NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Matahari bersinar cukup terik di langit kota, namun hawa dingin seakan menyelimuti Maya dan Dimas.
Keduanya duduk berdua di kursi panjang depan kampus dengan wajah murung yang sangat kentara.
Beberapa mahasiswa yang lewat memandang mereka dengan tatapan sinis.
Ada juga yang berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah mereka, lalu buru-buru memalingkan wajah saat Maya tak sengaja membalas tatapan tersebut.
"Mas Dimas ngerasa aneh gak sih sama sikap anak-anak kampus hari ini?" tanya Maya memecah keheningan.
"Biasanya Dinda sering mampir nyapa kalau ketemu, tadi aku sapa malah buang muka."
Dimas menghela napas berat, jemarinya sibuk menggulir layar ponselnya.
"Bukan cuma aneh, Mbak Maya."
"Coba Mbak lihat ini, ini yang bikin mereka semua mendadak jaga jarak sama kita."
Dimas menyodorkan ponselnya.
Layar itu menampilkan sebuah postingan dari akun anonim di grup Facebook mahasiswa kampus yang beranggotakan ribuan orang.
Judul postingan itu tertulis dengan huruf kapital mencolok:
"WASPADA! KOS PUTRA PUTRI MELATI SARANG ALIRAN SESAT!"
Di bawahnya terdapat narasi panjang yang dibuat seolah sangat meyakinkan.
Postingan itu menuduh bahwa pemilik kos yang bernama Rahman adalah dukun tua penganut pesugihan.
Sebagai buktinya, penulis melampirkan foto buram yang diambil diam-diam saat para penghuni kos sedang makan nasi liwet bersama di atas daun pisang beberapa hari lalu.
Narasi itu memutarbalikkan fakta, menyebut acara makan bersama itu sebagai "ritual pemujaan jin di malam hari."
"Ya ampun! Ini fitnah kejam banget!" teriak Maya emosi setelah membaca semuanya.
"Makan nasi liwet diomongin ritual pesugihan?"
"Pasti ini ulah si manajer kurang ajar dari kos sebelah itu!"
"Betul, Mbak."
"Akun anonim ini baru dibuat kemarin sore, pas banget setelah preman-preman itu gagal nyerang kos kita."
"Anton pasti pakai cara kotor ini buat jatuhin nama baik kita biar gak ada lagi mahasiswa yang mau ngekos di tempat Pak Rahman," analisis Dimas tajam.
Maya mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Ini gak bisa dibiarin, kita harus lapor Pak Rahman sekarang juga!"
Keduanya segera bergegas pulang menuju kos-kosan.
Setibanya di sana, mereka mendapati Rahman sedang tertidur lelap di kursi goyangnya, wajahnya tertutup koran pos kota.
Suara dengkuran halus sesekali terdengar.
Maya tidak peduli, ia langsung menarik koran itu dari wajah bapak kosnya.
"Bos Rahman! Bangun, Bos! Kita dalam bahaya besar!" teriak Maya panik.
"Hah? Apa? Ada preman lagi?!"
Rahman terlonjak kaget, tangannya refleks mencari tongkat pemukul yang biasa ia simpan.
"Bukan preman, Pak, tapi lebih parah dari preman."
"Reputasi bapak lagi dihancurkan di internet!" ucap Dimas sambil menyodorkan ponselnya ke depan wajah Rahman.
Rahman menyipitkan matanya yang baru melek, berusaha membaca tulisan di layar yang menyilaukan itu.
"Internet? Aliran sesat?"
"Ritual pemujaan jin?"
"Dasar anak-anak kurang kerjaan, makan nasi liwet dibilang ritual!" sungut Rahman kesal.
"Ini pasti ulah si Anton, Pak," lapor Dimas cepat.
"Dia nyebarin hoax ini di grup kampus."
"Sekarang semua mahasiswa percaya, bahkan saya dan Mbak Maya dijauhi teman-teman gara-gara ini."
Rahman mendengus meremehkan.
"Ya biarkan saja."
"Mereka percaya atau tidak, tidak akan mengurangi uang di brankasku."
"Lagi pula kos kita sudah penuh, kita tidak butuh penyewa baru lagi," putus Rahman santai dan berniat kembali tidur.
Ting!
[Peringatan: Pencemaran nama baik berskala besar terdeteksi di ruang digital.]
[Hoax ini akan menyebabkan 70% calon penyewa masa depan memblokir kos Anda.]
[Misi Utama Harian: Bersihkan nama baik Kos Putra Putri Melati di dunia maya.]
[Syarat Khusus: Buktikan bahwa fitnah itu tidak benar dengan cara elegan melalui media sosial.]
[Hadiah: Tambahan umur 7 hari dan Algoritma Viralitas Postingan pembelaan akan otomatis masuk trending.]
[Kegagalan: Pengurangan umur 7 hari dan ponsel Anda akan konslet terbakar secara ajaib.]
Membaca ancaman ponsel terbakar, Rahman buru-buru memeriksa ponsel Nokia lamanya di saku.
Benda itu adalah satu-satunya alat komunikasinya dengan Koh Aseng dan agen-agen properti lainnya.
"Sistem sialan, kau selalu memaksaku masuk ke urusan anak muda!" batin Rahman merutuk kesal.
Ia menatap Maya dan Dimas yang masih berdiri cemas menunggunya bertindak.
Rahman berdeham pelan, memasang wajah serius layaknya seorang jenderal yang sedang menyusun strategi perang.
"Ekhem, meskipun aku tidak peduli dengan rumor bodoh..."
"Tapi kalau ini sampai mengganggu kalian berdua belajar di kampus, sebagai tuan tanah yang baik, aku harus turun tangan!" karang Rahman mencari alasan yang pas.
"Beneran, Pak?!" Maya dan Dimas langsung berbinar senang.
"Lalu kita harus gimana, Pak? Lapor polisi urusan pencemaran nama baik?" tanya Dimas.
"Polisi butuh waktu berbulan-bulan untuk melacak akun anonim."
"Kita serang balik pakai senjata mereka sendiri."
"Media sosial dilawan dengan media sosial!" perintah Rahman berapi-api.
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...