Dean Justin Lee, seorang sutradara muda terkenal yang digilai oleh fans dan para aktris itu membuat skandal yang paling gila. Ia menikahi seorang petugas laundry bernama Jessy Julian yang memiliki paras cantik dengan mata berwarna hazel dan rambut pirang paling indah.
Jessy Julian merupakan seorang wanita mandiri yang sejak kecil ditemukan oleh seorang wanita pemilik yayasan. Ia pindah ke New York untuk mengadu nasib sebagai petugas laundry.
Pertemuan pertama Jessy dan Dean justru membuat mereka harus mengarah pada suatu proses pernikahan. Namun, Apakah perbedaan status keduanya dapat membuat pernikahan mereka berlangsung lama? Lalu bagaimanakah Jessy menjaga hatinya karena pesona Dean yang membuat wanita lain terpesona?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nipi Nupu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Long Night
Perjalanan menuju hotel tempatnya menginap masih lama. Untuk keluar dari tempat itu saja terasa sulit, apalagi mencapai hotel. Dean khawatir dengan keadaan Jessy. Ia kini tidak sadarkan diri di kursi di sampingnya. Ia masih sempat berfikir. Apa yang Miranda katakan pada Jessy sehingga ia terlihat tertekan? Ia pernah bersumpah untuk tidak melihat Jessy menahan airmata nya, namun ia gagal. Ia lengah sedikit. Ia menoleh kembali selama ia menunggu untuk bisa keluar dari tempat itu. Malam sudah semakin larut, tapi ia melihat pesta itu belum akan berakhir.
Ia berfikir kembali tentang Miranda. Jika wanita itu menyakiti istrinya, untuk apa? Ia lah yang mengundangnya untuk datang ke tempat ini. Tapi,Jessy seperti saat ini setelah ia meninggalkannya dengan Miranda. Lalu sebenarnya apa yang terjadi. Ia pun melihat keluar. Ia membuka kacanya karena telah lama menunggu.
"Sampai kapan aku akan menunggu?" teriak Dean pada pria yang sedang mengatur parkiran itu.
Pria itu menghampirinya. "Sebentar lagi, Sir."ucapnya gugup.
Dean menutup kembali kaca mobilnya. Ia menatap Jessy dan menyentuh pipinya. "Siapapun yang menyakitimu, aku tidak akan tinggal diam" bisiknya.
Benar saja, setelah menunggu cukup lama, mereka bisa pergi dari tempat itu menuju hotel tempat mereka menginap. Ketika mereka sampai hotel, ia harus membopong Jessy karena ia tidak sadarkan diri.
"Dean, aku ingin pulang..;" bisik Jessy dengan mata terbuka.
Dean menurunkan Jessy tepat didepan pintu kamar mereka. Ia memegang bahunya."Kau sudah sadar?" tanya Dean.
"Mereka mengatakan aku tidak pantas menjadi istrimu. Apakah mereka tahu alasan kita menikah? Kau menikahiku karena kau ingin menutup semua skandal mu itu. Dan aku menyetujuinya karena aku menginginkan uangmu. Tapi mereka mengatakan hal yang merendahkan ku." jawab Jessy sambil membuka pintu. Ia masih berjalan sempoyongan untuk bisa masuk kedalam.
Dean terkejut. Apakah itu yang Miranda katakan? Sepertinya ia harus membuat perhitungan dengannya. Iapun masuk kedalam dan melihat Jessy tengah duduk di samping tempat tidur. Dean menutup gorden kamar itu. Tiba-tiba ia merasa Jessy ada dibelakangnya.
"Dean.." panggil Jessy. Wajahnya terlihat berwarna merah. Ia masih mabuk, pikirnya.
Jessy menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mabuk Dean.. aku sudah sadar."
Dean mengerutkan keningnya. Padahal ia tidak mengatakan apapun padanya.
Dean duduk diatas meja besar yang membelakangi jendela. "Kenapa? Apa yang kau rasakan?"
Jessy mendekat. "Aku terpikir sesuatu." bisiknya pelan. Ia mengangkat jari-jarinya dan menarik jas Dean. Ia melangkah dan semakin mendekat tanpa melepaskan jari-jarinya. "Aku terpikir sesuatu." ucapnya kembali.
Dean menghela nafas. Ia menarik pinggang Jessy dan menahannya dengan kedua tangannya. "Apa yang kau pikirkan?"
Jessy mengangkat wajahnya. Jari-jarinya terangkat untuk menyentuh wajah Dean. "Aku, berfikir.. Bagaimana caranya untuk menjadi seorang yang pantas menjadi istrimu?" tanya Jessy tanpa melepaskan jari-jarinya dari wajahnya. Ia menyentuh pipi Dean yang dipenuhi oleh janggut tipis disekitar wajahnya. Ia tersenyum. "Walaupun aku masih berusia muda, tapi bisa dikatakan aku sudah pantas menikah. Betul bukan?"
"Seperti ini saja aku bisa mengatakan jika kau sudah pantas. Kau menggodaku dengan cara seperti ini. Wajahmu yang polos membuatku ragu apakah benar kau sedang mabuk ataukah sedang berpura-pura. Satu hal yang aku akan tegaskan. Tidak ada wanita lain yang pantas untuk menikah denganku jika bukan dirimu."
Wajah Jessy semakin merah. Ia mengangkat tubuhnya untuk sejajar. Ia melingkarkan tangannya dileher Dean kemudian menariknya. Untuk pertama kalinya ia memberanikan diri untuk mencium Dean terlebih dahulu.
"Ajari ku untuk bisa menjadi seseorang yang pantas itu." bisiknya serak ketika ia melepaskan diri.
Dean tersenyum. Ia mengangkat Jessy seperti anak kecil dengan mudahnya. "Dengan senang hati, Mylady.." Ia melangkah beberapa langkah menuju tempat tidur. Kemudian ia merebahkan tubuh Jessy diatas tempat tidur tanpa mereka melepaskan diri.
Awalnya Dean tidak akan melakukan hal yang melebihi batas. Ia ingin menunggu ketika Jessy mengungkapkan perasaannya padanya. Tapi, ia tidak bisa menahannya. Jari-jari Jessy yang terampil membuka setiap simpul dasinya dengan mudah. Ia juga yang membuka setiap kancing kemeja miliknya. Dean menatapnya. Ia menundukkan kembali kepalanya dan menciumnya dengan rakus. Ia tidak yakin Jessy benar-benar mabuk. Ia tidak dapat merasakan rasa wine di mulutnya. Jessy memang sudah sadar dan ia bertindak atas kesadaran sendiri. Bukan dirinya yang mengundang, tapi Jessy. Mereka mulai belajar, bukan karena Dean tidak bisa. Tapi karena biasanya bukan Dean yang berinisiatif. Dengan pengalaman seadanya ia memperlakukan Jessy seperti mawar yang tidak boleh tersakiti. Ia memperlakukannya dengan lembut walaupun ia sadar ia bukanlah seseorang yang romantis.
...***...
"Aku ingin menjadi istrimu yang sesungguhnya. Lupakan alasan kita menikah, Dean." bisik Jessy tiba-tiba. "Aku akan belajar mencintaimu. Sampai kau merasa pernikahan kita mencapai titik akhir."
Dean mempererat pelukannya. "Setiap hari sebelum kita menikah, aku sudah mulai merasakannya. Kau selalu ada untukku. Aku pernah memperlakukanmu dengan buruk. Tapi aku akan menebusnya dengan memperlakukanmu dengan sangat baik mulai saat ini. Aku akan membahagiakanmu. Itulah yang menjadi prioritas ku. Kau masih ingin uang kompensasi itu? Walaupun kau tidak mau, aku akan tetap memberikannya padamu."
"Aku tidak mau berlama-lama disini. Aku ingin pulang." ucap Jessy.
"Kita baru satu hari ada disini. Apakah kau tidak merasa betah berada berdua denganku?" tanya Dean.
"Apapun yang aku lakukan denganmu, semuanya menarik. Tapi lebih baik jika kita pulang. Aku lebih nyaman berada dirumah."
"Kau mau ikut ke Yunani?" tanya Dean.
Jessy bangun dari tidurnya. Ia menyandar di bantalnya. "Yunani?"
Dean mengangguk. Ia menyimpan kepalanya di atas kaki Jessy yang sudah ia simpan bantal. "Dua minggu kedepan aku harus ke Yunani untuk mulai syuting."
"Syuting film?"
"Ya. Kau mau ikut?"
Jessy menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu. Aku akan menunggumu dirumah."
Dean mengangkat jari-jarinya untuk menyentuh liontin kalung Jessy. "Kau baik hati. Lalu kita akan menghabiskan waktu dua minggu terakhir bersama. Apa yang ingin kau lakukan?"
Jessy tersenyum. Ia membayangkan sesuatu. "Aku ingin menonton film romantis denganmu. Aku ingin berkencan denganmu ketika kita berada dirumah."
"Film romantis?" tanya Dean.
"Kau harus menontonnya sekali-sekali untuk menambah wawasan mu."
Dean tertawa. "Aku tahu. Aku tidak suka film romantis."
"Kau harus membuatnya suatu hari nanti. Aku yang akan menjadi penonton pertama yang menontonnya."
"Jika aku berada di Yunani, bagaimana jika aku merindukanmu?"
"Kau bisa melihat semua kegiatanku di media. Bukankah paparazzi sering mengikutiku?" tanya Jessy.
Dean tertawa. "Ya, kali ini aku tidak perlu membayar mereka untuk menutup mulut. Kau harus terbiasa mendapat perhatian dari orang-orang yang mengikuti mu."
Jessy menguap. Ia mengangkat kepala Dean dari kakinya. "Aku lelah Dean, aku ingin tidur."
Dean bangun dan melihat Jessy menarik selimutnya. Dengan cepat ia berbaring disamping Jessy. Dengkuran halus mulai terdengar. Dean menatap Jessy. Ia tersenyum. Esok ia akan menemui Miranda untuk menanyakan apa yang terjadi.
mudah dimengerti...
enak dibaca