Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 23
Bus Jakarta berhenti jam 5 pagi. 24 jam di jalan. Bau solar, bau keringat, bau gamis putih ku yang sudah tidak putih lagi karena debu jalanan Jakarta.
Aku turun dari terminal Kampung Rambutan. Turun paling terakhir, karena duduk paling belakang. Tas ransel hitam, koper kecil yang dulu ketinggalan di gudang pondok Al-Hidayah malam hujan itu, aku seret. Berat. Karena di dalam ada mukena putih ibu, Al-Quran kecil peninggalan ibu.
Aku berdiri di depan terminal. Tidak ada pohon jambu air. Tidak ada rumah papan. Tidak ada sumur. Tidak ada ayam kuning 5 ekor.
Yang ada cuma gedung-gedung tinggi pencakar langit. Lampu masih nyala jam 5 pagi. Mobil lewat cepat-cepat. Orang-orang pakai sepatu tinggi, pakai kemeja rapi, jalan buru-buru. Tidak ada yang pakai mukena, tidak ada yang pakai gamis putih.
Aku cuma sendiri. Tidak ada kenalan sedikitpun. Tidak ada Mami Asih. Tidak ada Bapak. Bapak dikampung, sendirian di rumah papan tanpa ibu lagi. Pintu rumah mungkin sudah ditutup Bapak.
Aku jadi bingung mau pergi kemana. Mau melakukan apa. Jakarta luas. Aku cuma gadis desa yang namanya dicoret di papan pengumuman pondok Al-Hidayah: Laila - DIKELUARKAN karena fitnah dan mencemarkan nama pondok.
Tapi aku bukan orang yang takut. jadi Alia sebagai LC saja aku lakukan,aku tidak takut sama laki-laki hidung belang yang masuk kamar. Masa di Jakarta aku takut sama gedung tinggi?
Aku jalan. Seret koper kecil. Jalan kaki dari terminal, cari tulisan KOS KOSAN. Kaki ku sakit karna kecapean.
Jam 8 pagi. Matahari Jakarta panas, beda sama matahari dikampung yang kena gamis putih dijemuran bawah pohon jambu. Di Jakarta matahari kena gedung kaca, silau.
Aku lihat gang kecil, ada tulisan: KOS PUTRI - 500 RIBU/BULAN. Aku masuk. Tanya ibu kos. Ibu kos lihat aku pakai gamis putih debu, bawa koper kecil, bawa tas ransel hitam.
"Berapa, Bu?" aku tanya.
"500 ribu, kamar mandi luar. Kamu dari mana, Neng?"
"Dari Kalimantan, Bu. Mau cari kerja."
Aku bayar 1 bulan pakai uang amplop coklat dari Bapak. 3 juta uang tabungan yang awalnya untuk uang bulanan ku di pondok Al-Hidayah. Sekarang bukan lagi uang bulanan. Jadi uang kos. Sisa 2,5 juta.karna ongkos bus sudah dibayar bapak sebelum berangkat,jadi uang 3 juta yang dikasih bapak bersih.
Kamar kos sempit. Cuma ada kasur tipis. Tidak ada sumur. Tidak ada pohon jambu. Tapi ada kaca kecil. Aku lihat kaca itu. Wajah ku debu, tapi tidak pakai lipstik merah lagi. Gamis putih ku debu, tapi tidak ada bayangan merah lumpur kuburan ibu lagi. Sudah benar-benar putih kemarin, sekarang debu lagi.
Aku taruh koper. Di dalam tas ransel hitam, aku keluarin persyaratan lengkap yang sudah aku buat 5 hari sebelum berangkat dari Sebulu. Fotokopi KTP, ijazah pondok dan lainnya.
Aku siapin semua. Aku mau cari kerja. Jadi pembantu, jadi pelayan toko, jadi tukang cuci, apa aja. Yang penting halal. Yang penting jauh dari pondok Al-Hidayah.
Jam 9 pagi. Aku keluar kos. Bawa tas ransel hitam yang berisi persyaratan melamar kerja. Jalan buru-buru di trotoar Jakarta yang rame. Semua orang jalan buru-buru. Aku juga buru-buru, takut ketinggalan lowongan di toko.
Di tikungan dekat lampu merah, aku tidak lihat depan. Ada laki-laki juga jalan buru-buru dari arah berlawanan, pakai kemeja hitam rapi, bawa map coklat, bawa kopi hitam.
_Bruk!_
Aku nabrak dia. Tas ransel hitam ku yang berisi persyaratan melamar kerja jatuh,
Kopi hitam laki-laki itu tumpah. Kena kemeja hitam rapinya. Kena gamis putih ku yang sudah debu.
"Ya Allah, maaf, Pak! Maaf! Saya tidak lihat!" aku langsung jongkok. Malu. Pertama kali di Jakarta sudah nabrak orang.
Aku lihat laki-laki itu. Tinggi. Gagah. Kulit putih bersih. Pakai kemeja hitam rapi yang sekarang kena kopi hitam. Rambutnya rapi, tidak pakai peci putih kayak Kyai Rahman. Wajahnya bersih, tidak ada jenggot.
Tapi matanya... matanya terkejut lihat aku.
Aku juga terpaku. Karena aku lihat wajahnya deket. Tampan. Bukan tampan kayak santri di pondok Al-Hidayah yang pakai peci miring. Tampan yang bersih. Kemeja hitamnya rapi, wangi. Beda sama baju koko Bapak yang bau asap tungku.
"Maaf, Pak, saya Laila. Saya tidak sengaja. Kemeja Bapak kotor kena kopi. Maaf ya, Pak," aku bilang, masih jongkok, pegang tas ransel kecilku.
Laki-laki itu tidak marah kemeja hitamnya kotor. Dia lihat aku. Lihat gamis putih ku yang kena tumpahan kopi hitam, jadi ada noda hitam di ujung yang dulu bekas lumpur merah kuburan ibu. Lihat tas ransel hitam ku yang berisi persyaratan melamar kerja.
Dia lihat aku lama. Kayak Bapak lihat aku pertama kali pulang dari Sampit pakai gamis putih berlumpur.
"Gadis desa?" dia tanya pelan.
Aku angguk. Malu.
"Baru sampai Jakarta?"
Aku angguk lagi.
"Kamu mau melamar kerja?"
Aku angguk lagi,
Laki-laki itu berdiri. Bantu aku berdiri. Pegang tas ransel kecil ku yang jatuh.
"Saya Arfan. Manager di perusahaan distributor mukena dan gamis. Kantor saya 2 ruko dari sini," dia bilang, kasih kartu nama. Kartunya putih bersih. Tulisan: ARFAN - MANAGER OPERASIONAL - PT. HIJAB BAROKAH.
Tangannya putih bersih, kasih kartu ke aku. Tangan ku kapalan, hitam kena debu jalanan.
"Maaf ya, Pak Arfan, kemeja Bapak kotor karena saya," aku masih minta maaf.
Arfan senyum. Bukan senyum lebar kayak Bapak senyum pertama kali setelah ibu meninggal. Senyum tipis.
"Tidak apa-apa. Kemeja hitam kena kopi hitam tidak kelihatan. Tapi gamis putih kamu kena kopi hitam kelihatan. Sini, saya bantu bersihin di kantor saya. Sekalian saya lihat lamaran kamu. Kebetulan perusahaan saya butuh admin toko yang bisa setrika gamis dan lipat mukena. Kamu bisa?"
Aku kaget. Admin toko yang bisa setrika pakaiam muslimah.
"Bisa, Pak. Saya bisa setrika gamis. Saya bisa lipat mukena," aku jawab cepat.
Arfan lihat aku lagi. Dari atas sampai bawah. Bukan lihat kayak laki-laki di kos pink pudar Sampit lihat Alia, LC . Lihatnya beda. Lihat kayak lihat adik.
Jam 9.15 pagi di trotoar Jakarta. Orang-orang masih jalan buru-buru. Tidak ada yang peduli ada gadis desa pakai gamis putih kena noda kopi hitam jongkok di trotoar sama laki-laki tinggi pakai kemeja hitam kena kopi.
Apakah aku akan ikut Arfan ke kantornya yang 2 ruko dari sini? Atau aku akan bilang tidak, karena takut dia sama kayak Kyai Rahman yang pakai baju suci tapi hati tidak suci?
Dan di dalam benak hati ku, masih ada satu nama yang bergetar panas: Kyai Rahman. Yang belum aku balas dendam.
Tapi di depan ku sekarang ada Arfan, pakai kemeja hitam rapi yang kena kopi hitam karena aku.
Apakah lembaran baru ku di Jakarta akan sesuai harapan ku, kerja jadi admin toko mukena, atau malah sebaliknya, aku ketemu lagi sama orang munafik yang pakai baju suci?