NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5. Tekanan Yang Datang Dari Segala Arah

Sejak kedatangan Ratna ke Desa Sukamerta, Naya merasa hidupnya tidak lagi berjalan seperti biasa, meski dari luar tampak sama. Ia tetap bangun sebelum fajar, mengambil air wudu dengan gerakan yang hafal di luar kepala, lalu menunaikan salat dengan doa-doa yang lebih panjang dari biasanya. Namun ketenangan yang dulu selalu hadir setelahnya, kini terasa sulit diraih.

Pagi-pagi itu, Naya melangkah ke kebun dengan keranjang di tangan. Embun masih menggantung di ujung daun, tanah lembap menempel di telapak kakinya. Semua tampak seperti hari-hari sebelumnya, tetapi perasaan Naya tidak lagi sama. Ada sesuatu yang menekan dadanya, membuat napasnya terasa lebih pendek.

Ia menyapa beberapa tetangga yang berpapasan di jalan kecil menuju kebun. Senyum dibalas senyum, tetapi Naya bisa merasakan perbedaan. Tatapan-tatapan itu terasa lebih lama dari biasanya. Seolah ada penilaian yang tak terucap. Seolah dirinya kini bukan lagi sekadar Naya, gadis kebun yang dikenal baik dan sederhana, melainkan seseorang yang sedang diperbincangkan.

Naya tidak pernah meminta perhatian itu.

Ia menunduk, mempercepat langkah, berusaha fokus pada pekerjaannya. Tangannya memetik daun-daun bayam yang siap panen, tetapi pikirannya melayang. Setiap kali suara langkah terdengar dari kejauhan, ia refleks menoleh, jantungnya berdegup lebih cepat. Ia sendiri tidak tahu apa yang ia takutkan—tatapan, bisikan, atau kehadiran seseorang yang tidak ingin ia temui.

Ratna.

Nama itu terasa berat di benaknya.

Pertemuan singkat dengan perempuan itu meninggalkan luka yang tidak terlihat, tetapi terasa dalam. Kata-kata yang diucapkan dengan nada tenang namun menusuk, sikap merendahkan yang dibungkus sopan santun—semuanya terus terngiang. “Tahu diri.” Dua kata itu seperti tertanam di kepalanya, muncul setiap kali ia mencoba menenangkan diri.

Sejak hari itu, Naya memilih mengurung diri.

Ia tetap ke kebun karena itu satu-satunya cara bertahan hidup, tetapi setelahnya ia langsung pulang. Ia menolak singgah di rumah tetangga, menolak ajakan minum teh sore, bahkan menunda keperluan-keperluan kecil yang biasanya ia lakukan tanpa ragu. Bukan karena ia merasa lebih tinggi, justru sebaliknya—ia merasa terlalu kecil untuk berada di tengah orang banyak.

Di dalam rumah, Naya sering duduk lama dalam diam. Pandangannya kosong, pikirannya penuh pertanyaan yang tidak kunjung menemukan jawaban. Ia mencoba jujur pada dirinya sendiri. Apakah ia memang salah? Apakah ia telah melangkah terlalu jauh hanya dengan memiliki perasaan?

“Apa aku terlalu berharap?” bisiknya suatu malam.

Tidak ada yang menjawab. Hanya suara angin yang menyusup lewat celah jendela.

Naya bukan gadis yang terbiasa menyalahkan orang lain. Ia selalu mencoba melihat ke dalam dirinya lebih dulu. Namun semakin ia berpikir, semakin dadanya terasa sesak. Ia tidak pernah memaksa Adit. Ia tidak pernah meminta janji. Semua berjalan perlahan, bahkan terlalu hati-hati. Tetapi mengapa ia tetap dianggap tidak pantas?

Perasaan itu membuatnya lelah. Lelah menahan, lelah berpura-pura baik-baik saja.

Di sisi lain desa, Bu Sulastri tidak bisa menutup mata.

Sebagai orang yang mengenal Naya sejak kecil, ia melihat perubahan itu dengan jelas. Senyum Naya kini lebih jarang muncul. Langkahnya tidak lagi ringan. Bahkan saat berpapasan, mata gadis itu terlihat sayu, seolah memikul beban yang terlalu besar untuk tubuhnya yang kurus.

Bu Sulastri tahu, ini bukan sekadar soal perasaan anak muda. Ada luka yang sedang tumbuh pelan-pelan, dan jika dibiarkan, bisa menjadi lebih dalam.

Sebagai adik Ratna, Bu Sulastri merasa berada di posisi yang sulit. Ia mengenal kakaknya lebih dari siapa pun. Ia tahu bagaimana Ratna dulu—perempuan desa yang juga pernah dipandang sebelah mata, yang kemudian bangkit dan mengubah hidupnya. Namun perubahan itu, disadari atau tidak, telah mengeras menjadi kesombongan.

Sore itu, Bu Sulastri duduk sendiri di beranda rumahnya, memandangi jalan desa yang mulai sepi. Pikirannya dipenuhi satu nama: Naya. Ia merasa gagal jika membiarkan gadis itu menanggung beban sendirian. Ia tahu, Ratna harus ditegur. Bukan sebagai perempuan berstatus tinggi, bukan sebagai ibu dari Adit, melainkan sebagai manusia yang pernah hidup dari tanah yang sama.

“Aku tidak bisa diam,” gumam Bu Sulastri pelan.

Keputusan itu terasa berat, tetapi juga perlu. Ia tidak ingin Naya merasa sendirian. Tidak di desa ini. Tidak di tempat yang seharusnya menjadi rumah.

Bu Sulastri berdiri, menarik napas panjang. Di dalam hatinya, ia sudah tahu satu hal pasti: apa pun yang terjadi setelah ini, ia akan berada di sisi yang benar, meski itu berarti berhadapan dengan darah dagingnya sendiri.

Sore itu, Bu Sulastri melangkah menuju rumah tempat Ratna menginap dengan hati yang berat. Langkahnya tidak lagi secepat biasanya. Ada keraguan yang menyelinap, tetapi tekadnya lebih kuat. Ia tahu, jika ia terus diam, luka yang ditinggalkan akan semakin dalam—bukan hanya pada Naya, tetapi juga pada dirinya sendiri.

Ratna sedang duduk di ruang tamu ketika Bu Sulastri tiba. Penampilannya rapi, wajahnya tenang, tetapi sorot matanya dingin. Ia menoleh sekilas saat adiknya masuk, lalu kembali sibuk dengan ponselnya.

“Kak,” panggil Bu Sulastri pelan, mencoba menjaga nada suaranya tetap rendah.

Ratna mendesah, seolah terganggu. “Ada apa lagi, Sulastri?”

“Kita bicara sebentar,” ujar Bu Sulastri. “Sebagai saudara.”

Ratna meletakkan ponselnya di meja dengan gerakan yang disengaja. “Bicara apa?”

“Kak terlalu keras pada Naya,” kata Bu Sulastri tanpa berputar-putar. “Kata-kata Kakak melukai.”

Ratna tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. “Aku hanya mengingatkan dia supaya tahu posisi.”

“Posisi?” Bu Sulastri mengulang, nadanya meninggi sedikit. “Posisi siapa? Kita ini juga pernah ada di posisi dia.”

Ratna menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Itu dulu. Sekarang berbeda.”

“Berbeda karena status?” tanya Bu Sulastri. “Karena uang? Karena lingkungan?”

Ratna menatap adiknya tajam. “Kamu tidak mengerti dunia yang aku hadapi sekarang.”

“Justru karena aku mengerti, aku bicara,” balas Bu Sulastri. “Naya tidak pernah memaksa Adit. Dia tidak pernah meminta apa pun.”

Ratna tertawa kecil, sinis. “Perempuan seperti itu biasanya tahu caranya membuat laki-laki terikat tanpa harus meminta.”

Ucapan itu membuat dada Bu Sulastri bergetar. “Jangan bicara sembarangan, Kak. Naya bukan seperti yang Kakak pikirkan.”

“Dan kamu terlalu mudah percaya,” balas Ratna dingin. “Aku hanya melindungi anakku.”

“Kak melindungi dengan merendahkan orang lain?” suara Bu Sulastri kini bergetar menahan emosi. “Kita ini dibesarkan dengan nilai yang sama, Kak. Jangan lupakan asal kita.”

Ucapan itu membuat Ratna berdiri. Wajahnya menegang. “Aku tidak perlu diingatkan dari mana aku berasal.”

“Justru itu yang perlu,” jawab Bu Sulastri lirih tapi tegas. “Supaya Kakak tidak lupa bagaimana rasanya dipandang rendah.”

Hening menyelimuti ruangan. Ratna memalingkan wajahnya, rahangnya mengeras. “Aku tidak datang ke desa ini untuk dihakimi.”

“Dan Naya juga tidak pernah minta dihakimi,” balas Bu Sulastri.

Percakapan itu berakhir tanpa kata damai. Ratna meninggalkan ruangan dengan langkah keras. Bu Sulastri hanya bisa menghela napas panjang, menyadari bahwa jarak antara mereka kini semakin lebar.

Sejak hari itu, sikap Ratna berubah.

Ia semakin kaku, semakin dingin. Tatapan warga desa yang mulai berbisik-bisik tidak ia terima dengan kepala dingin. Beberapa orang mengenalinya, mengingat masa lalunya, dan membandingkan sikapnya dulu dan sekarang. Tidak ada yang mengatakannya secara langsung, tetapi Ratna bisa merasakannya.

Harga dirinya terusik.

Di kota, ia disegani. Di sini, ia merasa dipandang sebagai seseorang yang lupa diri. Perasaan itu membuatnya semakin keras, semakin defensif. Dalam hatinya, ia menyalahkan satu nama: Naya.

Sementara itu, Adit semakin sering datang ke Desa Sukamerta.

Ia tidak lagi peduli pada jarak atau tatapan orang-orang. Setiap kali ada kesempatan, ia mendatangi kebun Naya. Gadis itu sering mencoba menghindar, berpura-pura sibuk, tetapi Adit selalu menemukan cara untuk berbicara dengannya.

Sore itu, Adit berdiri di tepi kebun, menunggu Naya yang sedang memanen umbi singkong. Matahari condong ke barat, cahayanya keemasan, tetapi suasana di antara mereka terasa berat.

“Naya,” panggil Adit lembut.

Naya mengangkat kepala perlahan. “Mas.”

“Aku tahu kamu menghindar,” kata Adit jujur. “Aku tahu kamu tertekan.”

Naya kembali menunduk, tangannya membersihkan tanah yang menempel di umbi. “Mas, aku lelah.”

“Aku juga,” jawab Adit. “Tapi aku tidak mau pergi begitu saja.”

Naya berhenti bekerja. Ia menarik napas dalam. “Mas bisa pergi ke kota. Mas punya dunia lain. Aku tidak.”

Kata-kata itu membuat Adit terdiam.

“Aku yang akan menanggung semua,” lanjut Naya pelan. “Tatapan, gunjingan, tekanan. Aku perempuan, Mas. Aku hidup di sini.”

Adit mengepalkan tangan. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami betapa tidak seimbangnya perjuangan ini. Ia ingin berkata bahwa ia akan melindungi, bahwa ia akan melawan, tetapi kata-kata itu terasa belum cukup.

“Naya,” ucapnya lirih, “aku tidak ingin kamu hancur.”

“Aku juga tidak,” jawab Naya. “Itulah sebabnya aku takut.”

Kalimat itu menggantung di udara, berat dan menyakitkan.

Di kejauhan, Bu Sulastri memperhatikan mereka dengan perasaan campur aduk. Ia tahu, konflik ini sudah terlalu besar untuk Naya. Dan ia juga tahu, Ratna tidak akan berhenti begitu saja.

Sementara di kota, Ratna duduk sendirian di ruang tamunya. Pikirannya dipenuhi rencana-rencana. Jika bujukan tidak berhasil, ia akan mencari cara lain. Ia tidak akan membiarkan masa depan anaknya ditentukan oleh seorang gadis desa.

Malam itu, Naya duduk sendirian di ruang tengah rumahnya. Lampu minyak menyala redup, memantulkan bayangan samar di dinding. Di luar, suara jangkrik bersahutan, namun tidak satu pun mampu menenangkan hatinya. Tangannya menggenggam ujung mukena, jemarinya dingin, dadanya terasa berat.

Ia menangis tanpa suara.

Air matanya jatuh perlahan, membasahi kain putih yang sudah lama menjadi saksi doanya. Untuk pertama kalinya, Naya merasa begitu lelah. Bukan lelah karena bekerja di kebun, bukan karena kekurangan, melainkan lelah menahan perasaan yang tak pernah ia minta.

Ia merasa terjepit.

Di satu sisi, ada Ratna dengan penolakan yang terang-terangan, kata-kata yang merendahkan, dan sikap yang membuatnya merasa tidak pantas. Di sisi lain, ada Adit dengan ketulusan dan keteguhan yang justru semakin membebaninya. Naya tahu, Adit berjuang dengan caranya sendiri. Namun perjuangan itu menempatkannya di posisi paling rentan.

“Apa aku harus mengalah?” bisiknya lirih.

Pertanyaan itu kembali muncul saat ia menunaikan salat istikharah. Sujudnya panjang, doanya bergetar. Ia memohon petunjuk, memohon kejelasan. Namun seperti malam-malam sebelumnya, tidak ada ketenangan yang datang. Yang ada justru perasaan semakin berat, seolah Allah sedang mengajaknya bersabar lebih lama.

Keesokan harinya, Naya kembali ke kebun. Tempat yang dulu selalu menjadi pelariannya kini terasa asing. Ia menyiram tanaman dengan gerakan mekanis, pikirannya kosong. Sesekali ia berhenti, menatap barisan sayur yang hijau, lalu menghela napas panjang.

Bahkan di kebun, ia tidak lagi merasa aman.

Di kota, Ratna duduk di ruang kerjanya dengan wajah keras. Telepon genggamnya berada di tangan, jarinya menekan layar dengan gerakan pasti. Ia sudah terlalu lama merasa dipermalukan. Penolakan Adit, sikap Bu Sulastri, dan tatapan warga desa—semuanya menumpuk menjadi satu.

Ia menekan tombol panggilan.

“Adit,” suaranya dingin saat sambungan terhubung.

“Iya, Bu?” jawab Adit, waspada.

“Kalau kamu tetap bersikeras,” kata Ratna tanpa basa-basi, “aku tidak akan diam.”

Adit menarik napas panjang. “Aku tidak minta persetujuan dengan ancaman.”

“Ini bukan ancaman,” balas Ratna cepat. “Ini peringatan. Aku bisa membuat keadaan menjadi tidak nyaman. Untuk siapa pun.”

Hening sejenak di seberang sana.

“Aku harap kamu berpikir ulang,” lanjut Ratna. “Sebelum semuanya menjadi lebih rumit.”

Telepon itu ditutup tanpa salam. Adit menatap layar ponselnya lama, dadanya sesak. Ia tahu, ibunya tidak berbicara kosong. Ia mulai menyadari bahwa konflik ini telah berubah menjadi pertarungan yang tidak seimbang.

Hari-hari berikutnya, suasana di Desa Sukamerta terasa berbeda bagi Naya. Tatapan warga semakin sering ia rasakan. Bisikan-bisikan terdengar samar saat ia lewat. Tidak ada yang berani berbicara langsung, tetapi perubahan sikap itu nyata.

Naya mulai merasa tidak aman secara batin.

Ia lebih sering berhenti bekerja di kebun, duduk memeluk lutut, pandangannya kosong. Kebun yang dulu memberinya kekuatan kini justru menjadi tempat ia banyak diam.

Bu Sulastri memperhatikan semua itu dengan hati perih. Ia tahu, Naya sudah berada di ambang batas. Sore itu, ia mendatangi gadis itu yang sedang duduk di beranda rumahnya.

“Naya,” panggilnya lembut.

Naya menoleh. Wajahnya pucat, matanya lelah. “Iya, Bu.”

“Kalau kamu butuh waktu,” ujar Bu Sulastri pelan, “tidak apa-apa.”

Naya terdiam.

“Kadang menjauh bukan berarti kalah,” lanjut Bu Sulastri. “Kadang itu cara paling aman untuk menjaga diri.”

Kata-kata itu menancap dalam-dalam di hati Naya. Ia mengangguk pelan, meski dadanya terasa perih. Ia tahu, saran itu lahir dari kepedulian, bukan paksaan.

Malam itu, Naya berdiri di depan rumahnya. Kebun terbentang gelap di hadapannya, hanya diterangi cahaya bulan yang setengah tertutup awan. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah.

Ia merasa sendirian, meski desa itu tidak pernah benar-benar sepi.

Selamat pagi selamat membaca

Tinggalkan jejak kalian like komen nya terimakasih

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!