NovelToon NovelToon
WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: aina susiyanti77

Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.

Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.

karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.

Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.


Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.

Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?

Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Menembus Cengkeraman Malam Rimba

​Di dalam sudung beratap rumbia yang remang, suara napas Pak Burhan terdengar makin berat dan terengah-engah.

​Suhu tubuhnya yang melonjak tinggi membuat pria tua itu terus menggigil hebat di atas bale-bale bambu, dengan bibir yang membiru menahan sengatan hawa dingin rimba.

​Mengingat kondisi Pak Burhan yang kian kritis, Pandi segera membalikkan badan menghadap wanita tua Suku Anak Dalam yang sejak tadi setia menunggui di dekat tungku.

​Dengan nada penuh hormat dan kesungguhan, Pandi berbicara menggunakan bahasa rimba yang kental:

​"Induk... besamo kami nak berjalan ke Dusun Pinggiran, mencarikan obat penawar untuk Paman Burhan. Tolonglah Induk, jago Paman di sudung ko elok-elok. Usap keningnya pakai air hangat, jangan biarkan api perapian ko padam," bisik Pandi dengan tatapan mata memohon.

​Wanita tua yang dipanggil Induk itu mengangguk pelan.

​Wajahnya yang penuh kerutan memancarkan kearifan rimba. Ia meletakkan jemarinya yang kurus di atas kening Pak Burhan, lalu menatap Pandi dan Prasetio bergantian.

​"Iyo lah, Tampung. Biar Induk yang jago Pamanmu di sini. Kami budak rimba paham rasa sakit. Orang tua ko jiwanya sudah bersih, Induk bisa rasakan. Tapi kalian harus cepat... Malam ko rimba lagi 'hangat'. Angin membawa bau darah dari jauh. Bahaya lagi mengintai di balik pepohonan," balas Induk dengan suara parau namun begitu menenangkan.

​Saat Prasetio dan Pandi bersiap melangkah keluar membawa obor dua pria muda Suku Anak Dalam yang tadinya berdiam di sudut sudung—bernama Genta dan Meranting—mendadak berdiri dari duduknya.

​Mereka memegang tombak kayu berujung besi kusam serta gulungan tali akar untuk perangkap rimba.

​"Kami ikut, Tampung Pandi," tegas Genta, pria rimba bertelanjang dada dengan ikat kepala kain merah kusam.

​"Jalan ke Dusun Pinggiran malam-malam ko bukan untuk Orang Terang sendiri. Hutan lagi galak. Banyak mata yang mengintai dari kegelapan. Kalau cuma kalian berdua, kalian takkan sampai ke rumah Tetua Adat."

​Prasetio menatap dua warga rimba itu dengan rasa haru yang membuncah di dadanya.

​"Terima kasih... terima kasih banyak sudah mau membantu saya dan Ayah," bisik Prasetio tulus, suaranya bergetar.

​Genta hanya mengangguk singkat tanpa banyak kata.

​Bagi warga Suku Anak Dalam, menolong sesama yang berniat bersih di dalam rimba bukanlah sebuah pilihan atau tuntutan imbalan, melainkan hukum adat yang telah terpahat di dalam jiwa mereka.

​Empat lelaki itu pun melangkah dalam kegelapan malam.

​Pandi dan Prasetio memegang obor bambu di bagian tengah, sementara Genta dan Meranting memimpin di depan dan menjaga di belakang dengan pendengaran serta penciuman tajam khas pemburu rimba.

​Langkah kaki mereka menginjak serasah daun basah dan akar-akar pohon raksasa yang melilit tanah.

​Kegelapan di luar sudung benar-benar pekat bagaikan tinta yang ditumpahkan.

​Pohon-pohon sialang dan meranti raksasa menjulang seperti benteng hitam yang membisu, sementara suara jangkrik malam dan tonggeret yang tadinya bersahut-sahutan mendadak surut sebuah pertanda alam yang sangat dihafal oleh anak rimba.

​Baru berjalan sekitar lima ratus meter menyeberangi rawa-rawa kecil berair hitam, Meranting yang berada di garis paling belakang mendadak menahan napas.

​Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, menyorotkan bambu obor ke arah semak belukar.

​"Berhenti! Ado sengatan bau rimba," bisik Meranting lirih. Bahasa Melayu Rimbanya terdengar berdesis menahan ketegangan.

​Prasetio seketika menghentikan langkah. Jantungnya berdegup kencang menghantam rongga dada.

​Bau amis yang sangat tajam dan aroma menyengat khas binatang buas mendadak tercium jelas. Dari balik rimbun semak belukar berduri di sebelah kiri mereka, sepasang mata berwarna hijau keemasan menyala pekat di tengah kegelapan.

​Tatapan itu begitu dingin, tajam, dan mematikan.

​Grrrrmmm...

​Suara geraman berat, dalam, dan bergetar bergema menggetarkan isi dada. Udara malam rasanya mendadak membeku.

​Dari balik semak, muncul sosok raksasa berbulu oranye membara dengan garis-garis hitam pekat.

​Datuk Rimba—Harimau Sumatra ukuran dewasa—keluar merayap dengan langkah sangat perlahan, menatap empat manusia di hadapannya sebagai calon mangsa.

​Prasetio membeku seketika. Seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku tanpa bisa digerakkan.

​Belum pernah dalam hidupnya ia berhadapan langsung dengan pemangsa puncak rimba Sumatra tanpa jarak, hanya dipisahkan oleh beberapa meter tanah basah dan pendar api obor.

​"Jangan lari! Kalau kau lari, kau mati!" bentak Pandi setengah berbisik seraya mencengkeram erat bahu Prasetio yang gemetar hebat.

​"Tatap matanya, jangan pernah membelakangi Datuk!"

​Genta maju satu langkah ke depan Prasetio, pasang badan membentengi anak kota itu.

​Tanpa rasa gentar sedikit pun, pria Suku Anak Dalam itu menghentakkan gagang tombak kayunya ke tanah dan mengacungkan obor bambu tinggi-tinggi.

​Dengan suara melengking yang bergetar magis, ia mulai menyanyikan seloka atau mantra penunduk binatang dalam bahasa adat rimba:

​"Ooo Datuk... Pangeran Rimba! Kami bukan nak merusak rimba, kami bukan nak berburu anak cucumu! Kami menumpang lalu membawa niat bersih demi nyawa Paman kami yang sedang sakit! Datuk... kembali ke istanamu!"

​Harimau besar itu justru menggeram lebih keras, memperlihatkan taring-taringnya yang panjang, kekuningan, dan runcing.

​Otot-otot bahunya menegang, siap meluncurkan serangan. Bau napasnya yang amis tercium begitu dekat oleh Prasetio.

​Binatang buas itu tampaknya terganggu oleh pendar api obor dan aroma asing dari tubuh Prasetio yang berbau manusia kota.

​ROAAARRR!

​Auman dahsyat meledak menggoncang kegelapan malam, membuat daun-daun pohon berjatuhan.

​Harimau raksasa itu melompat tinggi menerjang tepat ke arah obor yang dipegang Prasetio!

​"Awas, Pras!" teriak Pandi seraya mendorong tubuh Prasetio hingga terguling di atas tanah basah berlumpur.

​Di detik yang sangat kritis itu, Meranting dengan sigap menyabetkan obor minyak kayunya tepat ke arah wajah sang harimau di udara, sementara Genta menghentakkan ujung tombak besinya ke batu untuk menciptakan suara dentuman keras.

​Semburan percikan api obor mengenai moncong sang Datuk. Binatang raksasa itu terkejut di udara, meraung kesakitan, dan mendarat keras di atas semak berduri.

​Dengan kegagahan bertarung khas pemburu hutan, Genta dan Meranting tidak menyerang untuk membunuh karena melukai apalagi membunuh Datuk Rimba adalah pantangan besar adat yang membawa sial, menurut kepercayaan mereka.

Mundur perlahan! Ikuti langkah kaki kami! Jangan lepaskan pandangan dari matanya!" teriak Genta tegas dalam bahasa rimba.

​Harimau Sumatra itu mengitari barisan mereka beberapa kali dengan geraman rendah yang mencekam, menguji ketahanan mental rombongan tersebut.

​Namun melihat barisan api yang memutari mereka dan ketenangan luar biasa dari dua warga Suku Anak Dalam yang tidak memperlihatkan ketakutan sedikit pun, sang raja hutan akhirnya melangkah mundur perlahan.

​Dengan sekali lompatan, Harimau itu melompati semak belukar dan menghilang kembali ditelan pekatnya kegelapan rimba.

​Prasetio terduduk pasrah di atas tanah basah, napasnya memburu cepat dengan peluh dingin membasahi seluruh wajah dan bajunya. Tubuhnya masih gemetar hebat. Pandi berlutut dan merengkuh lengan Prasetio untuk menariknya berdiri. "Kau tidak apa-apa, Pras?

​Prasetio menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan, lalu menggeleng pelan. "Aku... aku tidak apa-apa, Pan. Luar biasa... mereka sungguh luar biasa."

​Prasetio menatap Genta dan Meranting dengan tatapan takjub yang tiada tara. Tanpa keberanian, dan kesigapan dua warga Suku Anak Dalam ini, ia dan Pandi mungkin sudah menjadi mayat yang terkoyak di tengah hutan malam ini.

​Genta menoleh ke belakang. Wajah kerasnya tetap datar tanpa ekspresi, namun matanya menatap Prasetio dengan raut wajah kagum.

​"Anak kota... kau tidak lari ketakutan saat Datuk melompat tadi. Keberanianmu demi bapakmu sudah diuji oleh rimba malam ko. Ayo cepat, perjalanan kita masih jauh sebelum fajar menyingsing."

​Mereka melanjutkan perjalanan menembus kegelapan dengan tingkat kewaspadaan yang melipat ganda.

​Hambatan alam tidak berhenti di situ. Jalur tanah merah kian licin, curam, dan dipenuhi kubangan air hujan.

​Di beberapa titik, mereka harus memanjat tebing tanah yang rapuh, melompati jurang-jurang kecil, dan menyeberangi jembatan dari batang pohon tumbang yang amat licin tersiram embun malam.

​Duri-duri akar rotan mencakar kulit kaki dan lengan Prasetio hingga merembeskan darah segar, namun Prasetio tidak merintih sedikit pun.

​Bayangan wajah sang ayah yang terengah-engah menahan demam tinggi di sudung terus membakar semangat jiwanya.

​Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam penuh menembus ganasnya belukar rimba, sayup-sayup cahaya lampu gantung minyak tanah dan deretan rumah panggung kayu mulai terlihat di balik hamparan kebun karet tua yang rimbun.

​Dusun Pinggiran.

​Suasana dusun pedalaman itu terasa sangat sunyi, kaku, dan mencekam.

​Rumah-rumah panggung berdinding papan kusam berdiri saling berjauhan di bawah naungan pohon-pohon tua.

​Di tiang-tiang utama rumah warga, tergantung berbagai kain hitam, tangkal penolak bala dari daun palem kering, serta batok kelapa berukir—menandakan betapa kental dan kaku-nya kepercayaan klenik serta tradisi lokal masyarakat di sana.

​Malam yang kian larut membuat kedatangan empat lelaki itu disambut oleh gonggongan puluhan anjing penjaga dusun yang bersahut-sahutan memecah hening.

​Guk! Guk! Guk!

​Pintu-pintu rumah panggung perlahan terbuka sedikit. Wajah-wajah warga dusun yang kaku dan penuh kecurigaan mengintip dari balik celah jendela kayu.

​Beberapa pria warga dusun keluar dari rumah membawa parang panjang dan tombak bambu terhunus, berkumpul menyelimuti lorong tanah merah menuju Balai Adat.

​Raut wajah mereka sangat dingin, keras, dan memancarkan penolakan yang amat kuat terhadap kehadiran pendatang baru dari luar.

​"Siapa kalian malam-malam begini berani menginjak tanah Dusun Pinggiran?!" teriak seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan sarung terikat rapat di pinggang, memegang parang terhunus.

​"Membawa orang asing berbau kota ke mari... Mau membawa petaka dan sial apa kalian ke dusun kami?!"

Dua orang sesepuh nampak menuruni tangga turun dari rumah adat.

​Tetua Pertama, Datuk Hitam pria beruban panjang dengan wajah berwibawa dan tatapan mata yang teduh.

​Sedangkan Tetua Kedua, Datuk Merah, adalah tetua adat bidang tradisi dan mistik yang bertubuh tinggi tegap, bersarung merah darah, dengan raut wajah angkuh, kaku, dan tatapan mata yang dingin menakutkan.

​Pandi langsung maju berdiri sedikit di depan Prasetio, merendahkan badannya sebagai bentuk penghormatan adat.

​"Maafkan kami, Datuk... Warga Dusun yang kami hormati. Saya Pandi, sopir pengangkut hasil hutan yang biasa singgah di sini. Kami datang dengan niat bersih dan meminta pertolongan..."

​"Tidak ada pertolongan untuk orang asing dari luar daerah!" potong Datuk Merah dengan suara keras dan serak membahana. Wajahnya yang kaku menatap Prasetio bagaikan menatap serangga jijik.

​"Aku sudah mendengar desas-desus!" tegas Datuk Merah seraya melangkah maju.

​"Ada pendatang asing masuk ke batas rimba membawa pria tua lumpuh parah! Menurut tradisi nenek moyang kita, penyakit lumpuh busuk dan tubuh kaku yang dibawa dari luar daerah adalah pembawa serapah dan aura petaka! Jika kita menerima kalian atau memberikan obat penawar dari tanah ini, tanah dusun kita akan dikutuk! Pohon karet kita akan mati dan panen kita akan gagal!"

​Beberapa warga dusun mulai bergumam setuju, mengacungkan parang mereka tinggi-tinggi ke udara.

​"Pergi kalian! Bawa orang asing itu keluar dari wilayah kami! Jangan bawa penyakit dan kutukan ke dusun ini!"

​Mendengar tuduhan kejam bahwa ayahnya adalah pembawa kutukan dan petaka, dada Prasetio bergetar hebat. Rasa perih dan tertekan yang amat sangat menyeruak di jiwanya.

​Namun, ia teringat pada janjinya di hadapan sang ayah dan Pandi: malam ini ia tidak lagi memiliki gengsi diri.

​Di hadapan puluhan warga dusun yang mengacungkan senjata dan menatapnya penuh kebencian, Prasetio mengambil langkah maju.

​Thuk!

​Prasetio merobohkan kedua lututnya ke atas tanah merah yang basah dan berlumpur.

​Pria kota yang dulu begitu angkuh, bergelimang harta, dan selalu memandang rendah orang lain itu... kini berlutut pasrah di atas lumpur.

​Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya menyentuh tanah basah di depan kaki kedua Tetua Adat.

​Isak tangis tulus yang menyayat hati meledak dari dada Prasetio.

​"Ampun, Datuk... Ampunkan saya..." tutur Prasetio dengan suara bergetar hebat dan air mata menetes deras membasahi tanah berlumpur.

​"Demi Allah... Ayah saya bukan pembawa serapah atau penyakit kutukan. Ayah saya hanyalah seorang tua yang sedang memohon ampun pada Tuhan atas masa lalunya... Jika kedatangan kami dianggap merusak adat, tebas lah leher Saya Datuk. Ayah saya sedang menggigil sekarat di dalam gubuk rimba... Saya belum siap kehilangan Beliau, Datuk..."

​Prasetio kembali menekan dahinya ke atas tanah berlumpur, tubuhnya terguncang hebat oleh tangis kepasrahan seorang anak yang berjuang menyambung nyawa ayahnya tanpa memedulikan lagi harga diri.

​Melihat kepasrahan Prasetio yang mencium tanah tanpa gengsi sedikit pun, dada Datuk Hitam—Tetua Pertama—tergetar hebat.

​Binar mata Prasetio yang jujur dan tulus menyentuh sudut empati terdalam di jiwa sang tetua. Warga dusun yang tadinya berteriak marah pun perlahan terdiam bisu, tertegun menyaksikan pemandangan yang menyentuh hati tersebut.

​Datuk Hitam melangkah maju, memegang tongkat kayunya erat-erat, lalu berkata dengan suara pelan namun sarat berwibawa:

​"Air mata anak ini murni... Tidak ada dusta di matanya. Adat dan tradisi kita diajarkan oleh leluhur untuk menjaga rimba dan menyelamatkan kehidupan, bukan membiarkan manusia mati sekarat. Berikan mereka ramuan akar itu agar ayahnya terhitung selamat..."

​Namun, sebelum Datuk Hitam selesai bicara, Datuk Merah mendadak menghentakkan gagang tombak adatnya ke tanah dengan sangat keras!

​Tak!

​"TIDAK BISA!" bentak Datuk Merah dengan suara lantang, angkuh, dan penuh kebencian.

​"Kau sudah pikun dan melempem, Datuk Hitam?!" gertak Datuk Merah tanpa rasa hormat sedikit pun pada rekan tetuanya.

​"Sejak kapan tanah Dusun Pinggiran kita menjadi tempat penampungan sampah dan penyakit bangkai dari luar daerah?! Lihat pakaiannya! Dia orang kota busuk yang membawa aura sial! Jika kita memberikan obat sakral simpanan adat kepada pendatang haram ini, leluhur akan murka! Pohon karet kita akan mati dan panen kita akan dikutuk!"

​Datuk Merah melangkah mendekati Prasetio yang masih berlutut di tanah basah, lalu mengacungkan ujung parangnya tepat ke depan dada Prasetio.

​"Dengar, orang asing!" desis Datuk Merah angkuh dengan senyum sinis yang mematikan.

​"Harga diriku, kekuasaanku, dan hukum adat dusun ini tidak bisa dibeli dengan tetesan air mata murahanmu! Kau mau obat itu? Boleh... Tapi ada maharnya! Pengorbanan yang harus kau bayar tunai malam ini juga!"

​Pandi, Genta, dan Meranting tersentak kaget. Suasana di lorong tanah Dusun Pinggiran seketika membeku dalam ketegangan yang mematikan.

​Prasetio menengadah, menatap mata Datuk Merah yang dipenuhi keangkuhan dan niat culas di bawah temaram pendar obor...

​Bersambung

1
Night Watcher
pak burhan?
Aina Senja: Trimakasi kk koreksinya🙏🙏😍
total 1 replies
Night Watcher
satu halaman diulang😇
Aina Senja: iya salah kirim kk, mau perbaikan tapi lagi di audit jadi belum berani kotak katik dulu, sebelum turun kontrak🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
kok nasi?
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
Aina Senja: hoho iya iya😍😍trimaksi kk
total 1 replies
Night Watcher
tadi pas prilia yg menyeret langkah kakinya mundur, lantainya kayu.
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇
Aina Senja: trimakasi kk, ini dia yg ku tunggu komen yg membangunkan tidurku 😍😍😍
total 1 replies
Night Watcher
mulai bosan,
Night Watcher
ngapain masih ngurusin karung bangkai yg nyimpen & ngelindungi para penyakit itu mayaaa..?!!
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kamu kuat maya. kamu tidak salah. mereka sendiri yang mengundang mu. kamu datang dengan niat tulus
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kasihan kamu. padahal kamu datang bukan sebagai pelakor
Aina Senja: trimakasi kk sudah mau mampir😍
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
oh akhirnya aku paham. memang tak selamanya istri kedua itu di utamakan
Aina Senja: begitulah nasib istri ke dua🥲🥲
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kok bisa Thor. aku masih belum paham?
Aina Senja: yg mana kk?
total 1 replies
Night Watcher
jangan kelamaan susahnya.. mulai trik² menjatuhkan lawan & nikmati sedikit² kebahagiaan.
Aina Senja: siap bosku
total 1 replies
Night Watcher
coba mampir... mudah²an cerita sengsaranya gak kesuwen..
Aina Senja: sangat tersanjung dengan hadirnya dirimu😍😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!