Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27.
Darrel mematikan ponselnya dan meletakkannya di meja. Dia menghela napas panjang, lalu menatap Zeya dan Lucky secara bergantian. Kebingungan jelas terpancar di wajahnya.
"Ada apa?" tanya Lucky menatap Darrel dengan heran.
"Setelah semua yang terjadi, mereka masih berani menawarkan kerjasama," ucap Darrel sambil mengacak-acak rambutnya. "Mereka benar-benar gila!"
"Ze nggak percaya mereka tulus ingin berinvestasi," ujar Zeya dengan tersenyum sinis. "Pasti ada udang di balik batu!"
"Tapi tawaran mereka sangat menggiurkan," timpal Daniel yang ikut nimbrung. Sedikit-sedikit dia sudah mulai paham arah pembicaraan mereka. "Dana investasi yang lebih besar bisa mempercepat pengembangan aplikasi KopiKeliling."
"Itu benar," sahut Darrel. "Dengan dana itu, kita bisa memperluas jangkauan aplikasi kita, menambah fitur-fitur baru, dan meningkatkan promosi."
"Tapi, apa kamu yakin bisa mempercayai mereka setelah semua yang mereka lakukan?" tanya Lucky, yang sejak tadi hanya menyimak. Dia menyuarakan keraguan yang sama dengan Zeya.
Darrel terdiam, mempercayai PT Mitra Inovasi Nusantara adalah sebuah risiko besar. Namun, dia juga tidak bisa mengabaikan potensi keuntungan yang bisa didapatkan.
"Coba kita pertimbangkan baik-baik," saran Lucky. "Apa saja keuntungan dan kerugian dari masing-masing pilihan?"
Mereka pun mulai berdiskusi dengan serius. Menganalisis semua aspek dari kedua tawaran tersebut, mulai dari jumlah investasi, persyaratan kontrak, hingga reputasi masing-masing perusahaan.
Setelah berdiskusi panjang lebar, mereka akhirnya sampai pada kesimpulan.
"Aku rasa, kita harus tetap memilih PT FYP Investama," kata Zeya. "Meskipun dana investasi mereka lebih kecil, tapi mereka lebih terpercaya dan memiliki visi yang sama dengan kita."
"Aku setuju," timpal Lucky. "Reputasi itu mahal harganya. Kita nggak bisa mengorbankan integritas kita demi keuntungan sesaat."
Daniel mengangguk setuju. "Selain itu, kita juga harus mempertimbangkan para pedagang kopi dan pelanggan kita. Mereka sudah memberikan dukungan penuh kepada kita. Kita nggak boleh mengecewakan mereka dan memilih bekerjasama dengan perusahaan yang pernah mencoba menghancurkan kita."
Darrel terdiam mencoba merenungkan semua yang telah pendapat mereka. Akhirnya, dia mengambil keputusan.
"Kalian benar," kata Darrel dengan mantap. "Kita akan tetap memilih PT FYP Investama. Kita akan membangun aplikasi KopiKeliling dengan cara yang benar, tanpa mengorbankan integritas kita."
Darrel meraih ponselnya lalu menghubungi Arman dari PT Mitra Inovasi Nusantara.
"Halo, selamat siang, Pak Arman," sapa Darrel dengan nada tegas.
"Selamat siang, Pak Darrel," jawab Arman dari seberang telepon. "Apakah Anda sudah mempertimbangkan tawaran kami?"
"Ya, saya sudah mempertimbangkannya," jawab Darrel. "Dan saya memutuskan untuk menolak tawaran Anda. Terima kasih atas perhatiannya."
"Apakah Anda yakin dengan keputusan Anda?" tanya Arman dengan nada kecewa. "Anda akan menyesalinya."
"Saya yakin," jawab Darrel. "Saya lebih memilih untuk bekerjasama dengan perusahaan yang memiliki visi yang sama dengan saya."
Darrel menutup telepon dan menghela napas lega. Dia merasa telah membuat keputusan yang tepat.
"Oke, sekarang kita fokus pada kerjasama dengan PT FYP Investama," kata Darrel sambil tersenyum. "Kita akan buktikan bahwa kita bisa sukses tanpa harus mengorbankan integritas kita."
Darrel, Zeya, Lucky, dan Daniel yang saling bertukar dengan senyum penuh keyakinan. Mereka siap untuk menghadapi tantangan baru dan mewujudkan impian mereka aplikasi KopiKeliling.
.
.
.
Gedung PT FYP Investama.
Darrel, didampingi oleh Lucky, duduk berhadapan dengan Fenita, CEO PT FYP Investama, dan timnya. Suasana terasa hangat dan penuh harapan.
"Selamat datang, Pak Darrel dan Pak Lucky," Fenita membuka percakapan dengan senyum ramah. "Kami sangat senang bisa bekerjasama dengan Anda. Kami percaya bahwa aplikasi KopiKeliling memiliki potensi yang luar biasa."
"Terima kasih banyak, Bu Fenita," jawab Darrel dengan tulus. "Kami juga sangat bersemangat untuk mengembangkan aplikasi KopiKeliling bersama PT FYP Investama."
"Kami yakin, dengan dukungan dari PT FYP Investama, aplikasi KopiKeliling akan semakin sukses dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi para pedagang kopi kecil," Lucky menimpali dengan penuh optimisme.
"Kami sangat menghargai visi Anda," Fenita membalas dengan antusias. "Kami akan memberikan dukungan penuh untuk pengembangan aplikasi, pemasaran, dan ekspansi bisnis aplikasi KopiKeliling."
Selanjutnya mereka membahas detail kontrak kerjasama dan rencana pengembangan aplikasi KopiKeliling. Darrel merasa lega dan senang karena PT FYP Investama memberikan kebebasan penuh untuk mengembangkan bisnisnya sesuai dengan visinya.
Setelah kesepakatan terjadi mereka pun menandatangani kontrak kerjasama yang saling menguntungkan.
"Selamat, Pak Darrel," Fenita mengulurkan tangannya dengan senyum lebar. "Selamat datang di keluarga besar PT FYP Investama."
"Terima kasih, Bu Fenita," Darrel membalas jabatan tangan itu. Lega bercampur gugup terasa di dadanya. "Semoga ini jadi awal yang baik untuk aplikasi KopiKeliling."
Lucky, yang mendampingi Darrel, ikut menjabat tangan Fenita. "Kami akan bekerja keras untuk memajukan aplikasi KopiKeliling."
Kemudian Darrel dan Lucky keluar dari ruangan tersebut. Namun, tiba-tiba Darrel berhenti. Matanya terpaku pada seorang wanita yang berdiri di dekat lift.
"Vira?" Darrel bertanya, sedikit terkejut.
Vira menoleh dan tersenyum. "Selamat ya, Pak Darrel.Saya senang sekali akhirnya Anda bisa bekerjasama dengan perusahaan kami."
"Semoga kerjasama ini membawa aplikasi KopiKeliling semakin sukses ya, Pak," Vira melanjutkan, masih dengan senyum yang sama. "Saya yakin, aplikasi ini akan memberikan dampak positif bagi banyak orang."
"Terima kasih, Vira," Darrel membalas, berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Semoga saja."
Suasana tiba-tiba menjadi sedikit canggung. Darrel dan Vira saling bertukar pandang, seolah ada sesuatu yang belum terselesaikan di antara mereka. Lucky, yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka, merasa ada sesuatu yang aneh. Dia menyipitkan matanya, menatap Vira dengan tatapan menyelidik.
"Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Pak Darrel," Vira berkata, memecah keheningan. "Selamat siang."
Vira berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Darrel dan Lucky yang masih terpaku di tempatnya.
"Siapa dia, Rel?" tanya Lucky dengan nada curiga.
"Dia... dia Vira," jawab Darrel dengan nada gugup. "Dia yang... waktu itu hampir nabrak Zayn dan Zoey."
"Oh, yang itu," Lucky bergumam, masih dengan tatapan menyelidik. "Dia kenal baik sama kamu?"
"Nggak juga," Darrel menjawab cepat. "Cuma... kebetulan ketemu."
Lucky tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban Darrel. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh sahabatnya itu. Dia bertekad untuk mencari tahu lebih banyak tentang Vira dan hubungannya dengan Darrel.
.
.
.
Sebulan kemudian. Darrel mendapatkan undangan untuk menghadiri sebuah acara pameran UKM. Dia merasa bangga karena aplikasi KopiKeliling semakin dikenal dan diapresiasi oleh masyarakat.
Zayn dan Zoey sangat antusias ketika Darrel mengatakan akan mengajaknya pergi. Apalagi saat sang ayah memakai baju yang rapi.
"Memangnya kita mau ke mana sih, Pa?" tanya Zoey penasaran.
"Kita mau menghadiri acara penting, Sayang," jawab Darrel sambil mencubit pipi gembul Zoey.
"Berarti kita akan bertemu orang banyak?" Zayn ganti bertanya.
"Tentu saja," sahut Darrel lantas merangkul keduanya. "Nanti di sana kalian jadi anak manis, ya."
Zayn dan Zoey mengangguk. Mereka mengerti anak manis yang dimaksud oleh ayahnya.
Namun, ketika mereka akan berangkat, ponsel Darrel berdering. Dia melihat nomor tak dikenal tertera di layar. Lalu dia pun mengangkat telepon tersebut dengan ragu.
"Halo?" Darrel menjawab dengan hati-hati.