NovelToon NovelToon
Surat Terakhir Bapak

Surat Terakhir Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rachman Santoso

**Surat Terakhir Bapak**

*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*

Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.

Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.

Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.

*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tulisan yang Bulat dan Rapi

Ibu tidak membantah.

Ia tidak menggeleng, tidak mengangkat tangan, tidak mengatakan *itu bohong*. Ia hanya menatap kertas-kertas tipis di bawah jari Laras, seperti orang yang akhirnya melihat wajahnya sendiri di cermin setelah dua puluh tahun menghindarinya.

"Laras," katanya pelan. "Balik halamannya."

"Bu, tadi hanya satu halaman. Daftar utang Bapak."

"Itu halaman empat puluh satu. Masih ada sembilan belas lagi di bawahnya."

Laras baru sadar setumpuk kertas di meja itu jauh lebih tebal daripada satu lembar. Tadi matanya berhenti di judul, di nama Ibu, di coretan, dan ia tidak pernah membalik lebih jauh. Ia mengangkat halaman pertama dengan dua jari dan menaruhnya di samping.

Halaman empat puluh dua. Tulisan tangan yang bulat dan rapi, huruf-hurufnya berdiri tegak seperti anak sekolah yang baru belajar menulis tegak bersambung. Tidak ada kemiringan ke kanan. Tidak ada kesan terburu-buru.

Laras mengenali tulisan itu sebelum membaca satu kata pun. Tulisan itu yang menandatangani buku rapor SMP-nya, yang menulis daftar belanjaan di kulkas, yang menyelipkan pesan di kotak bekal: *makan yang banyak, Nduk.*

"Ini tulisan Ibu," bisiknya.

"Ya."

"*Bulan Januari 1995,*" Laras membaca, suaranya makin pelan. "*Mas Hartono bertemu seorang polisi perempuan di warung kopi dekat terminal. Perempuan itu masih muda, rambut pendek, memakai jaket cokelat. Mereka bicara satu jam. Mas Hartono pulang dengan wajah lebih lega dari biasanya.*"

Dewi tidak bergerak. Wajahnya berubah menjadi sesuatu yang sangat datar.

"Saya memakai jaket cokelat waktu itu," katanya, hampir tanpa suara. "Pertemuan pertama kami. Saya baru dua tahun jadi polisi."

---

Laras membalik halaman berikutnya, dan berikutnya. Tulisan yang sama, pola yang sama. Setiap halaman satu bulan, kadang dua. Setiap catatan hanya beberapa baris, rapi, tanpa emosi, seperti laporan.

*Maret 1996. Mas Hartono mengunci laci kedua mejanya dan membawa kuncinya ke mana-mana. Dia tidak pernah melakukannya sebelumnya.*

*Agustus 1999. Mas Hartono menelepon seseorang bernama Surya hampir tiap malam. Suaranya pelan. Aku tidak mendengar isinya.*

*November 2003. Seorang perempuan dari Magelang mengirim kartu pos ke toko. Tanpa nama pengirim. Mas Hartono menyimpannya di dompet.*

"Itu kartu pos dari Bulik Ratna," ucap Sekar, hampir menangis. "Bu, kenapa Ibu mencatat ..."

"Karena disuruh."

Semua menoleh. Ibu menatap lurus ke taplak, dengan suara yang tidak lagi gemetar, hanya sangat lelah.

"Tahun sembilan puluh empat, setelah Laras lahir, Darmawan datang ke rumah ini. Waktu Bapakmu sedang di toko." Ibu menarik napas. "Dia membawa hasil tes darah. Dia bilang kalau saya tidak mau dia membuka ke pengadilan bahwa Laras anaknya, saya harus melaporkan semua yang dilakukan Hartono. Setiap bulan. Tertulis."

"Dan Ibu setuju," kata Bima.

"Ibu setuju." Ibu mengangkat wajah, menatap Bima langsung. "Kamu belum lahir waktu itu, Bim. Ibu punya bayi enam bulan, suami yang hampir bangkrut, dan seorang laki-laki yang bisa mengambil anak Ibu hanya dengan satu tanda tangan. Ibu tidak berpikir. Ibu hanya ingin Laras tetap di gendongan Ibu."

Laras menurunkan kertas itu perlahan. Ia merasa dadanya kosong dan sangat penuh sekaligus.

"Dua puluh tahun," katanya. "Ibu menulis laporan untuk dia selama dua puluh tahun."

"Sampai tahun dua ribu delapan."

"Kenapa berhenti?"

"Karena Bapakmu tahu."

---

"Dia menemukan Ibu menulis suatu malam," lanjut Ibu. "Di meja ini. Ibu pikir dia tidur. Dia berdiri di pintu dapur, diam, lalu duduk di seberang Ibu dan bilang, 'Teruskan, Wul. Aku tunggu sampai selesai.'"

Rahayu menutup mulut dengan telapak tangan.

"Ibu menangis. Ibu bilang maaf, Ibu bilang Ibu tidak punya pilihan. Bapakmu mengangguk dan menggenggam tangan Ibu. Dia bilang dia sudah tahu sejak tahun sembilan puluh lima." Ibu tersenyum, senyum yang paling patah. "Dua belas tahun dia tahu, Laras. Dua belas tahun dia membiarkan Ibu menulis, karena dia tahu kalau berhenti mendadak, Darmawan akan curiga."

"Jadi Bapak ..." Bima menelan ludah. "Bapak yang mengatur apa yang boleh dilaporkan."

"Dia membaca tiap halaman sebelum Rahayu mengambilnya. Dia mencoret yang berbahaya, menambahkan yang tidak penting. Tulisan Ibu dan arahan Bapakmu, bergandengan." Ibu menyentuh sudut kertas. "Dia merobek halaman ini dari buku besar Darmawan lewat Dewi, supaya tidak ada yang tahu isi laporannya. Dan dia mencoret nama Rahayu di daftar utang karena ..."

Ia berhenti.

"Karena dia tahu Rahayu membawa laporan itu setiap bulan," sambung Dewi dingin. "Sebagai pembawa pesan. Dan kalau Rahayu masuk daftar sebagai pengkhianat, Ibu juga ikut tertulis."

"Ya."

Hening. Laras mendengar napas semua orang di ruangan itu, tak seirama.

"Aku mau marah," kata Dewi pelan. "Seharusnya aku marah. Kamu hampir membongkar penyamaranku di tahun sembilan puluh lima."

"Aku tahu."

"Tapi Hartono mencoret namaku dari halaman itu." Dewi menunjuk salah satu lembar. "Dia mengganti 'polisi perempuan berjaket cokelat' dengan 'seorang kenalan lama dari Cilacap'. Dia melindungiku, dan dia melindungimu sekaligus."

"Dia selalu begitu," bisik Ibu.

"Ya." Dewi memalingkan wajah ke jendela. "Dia selalu begitu."

---

Rahayu yang pertama kali bergerak.

Ia mengambil ponsel tua dari tengah meja, ibu jarinya gemetar di atas tombol. Matanya merah, tetapi ia sudah berhenti menangis.

"Rekaman ini," katanya. "Pak Surya minta saya putar setelah Bu Wulan tahu siapa yang menulis halaman itu."

"Putar," kata Ibu.

Rahayu menekan tombol. Ada desis panjang, bunyi kain bergesekan, napas berat dan putus-putus. Lalu suara Pak Surya, jauh lebih lemah dari yang mereka kenal, seperti berbicara dari dasar sumur.

*"Wulan, kalau kamu dengar ini, berarti aku belum sempat bicara langsung. Maafkan aku."*

Napasnya tersengal.

*"Ada satu hal yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun, bahkan pada Hartono. Dua bulan sebelum dia meninggal, dia datang ke kantorku. Dia bilang dia berhenti kemoterapi."*

"Kami sudah tahu," gumam Bima. "Karena uangnya dikasih ke Darmawan."

*"Itu yang dia katakan pada kalian. Itu bukan seluruhnya."*

Semua menahan napas.

*"Dia memperlihatkan padaku sebotol obat dari lemari obat di kamarnya. Dia bilang, 'Surya, lihat labelnya. Ini bukan obatku.' Dosisnya salah. Ada satu kapsul berbeda di antara kapsul-kapsul itu, warnanya hampir sama."*

Laras merasa dingin merayap dari tengkuk ke punggungnya. Di sampingnya, Ibu sudah berdiri, kedua tangan mencengkeram sandaran kursi.

*"Dia tidak percaya pada dokter di Semarang. Dia tidak percaya pada apotek. Dia bilang obatnya diganti oleh seseorang yang punya akses ke lemari itu. Seseorang yang setiap hari ada di rumahnya. Dan dia tahu siapa, tapi dia belum punya bukti."*

"Siapa?" bisik Sekar.

*"Aku memintanya menunggu. Aku bilang aku akan mencari buktinya dulu. Dia setuju. Tapi dua minggu kemudian dia sudah ..."*

Suara itu terputus oleh batuk panjang, basah, lalu hening. Terdengar bunyi pintu terbuka di kejauhan, derit engsel, langkah kaki di lantai ubin.

*"Surya? Kamu di mana? Aku sudah ..."*

Bunyi berubah. Dari jauh, seseorang masuk ke ruangan tempat Pak Surya merekam. Suara perempuan, samar, terlalu samar untuk dikenali dari balik desis, hanya dua suku kata pertama yang sempat tertangkap sebelum rekaman terpotong dengan bunyi klik keras:

*"Ra—"*

Layar ponsel gelap. Baterainya habis.

Rahayu menjerit pelan dan berdiri begitu cepat sampai kursinya terjungkal. "Bukan saya! Demi Allah, bukan saya, Bu! Saya yang bawa dia ke sini, saya yang bilang ..."

"Duduk," kata Dewi.

"Saya bersumpah ..."

"Duduk, Rahayu."

Rahayu terdiam. Dewi menatapnya lama, kemudian menggeser matanya, perlahan, ke seluruh ruangan: ke Dimas dan Sekar yang berpelukan lengan, ke Bima yang berdiri tegang di bufet, ke Ibu yang wajahnya putih seperti lilin, ke Laras sendiri.

"*Ra,*" ucap Dewi pelan. "Rahayu. Ratih. Rahmat. Ratna. Rani." Ia berhenti. "Atau Laras."

Laras tersentak. "Saya?"

"Saya bukan menuduh. Saya hanya menghitung semua yang mungkin." Dewi menatapnya lurus. "Dan satu hal lagi. Rekaman itu menyebut orang yang punya akses ke lemari obat Hartono. Siapa saja yang merawatnya tiga bulan terakhir?"

Tak seorang pun menjawab.

Lalu, dari tangga lantai atas, terdengar bunyi pelan, seperti seseorang yang berhenti di anak tangga yang berderit. Semua kepala menoleh serentak.

Seseorang telah berdiri di sana, mendengarkan, sejak entah kapan.

1
Kiara Maulida Aizaaa
💪💪
ceuceu
Ternyata kerumitan keluarga ini bermula dari kebejatan ibu
ceuceu
Rumit
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
aku mampir, mampir juga yuk ke sc akuu
aefpe fp
baca novelku juga ya😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!