NovelToon NovelToon
TUMBAL 1000 NYAWA

TUMBAL 1000 NYAWA

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Tamat
Popularitas:345
Nilai: 5
Nama Author: Banjoriuga

Judul Novel: TUMBAL 1000 NYAWA

Sinopsis:

Sekte ghaib Kala Hitam berniat membangkitkan sosok Penguasa Abadi yang haus darah. Untuk mewujudkannya, sekte ini menebar teror Sumpah Sewu—sebuah ritual kelam yang menuntut seribu tumbal nyawa manusia di tujuh cabang wilayah terisolasi di Pulau Jawa.

Arya, seorang pemuda wewaris kekuatan kuno Minyak Naga Sakti, mendapati takdirnya terikat pada ancaman besar ini. Didampingi oleh Baskara—ayahnya yang merupakan petarung veteran penuh trauma masa lalu, Mbak Sekar—seorang praktisi mystik senior, serta Kirana—putri pakar gaib yang dibekali rajah ular beracun, Arya memulai perjalanan berbahaya untuk memutus rantai sumpah terlarang tersebut.

Satu per satu jangkar ritual harus mereka hancurkan: mulai dari teror ilmu pelet di Desa Alas Mayit, ilusi ingatan Pasang Tuwuh di Hutan Kelabu Gunung Lawu, gending nyanyian kematian Langgam Sukma di Lembah Rawa Bangkai, hingga kekejaman tempaan pusaka jiwa di Kawah Candradimuka. Baca untuk melanjutkan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banjoriuga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bencana dari Lautan Hitam

Ki Murka menghentakkan kakinya ke geladak kayu, membuat bangkai kapal tua itu bergetar hebat. Pendar merah darah dari belati bercabang tiga di tangannya meluas, membakar udara di sekitarnya dengan hawa panas bercampur bau amis yang pekat. Di bawah geladak, suara rintihan belasan nelayan yang terikat pada tiang-tiang kapal terdengar kian melemah, disedot daya hidupnya oleh simpul rajah yang terhubung lurus ke senjata sang pimpinan cabang.

​"Rantai ini tidak hanya mengikat kapal, tapi juga mengunci jiwa para nelayan itu!" teriak Kirana dari atas bongkahan karang. Rajah ular berkepala tiga di tangannya menegang, memancarkan sinyal bahaya. "Arya, jika belati itu tidak dihancurkan dalam hitungan menit, seluruh nelayan di dalam geladak akan mati mengering!"

Ki Murka tertawa membahana, suaranya mengalahkan gemuruh ombak yang menghantam karang. Ia melompat turun dari geladak, mendarat tepat di hadapan Arya dengan hantaman angin beracun yang menghempaskan batu-batu karang kecil di sekeliling mereka.

​"Siapa pun tidak akan bisa menyentuh belatiku sebelum melintasi darahku sendiri!" raung Ki Murka seraya mengayunkan belati bercabang tiga itu secara melintang.

​Tiga sabetan energi merah darah meluncur deras membelah udara. Baskara dengan sigap melompat ke depan Arya, memutar rantai besinya yang telah dilapisi air suci oleh Mbak Sekar untuk membentuk perisai energi. Benturan keras terjadi, memicu ledakan gelombang kejut yang melempar Baskara beberapa langkah ke belakang. Ujung rantai besi Baskara retak dan putus menjadi beberapa bagian akibat pekatnya racun Ki Murka.

"Ayah!" panggil Arya panik.

​"Jangan hiraukan aku! Fokus pada belatinya!" tegas Baskara seraya menyapu darah di sudut bibirnya dan kembali bersiap dengan sisa rantai pendek di tangannya.

​Arya mengangguk cepat. Ia memusatkan seluruh sisa kehangatan Minyak Naga Sakti yang mengalir di dalam nadinya. Pendar cahaya keemasan meledak dari dadanya, merambat tajam menyelimuti kedua tangannya hingga membentuk sepasang bilah energi padat yang berkilau terang.

​Ki Murka menerjang dengan buas, menyabetkan belatinya bertubi-tubi dalam rentetan serangan jarak dekat yang mematikan. Namun, Arya tidak lagi bertahan. Dengan kelincahan yang diasah dari setiap pertempuran di cabang-cabang sebelumnya, Arya meliuk menghindari setiap garis tebasan merah, membiarkan angin beracun hanya menyapu ujung pakaiannya.

Mbak Sekar memanfaatkan kesempatan itu untuk melemparkan sisa beras kuning berajah ke arah mata Ki Murka, mengacaukan pandangan sang pimpinan sekte selama sepersekian detik.

​"Sekarang, Arya!" jerit Mbak Sekar.

​Arya melompat ke udara, memutar tubuhnya seraya menghantamkan sepasang bilah energi keemasan murninya lurus ke pergelangan tangan Ki Murka dan pangkal belati bercabang tiga tersebut.

​BLAR!

Ledakan cahaya keemasan membubung tinggi membelah fajar di atas Pesisir Karang Hitam. Pendar murni dari energi Minyak Naga Sakti menghantam tepat di pangkal belati bercabang tiga milik Ki Murka. Benturan dahsyat itu seketika memecahkan belati kramat tersebut menjadi serpihan besi merah yang meluruh terbakar menjadi abu keemasan di udara.

​Raungan histeris Ki Murka menggelegar mengalahkan deburan ombak. Tanpa belati penyedot jiwa sebagai jangkarnya, aliran racun besi karang di dalam tubuhnya berbalik menyerang organ dalamnya sendiri. Kulit bersisik batu pada tubuhnya retak-retak memancarkan pendar api keemasan dari dalam, sebelum akhirnya raga raksasa itu hancur berantakan menjadi tumpukan serbuk batu hitam yang disapu bersih oleh gulungan ombak laut utara.

Bersamaan dengan tumbangnya Ki Murka, rantai-rantai besi raksasa yang melilit bangkai kapal tua terputus dan jatuh berdentang ke atas batu karang. Pendar merah darah yang mengunci geladak kapal padam seketika.

​Baskara dan Kirana segera melompat ke dalam geladak bawah, memotong ikatan belasan nelayan yang lemas dan mengering. Dengan siraman air suci dari Mbak Sekar dan sisa pendar hangat Arya, napas para nelayan tersebut kembali teratur, terbebas sepenuhnya dari cengkeraman Sumpah Sewu.

​Arya berdiri di tepi tebing karang, merogoh saku jaketnya untuk memeriksa peta kulit lembu tua. Lingkaran cabang keempat—Pesisir Karang Hitam—kini telah padam sepenuhnya, berubah menjadi jejak arang kelam seperti tiga cabang sebelumnya.

Kini, dari tujuh simpul kutukan Kala Hitam, tersisa tiga cabang terakhir yang masih membara redup di atas naskah kulit tua tersebut, menunggu untuk dihancurkan hingga akar-akarnya.

1
Renjana
malem gini bacanya agak serem tapi penasaran 😊
Renjana
semangat nulis💪
mampir juga diceritaku yah😊
Banjoriuga: Iya ka terima kasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!