Bu Rena adalah guru kelompok bermain (KB) Mentari, sosoknya yang ceria dan supel menjadikannya disukai banyak anak dan teman sejawatnya,
Berkisah tentang segala aktivitas kegiatan mengajarnya, kisah percintaannya, kegiatan dengan masyarakat sekitar dan kesabaran dia dalam menangani banyak anak yang berbeda karakter.
Hingga berakhir dengan kehilangan suami tercintanya yang menjadikan dia kuat harus dalam memulai hari barunya.
Akankah dia bertahan dengan keadaan yang ada? Menikmati kesendirian dan segala kesibukannya? Atau membuka lembaran baru dengan menerima seseorang yang mampu dijadikan sebagai Ayah pengganti untuk anak semata wayangnya Khayrullah Hizam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satgas covid
Rena meletakkan Hizam di kamar. Ya, bocah gembul itu tertidur saat di jalan tadi. Mungkin sudah sangat mengantuk sehingga meminta pulang. Setelah membersihkan tangan, kaki dan mulut anaknya menggunakan tisu basah, dia beranjak untuk membersihkan diri. Mengganti baju gamisnya dengan baju kebesarannya di rumah, daster.
Mungkin sebagian ibu-ibu di rumah lebih nyaman dengan memakai daster. Selain lebih leluasa dan nyaman dalam bergerak, kain daster juga adem saat di pakai, dengan segala aktivitas ibu-ibu yang tak ada habisnya berada dirumah.
"Ayuk bu sholat dhuhur dulu, Bapak tunggu di kamar depan ya. " Banu yang mengagetkannya keluar dari kamar mandi. Sedangkan Rena yang terjolak kaget hanya memandang punggung kokoh, hilang dari pandangan matanya.
Kamar depan memang kosong, dan dialih fungsikan sebagai tempat untuk sholat. Di rumah Rena ada 3 kamar. Satu kamar untuknya, satu kamar Hizam dan yang satu untuk mushola. Tempat digunakan untuk sholat.
Rena langsung mengambil air wudhu, dan menemui suaminya yang sudah siap dengan menggunakan sarung, baju koko dan peci hitam yang sudah bertengger di kepalanya.
"Waah MasyaAllah gagah banget bapak. " Rena yang melihat suaminya terpesona.
"Lah, bukannya sudah dari dulu? " Banu ikut saja membalas gombalan istrinya itu. "Memangnya ibu baru sadar y kalo bapak gagah? " Banu membentangkan karpet sebelum sajadah berwarna biru itu di hamparkan di hadapannya.
"Hemm Pedenya nanti over niih. " Cibir Rena dan dibalas dengan tawa keras Banu, sebelum akhirnya mereka melaksanakan sholat dhuhur berjamaah berdua.
Sore hari menjelang maghrib suara pintu depan terdengar diketuk dari luar disertai salam.
Rena yang sedang memanasi lauk memaksa Banu mau tak mau harus beranjak membuka pintu.
Siapa maghrib-maghrib gini bertamu
"Walaikumsalam. " Banu membuka pintu, dan ternyata tamunya adalah pak RT. "Loh pak RT monggo sami mlebet, pinarak" (Loh pak RT, silahkan masuk, duduk) Banu membimbing lak RT untuk masuk kedalam rumah.
"Njih maturnuwun mas Banu, ngapunten sederenge, kulo bade kepanggih kalih Bu guru Rena, wonten? Oh nggih taqoballalahu mina waminkum taqoballahu ya karim nggih mas Banu sugeng riyaya, ngantosan kesupen mas" ( Iya terimakasih mas Banu, maaf sebelumnya, saya mau bertemu dengan bu guru Rena ada? Oh ya taqoballalahu mina waminkum taqoballahu ya karim nggih Mas Banu, sampai lupa mas) . Pak RT menyalami Banu.
"haha nggih pak aamiin, selamat lebaran ugi kagem pak RT, monggo pinarak lebet lah pak, sekedap kulo timbali bu Rena. " ( Ohahah iya pak aamiin, selamat lebaran juga buat pak RT, silahkan masuk, sebentar saya panggilkan). Banu beranjak menuju ke dapur memanggil istrinya, setelah mempersilahkan pak RT untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
"Bu, ada pak RT di depan nyariin ibu tuh, temuin dulu gih, biar bapak yang melanjutkan ini" Banu meraih soled yang sedang di pakai Rena.
"Pak RT? Ngapain? " Rena sedikit kaget karena tidak biasanya kedatangan orang nomor satu di RT nya itu.
"Udah sana temuin saja dulu. " Banu mendorong tubuh istrinya.
Rena berjalan menuju ke kamar, mengambil jilbab dan dikenakannya sebelum menemui pak RT.
"Wah Pak RT, sugeng pak? pripun kabare? sugeng riyaya nggih pak. " (Wah pak RT, bagaimana kabarnya? selamat lebaran ya pak) Rena menyapa pak RT setelah tiba di ruang tamu.
"Alhamdulillah sugeng bu guru Rena" Pak RT tersenyum menjawab sapaan Rena.
"Kepripun niki tumbenan pak RT? " Rena duduk di depan pak RT yang dibatasi dengan meja di antara mereka.
"Ngapunten nggih bu guru dados ngganggu, niki kulo bade nyuwun tolong kalih bu guru, asale kala wingi ketua RT sedesa kempalan teng baledusun, kagem mbentuk satgas covid teng tiap RT. Ingkang jumlaeh 5 tiyang. Nah kulo mriki bade nyuwun tulung bu guru nderek dados anggota satgas. Pripun kinten-kinten bu? " (Maaf ya bu guru jadi mengganggu, ini saya mau minta tolong sama bu guru, asal muasalnya adalah, kemarin ketua RT sedesa dikumpulkan di balai desa untuk membentuk satgas covid di tiap RT. Yang jumlahnya 5 orang. Nah saya kesini mau meminta tolong bu guru untuk menjadi anggota satgas. Kira-kira bagaimana?). Pak RT memandang Rena penuh harap.
"Mboten wonten tiyang sanes malih nopo pak?" ( Tidak ada orang lain lagi apa pak). Tanya Rena.
"Mboten bu, kulo milih tiyang kan kinten-kinten tiyang niku disegani teng warga, misal tiyang biasa nggih mengkin malah sepele, mboten di tumbas aturane. " (tidak ada bu, saya memilih kan yang kira-kira disegani oleh warga, misal orang biasa yang tidak berpengaruh nanti malah terlihat sepele dan tidak bisa dibeli atirannya) . Pak RT menjelaskan kepada Rena.
"Anggotane sinten mawon pak? " Rena bertanya bersamaan dengan pak Banu keluar dari ruang tengah dan membawa nampan berisi teh hangat.
"Kulo, panjenengan, sekertaris bendahara dan perwakilan seksi keamanan. "
"Nggih inshaAllah kengin pak, tapi nuwun sewu menawi mengkin wonten kegiatan ingkang sareng kalih kegiatan sekolah mggih kulo mboten saged nderek pak, sebabipun kewajibane kulo teng sekolah. " (Iya inshaAllah bisa pak, tapi maaf bila dalam berkegiatan nanti jadwal bersamaan dengan kegiatan sekolah saya tidak isa. karena kewajiban saya di sekolah) Rena berbicara gamblang agar ketika saatnya bertugas nanti jika bentrok dengan kegiatan sekolah, ya Rena tidak bisa mengikuti.
"Nggih bu mboten nopo kulo maklum. Dados niki bu, ngenjang kita pun gadeh acara kegiatan, bade mulai penyemprotan cairan disinfektan dan pembagian masker kagem sedoyo warga. Nggih kinten-kinten jam 7 pagi kita pun siap. Start saking mushola daleme pak Kuswo bu. (iya bu tidak ala-apa saya maklum. Jadi besok kita sudah punya acara kegiatan, mulai ada penyemprotan dengan cairan disinfektan dan pembagian masker untuk seluruh warga. Dan kira-kira jam 7 pagi kita sudah siap start dari rumah pak Kuswo) " Pak RT menjelaskan acara yang akan dilakukan esok hari dan rute penyemprotan.
Rena mendengarkan dengan seksama, sesekali saling lempar pandangan bersama suaminya yang duduknya agak jauh darinya. Sebelum akhirnya pak RT meminta diri untuk pulang dikarenakan akan menghubungi anggota yang lainnya.
Hingga akhirnya Banu dan Rena masuk kedalam rumah setelah pak RT pergi. Rena membawa nampan yang berisi gelas bekas suguhan untuk pak rt.
************
Selamat membaca, tak pernah bosan aku ucapkan, minta tolong berikan jempolnya buat aku😊
terimakasih 😘
seharusnya cerita2 gini nih yg banyak peminatnya bukan hanya tentang CEO aja
aku suka menceritakan kehidupan dan kesederhanaan hidup ,natural ceritanya
makasih y thor
sehat selalu
semangat dan semoga selalu sukses
😍😘🤗
ehhh,,,atau jangan2 emang kisah nyata yaaa
jempol banyak2 dech pokoknya
pinginnya ada bonchap 😁😁😁😁😁😁
terima kasih thor....sukses selalu...
kapan malam pertamanya udah hamil aja😅😅😅nunggin part MP nyaa,,malah udah end,,makasiih tor