Dhini Apriani seorang gadis cantik yang merasa dirinya titisan dewi kuan'in, bertemu dengan seorang pangeran tampan yang kadar ketampanannya diatas rata-rata lelaki pada umumnya.
Pertemuan mereka yang terjadi karena sebuah kesalahan kecil, membuat keduanya semakin hari semakin dekat.
Davin Aditya Pratama, putra seorang pengusaha sukses yang menjalin kasih dengannya. Namun sayangnya, orang tuanya telah menjodohkan dirinya dengan anak dari temannya.
Lantas bagaimana kisah cinta antara dua makhluk kasat mata itu ?
cekidot....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ade The_vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Davin
Amir yang masih terus mencoba melepaskan diri dari jeratan tangan kekar itu. Sedangkan Dhini dan Windy malah berpelukan ketakutan. Tak kalah anehnya Sari dan Murni yang malah berteriak-teriak lari kesana-kemari tanpa tujuan yang pasti.
Sementara dua pengunjung kafe lainnya yang juga wanita turut resah melihat kejadian itu. Amir masih mencoba dengan sekuat tenaganya. Saat tanpa sadar tangannya mengenai topi pria misterius itu, seketika itu juga suasana menjadi hening.
"Bang Davin" ucap Dhini terkejut melihat wajah orang yang sangat dirindukannya itu ada di depan matanya.
Sari dan Murni yang lelah berlarian kesana-kemari pun berhenti seketika dan saling menatap "mbak Dhini kenal sama pria misterius sombong itu" ucap Murni ragu-ragu.
Davin melepaskan tangannya dari Amir "Kamu gak inget pesen yang abang bilang Dhin ? Gak boleh apa coba ? hemm ? Abang dari pagi nungguin kamu disini, eeh dateng-dateng kamunya di peluk-peluk gitu sama gagang sapu ini" dia menunjuk Amir dengan tatapan mata elang yang akan memangsa buruannya.
Amir yang memang berbadan kurus ceking itu pun berpindah posisi ke tempat yang lebih jauh, ternyata nyalinya tak sehebat Batman sungguhan.
Dhini yang sangat merindukan tunangannya itu pun langsung memeluknya erat, dia menangis terharu. Rasanya tak ingin lepas lagi dari pelukan itu. Davin yang juga sangat, bahkan lebih dari sangat merindukan Dhini, mengelus punggungnya mencoba menenangkan Dhini.
Sementara Sari dan Murni tercengang dengan kejadian itu, mata mereka melotot dengan mulut yang menganga.
#
Dhini menjelaskan siapa sebenarnya pria misterius yang dimaksud Sari dan Murni itu setelah mereka semua kembali ke tempatnya semula.
"Kenalin ini tunangannya Dhini, bang Davin." Dhini menyenggol lengan Davin dengan sikutnya, memberi kode untuknya menjulurkan tangan. Wajah Davin masih terlihat kesal karena Dhini dan Amir begitu akrab tadi.
"Abang mukanya yang bagusan dikit napa, baru ketemu ama Dhini bukannya kasih senyum malah mukanya di tekuk gitu, berasa kek liat bapak tiri deh." ucapan Dhini memancing gelak tawa dari kedua sahabatnya itu.
"Eh Princess, beneran ini kamu udah punya tunangan ?" Barbie yang penasaran di angguki juga oleh Batman.
"Batman patah hati nih sama Princess" ucapan Amir langsung dapat pelototan tajam dari Davin.
"Batman dari mana ? kurus kering kek gagang sapu gini ngaku Batman. Turun harga diri Batman kamu buat." Ketus Davin yang masih kesal melihat Batman KW oplosan itu.
"Udah-udah, ini apaan sih pada ribut." ucap Dhini menengahi.
"Iya ini beneran tunangannya aku, aku memang gak pernah cerita sama kalian karena kalian juga nggak pernah nanya kan ke aku." jawab Dhini tertawa.
Davin yang gemes melihat tingkah laku Dhini pun mangacak rambutnya "Abang cape Dhin, pengen istirahat nih dari tadi pagi duduk disini terus. Pinjem kunci kamar kamu dong, abang pengen rebahan bentar di atas."
Dhini merogoh tasnya mencari kunci kamarnya "nih, abang istirahat dulu, Dhini masih mau ngobrol sama temen-temen disini." ucapnya sambil memberikan kunci kamarnya.
"Kamu ! jangan macam-macam sama tunangan saya ya" ucap Davin dengan mengarahkan dua jari telunjuk dan jari tengahnya ke arah mata Amir dan matanya bergantian.
"Udah pergi sana baaaang." Dhini mendorong tubuh Davin ke arah tangga.
Tiga serangkai itupun kembali melanjutkan acara nongki-nongki yang biasa mereka lakukan seperti biasanya. Hingga tanpa sadar hari sudah mulai petang.
Barbie dan Batman sudah pulang, tinggal Dhini yang masih membantu Sari dan Murni yang sedikit kerepotan karena banyaknya pengunjung kafe yang datang dan pergi silih berganti
Rasa lelah pun menghampiri mereka bertiga, sudah hampir jam sembilan malam. Mereka bersiap-siap akan menutup kafenya.
"Mbak Dhini nginap disini ya, kami mau pulang duluan ya. Ayo Mur..." Ucap Sari mengajak Murni pulang.
"Ohh iya mbak, belum tau nih. Bang Davin masih di atas kok, ntar aku tanyain dulu dia mau pulang ke apartemen atau disini. Mbak Sari sama mbak Murni kalo mau pulang silahkan, nggak apa-apa, hati-hati dijalan ya..." ucap Dhini di iyakan mereka berdua.
Dhini naik keatas melihat Davin yang masih tertidur pulas di kamarnya. Dhini mencoba membangunkan Davin, menggoyangkan lengannya. "Bang, udah malam nih. Abang nggak pulang ke apartemen ?" tanya Dhini masih berusaha membangunkannya.
"Hemmm, abang nginap disini aja nggak apa-apa ya. Abang ngantuk banget nih males mau pulang lagi, udah PW jadi mager." dengan mata yang masih tertutup dia masih bisa menjawab Dhini.
Karena kasihan melihat Davin yang sangat kelelahan itu, Dhini pun tak tega membangunkannya lagi. Dhini malah mengambil posisi tidur di atas sofa panjang di kamarnya itu.
Bersambung...
...🙏🙏🙏🙏...
ceritanya beneran mirip sama dunia real😂
jadi g mungkin belajar
malah nonton🤦🏻♀️
tapi yang penting jangan ke hal yg negatif 👍
penulisannya rapi tanpa ada typo
karakter cwo yang tampannya diatas rata-rata