NovelToon NovelToon
Bisu, Tapi Membisu

Bisu, Tapi Membisu

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Hamil di luar nikah / CEO
Popularitas:16.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.

Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.

Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.

Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.

Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.

Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Di Balik Pintu Aurelle

Sudah dua minggu Zinnia berada di kota, tetapi belum satu pun lamaran pekerjaannya membuahkan hasil.

Ia duduk di tepi tempat tidur sambil membuka dompet. Beberapa lembar uang tersisa di dalamnya. Zinnia menghitungnya perlahan.

Sekali, kemudian sekali lagi. Jumlahnya tetap sama. Tinggal sedikit. Ia mengembuskan napas panjang.

Uang yang diberikan Ibunya sebenarnya cukup untuk beberapa waktu, tetapi setelah membayar kontrakan, membeli kebutuhan sehari-hari, ongkos perjalanan, dan makan, jumlahnya menyusut jauh lebih cepat daripada yang ia perkirakan.

Zinnia membuka ponsel. Beberapa lamaran yang ia kirim masih belum mendapat balasan.

Ia mencoba mencari pekerjaan lain yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya, tetapi sebagian besar membutuhkan pengalaman, kemampuan komunikasi yang baik, atau mengharuskannya mengikuti wawancara secara langsung.

Zinnia menatap layar beberapa saat. Ia tidak boleh terlalu memilih. Setidaknya untuk sekarang.

Yang ia butuhkan bukan pekerjaan impian. Ia membutuhkan pekerjaan yang bisa membuatnya bertahan hidup di kota ini.

Zinnia membuka situs lowongan kerja dan mulai menggulir layar.

Kasir. Tidak cocok dengan kondisinya.

Pelayan. Harus bicara dengan pelanggan. Ragu.

Admin. Membutuhkan kemampuan komunikasi verbal.

Customer service. Tidak mungkin.

Zinnia terus menggulir. Sampai sebuah lowongan membuat jarinya berhenti.

DIBUTUHKAN SEGERA

CLEANING SERVICE

Restoran bintang lima

Tidak diutamakan pengalaman

Disiplin dan mampu bekerja dalam tim

Zinnia membaca persyaratannya beberapa kali. Tidak ada ketentuan harus pandai berbicara.

Tidak ada pengalaman khusus yang diwajibkan. Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.

Zinnia menatap saldo uang di dompet sekali lagi. Kemudian kembali melihat lowongan tersebut. Ia mengambil tangkapan layar.

 

Keesokan paginya, Zinnia datang ke restoran yang tercantum dalam informasi lowongan.

Bangunan itu jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan. Bagian depannya tampak mewah, dengan pintu kaca tinggi dan area parkir yang luas.

Zinnia sempat merasa ragu. Namun ia menguatkan diri dan masuk. Setelah bertanya kepada petugas di bagian depan menggunakan ponsel, ia diarahkan menuju ruang administrasi.

Tidak lama kemudian, seorang perempuan yang mengenakan pakaian formal mempersilakannya duduk.

"Saya yang menangani rekrutmen," katanya. "Kamu Zinnia?"

Zinnia mengangguk.

"Katanya melamar untuk posisi cleaning service?"

Zinnia kembali mengangguk, lalu menyerahkan map berisi dokumen.

Perempuan itu menerima map tersebut dan mulai memeriksanya.

"Nama lengkap..."

Matanya bergerak ke bawah.

"Usia..."

Kemudian berhenti pada selembar ijazah. "Ini pendidikan terakhir kamu?"

Zinnia mengangguk.

Perempuan itu mengangkat wajah. "Kamu kuliah?"

Zinnia mengangguk lagi.

"Jurusan desain?"

Zinnia mengambil ponsel dan mengetik.

Iya. Saya baru lulus kuliah.

HRD itu membaca layar ponsel Zinnia.

"Oh."

Ia kembali melihat ijazah tersebut.

"Kalo boleh tau, kenapa kamu melamar cleaning service? Dengan pendidikan seperti ini, kamu bisa mencoba posisi lain."

Zinnia terdiam sebentar. Kemudian ia mengetik.

Saya butuh pekerjaan secepatnya.

HRD itu membaca jawabannya, lalu mengangguk pelan. "Oke."

Ia menutup map. Namun ketika hendak melanjutkan pertanyaan, perhatiannya kembali tertuju pada ponsel Zinnia.

"Kamu gak bisa ngomong?"

Zinnia menggeleng.

HRD itu terlihat sedikit terkejut. "Oh..."

Beberapa detik berlalu.

"Bisa mendengar?" tanyanya kemudian.

Zinnia mengangguk.

"Kalo saya kasih instruksi secara lisan, kamu bisa memahami?"

Zinnia mengangguk lagi.

HRD itu tampak berpikir.

"Masalahnya, kerjaan ini cukup cepat. Kamu akan bekerja dengan banyak orang. Kadang supervisor ngasih instruksi secara langsung. Kalo ada keadaan mendesak, komunikasi juga harus cepat."

Zinnia memahami kekhawatiran itu. Ia tidak tersinggung. Ia justru mengambil ponsel dan mengetik lebih panjang.

Saya bisa berkomunikasi melalui tulisan dan bahasa isyarat. Kalo instruksinya harus disampaikan cepat, saya bisa membaca gerakan atau meminta instruksi ditulis. Saya juga bisa memakai ponsel untuk berkomunikasi.

Ia menunjukkan layar tersebut.

HRD membacanya dengan saksama. "Kamu yakin bisa ngikutin ritme kerja?"

Zinnia mengangguk mantap.

Perempuan itu menatapnya beberapa saat. Kemudian pandangannya turun kembali ke ijazah. "Nilai kamu bagus."

Zinnia tidak menjawab.

"Dan kamu kuliah desain. Berarti kamu terbiasa ngerjain sesuatu dengan detail."

Zinnia mengangguk kecil.

HRD itu akhirnya bersandar di kursinya. "Saya sebenarnya masih ragu."

Zinnia menunggu.

"Bukan karena pendidikan kamu," lanjutnya. "Saya hanya belum tau apakah sistem komunikasi seperti ini bisa berjalan dengan tim kami."

Zinnia menunduk sebentar. Ia sudah cukup sering melihat keraguan seperti itu.

Namun kali ini ia tidak ingin pulang hanya karena seseorang meragukan kemampuannya. Ia mengetik lagi.

Kalo Ibu belum yakin, saya boleh mencoba?

HRD itu membaca kalimat tersebut.

"Gimana?"

Zinnia kembali mengetik.

Beri saya kesempatan bekerja beberapa hari. Kalo saya gak mampu ngikutin pekerjaan, saya menerima keputusan Ibu.

Perempuan itu terdiam. Kemudian tanpa sadar tersenyum tipis. "Kamu berani juga, ya."

Zinnia hanya tersenyum kecil.

HRD tersebut mengetuk ujung pena ke meja. "Oke."

Zinnia mengangkat wajah.

"Kita bisa kasih kamu masa percobaan tiga hari."

Mata Zinnia sedikit membesar.

"Tiga hari. Kamu akan mengikuti arahan supervisor. Kalo semuanya berjalan baik, kita lanjutkan."

Zinnia segera mengangguk.

"Besok bisa mulai?"

Zinnia mengetik cepat.

Bisa.

"Datang pukul tujuh pagi. Nanti saya kenalkan sama supervisor bagian kebersihan."

Zinnia berdiri dan membungkukkan kepala sedikit. Lalu mengetik dan menunjukkan ponselnya.

Terima kasih.

HRD itu membacanya, lalu mengangguk. "Sama-sama. Semoga kamu bisa membuktikan bahwa kekhawatiran saya gak perlu."

Zinnia tersenyum. Ia pamit, lalu berjalan keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup di belakangnya, Zinnia berhenti sebentar di lorong. Ia menatap ponselnya.

Tidak ada pekerjaan yang sesuai dengan rencana awalnya. Tidak ada pekerjaan yang ia bayangkan ketika memutuskan datang ke kota. Tetapi setidaknya sekarang ia punya sesuatu. Pekerjaan, penghasilan, dan alasan untuk tetap tinggal.

Zinnia menggenggam ponselnya lebih erat. Ia belum menemukan Arvid. Belum menemukan jawaban. Namun ia tidak akan pulang. Belum.

Ia datang ke kota untuk mencari seseorang. Dan kali ini, ia akan bertahan sampai menemukan orang itu.

Zinnia melangkah keluar dari gedung restoran, menatap sekali lagi papan nama besar yang terpasang di atas pintu masuk.

Aurelle.

Restoran bintang lima yang namanya sering muncul di daftar tempat favorit kalangan atas kota ini. Tempat yang bahkan tidak pernah terpikir olehnya untuk sekadar makan di sana, apalagi bekerja.

Zinnia tidak tahu apa yang menantinya di balik pintu dapur dan lorong staf nanti. Yang ia tahu, mulai besok, dunianya akan bersinggungan dengan dunia yang selama ini hanya ia lihat dari luar kaca.

 

...🔸🔸🔸...

...“Ketika keadaan memaksa kita mengubah rencana, bukan berarti tujuan harus ikut berubah. Kita hanya perlu menemukan jalan lain untuk mencapainya.”...

...“Keberanian bukan berarti tidak pernah ragu. Keberanian adalah tetap melangkah meski kita belum tahu apa yang menunggu di balik pintu berikutnya.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Puji Hastuti
ealah belum apa² dah salah paham,
Dek Sri
Zinnia apa pun yang terjadi kamu harus kuat ya
Siti Jumiati
lanjuuuut kak... maaf baru bisa baca seharian rewang.
Eka Burjo
nah loh, Zinnia jadi salah faham 🫣
Hanima
Lanjuttt Zin
tse
wah belum belum dah salah paham aja nih...
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Marsiyah Minardi
Sepertinya jalanmu masih panjang tuk dapat kebenaran tentang Arvid ya Zinia
Keburu kehamilanmu membesar
Hanima
Kasiann
Puji Hastuti
zinnia tidak mengancam siapapun,tapi kenapa ada yang merasa terancam ya😄
Sastri Dalila
🥺🥺
Eka Burjo
lanjut 👍
RaDja
terima kasih
Hanima
👍👍
Hanima
Lanjut Zinnn
Sastri Dalila
👍👍👍
abimasta
ada yang merasa terancam dengan keberadaan zinnia
Sugiharti Rusli
apa Arvid memang belum punya kekasih atau sudah yah dia sebetulnya saat ini,,,
Sugiharti Rusli
meski saat ini Zinnia belum tahu efek dari malam itu berakibat dia hamil atau tidak yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sepertinya si Arvid sedang mengalami kehamilan simpatik tuh jangan" yah dia,,,
Sugiharti Rusli
meski sekarang dia belum menemukan orang yang dia cari setelah malam itu dan bagaimana nasibnya ke depan yah,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!