follow Ig 👉 dindin_812
- Novel ini sudah hadir dalam versi cetak, lebih rapi dan tentunya enak dibaca dan dipeluk kala rindu 🤭🤭🤭
Cerita ini mengandung unsur yang bisa bikin kamu nangis, tertawa, marah, baper juga sedih, jadi sebelum baca siapkan hati jiwa dan raga🤣
Tidak mencantumkan agama ya ....
Audrey Isvara tidak menyangka jika hidupnya jungkir balik tidak menentu. Dia baru saja kehilangan Ayah dan hampir kehilangan ibu, kemudian Audrey mendatangi seorang CEO muda bernama Ravindra Mahavir. Demi menyelamatkan ibu dari ambang kematian, Audrey menawarkan diri menjadi budak seumur hidup.
Namun, siapa sangka jika ternyata dirinya langsung memiliki suami hanya dalam hitungan hari, status pelayan yang ia sandang berganti menjadi nyonya besar istri CEO. Bagaimana itu bisa terjadi?
Pict from Pinterest, editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Janji kembali
"Audrey! Ayo pulang!" ajak Sean ketika ia sudah selesai menyelesaikan tugasnya.
Audrey yang masih menikmati roti Naan tentu saja menolak, terlebih laddu yang disiapkan khusus untuknya masih bertumpuk di piring saji.
"Bentalan ya! Aku masih mau disini!" tolak Audrey.
"Tapi Kakak harus pergi kursus setelah ini!" bujuk Sean.
Audrey menggelembungkan kedua pipinya membuat Aashita tertawa.
"Tinggal aja, nanti biar aku yang ajak pulang," tawar Ravin seraya menepuk pundak temannya itu.
"Tapi-." Sean terlihat ragu.
"Iya! Bukannya sudah biasa kalau Audrey main selalu diantar pulang Ravin," bela Aashita.
Audrey yang mendapat dukungan dari Aashita dan Ravin tentu saja merasa senang, ia langsung memasang mata kucing imut agar kakaknya itu mau mengizinkannya main sebentar lagi.
"Baiklah! Tapi jangan nakal!" Sean mengusap ujung kepala adiknya.
Audrey mengangguk pelan dengan senyum kemenangan karena ia masih bisa berlama-lama disana. Bukan tanpa sebab ia enggan pulang, jika Sean pergi kursus maka ia akan di rumah hanya dengan para pelayan yang tentu saja akan membuatnya merasa bosan.
Waktu sudah menunjukan pukul empat sore, Hana kemungkinan sudah dalam perjalanan pulang dari tempat bisnisnya. Ibu Audrey memang memiliki sebuah butik sendiri, karenanya wanita dua anak itu jarang sekali di rumah.
Ravin menggendong Audrey di punggungnya, ia hendak mengantar gadis itu pulang. Meski Bu Metha sudah menawarkan diri untuk mengantar, tetapi ditolak oleh Ravin karena pria kecil itu yang ingin mengantarnya.
"Avin!"
"Apa?"
"Kenapa kamu suka manggil aku kelinci?" tanya Audrey yang polos, ia melingkarkan kedua lengannya ke leher Ravin ketika berada digendongannya.
"Karena kamu lucu, lincah dan menggemaskan kayak kelinci," jawab Ravin.
"Kamu tahu nggak?"
"Apa?"
"Tante Shita mau jadiin aku anak loh kalau udah gede," ucap Audrey yang memang tidak tahu maksud perkataan orang dewasa.
"Iyakah?" Ravin tersenyum tipis.
"Apa boleh?" Audrey bertanya pada Ravin.
"Boleh!"
Mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Audrey, satpam yang menjaga pun langsung membukakan pintu begitu melihat nona kecilnya digendong oleh Ravin. Satpam yang berumur sekitar tiga puluhan itu langsung mengambil tubuh Audrey dari gendongan Ravin dan mengucapkan terima kasih kepada pria kecil itu.
Baru saja hendak berbalik untuk pulang, Ravin terhenti ketika Audrey meneriakinya.
"Avin! Janji kita bakal jadi keluaga!"
Ravin menoleh dengan seutas senyum, kemudian membalas lambaian tangan gadis kecil itu.
Hari-hari sepulang sekolah, Audrey sering menghabiskan waktu bermain dengan Aashita jika Ravin dan Sean belum pulang. Hingga suatu hari kejadian tak terduga membuat Audrey begitu terpukul.
Gadis kecil itu berdiri didepan pagar bersama satu pelayan rumahnya, ia menatap beberapa truk ekspedisi berjajar di depan rumah Ravin.
"Bibi! Kenapa ada banyak tluck di sana?" tanya Audrey yang tak mengerti.
"Sepertinya itu truck yang biasa buat ngangkut pindahan, Nona!"
Audrey berjalan mendekat ke arah rumah Ravin dengan langkah kecilnya, ada rasa takut di hati gadis kecil itu jikalau satu keluarga itu benar-benar pindah.
Aashita yang melihat Audrey berdiri di depan rumah langsung menghampiri gadis itu. Terlihat jelas guratan kesedihan di wajah cantik wanita yang berumur sekitar tiga puluhan itu. Ia lantas berjongkok di depan Audrey kemudian menggenggam kedua tangan mungil gadis itu.
"Tante mau kemana?" tanya Audrey.
"Tante akan pergi sebentar, tapi janji pasti akan balik!" dusta Aashita dengan seutas senyum, ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada gadis kecil itu.
"Kalau sebental kenapa balangnya dibawa semua?" tanya Audrey lagi.
"Karena Tante butuh itu semua jadi dibawa, deh!" Aashita masih mencoba memberi penjelasan yang dapat di mengerti oleh gadis kecil yang kini terlihat bersedih.
Ravin keluar dari rumah, ia berdiri di depan pintu ketika melihat Audrey tengah berbicara dengan ibunya.
"Avin!" Mata Audrey sedikit menggenang.
"Avin juga pelgi?" tanya Audrey menatap teman yang selalu menuruti perkataannya itu.
Ravin sudah menggendong tas punggungnya, ia kemudian melangkah mendekati Aashita dan Audrey. Ibu Ravin langsung berdiri, ia ingin memberikan kesempatan kepada putranya itu untuk berpamitan kepada gadis kecil itu.
"Avin juga pelgi?" tanya Audrey lagi.
Ravin mengangangguk, ia mengusap kepala gadis kecil yang berdiri di hadapannya.
"Kenapa ikut?" Audrey kecil penasaran.
"Karena kalau tidak ada bunda, nggak ada yang ngurus aku," jawab Ravin lembut.
Seketika tangis Audrey kecil pecah, ia tidak menyangka jika akan kehilangan temannya. Ravin kebingungan melihat Audrey menangis, bahkan pelayan gadis kecil itupun kuwalahan menenangkan nona kecilnya.
"Cup ... cup ... jangan nangis, aku pergi sekarang besok pasti balik," dusta Ravin agar gadis itu berhenti menangis.
Mendengar ucapan Ravin membuat Audrey menghentikan tangisannya, ia memeluk pria kecil yang sudah menjadi temannya selama dua tahun terakhir ini.
"Janji, ya!"
"Janji," ucap Ravin meski harus berbohong.
Audrey mengurai pelukannya, melepaskan kemudian menatap Ravin penuh kesedihan.
"Saat aku kembali, aku janji akan bawa kamu dan kita bisa jadi keluarga seperti yang bunda dan aku janjikan," ucap pria kecil yang baru saja menginjak umur sebelas tahun.
"Maaf, Tuan! Saya benar-benar tidak tahu tentang kondisi nona Audrey." Bu Metha terlihat menundukan kepala, ia meremas jari jemarinya karena takut jika Ravin akan mengamuk melihat Audrey sampai jatuh pingsan seperti itu.
"Memang apa yang kamu katakan padanya?" tanya Ravin menatap wanita tua yang berdiri dengan sedikit gemetar.
"Saya memperlihatkan foto masa kecil Anda dengan nona Audrey," ungkap Bu Metha.
Ravin terduduk di tepian ranjang, ia memijat pelipisnya seraya menatap lantai, tidak merespon ucapan wanita yang sudah ikut dengannya selama bertahun-tahun ini.
"Saya hanya merasa tidak tahan melihat Anda dan nona Audrey terus saja bertengkar. Saya ingin melihat kalian akur seperti dulu," imbuh Bu Metha.
Ravin mendongakkan kepala menatap Bu Metha yang terlihat benar-benar menyesal, pemuda itu mendesah kasar seraya menguyar rambut bagian depan ke belakang.
"Sudahlah, jangan di bahas!"
"Malik, kamu ke Rumah sakit! Jika ibunya Audrey menanyakan kenapa putrinya tidak kesana katakan jika Audrey ada beberapa pekerjaan yang sedang diselesaikan." Ravin memberi perintah.
"Baik!" Malik meninggalkan kamar tuannya.
"Tidak apa-apa, Bu! Kamu tidak usah merasa menyesal, andai aku menyampaikan kondisi Audrey terlebih dahulu mungkin ini tidak akan terjadi." Ravin berusaha memaklumi tindakan Bu Metha.
Ravin tidak ingin memperburuk keadaan dengan amarahnya, meski ia kesal akan tetapi percuma juga jika ia luapkan. Pemuda itu sadar jika kondisi Audrey juga karena dirinya, andai ia tidak marah, andai ia tidak mengusirnya dari kamar, gadis itu pasti tidak akan pergi keluar dan berakhir pada perbincangannya dengan Bu Metha.
..._...
..._...
..._...
..._...
..._...
PRDA: Thor! Nggak ada niatan up dobel-dobel?
Othor: Ada, tapi othor bingung.
Readers: Napa, Maeymunah?
Othor: Kalau up dobel, kalian Like disetiap bab, kalau ga ya bisanya 'Ku menangis' 🤧🤧
PRADA, READERS: Asiyap Thor! Like tiap bab.
Othor Maeymunah: Oke, Cuz up dobel🏃🏃🏃
Anak aku nomor 2 lelaki,lahiran juga Vacum, karena udah lemah, Dan sebelum lahiran gak ada selera utk makan apa pun..