Mickey mengejar Joelin yang kini berlari kecil.
Mereka kembali berjalan beriringan, keduanya memilih untuk diam. Debur ombak menjadi senandung yang mengantar langkah mereka. Setelah tiba di tempat yang ramai tadi, keduanya langsung menuju toko pakaian di sana. Joelin memilih sebuah kaos lengan panjang berwarna putih dan jeans hitam. Gadis itu langsung masuk ke kamar ganti, lalu dia segera bergegas ke kasir.
"Miss, saya mau bayar."
"Maaf barang yang mana ya nona?"
"Yang saya pakai sekarang, ini barcodenya tadi sudah saya copot dari baju." Jawab Joelin sambil menyerahkan barcode pada gadis kasir itu.
"Baju yang anda pakai sudah dibayar tuan yang sedang duduk di sana." jawab kasir sambil menunjuk kearah Mickey.
"Terimakasih Miss." Joelin tersenyum manis lalu bergegas menemui Mickey.
"Kenapa membayar bajuku?"
"Karena aku yang mengajakmu keluar, kalau kamu sampai sakit karena masuk angin, pasti aku akan merasa bersalah."
"Selalu saja alasan mu begitu." gerutu Joelin.
"Ayok kita makan. Kau pasti sudah lapar kan?"
"Ayok." Jawab Joelin kembali semangat.
Mickey dan Joelin melangkah keluar dari toko pakaian itu, menuju sebuah restoran sea food. Mereka makan sambil bercanda. Setelah kenyang keduanya memutuskan untuk pulang. Joelin dan Mickey kini tiba di area parkir.
"Oh My God."
"Kenapa Mike?"
"Ban belakangnya kempes Joe."
"Ha?"
"Ayok kita cari bengkel terdekat."
"Tapi ini sudah malam dan aku tidak terlalu kenal dengan daerah ini." Ujar Mickey khawatir.
"Lalu?"
"Kita cari penginapan."
"hmmm... bemalam di sini dan tinggal di dua kamar terpisah lebih baik daripada naik sepeda motor malam-malam begini. Tentu saja kami lebih aman." batin Joelin.
"Baiklah. Ayok." jawab Joelin.
Mereka lalu kembali berjalan kaki, dan mencari penginapan di dekat sana.
sukes iya kak untuk karyanya
jangan lupa mampir di karya pertamaku yang menceritakan lelaki letoy yang selalu di tolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
terimakasih 🙏
SEMANGAT Anna Divya Lin