Setelah menikah dengan Silas Crane, Nara Aeris mulai merasakan kebosanan. Hidupnya hanya dipenuhi dengan berbaring, makan, dan menghabiskan uang suaminya.
Tapi ternyata itu cuman bertahan beberapa hari.
Sejak sebuah sistem informasi harian yang bernama Lyra, tiba-tiba muncul di atas kepalanya dan memberikan satu informasi setiap hari. Hidupnya tidak jadi membosankan!
Hari-hari dipenuhi gosip menyenangkan.
【 Ketua Cabang Grup Ardent diam-diam memindahkan tiga puluh miliar sebelum menandatangani surat perceraian. 】
【 Pewaris keluarga Rothwell menikahi sekretarisnya secara diam-diam. 】
Mata Nara berbinar.
"Bukankah gosip seperti ini terlalu menyenangkan?"
Karena Nara Aeris suka berbagi, ia akan selalu melakukan siaran langsung untuk berbagi kepada para penggemarnya. Tentu saja! Gosip bagus harus dibagikan.
Internet mulai macet akibat tingkah laku Nara, dan dia dijuluki Ratu Gosip.
Let's Start The Story!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ly-Ra?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Penyusup Di Tengah Malam
Pukul 00.30 dini hari.
Nara terbangun karena tenggorokannya terasa kering. Dia membuka mata perlahan, lalu menoleh ke samping. Silas masih tertidur dengan tenang, napasnya teratur di balik selimut.
Nara sempat mempertimbangkannya untuk membangunkannya, tetapi akhirnya mengurungkan niat. Dia hanya ingin minum air, bukan mengganggu waktu istirahat suaminya.
Wanita itu mengintip alat pengendali, ia melihat status robot pelayan sedang di isi daya dan tidak bisa diganggu. Membuat Nara menghela napas. Dia harus pergi sendiri ke dapur.
Setelah turun dari ranjang, Nara mengenakan sandal rumah dan berjalan keluar kamar. Rumah besar itu sunyi hingga suara langkah kakinya terdengar jelas ketika menuruni tangga.
Sesampainya di dapur, dia mengambil segelas air dari lemari. Baru saja meneguk beberapa kali, sudut matanya menangkap bayangan seseorang di depan pintu.
Nara menoleh.
Seseorang berpakaian serba hitam berdiri beberapa langkah darinya. Tudung menutup sebagian wajahnya, sementara sebilah pisau lipat tergenggam di tangannya.
Nara membeku.
Selama beberapa detik, pikirannya kosong. Dia tidak tahu siapa orang itu, atau bagaimana penyusup tersebut bisa masuk ke rumah mereka.
Ketika sosok itu bergerak mendekat, Nara langsung tersadar.
"AAAA!"
Gelas di tangannya terlepas dan pecah menghantam lantai. Nara berbalik hendak melarikan diri, tetapi penyusup itu bergerak cepat, membuatnya terpaksa menghindar ke sisi meja.
Teriakannya menggema hingga ke lantai atas.
"Nara!"
Suara Silas terdengar dari tangga.
Beberapa detik kemudian, pria itu muncul di pintu dapur. Rambutnya masih berantakan karena baru bangun tidur, tetapi tatapannya langsung berubah tajam ketika melihat orang asing bersenjata di dekat istrinya.
"Menjauh dari istriku!"
Silas bergerak maju tanpa ragu. Dia menarik Nara menjauh dengan satu tangan, lalu menghadapi penyusup itu.
"Nara, mundur! Jangan mendekat!"
Nara segera menurut. Dia menjauh menuju lorong, tetapi tidak berani pergi terlalu jauh. Matanya terus mengikuti setiap gerakan kedua orang di dapur.
Penyusup itu tetap diam. Dia justru mengangkat pisaunya dan menyerang.
Silas segera menghindar. Kilatan logam melintas di depan tubuhnya, memaksanya mundur sebelum menangkap tangan lawannya.
Serangan kedua datang hampir bersamaan.
Silas menangkapnya, lalu berusaha mengendalikan pergelangan tangan yang memegang pisau. Namun, penyusup itu memutar tubuh dan berhasil melepaskan diri.
Gerakannya cepat dan terukur, sama sekali tidak seperti seseorang yang sekadar mengandalkan keberanian.
Silas menyadari hal itu.
Orang ini bukan penyusup sembarangan.
Penyusup tersebut kembali menyerang. Silas menghindar, tetapi bahunya terbentur tepi meja. Beberapa benda jatuh berhamburan, membuat dapur semakin kacau.
"Silas!"
"Pergi dari sini!" bentak Silas. "Hubungi petugas keamanan dan polisi!"
Nara tidak berani membantah. Dia segera berlari menuju tangga, meninggalkan suaminya yang masih berusaha menahan penyusup tersebut.
Di belakangnya, suara benturan keras terdengar berulang kali. Nara menggigit bibir dan mempercepat langkah, berusaha mengabaikan ketakutan yang membuat lututnya terasa lemas.
Dia harus meminta bantuan sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
Sesampainya di kamar, Nara meraih ponselnya dan menghubungi petugas keamanan kawasan Astoria Hills. Dengan suara gemetar, dia menjelaskan bahwa seseorang penyusup bersenjata telah memasuki rumah mereka, dan Silas sedang berusaha menahannya di lantai bawah.
Petugas keamanan segera mengirimkan beberapa orang ke dalam rumah. Setelah itu, Nara menghubungi polisi dan melaporkan kejadian tersebut.
Begitu panggilan berakhir, dia menatap pintu kamar dengan cemas.
Rumah mereka dilengkapi sistem keamanan canggih milik Crane Group, termasuk kamera pengawas, sensor pintu dan jendela, serta kunci elektronik yang terhubung dengan panel utama. Meski begitu, sistem tersebut tidak membuat rumah mereka mustahil dimasuki.
Rumah ini juga menggunakan sistem peredam suara untuk menjaga privasi. Suara dari satu rumahnya tidak mudah terdengar hingga ke bagian rumah lainnya, sehingga keributan di dapur tidak langsung diketahui petugas yang berjaga di kawasan elit ini. Mereka baru bergerak setelah menerima panggilan Nara.
Nara menggenggam ponselnya erat-erat. Dia ingin turun untuk membantu, tetapi ingatannya tentang pisau di tangan penyusup membuatnya mengurungkan niat. Jika nekat mendekat tanpa persiapan, dia justru mungkin akan membuat Silas semakin kesulitan melindunginya.
Silas, bertahanlah.
Suara benturan kembali terdengar dari lantai bawah, disusul derap langkah yang semakin menjauh. Nara menahan napas, tidak tahu apa yang sedang terjadi di sana. Dia hanya bisa berharap bantuan tiba sebelum semuanya terlambat.
Di lantai bawah, Silas masih bergulat dengan penyusup tersebut.
Setelah pisaunya terlepas dan meluncur ke bawah lemari, orang itu tetap memberikan perlawanan. Gerakannya cepat dan terukur, membuat Silas kesulitan mengendalikannya meskipun mereka bertarung dalam jarak dekat.
Silas melayangkan pukulan, tetapi lawannya berhasil menangkis dan menghantam rusuknya dengan siku.
"Ugh!"
Rasa sakit menjalar di sisi tubuh Silas. Cengkeramannya mengendur sesaat, memberikan kesempatan bagi penyusup itu untuk melepaskan diri.
Tatapan orang tersebut langsung beralih ke tangga.
Dia tahu Nara telah pergi ke lantai atas.
Tanpa membuang waktu, penyusup itu berlari menuju tangga. Silas segera mengejarnya, mengabaikan rasa sakit yang semakin terasa di rusuknya.
"Berhenti!"
Silas berhasil menyusulnya di lantai dua, dan mencengkeram bagian belakang pakaiannya. Penyusup itu berputar dan menghantam lengan Silas agar cengkeramannya terlepas. Keduanya kembali terlibat perkelahian, saling menyerang dan berusaha mencari celah untuk menjatuhkan lawan.
Benturan tubuh mereka membuat sebuah hiasan di dekat dinding terjatuh. Silas tidak sempat mempedulikannya. Dia harus menghentikan penyusup itu sebelum orang tersebut menemukan jalan menuju kamar Nara.
Pada saat bersamaan, pintu kamar terbuka.
Nara keluar dengan ponsel masih berada di tangannya. Dia bermaksud memastikan keadaan Silas, tetapi pemandangan di hadapannya justru membuat darahnya serasa membeku.
Penyusup itu sedang bergulat dengan suaminya. Ketika berhasil mendorong Silas menjauh, orang berpakaian itu menoleh ke arahnya.
"AAAA! JANGAN MENDEKAT!"
Nara berbalik dan berlari menjauh, dia tidak sempat memikirkan ke mana harus pergi. Baginya, menjauh dari orang misterius ini merupakan satu-satunya pilihan.
Dia merasa, orang ini datang untuk membunuhnya.
"Tunggu! Aku bukan—"
Silas kembali menerjang sebelum penyusup itu sempat menyelesaikan ucapannya. Dia mencengkeram bahu lawannya dan melayangkan pukulan, memaksanya mundur beberapa langkah.
Penyusup itu segera membalas dengan menyikut tubuh Silas, lalu mendorongnya hingga terhuyung. Silas kembali berusaha menangkapnya, dia memutar tubuh dan berhasil melepaskan diri.
Namun, alih-alih mengejar Nara, penyusup itu justru berlari menuju ujung lorong.
Di sana terdapat sebuah pintu yang mengarah ke balkon servis lantai dua, tempat teknisi biasa memeriksa unit pendingin dan bagian luar bangunan. Penyusup itu menarik gagangnya dan langsung keluar.
Silas menyadari maksudnya.
"Jangan kabur!"
Dia mengejar dengan langkah cepat, tetapi rasa sakit di rusuknya membuat gerakannya sedikit melambat. Ketika Silas tiba di balkon, penyusup itu sudah mencapai tangga besi yang terpasang di sisi bangunan.
Tanpa ragu, orang berpakaian hitam itu menuruni tangga menuju area servis di bawah.
Silas sempat melihatnya mencapai tanah sebelum berlari melewati taman samping. Dia berusaha mengejar, tetapi suara sirene mulai terdengar dari luar rumah, disusul gedoran keras di pintu depan.
"POLISI! BUKA PINTUNYA!"
...----------------...
tetap sehat dan semangat Thor